Bab 18

0 dibaca

A

“Dendam itu tidak baik, tapi manusia bukan makhluk sempurna yang mudah ikhlas.”


Berita terpanas di Perumahan Bunga Indah menyebar begitu cepat. Hubungan Rindu dan Jiro menjadi omongan yang dimulai dari Ibu Azizah karena melihat bagaimana dua orang itu bergandengan tangan. Kesaksiannya diperkuat oleh Mbak Salma yang tadi bersama dengan Ibu Azizah. Beberapa penghuni rumah yang dilewati Rindu dan Jiro juga mengaku melihat kemesraan mereka.

Namun, liarnya gosip itu semakin besar karena adegan baku hantam antara Jiro dan Damar. Semua heboh sebab anak bungsu salah satu orang terkaya di komplek membuat saudara jauh Ibu Sumi babak belur. Perkelahian itu diduga karena memperebutkan Rindu. Tak ayal, omongan perih tentang perempuan itu kian parah.

“Memang apa sih istimewanya si Rindu?” Mbak Salma berdecak kesal. “Cantik emang, tapi kayak layu gitu. Pelit senyum, mulutnya kalau ngomong nggak ada rasa kemanusiaannya. Anaknya Ibu Miyuki buta kali ya?” Dumalan itu sarat akan iri dengki.

Di sebelahnya, Ibu Azizah manggut-manggut. “Apa jangan-jangan si Rindu itu pelakor?”

Dugaan itu menjadi bola liar yang memperparah asumsi kelompok yang berkumpul di sekitar mereka. Kumpulan ibu-ibu itu semakin ramai ketika bapak-bapak ikut nimbrung. “Nggak ada yang aneh kalau memang itu benar. Bisa jadi di perantauan mereka sering ketemu dan akhirnya begitulah.” Salah seorang bapak angkat bicara.

Orang-orang itu semakin yakin mengangguk. Pandangan mereka pada dua orang yang pulang akibat dirasa gagal dalam kehidupan sangatlah parah. Atensi mereka tertuju pada dua rumah yang berseberangan. Masing-masing menatap bergantian gerbang yang berbeda.

Sementara itu, kondisi di rumah Jiro lebih lengang. Tidak ada orang selain Jiro, Rindu, Rafandra, dan Nadira. Kebetulan Asisten Rumah tangga di rumah keluarga Jiro sedang cuti. Sementara Raja masih di rumah sakit dan untuk sebentar saja dititipkan ke perawat. Tadinya, Jiro pulang hanya untuk berganti pakaian dan mengambil barang-barang yang diperlukan. Namun, jadi berakhir seperti sekarang, sedikit lebam di pipi dan sudut kiri bibirnya terluka.

“Aw!” Lelaki itu meringis manakala Rindu membersihkan luka di sudut bibir itu.

“Terima kasih,” gumam Rindu. Perempuan itu menatap mata coklat terang lelaki di depannya. Sorot yang ia tunjukkan begitu tulus. “Setidaknya untuk sementara dia bungkam.”

“Gigi Mas Damar lepas dua dan lidahnya sedikit robek. Semoga dia nggak menuntut Bang Jiro.” Rafandra dan istrinya masuk ke ruang tengah seraya membawa salep luka.

“Kenapa sih kayaknya Kak Rindu sama Bang Jiro nggak suka sama Mas Damar?” Nadira—istri Rafandra—masih bingung dengan kejadian tadi. Pembicaraan keluarga juga tidak berpotensi untuk memantik keinginan Jiro menghajar Damar.

Di tempat duduknya, Rindu mematung. Kain kasa di tangannya ia pegang kuat. Perempuan itu tidak ingin membicarakan alasan dibalik emosi Jiro. Di depannya, Jiro terdiam. Maniknya menyelami manik Rindu yang penuh keraguan dan ketakutan.

Tiba-tiba, lelaki itu tersenyum tipis. Ia menoleh, menatap Nadira yang masih diliputi rasa penasaran. “Dia nyebelin.” Begitulah jawaban Jiro.

Rafandra meraih tangan Nadira. Ia menggenggamnya erat dan membuat sang istri menatapnya. “Kalau misalnya kamu sendirian di rumah dan Mas Damar datang, usahakan terima di teras aja.”

“Kenapa?” Perempuan satu anak itu mengernyit.

“Bukan muhrim,” jawab Rindu dengan singkat, padat, dan kaku.

Gejolak di hatinya kembali menyapa. Memori menyakitkannya samar-samar berputar di kepala. Walau tidak terlihat, tetapi tubuh Rindu kembali bergetar seiring rasa takutnya perlahan menyeruak. Ia sama sekali tidak ingin mengingat lagi masa lalu. Namun, ibu malah membuat keputusan yang menurutnya gila.

Menjodohkannya dengan Damar? Seperti tidak ada laki-laki lain saja yang lebih layak untuknya. Mengapa harus lelaki itu?

Luka hati Rindu semakin dalam. Akibatnya, ia sama sekali tidak ingin kembali ke rumah. Perempuan itu harus mencari rumah lain yang layak menjadi tujuan pulang. Seperti keinginannya di awal, ia akan meninggalkan semuanya di sana dan pastinya akan menjalani kehidupan baru yang lebih baik.

“Raf,” panggil Rindu pada adik bungsunya. “Bilang ke bapak dan ibu, aku nggak akan pernah menginjakkan kaki di rumah seberang. Aku nggak tau akan kemana, tapi jangan pernah cari aku.”

Setelah bicara begitu, Rindu beranjak. Kali ini, perhatiannya tertuju pada Jiro yang sama terkejut. “Aku butuh waktu sendirian,” katanya.

“Kak?” Rafandra dan Nadira tampak panik manakala Rindu keluar dari rumah keluarga Jiro.

Sementara Jiro diam saja. Ia menatap nanar punggung rapuh yang akhirnya tidak terlihat begitu perempuan tersebut berbelok ke arah gerbang rumah. Tangan lelaki tersebut terkepal, segala perasaan campur aduk di dadanya. Marah, sedih, prihatin, dan lega.

“Bang.” Rafandra menatap Jiro, memberi kode agar teman masa kecil kakaknya itu menyusul dan membujuk Rindu.

“Biarkan dia punya waktu sendiri dulu. Aku tau kemana dia mau pergi.” Jiro yakin sekali dengan ucapannya. Ia kenal Rindu dan cara perempuan itu meredam emosinya.

“Tapi…” Nadira ikut khawatir. Wajar, sebab beberapa hari lalu Rindu sempat melakukan hal nekat yang jelas membahayakan dirinya.

“Dia nggak akan berbuat nekat lagi.” Jiro menatap Rafandra dan Nadira bergantian.

Di luar rumah, Rindu mengambil jalan memutar. Ia tidak ingin berurusan langsung dengan kelompok penggosip yang berkumpul di gazebo RT dekat rumah. Saat ia keluar gerbang, orang-orang itu bahkan menargetkan atensi padanya. Kaki Rindu melangkah di gang kecil, di antara tembok-tembok tinggi rumah tetangga. Ia melewati kebun kecil dan keluar di area pematang sawah.

Langkahnya terus maju hingga mencapai jalan raya. Minimarket andalannya ada di seberang jalan sana. Namun, tujuan Rindu bukan di sana. Berbekal ponsel yang daya baterainya semakin rendah, ia memesan taksi. Perempuan itu memberikan satu titik lokasi, di mana ia pikir tidak akan ada yang dapat menjangkaunya ke sana.

Selama di jalan, Rindu beberapa kali menghela napas berat. Perempuan tersebut menatap nanar ke arah jalanan dari jendela di sebelahnya. Lalu lalang kendaraan yang tadinya padat berangsur lebih lengang. Kali ini, mobil melewati beberapa tanjakan di bibir pantai bertebing. Tiga puluh menit berlalu dan Rindu akhirnya sampai di tujuannya.

“Terima kasih, Pak,” ucapnya pada sopir taksi yang tampak memahami bahwa Rindu tidak ingin diganggu dengan berbagai pertanyaan.

“Hati-hati ya, Mbak.” Sopir itu tersenyum ramah sebelum pergi.

Rindu sendiri mengangguk dan menuruni tangga menuju sumber suara ombak. Aroma garam dari laut tercium kuat manakala titik akhir dari tujuannya mendekat. Kali ini, perempuan itu berhenti melangkah sebentar. Kelopak matanya menutup guna merasakan hembusan angin laut di siang menjelang sore ini.

Perempuan tersebut menarik napas dalam-dalam, seperti hendak memenuhi paru-parunya dengan oksigen sepuasnya. Mata perempuan itu perlahan terbuka dan tangisnya pecah disertai teriakan nyaring ke arah laut.

“Aaa!!!” Suaranya ditelan oleh ombak yang membentur tebing.

Kali ini, ia duduk di antara bebatuan. Rindu memeluk kakinya yang terlipat. Getaran tubuhnya kembali lagi. Kilatan memori masa lalu itu semakin mendesak untuk berputar di kepalanya. Di tempat persembunyiannya ini, Rindu berusaha tenang seperti dulu.

“Semua baik-baik aja,” bisiknya. Namun,pelupuknya sudah berlinang air mata. “Semua pasti akan terus baik-baik aja.” Berulang kali ia bicara seperti itu, mencoba meyakinkan diri untuk terus bertahan.

“Iya, semua baik-baik aja, Rindu.” Suara di belakang punggungnya terdengar. Kali ini, perempuan itu berbalik dan mendapati Jiro berdiri di anak tangga terbawah menuju pantai batu bertebing itu. “Tempat ini masih jadi hidden gem kayaknya,” komentar Jiro.

Di tempat duduknya, Rindu tersenyum kecil. Ada rasa lega ketika ia melihat Jiro. Tetapi, ia juga lanjut cemberut sebab perempuan itu masih ingin punya waktu sendirian. Ia tidak ingin menghabiskan energi untuk bicara dalam situasi sekarang.

Seperti mengerti keinginan Rindu, Jiro mengambil tempat duduk cukup jauh. Lelaki itu berteriak sepertinya tadi dan setelahnya diam saja memandang lautan di depan mereka. Rindu pun kembali fokus pada laut di depannya, tenggelam ke dalam bising ombak serta larut dalam aroma segar garam yang terbawa angin.

“Semuanya baik-baik aja,” gumamnya lagi untuk memberikan afirmasi positif pada dirinya sendiri.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk