“Semua orang juga punya sisi buruknya masing-masing”
Langit mendadak mendung dan rintik hujan mulai turun membasahi bumi yang kering. Aroma petrichor dari tanah basah menguar, menembus bagian dalam minimarket yang pintunya baru saja dibuka dan ditutup kembali oleh pembeli yang silih berganti.
Di bangku pojok khusus pembeli yang ingin nongkrong sambil ngemil, Rindu dan Jiro duduk. Keduanya menghadap jendela. Mata mereka menatap rintik hujan yang semakin deras dan mulai membasahi kaca di hadapan mereka.
Segelas coklat panas tampak mengepul, terhidang di atas meja tepat di hadapan Rindu. Tangan perempuan tersebut memegang gelas kertas itu. Tubuhnya sudah tidak gemetar seperti tadi, tetapi ketenangan pikirannya belum benar-benar ia raih.
Sesekali, Rindu menutup mata. Ia mencoba untuk menghilangkan segala ingatan buruk di masa lalu. Ketika kelebatan itu tampak semakin jelas, ia segera meminum coklatnya lagi. Hangat dan manis dari minuman itu cukup mampu mendistraksi segalanya. Semua yang terjadi pada Rindu disaksikan oleh Jiro.
Lelaki tersebut menghela napas berat. Mengalihkan atensi dari depan ke samping—ke wajah bagian samping Rindu—berhasil menarik kembali kesenduannya. Kalau boleh jujur, Jiro sangat lelah dengan masalah hidupnya, sakitnya Raja, dan kini dihadapkan pada kondisi Rindu.
Jiro rasanya ingin merangkul semua dan membereskan semua masalah satu per satu. Namun, ia tahu, dirinya hanyalah manusia biasa. Ia tidak mungkin bisa segera bertemu ibu kandung Raja dan meminta hak asuhnya dialihkan untuk pengobatan. Lelaki itu juga tidak mungkin bisa menghapus perihnya hati dan pikiran Rindu yang sudah berlangsung belasan tahun itu.
“Mungkin aku memang nggak boleh lega. Aku nggak pantas bahagia.” Rindu meracau. Sesekali, ia kembali menyesap minumannya.
“Rindu.” Tangan Jiro meraih tangan sang teman masa kecil. Suhu dingin dari kulit Rindu langsung terasa. Ini pertanda bahwa ketakutannya masih menempel erat. “Semua orang berhak hidup bahagia.”
“Mungkin aku bukan anak kandungnya ibu. Dari dulu aku hidup terlalu dituntut. Ibu kayak nggak suka kalau aku senang.” Rindu melanjutkan lagi penuturannya. Pandangannya kosong ke arah jendela yang sudah benar-benar basah oleh hujan.
Kali ini, gemuruh dari suara petir terdengar bersamaan dengan setetes air mata jatuh dari mata kanan Rindu. Tampaknya, cuaca sekarang seolah mendukung perempuan itu untuk meratapi rasa gundahnya.
“Nggak boleh ini dan itu. Ruang privasi dilucuti dari dulu, dan sekarang ngatur mau dibawa kemana hidupku. Hidup yang sebenarnya sudah lama hancur. Tapi, terpaksa aku jalani karena mati pun aku belum siap.” Air mata semakin banyak keluar. Rindu mengusap pipinya dengan kasar.
Arah pandangnya berubah haluan. Kali ini, perempuan tersebut membalas tatapan prihatin Jiro. “Apa Tuhan nggak suka sama aku?” Tanyanya.
Genggaman tangan lelaki itu menguat. Kepalanya menggeleng dan senyum kecil terbit di bibir Jiro. “Hmmm… mungkin Tuhan menilai kalau kamu kuat melalui ujian-Nya untuk bisa dapat kebahagiaan yang berlipat ganda.”
Jujur saja, Jiro tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Lelaki itu juga terkadang berpikiran serupa ketika masalah datang silih berganti. Namun, masalah itu sama sekali tidak sebanding dengan apa yang perempuan di sampingnya itu pikul dari lama.
“Jiro.” Suara Rindu bergetar ketika menyebut nama itu. “Aku lelah.” Tatapannya semakin pilu. “Aku takut sekali.”
Sudah jelas ketakutan itu ada di dalam diri Rindu. Sebenarnya, rasa takut itu juga menghantui Jiro. Lelaki tersebut menarik tubuh Rindu untuk memeluknya. Tangan besar lelaki tersebut menepuk pelan punggung rapuh si perempuan. “Wajar kalau takut.”
Wajah Rindu bersembunyi di pundak lebar itu. Kemeja Jiro di bagian itu terasa basah oleh air mata sang sahabat kecil. “Ibu bahkan mau jodoh-jodohin aku. Bagaimana kalau… kalau…” tangisnya pecah lebih parah.
Tubuh Rindu kembali bergetar hebat. Sementara itu, Jiro semakin mengeratkan pelukannya. Ia ikut geram karena tidak sepatutnya perempuan dewasa seperti Rindu masih dipaksa mengikuti keinginan orang tua yang bertentangan. Apalagi saat ia mengingat ekspresi lelaki bernama Damar tadi itu. Ingin sekali Jiro memukulnya dengan hebat.
“Aku akan bantu kamu.” Entah mengapa, tiba-tiba saja Jiro menawarkan diri untuk membantu.
Pelukan itu terurai. Rindu menatap lekat manik coklat terang teman bermainnya saat kecil itu. “Bantu bagaimana?”
Ucapan tadi spontan saja. Ia belum terpikirkan bagaimana caranya. Jiro terdiam cukup lama. Ia harus memutar otak untuk memberikan solusi atas masalah Rindu ini.
“Bantu dengan…”
“Pura-pura kita pacaran?” Rindu berceletuk.
“Hah?” Mata Jiro mengerjap.
“Atau sekalian aja kita nikah?” Kalimat itu meluncur mulus dari bibir Rindu.
Jiro tidak berpikir sampai sejauh itu. Hanya saja, tatapan penuh harap dari Rindu membuatnya seketika mengangguk. “Mau nikah sama aku?”
Dua orang itu masih adu pandang. Rindu tidak segera menjawab. Sejenak, perempuan itu membiarkan dirinya menelisik ke dalam tatapan Jiro. “Aku butuh ruang aman dan bebas. Aku mau lepas beban yang ditumpuk ibu di pundakku. Aku mau melupakan semua hal buruk di masa lalu. Kamu mau terima buruk itu?”
“Aku juga punya beban dan keburukan. Kamu mau terima semua?” Jiro membalik keadaan.
Semua orang di dunia pasti punya beban dan masalahnya masing-masing. Orang-orang juga pasti punya sisi buruknya juga. Supaya semuanya seimbang, sebuah penerimaan menjadi hal penting dalam menjalani segala kehidupan yang tidak selalu lurus atau putih. Maka, jika dua orang mau menerima semua yang ada dalam diri masing-masing, tidak ada salahnya menjalani itu.
“Aku bisa bantu soal pengalihan hak asuh Raja,” tutur Rindu.
Mata kecil Jiro membulat. “Bagaimana caranya?”
“Aku kenal pengacara. Dia dulu yang bantu kasusku di kantor. Dia bisa bantu.” Kali ini, kepala Rindu menunduk.
“Kamu mau kita saling tukar benefit?” Tebak Jiro.
Rindu mengangguk kecil. “Aku cuma mau keluar dari rumah sekaligus membungkam ibu soal kehidupanku yang katanya luntang-lantung ini. Ibu mau aku sibuk mengurus suami dan anak. Jadi, mari wujudkan maunya supaya nggak terus-terusan membeo soal perjodohan.”
“Kamu yakin ini jalan keluarnya?” Dari cara bicaranya, Jiro terdengar ragu. “Maksudku, menikah itu kadang bukan jadi penyelesai masalah yang ampuh.”
“Aku tau. Tapi, aku nggak mau cuma kabur jauh aja. Itu nggak akan pernah bisa menyelesaikan gosip orang-orang tentang aku. Juga…” Wajah Rindu terangkat. “Apa orang lain ada yang mau sama aku?”
“Ya?” Kening Jiro mengerut dalam.
“Kamu tau semuanya. Aku nggak minta kamu jadi seperti pasangan pada umumnya. Aku cuma mau status itu membuat aku lepas dari lelah ini.” Tatapan Rindu menjadi sangat pilu. “Aku akan bantu kamu ngurus Raja.”
Di luar sana, hujan kian reda. Seberkas sinar matahari sore mulai tampak menembus awan kelam yang menipis. Perlahan, sisa uap air di langit membentuk warna pelangi yang samar. Mungkin, jika orang di bumi benar-benar menatap lekat langit, mereka baru bisa menyadari jika pelangi terbentuk tipis menghiasi suasana setelah hujan.
Di dalam minimarket, dua orang yang sama lelahnya dengan kehidupan masih adu tatap. “Oke.” Jiro mengulurkan tangan, mengajak untuk bersalaman.
Aksi itu disambut oleh Rindu. Dua teman masa kecil tersebut kini berjabat tangan. Keduanya tersenyum tipis. “Mau buat sedikit pertunjukan seru?” Sebelah alis perempuan itu terangkat ketika jabatan tangan terlepas.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!