Bab 13

0 dibaca

A

“Warna kehidupan itu terkadang monokrom.”


Kaki jenjang itu melangkah lebar dalam keremangan koridor rumah sakit. Matanya mengedar, memastikan dirinya masuk ke dalam bangsal yang sesuai. Tangannya terulur untuk mendorong pintu sebuah ruang rawat inap khusus pasien anak-anak.

Tidak ingin mengganggu pasien lainnya, si pemilik kaki melangkah lebih pelan. Ia menuju ranjang ujung dekat jendela. Kali ini, tangannya yang terulur sedikit menyingkap tirai yang menutup area satu ranjang itu. Napasnya yang tersengal berubah menjadi helaan lega manakala melihat sosok yang tidur di atas ranjang.

Perlahan, lelaki itu—Jiro—mendekat. Ia duduk di tepi ranjang dan mengelus lembut kepala anak lelaki yang sudah pulas. Sesaat kemudian, atensinya beralih pada sosok perempuan yang tidur sambil duduk di kursi sebelah ranjang. Tubuhnya menelungkup ke arah pinggir kasur. Satu tangannya menggenggam telapak tangan mungil yang ditusuk jarum infus.

Senyum di bibir Jiro merekah. Lelaki tersebut melepas jaketnya dan dengan hati-hati menyelimuti tubuh Rindu dengan jaket itu. Ada rasa bersalah dalam sorot matanya manakala menatap bergantian ke arah Raja dan Rindu. Ia berjanji akan datang secepatnya, empat jam. Namun, pesawat yang ditumpanginya mengalami keterlambatan sehingga ia baru tiba di tengah malam seperti ini.

“Jiro?” Suara berbisik dan serak terdengar. Posisi tubuh Rindu pelan-pelan berubah menjadi tegak. Perempuan itu juga menangkap jaket yang hampir jatuh dari bahunya.

Dalam remangnya lampu ruangan, dua mata itu bersirebak. “Maaf karena baru sampai,” bisik Jiro.

Rindu mengangguk. Arah pandangnya beralih pada wajah Raja yang damai dalam tidurnya. “Raja nungguin sampai hampir nolak tidur. Suhu badannya naik, tapi sudah minum obat,” lapor Rindu.

“Makasih sudah nemenin Raja.” Kali ini, Jiro merapikan selimut putranya. “Maaf juga karena merepotkan kamu.”

“Anggap aja ini impas. Sebelumnya, kamu repot karena aku. Aku masih punya hutang biaya rawat inap. Setidaknya, ini bentuk aku nyicil yang kemarin.” Rindu berdiri dari tempatnya. “Aku pamit pulang.

Hari baru saja berganti. Langit berada di puncak kelamnya. Jalanan telah sepi, karena memang mereka tidak tinggal di kota besar. Walau masih ada taksi maupun ojek, tetapi cukup sulit dan relatif rawan jika Rindu pergi sendirian.

“Sudah hampir pagi.” Jiro bicara pelan. Matanya menatap lekat ke arah Rindu. “Pulangnya tunggu terang aja, bahaya kalau pergi jam segini.”

“Aku bisa minta jemput Rafandra.” Rindu tetap bersikeras.

Saat perempuan itu akan benar-benar pergi. Kelopak mata Raja sedikit terbuka. “Tante,” ucapnya lemah. “Aku mau peluk tangan tante.”

Dua orang dewasa di dekat ranjang kembali adu pandang. Di posisinya, Jiro mempersilakan Rindu mendekat sementara lelaki itu yang menjauh. “Kayaknya Raja lebih suka ditemani kamu.”

Pada akhirnya, Jiro keluar ruang perawatan. Ia memilih duduk di bangku panjang dekat nurse station. Sesekali, matanya mengarah pada pintu ruangan. Namun, rasa khawatirnya sedikit berkurang sebab tahu bahwa Raja ditemani orang yang tepat.

Lelah akibat perjalanan dan waktu tunggu yang panjang, lelaki itu pun bersandar. Kelopak matanya perlahan menutup dan tangannya bersedekap di dada. Meski tidak pulas, kesadaran Jiro cukup menurun. Baginya, cukup untuk mengisi sedikit tenaga dan mengurangi penatnya. Hanya saja, ia kembali terbangun tatkala merasakan seseorang duduk di sebelahnya.

“Kamar VIP penuh, makanya Raja ditempatkan sama anak-anak sakit lainnya.” Itu suara Rindu.

Posisi duduk Jiro kembali tegak. Di tengah penerangan koridor yang terbatas, ia dapat melihat kilat kekhawatiran di mata Rindu. Bahu perempuan tersebut terkulai, jelas bahwa lelah juga menyapanya.

“Kata perawat, hasil serangkaian tes yang sudah Raja lakukan, keluarnya besok. Dokter juga bilang kalau mungkin ada hal yang mengkhawatirkan dengan kesehatan anak kamu itu. Aku agak kaget waktu dengar itu. Aku juga udah bilang ke mami kamu soal kondisi cucunya. Cuma… mami kamu mungkin sibuk jadi pesanku belum dibalas.” Rindu merangkum semua hal yang terjadi setelah Raja masuk IGD.

Kali ini, kepala Jiro sedikit menunduk. Ia menatap ujung kuku jempolnya. “Raja pasti baik-baik aja.” Ucapannya terdengar lirih.

Melihat teman masa kecilnya tampak rapuh, Rindu dengan ragu mendaratkan bahunya ke bahu Jiro. Perempuan itu menepuk pelan bahu lebar itu, seolah gerakan kecilnya dapat menenangkan. Aksi kecil ini membuat Jiro menoleh dan kembali beradu pandang dengan Rindu.

“Aku nggak tau masalah kamu sama ibunya Raja, tapi sebagai orang yang mentalnya udah morat-marit, tolong jangan seret anak sekecil itu dalam masalah kalian. Aku mungkin nggak punya kapasitas untuk memberi nasihat, tapi tolong perhatikan juga perasaan anak sekecil itu.” Rindu mungkin bicara dengan nada agak dingin, tapi di baliknya ada ketulusan dan rasa cemas untuk anak bernama Raja.

“Rindu.” Jiro memanggil perempuan di sampingnya. “Semuanya terasa complicated. Aku nggak mau Raja terpisah sama bundanya, tapi bundanya sendiri yang pergi. Aku… aku…” lelaki itu tercekat.

Sebelah alis Rindu terangkat. “Apa kamu sebelumnya terlalu sibuk sampai istri kamu nggak tahan dan ninggalin kamu sama anak sekecil Raja?”

Mata Jiro mengerjap. Ia terkekeh seraya menggelengkan kepala. “Aku sama bundanya Raja bukan pasangan menikah.”

Pengakuan itu membuat mata Rindu melotot. “Kamu… kamu… kumpul kebo sampai punya anak?” Suara Rindu sangat kecil tapi tetap sampai di telinga Jiro.

Bukannya membantah, Jiro terkekeh kecil lagi. Lelaki itu menatap lurus ke arah Rindu, menyisakan sorot penuh misteri yang seolah menginginkan Rindu untuk menggalinya. Jiro kembali bersedekap. Kali ini, arah pandangnya tertuju pada pintu ruangan tempat Raja dirawat.

“Nggak ada hal begitu. Satu hal yang perlu kamu ingat kalau aku papanya Raja. Satu-satunya lelaki yang dia tau sebagai sosok ayah dalam hidupnya.” Penuturan Jiro seperti menekan Rindu agar tidak banyak bertanya lagi.

Bibir perempuan itu terkatup rapat meski kepalanya semakin ribut. Ada banyak pertanyaan baru yang ingin ia lontarkan sekarang juga. Namun, melihat bagaimana Jiro masih ingin menyimpan segalanya sendirian, Rindu berusaha menahan diri. Dua orang yang dulu akrab itu tidak lagi adu pandang. Keduanya memilih untuk berdiam diri, mengubur segala pikiran yang tidak mampu diungkapkan.

Waktu pun berputar. Langit kelam mulai berubah menjadi lebih terang. Rencana Rindu untuk pulang terpaksa mundur karena Raja merengek agar Rindu terus menemaninya. Anak itu begitu manja dan terus menempel pada tetangga sekaligus teman main masa kecil ayahnya.

“Aku maunya sama Tante Rindu.” Lengan kecil Raja melingkari tangan Rindu.

“Raja, tante sudah temani kamu dari kemarin. Biarkan Tante Rindu istirahat di rumah. Nanti kesini lagi buat jenguk kamu.” Jiro terus berusaha membujuk putranya agar melepaskan Rindu.

Tidak mau kondisi Raja memburuk, Rindu mengalah. Perempuan itu membalas pelukan anak itu. “Oke, tante tetap di sini.”

Lagi pula, Rindu juga belum benar-benar ingin pulang. Entah mengapa, rumah terasa sangat tidak nyaman untuknya. Fakta bahwa pintu kamarnya sudah tidak ada semakin membuat perempuan itu ingin keluar seutuhnya dari dari sana. Dirinya malah merasa lebih aman dan nyaman di rumah sakit seperti sekarang.

“Rindu, tapi kamu…” Jiro tidak bisa berkata-kata.

“Nanti aku minta Rania atau Rafandra bawakan baju ganti.” Rindu menatap tajam ke arah Jiro.

Bagi lelaki itu, jalan terbaik saat ini adalah mengalah. Jujur, ia juga membutuhkan orang lain untuk menjaga Raja. Rasanya, lelaki tersebut tidak mampu jika harus ditinggal sendirian dalam keadaan anaknya sakit seperti sekarang.

“Orang tua Raja?” Seorang perawat masuk ke dalam ruangan. “Dokter sudah menunggu untuk membacakan hasil tes.”

“Tunggu di sini.” Jiro pamit pergi. Lelaki itu segera mengikuti langkah dan petunjuk perawat menuju ruang praktek dokter.

Entah mengapa, jantung lelaki tersebut berdebar keras. Ia takut jika hasil pemeriksaan lanjutan pada Raja tidak cukup baik. Bagaimana kalau anak itu sakit parah?

“Selamat pagi, Pak.” Dokter menyambut kedatangan Jiro dengan senyum simpul. Tangan kanannya memberi kode agar Jiro duduk di kursi seberang meja. Dokter itu selanjutnya mengarahkan layar komputer agar Jiro juga bisa melihatnya.

“Bagaimana keadaan anak saya?” Tanya lelaki itu, sangat cemas. Keringat dingin bahkan sudah membasahi dahinya.

Sementara di ruang perawatan, Raja melepas pelukannya pada Rindu. Mata bulat dan berbinar anak itu seperti enggan melepas tatapannya pada tante favorit. “Tante.”

“Iya, kamu mau sesuatu?” Rindu bersiap menjadi penjaga yang mampu gerak cepat dalam berbagai situasi.

Raja menggeleng. “Aku cuma suka banget liat tante. Tante nggak boleh sakit kayak kemarin, nanti papa sedih.”

“Papa kamu sedih?” Dua alis Rindu bertaut. “Kenapa papa kamu harus sedih kalau tante sakit?”

Bahu Raja mengedik. “Pokoknya sedih aja. Aku nggak suka kalau papa sedih begitu.”

Rindu kembali memaksakan diri untuk mengukir senyum di bibirnya. “Mungkin, papa kamu sedihnya karena kangen sama bunda kamu.”

Kali ini, kepala anak itu menggeleng kuat. “Kalau sama bunda, papa selalu marah-marah, bukan sedih.”

“Marah?” Misteri tentang hubungan Jiro dan ibunya Raja semakin memusingkan saja. “Kenapa marah?”

“Karena… karena…” Raja menunduk. Tiba-tiba darah kembali mengucur dari hidungnya.

Hal itu membuat Rindu memekik. Beberapa orang tua pasien yang ada di ruangan itu juga terkejut. Salah satu dari mereka memanggil perawat sementara Rindu malah terpaku. Tubuhnya bergetar hebat, apalagi ketika Raja kembali kehilangan kesadarannya.

“Raja?” Lirih Rindu.

“Raja!” Jiro yang baru saja masuk lagi setelah dari ruangan dokter ikut memekik terkejut.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk