Bab 15

0 dibaca

A

“Kejaran masa lalu seringnya berjejak dan menghantui.”


“Masih ingat pulang?” Sambutan ibu begitu sinis ketika Rindu masuk rumah.

Jika ditotal sejak dirinya sendiri yang masuk rumah sakit, maka sudah enam hari ia tidur di rumah sakit. Perempuan itu menatap malas ke arah ibu yang jelas kesal. Ia tidak menanggapi apa-apa karena sudah lelah. Perempuan itu melengos, pergi ke arah tangga menuju kamarnya.

Namun, derap langkah ibu jelas terdengar menyusul. Manakala Rindu hendak masuk kamar, ibu menghadang. Wanita yang sudah melahirkan Rindu tiga puluh tiga tahun itu tidak puas diabaikan.

“Ibu bicara sama kamu.” Napasnya sedikit terengah. Tatapannya semakin tajam.

Kali ini, Rindu tidak lagi abai. Perempuan tersebut bersedekap di depan ibunya. “Terus aku harus menanggapi bagaimana?”

“Kamu…” Tampak jika ibu sedang mati-matian menahan letupan amarahnya. “Kamu terlalu perhatian sama Jiro dan anaknya.”

“Aku cuma bersikap selayaknya manusia. Jiro temanku dan dia lagi kesusahan karena anaknya sakit. Membantu itu hal basic banget, Bu.” Rasanya mengesalkan sekali mendengar ibu bicara seolah Jiro dan Raja tidak pantas mendapat perhatian dan kebaikan dari orang lain. “Kalau bukan karena Jiro, aku mungkin juga udah mati malam itu.”

Dua telapak tangan ibu terkepal. “Kamu semakin keterlaluan. Sekarang, siap-siap. Ibu dan bapak sudah ada janji untuk ke pertemuan.”

“Bapak sama ibu yang mau pergi, kenapa aku harus siap-siap juga?” Kernyit di dahi Rindu muncul sangat dalam. Tatapannya jadi lebih tajam, sarat akan curiga.

“Kita akan bertemu sama keluarga calon suami kamu.” Ibu bicara begitu ringan seraya tersenyum tipis.

“Calon suami?!” Suara si sulung meninggi. “Ibu, aku nggak mau.”

“Sampai kapan kamu mau hidup begini dan jadi bahan omongan orang-orang? Kamu cuma butuh menjalani kehidupan normal sebagai perempuan dewasa. Teman-teman seusia kamu sudah hidup stabil. Mereka punya suami dan anak yang harus diurus. Jadi, nggak luntang-lantung kayak kamu. Meski nggak kerja, akan ada yang nafkahi kamu.” Rindu membiarkan ibunya mengomel. Perempuan itu mengatupkan bibir dan dua tangannya mengepal kuat.

Dada Rindu bergemuruh akibat amarah. Darahnya berdesir, menghantarkan panas dari aliran darah ke sekujur tubuhnya terutama wajah. Iya, wajah Rindu sudah sangat merah karena marah.

Tiba-tiba, perempuan itu melempar tas kanvas berisi pakaian kotornya. Kemarin, Rania—adiknya—sempat mampir rumah sakit untuk membawakan baju ganti. Kini, pakaian bekas pakainya berserakan di lantai.

“Rindu!” Mata ibu melotot.

“Cukup. Aku udah lelah sama semua drama omongan orang. Ini hidupku, Ibu. Kalau aku mau menikah, itu keputusanku juga mau sama siapa. Ibu dan bapak nggak bisa mengatur aku kayak gini.” Suara Rindu bergetar. Ia menjaga agar rentetan kata yang keluar dari mulutnya tidak semakin tinggi oktafnya.

Tubuh perempuan itu bahkan sampai sedikit gemetar. Panas di wajahnya menjalar hingga mata. Satu tetes air mata akhirnya tumpah juga. Tetapi, tatapan nyalangnya pada sang ibu belum dialihkan.

“Lantas kamu mau menikah sama siapa di umur kamu yang nggak bisa dibilang muda ini. Kamu mau sama Jiro?” Ibu mendengkus. Tatapannya tidak kalah nyalang. Adu tatap itu benar-benar mengerikan karena dua orang yang berhadapan sama kerasnya.

“Aku rasa memilih Jiro bukan hal yang buruk.” Merasa tertantang, Rindu bicara asal saja. “Kenapa? ibu nggak mau punya menantu seorang duda?”

“Rindu, ibu dan bapak cuma mau kamu bahagia. Pilihan kami pastinya tepat, sesuai deng—” Penuturan Ibu Sumi terpotong begitu saja.

“Tepat? Apa selama ini ibu dan bapak merasa semua keputusan untuk kami, anak-anak kalian, tepat?” Tawa perih Rindu menggelegar. “Tepat,” gumamnya disela tawa yang dalam sekejap berubah menjadi isakan.

Air mata mengalir lebih deras. Rindu tidak menyekanya, dibiarkan saja cairan itu membasahi sebagian wajah. Kali ini, atensinya tertuju pada pintu kamar yang daun pintunya sudah hilang. Tirai tipis yang menjadi penyekat sengaja dibuka dan memperlihatkan isi dalamnya yang hampir kosong dari perabotan selain ranjang.

“Dari dulu aku nggak pernah punya pilihan. Sejak lama aku harus menurut walaupun merugikan aku sendiri.” Rindu menelan ludahnya susah payah. “Aku pergi.”

Perempuan itu balik badan. Kakinya melangkah cepat ke arah tangga. Rindu bahkan mengabaikan panggilan dari ibunya. Setengah berlari ia berusaha keluar dari rumah yang lebih banyak menyimpan kepedihan dalam hidupnya.

“Kak?” Rafandra dan istrinya yang baru masuk rumah menatap Rindu dengan heran. “Ibu?” Sementara ibu mulai tertatih menyusul sulungnya.

Namun, tekad Rindu sudah bulat. Ia sama sekali tidak ingin menoleh ke belakang. Ia sudah siap pergi meski hanya bermodalkan pakaian yang dipakainya, ponsel dengan daya baterai tinggal dua puluh persen, dan dompet di dalam kantong celana.

“Rindu!” Panggilan ibu terdengar lebih nyaring.

Kaki Rindu terus bergerak maju. Hanya saja, tiba-tiba tubuhnya mematung. Napas tersengalnya akibat amarah berubah drastis menjadi ketakutan. Dua kelopak matanya terbuka lebar manakala menangkap sosok lelaki yang baru saja turun dari motor. Lelaki itu menatapnya sambil tersenyum tipis.

Perlahan, tubuh Rindu bergetar. Langkah majunya menjadi mundur. Tenggorokannya tercekat. Kelebat memori masa lalu mampir lagi di kepalanya. Sakit di kepala perempuan itu menjadi semakin menjadi. Telinganya berdengung dan oksigen kian sulit dihirup seiring dengan jarak lelaki yang baru tiba itu menjadi lebih dekat ke arah halaman rumah.

“Lama nggak ketemu, Dek.” Suara rendah itu menyapa ramah. Tetapi, di telinga Rindu terdengar sangat menakutkan.

Kaki perempuan tersebut terus mundur. Dadanya semakin sesak. Matanya berkunang-kunang, siap untuk merenggut kesadarannya. Ketika Rindu sudah akan terjatuh ke dalam lubang ketakutan, tangan hangat meraih telapaknya. Pandangan mata Rindu pada orang yang baru datang itu menjadi terhalang, berganti dengan bahu lebar dan aroma mint yang khas dari seorang Jiro.

“Aku di sini,” bisik Jiro, meyakinkan Rindu jika segalanya akan baik-baik saja.

“Ah, kamu tetangga depan yang sering main sama Rindu dari dulu itu?” Suara lelaki yang kini sudah benar-benar masuk ke halaman rumah terdengar.

Di belakang Rindu, derap langkah ibu kembali muncul. “Damar?” Seolah lupa dengan kemarahannya pada sang putri sulung, ibu menyambut hangat tamu yang baru tiba.

Senyum ibu merekah lebar. Pelukan singkat menjadi sambutan paling manis yang diberikan ibu pada lelaki bernama Damar itu. “Udah lama nggak mampir. Ayo masuk.”

Lirikan mata ibu sempat mampir ke arah Rindu. Sorotnya seolah mengatakan bahwa urusan mereka belum selesai. Sementara lelaki bernama Damar itu mencuri pandang ke arah Rindu dan Jiro. Bibirnya menerbitkan seringai. Tatapan dari lirikan itu seperti meremehkan mereka.

“Aku takut,” bisik Rindu. Tubuhnya semakin bergetar dan pegangannya pada sebelah tangan Jiro menguat.

Di posisinya, Jiro terdiam. Rahang lelaki tersebut menguat. Matanya mengerjap dan ia membalas cengkraman kuat Rindu. Jiro berbalik, menghadap sang teman masa kecil. “Mau minum coklat panas?” Tawarnya.

Atensi Rindu jatuh fokus pada sosok di hadapannya. Kenangan lama mereka kembali muncul. Coklat hangat selalu menjadi penenang dan Jiro sangat mengetahui hal itu. Maka, kepala Rindu mengangguk kecil untuk menerima tawaran Jiro.

“Ada aku, jangan takut.” Lelaki tersebut menambahkan ucapan guna menenangkan Rindu yang masih terlihat ketakutan.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk