“Hidup memang tak selalu indah.”
“Rindu?” Ibu Miyuki menyebut nama Rindu yang duduk di ruang tunggu sambil merangkul si kembar. Jelas sekali jika ibu dari Jiro itu tampak khawatir. “Raja bagaimana?”
Rindu berdiri. Ia meremas jemarinya sambil menggeleng. “Belum tau, Tante.”
Jujur, Rindu takut sekali disalahkan meski memang ia sadar diri sudah salah. Perempuan itu yang membawa Raja panas-panas berjalan ke minimarket. Ia juga yang membelikan es krim. Siapa yang akan menyangka kalau Raja malah mimisan dan tidak sadarkan diri.
“Maaf,” ucap Rindu dengan suara kecil, seperti berbisik. “Seharusnya aku nggak bawa Raja jalan panas-panasan.”
Atensi Ibu Miyuki tertuju pada Rindu. “Bukan salah kamu. Tante juga kurang aware sama kondisi Raja. Kalau tau lagi nggak enak badan, pasti tante larang main ke luar rumah dulu.”
Mata almond Rindu menatap nanar sosok di hadapannya. Perempuan yang bahkan sedikit lebih tua dari ibunya itu terlalu pengertian. Dahulu, Rindu sering vokal tentang betapa dirinya iri pada Jiro yang punya ibu sangat baik. Tante Miyuki tidak pernah membentak anak-anaknya.
Jika Jiro maupun kakak lelakinya, Hiro, membuat kesalahan, Tante Miyuki tidak langsung menyalahkan anaknya. Ia akan meminta maaf pada orang yang disinggung oleh anak-anaknya terlebih dahulu. Lantas, baru memarahi mereka secara pribadi, bukan di depan umum dan membuat anaknya malu. Sangat jauh dari bagaimana sikap ibu menghadapi anak-anaknya.
Ibu bilang, karena Jiro dan Hiro tidak begitu bandel. Mereka juga laki-laki dan usil itu normal. Bukan seperti Rindu dan Rania yang perempuan tapi suka bikin onar. Padahal, saat itu, Rindu hanya ingin melindungi Rania dari anak-anak perundung. Wajar bukan, seorang kakak menghajar anak-anak yang mengganggu adiknya?
Lamunan tentang masa lalu itu pun terpecah manakala petugas medis menanyakan tentang keluarga Jiro. Di tempat mereka berdiri, Ibu Miyuki terdiam sejenak. Ia seperti ragu untuk mengikuti petugas tersebut. Meski begitu, ia tetap melangkah pergi setelah meminta Rindu dan si kembar menunggu terlebih dahulu.
“Bibi,” panggil Lina. “Abang Raja nggak apa-apa kan?” Anak itu sedikit mendongak untuk menatap wajah Rindu.
“Semoga nggak apa-apa,” responnya.
Anak di sisi berbeda juga bereaksi. “Kalau pakai semoga, berarti belum tentu nggak apa-apa.”
Rindu lupa kalau anak zaman sekarang memang terlahir jauh lebih kritis. Sebagai orang dewasa, Rindu harus berhati-hati memilih kalimat. Jika kurang jelas atau tidak yakin, rentetan pertanyaan tambahan akan muncul di otak anak-anak itu.
“Karena kita belum tau Raja itu sakitnya apa, jadi lebih baik didoakan semoga sehat selalu.” Rindu berusaha menjelaskan dengan sabar.
Lira kelihatannya ingin angkat bicara lagi. Tapi urung sebab ibu mereka kini terlihat memasuki area ruang tunggu di depan IGD. Si kembar pun memilih berlari menghampiri dan memeluk Mommy mereka dengan erat.
Dua anak perempuan itu bergelayut manja dan minta gendong. Alhasil, Rania dengan sekuat tenaga menampung si kembar di dua tangannya. Seperti sudah terbiasa, ia berjalan mendekat ke arah Rindu. Ibu dua anak itu menatap kakaknya dengan sorot penuh tanya. Wajar, karena Rania sama sekali tidak jelas dengan apa yang dikatakan Rindu di telpon tadi.
“Anak-anak nggak kenapa-kenapa, kan?” Tanyanya pada sang kakak.
Rindu mengangguk lemah. “Raja yang kenapa-kenapa.”
“Bang Raja ingusan tapi yang keluar darah.” Lira mengadu pada ibunya.
Sementara Lina mengangguk penuh semangat dan memeluk erat leher Rania. “Abang Raja kayak zombie,” bisiknya.
Netra Rania berotasi. Ia duduk di sebelah Rindu seraya mengurai pelukan Lina. “Kalian itu berat. Duduk sendiri aja.”
Si kembar menurut. Mereka turun dari pangkuan Mommy dan memilih duduk di bangku sebelah. Supaya mereka tidak rewel, Rania mengeluarkan sebuah tablet dan memutarkan video kartun khusus anak-anak kesukaan Lina dan Lira.
Atensinya pun bisa fokus pada Rindu yang sejak tadi memperhatikan interaksi adik serta para keponakannya. Dalam kepala Rindu, adiknya masih tampak seperti anak kecil mengesalkan yang tidak pernah absen mengganggu kakaknya. Namun, di saat yang sama, Rindu masih merasakan betapa bahagianya ia menyambut Rania yang masih bayi merah di rumah. Saat itu, Rindu senang sekali sampai tidak pernah berhenti membicarakan soal punya adik dengan teman-teman TK-nya.
“Kenapa liat aku begitu banget?” Dua alis Rania bertaut. Aneh saat mendapati sorot mata kakaknya yang tidak terbaca.
Rindu menyunggingkan senyum kecil. “Nggak nyangka aja, anak cengeng yang suka sembunyi di belakang punggung aku sudah punya anak kembar.”
Bahu Rania mengedik. “Waktu memang berputar cepat sekali. By the way, anaknya Bang Jiro kenapa?” Topik pembicaraan dikembalikan ke jalurnya.
“Aku juga nggak tau. Dia tiba-tiba aja mimisan pas di minimarket. Takutnya, karena kena sinar matahari siang yang panas.” Akhirnya Rindu mengungkapkan resahnya. “Bagaimana kalau itu jadi salahku?”
Rania duduk lebih rapat ke arah sang kakak. “Kakak nggak salah. Keluarga Bang Jiro yang salah karena kalau tau si Raja sakit seharusnya nggak boleh main dulu sama si kembar.”
Rindu meremas jemarinya, masih takut serta cemas jika nanti malah disalahkan. Jantungnya semakin berdebar keras manakala ibunya Jiro berjalan menghampiri. Ibu Miyuki tersenyum kecil pada dua saudara itu. “Untungnya cepat dibawa ke sini. Raja kemungkinan terlalu lelah aja. Tapi, dokter masih harus periksa lebih jauh.”
“Periksa lebih jauh?” Rania menaikkan alisnya. “Nggak terdengar baik-baik aja,” komentarnya skeptis.
Air muka Ibu Miyuki sedikit mengeras. Senyumnya tampak lebih tegang. Gelisahnya terpancar apalagi dengan gerak-gerik meremas jari. Arah matanya pun kini tertuju pada Rindu yang sedikit menunduk. “Rindu, tante boleh minta tolong?”
Kepala perempuan itu terangkat. “Minta tolong apa, Tante?”
Ibu Miyuki menggamit tangan Rindu yang sudah berkeringat dingin. Hal itu membuat Rindu harus ikut berdiri karena tidak sopan membuat orang yang lebih tua harus menunduk. Pegangan tangan ibu yang melahirkan Jiro itu mengerat.
“Bisa temani Raja sampai Jiro datang? Mungkin empat jam lagi dia sudah sampai sini.” Kali ini, sorot mata Ibu Miyuki seperti memohon.
“Memangnya tante nggak bisa nemenin cucu sendiri? Kenapa harus kakakku yang baru keluar rumah sakit yang nemenin?” Rania angkat bicara dengan gaya agak ketus.
“Tante ada urusan penting yang nggak bisa ditinggal.” Alasan dikemukakan. “Nggak ada yang bisa tante mintai tolong. Lagipula, Raja kayaknya cukup akrab sama Rindu.”
“Iya, aku temani. Tante jangan khawatir ninggalin Raja kalau memang ada urusan penting.” Rindu menyanggupi.
Senyum Ibu Miyuki merekah lebar. Ia pun pamit dan berjalan keluar area IGD dengan terburu-buru. Sementara itu, Rania mendengkus. Ia memukul bahu kakaknya sambil mendumal, “Kebiasaan suka ninggalin anak kecil dari dulu.”
“Rania,” tegur Rindu.
“Nggak salah loh aku tuh mengomentari ini. Dari Bang Jiro masih kecil udah sibuk sendiri. Padahal paling ikut acara sosialita. Pantas aja Bang Jiro ditinggal istrinya. Dia aja sekarang nggak ada di tempat, padahal anaknya sakit.” Bibir Rania sampai maju saat bicara akibat kesal.
Rindu diam saja, sadar bahwa apa yang dikatakan adiknya barusan tidak sepenuhnya salah. Keluarga Jiro sejak dulu selalu sibuk. Meski baik dan lembut pada anak-anaknya, pekerjaan merupakan hal nomor satu bagi orang tua Jiro. Tidak heran kalau di komplek tempat tinggal mereka, keluarga Jiro termasuk yang paling berada daripada yang lain. Luas rumahnya saja setara dengan tiga rumah yang ada di sana.
“Karena kakak memang berbaik hati mau menemani Raja, jadi aku sama anak-anak pulang dulu.” Rania pamit.
Perempuan dua anak itu menggandeng si kembar setelah sebelumnya meminta anak-anak lucu itu pamit pada bibi mereka. Sepeninggal Rania, Rindu masuk ke area perawatan pasien. Di salah satu brankar, ia melihat Raja berbaring sendirian. Anak itu menatap langit-langit ruangan. Bahunya bergetar seperti sedang menahan tangis. Ketika Rindu semakin dekat, ia baru melihat jelas air mata mengalir dari mata bulat anak itu.
“Raja?” Panggil Rindu.
Anak itu segera menyeka air matanya. Dengan mata merah dan sedikit bengkak, anak itu menatap Rindu. Bibir mungilnya melengkungkan senyuman. Sebuah senyum yang mungkin ia pikir akan terkesan manis, tapi Rindu menangkapnya sebagai sinyal menyakitkan.
“Tante, aku tadi disuntik tapi nggak teriak-teriak. Ternyata, disuntik itu sakitnya cuma sedikit.” Ceriwisnya Raja masih sama seperti tadi. “Nenek menemani aku, tapi katanya nggak bisa lama-lama. Papa juga bilang sebentar lagi sampai ke sini.”
Rindu mengangguk. “Iya, papa kamu sebentar lagi sampai. Jadi, kamu harus nunggu di sini sama tante.”
“Aku suka nunggu sama tante.” Anak itu meraih tangan Rindu dan memeluknya erat. “Tangan tante dingin, tapi nyaman. Rasanya nggak kayak tangannya bunda.”
Jujur, Rindu ingin bertanya lebih jauh soal ibunya Raja. Hanya saja, lidahnya kelu. Saat ini, yang bisa dilakukannya adalah berusaha menyunggingkan senyum hangat meski mungkin akan terlihat aneh dan kaku.
“Tante,” panggil Raja.
“Ya?”
“Bisa nggak ya aku hidup terus sama papa? Bagaimana kalau nanti bunda jemput aku?” Ekspresi anak itu mendadak sendu. “Aku lebih suka sama papa.”
Tentu saja Rindu tidak punya jawaban atas pertanyaan itu. Ia sendiri tidak tahu apa-apa soal Jiro dan istrinya. Ia sama sekali tidak paham permasalahan yang melanda Jiro hingga mengorbankan perasaan anak polos seperti Raja. Hal yang dapat dilakukannya sekarang hanyalah mengelus lembut kepala anak itu dengan satu tangannya yang bebas dari dekapan lemah Raja.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!