“Tak ada orang yang benar-benar hidup dalam keadilan.”
“Raja harus segera menjalani pengobatan untuk menangani penyakitnya.” Dokter di depan Jiro menjelaskan dengan hati-hati. “Kondisinya sudah cukup serius.”
Bahu Jiro terkulai. Kakinya agak lemas mendengar kenyataan ini. Tetapi, ia berusaha untuk tetap kuat. Dirinya tidak boleh lemah karena Raja hanya bisa bersandar padanya sekarang. Lelaki itu meremas jemarinya, jelas sangat gelisah. Ia berupaya untuk menanyakan satu hal yang tadi tidak kuasa ia lontarkan saat mendengarkan hasil pemeriksaan di ruang dokter. “Bagaimana peluang sembuhnya, Dok?”
Dokter wanita itu tidak langsung menjawab. Matanya menatap lekat ke arah Jiro dengan sorot tidak terbaca. “Kecil kemungkinan karena sudah stadium lanjut. Setidaknya, pengobatan ini bisa memperpanjang umur Raja.”
Dua telapak tangan Jiro mengepal. “Bagaimana dengan operasi?”
“Kalau ada donor sumsum tulang belakang, mungkin bisa. Keputusan ada di tangan bapak sekarang karena Raja masih di bawah umur. Jika memang siap untuk menjalani pengobatan, bapak bisa segera menandatangani berkas tindakan sebagai wali dari Raja.” Dokter itu dengan sabar memberi penjelasan.
“Saya akan diskusikan ini dengan Raja. Bagaimanapun, dia yang menjalani.” Jiro tidak mau berbohong dengan kondisi anak itu. Meski masih sangat muda, Raja sudah cukup paham dengan apa yang terjadi pada sekitarnya.
Dokter di hadapan Jiro mengangguk. Ia pun pamit untuk kembali memeriksa pasien lainnya. Jiro sendiri masuk lagi ke dalam ruang perawatan—yang sudah pindah ke kamar VIP. Di ruangan itu, Raja berbaring dengan wajah pucat. Di sebelah ranjang, masih ada Rindu yang menemani sambil terus memegang tangan mungil anak itu.
“Bagaimana?” Tanya Rindu yang menyadari Jiro sudah kembali masuk ke dalam ruang perawatan.
Lelaki itu duduk di sofa dekat jendela. Matanya menatap nanar ke manik coklat gelap milik Rindu. “Kondisi Raja nggak bagus.”
Perlahan Rindu melepas genggaman tangannya. Ia beranjak dari sisi Raja. Perempuan tersebut mendekat ke arah teman masa kecilnya. Ia mengisi bagian sofa yang kosong. Rindu duduk di sebelah seraya memandang ke arah Raja yang baru tertidur setelah mendapat penanganan serta pindah kamar.
“Sakitnya parah?” Rindu belum mendapat cerita soal hasil pemeriksaan anak enam tahun itu. Raja yang mimisan dan tidak sadarkan diri membuat semuanya buyar.
Di sebelah Rindu, Jiro kembali meremas jemarinya. Kepala lelaki itu menunduk dan kerongkongannya mendadak kering. Lelaki tersebut bingung bagaimana harus menyampaikan hal ini. Ia tidak mau Rindu jadi ikut kepikiran, padahal itu bukan sesuatu yang perlu dilakukan perempuan itu.
“Jiro?” desak sang perempuan.
Lelaki itu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan dengan mulut. “Raja kena leukimia. Tanda-tandanya jelas dari lama, cuma aku nggak aware. Aku pikir dia cuma kelelahan karena terlalu aktif bermain. Aku kira lebam di tangan dan kakinya karena dia ceroboh sampai jatuh terus memar.” Kali ini, Jiro mengusap wajahnya.
Rindu menoleh dan menatap iba pada sosok teman lamanya. Perlahan, tangannya terulur untuk kembali menepuk pelan bahu Jiro. Perempuan itu sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Saat ini, setiap kata sama sekali tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik.
“Raja harus segera menjalani pengobatan.” Jiro melanjutkan bicaranya. Kini, ia menoleh, membalas tatapan Rindu. “Tapi…”
Alis Rindu terangkat sebelah. “Tapi kenapa?”
Bahu Jiro kembali merosot. Mata kecilnya menutup sejenak. “Aku mau dia dapat pengobatan, tapi keputusan semacam itu bukan hakku.”
“Kamu ayahnya, kamu berhak.” Rindu tidak habis pikir bagaimana bisa Jiro berpikir ia tidak ada hak atas keputusan dalam menindak keadaan genting putranya.
“Perwalian Raja ada sama bundanya. Aku… aku nggak punya hak apa-apa.” Jiro menjatuhkan sebuah informasi baru.
“Kok bisa?” Mata Rindu sampai melotot setelah mendengarnya. “Apa karena kalian nggak nikah?”
Gurat gelisah jelas sekali ada di wajah Jiro. Lelaki itu memandang ke arah ranjang. Di sana, Raja masih berbaring dan sedang berkelana di alam mimpi. Dalam hati, Jiro berharap bahwa anak itu bermimpi indah dan keajaiban membawa kesembuhan untuknya. Namun, harapan itu hanyalah sebuah keinginan yang tidak logis dan Jiro menyadari itu.
“Raja bukan anakku,” tutur Jiro dengan suara pelan nyaris berbisik.
“Hah?” Dua alis Rindu bertaut. Perempuan tersebut mengerjapkan mata, masih mencerna informasi lain yang agak mengejutkan ini. “Terus anak siapa?”
Dua pasang mata orang dewasa itu beradu. “Panjang ceritanya.”
“Aku pengangguran yang punya banyak waktu. Kalau kamu bersedia cerita, aku akan dengarkan.” Posisi duduk Rindu jadi agak miring agar bisa lebih leluasa menghadap Jiro. Satu kakinya naik ke atas sofa dan tangannya bersedekap.
Di tempatnya duduk, Jiro berusaha menelan ludah. Ia masih duduk tegak menghadap ke arah ranjang. “Raja itu anak sahabatku yang meninggal sebelum dia lahir. Bahkan, sahabatku itu belum tau pacarnya hamil. Kecelakaan merenggut nyawanya dan pacar sahabatku itu harus melahirkan dan merawat Raja sendirian.”
“Terus kamu kasihan dan ngaku jadi bapaknya?” Tanggap Rindu. Ia sudah seperti orang yang menonton tayangan drama di televisi.
“Sejak dia lahir aku udah ngaku jadi bapaknya. Raja dan bundanya nggak punya siapa-siapa. Aku berusaha ngisi kekosongan figur ayah untuk Raja. Cuma…” tiba-tiba Jiro menghela napas begitu berat.
Lelaki itu menoleh, membalas lagi tatapan Rindu yang menunggu lanjutan ceritanya. “Beberapa bulan belakangan bundanya Raja semakin menuntut ini dan itu.”
“Ini dan itu?” Kerutan di dahi Rindu semakin dalam. “Maksudnya?”
“Dia mau aku jadi papa benerannya Raja. Dia minta aku menikah sama dia.”
Netra Rindu berotasi. “Nggak ada salahnya sih menikahi bundanya Raja. I mean kalian udah membesarkan anak itu bareng. Gara-gara kamu tolak, bundanya jadi kabur, begitu?”
“Raja ditinggal begitu aja di depan pintu apartemenku. Dia cuma kasih surat supaya jaga Raja baik-baik. Katanya, dia nggak mampu lagi mengurus anaknya sendiri. Dia lelah jadi single mom dan mau bebas.” Jiro menunduk dalam seraya mengepalkan tangannya ketika mengingat soal surat yang diserahkan Raja dari bundanya.
“Jadi pengen maki-maki bundanya Raja,” gumam Rindu. Walau hanya sebatas cerita, tapi terdengar sangat mengesalkan. Bagaimana bisa ditolak malah memindahkan tanggung jawab ke orang yang menolaknya?
Jiro tersenyum getir, paham dengan reaksi teman masa kecilnya. Wajah lelaki itu terangkat guna menatap lekat Rindu yang ekspresinya jelas sedang kesal. Manik mereka kembali beradu. Kali ini, Rindu berdecak dan menatap tajam ke arah Jiro.
“Kenapa?” Perubahan ekspresi itu jelas menimbulkan tanya pada diri Jiro.
“Kamu masih aja jadi orang terlalu baik. Akhirnya jadi dimanfaatkan begini. Repot sendiri, lelah sendiri, pusing sendiri. Kenapa sih suka banget berlagak pahlawan? Kena hero syndrome?” Rindu malah mendumal. “Ternyata kamu nggak banyak berubah, masih kayak dulu.”
Tatapan tajam perempuan itu berubah lagi. Kali ini, Rindu memperlihatkan sorot terluka. “Kalau udah begini, gimana solusinya? Ini menyangkut nyawa anak kecil. Kamu udah coba hubungi dan cari bundanya Raja?”
“Aku udah coba hubungi dan juga cari. Tapi memang nggak ada hasilnya.” Jiro sama sekali tidak diam saja. Sejak hari pertama Raja berdiri di depan pintunya, lelaki tersebut berupaya mencari keberadaan bundanya Raja. Lelaki itu perlu bertanya banyak hal mengenai alasan kepergiannya.
“Dasar ibu menyebalkan. Kenapa orang-orang begini bisa jadi ibu?” Kegeraman Rindu sama sekali tidak bisa dibendung. Ia seolah tahu bagaimana sakitnya hidup dibersamai dengan ibu yang tidak siap menjadi orang tua.
Tanpa disadari, perempuan itu meneteskan air matanya. Amarahnya kembali bangkit. Ia kesal dengan kehidupannya. Tetapi, lebih kesal lagi dengan kehidupan Raja. Anak sekecil itu harus menderita seperti ini sangatlah tidak adil. Ditinggalkan dalam keadaan sakit parah sangatlah keterlaluan.
“Rindu?” Jiro yang melihat air mata mengalir ke pipi Rindu menjadi khawatir. “Kamu nggak apa-apa?” Tanyanya.
Tiba-tiba, Rindu memukul bahu Jiro cukup keras. “Kenapa hidup itu susah sekali adilnya?”
Di tempatnya, sang lelaki terpaku. Ia memandang Rindu yang tangisnya semakin pecah. Mata lelaki itu ikut panas. Manakala air mata memenuhi pelupuk matanya, Jiro dengan refleks memeluk Rindu. Lelaki itu menangis bersama sang sahabat masa kecil, seperti dulu kala mereka bersedih akan hal-hal sepele khas anak-anak.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!