Bab 17

0 dibaca

A

“Tidak semua kebohongan itu buruk.”


Berjalan di jalanan komplek mungkin sudah biasa bagi Jiro. Namun, hal yang tidak biasa adalah melangkah di jalanan itu sambil bergandengan tangan dengan Rindu. Dulu, saat mereka kecil mungkin tampak normal. Hanya saja, sekarang keduanya telah bertransformasi sebagai orang dewasa. Hal ini tentu akan menjadi omongan para tetangga yang beberapa dari mereka mencuri pandang ke arah Jiro dan Rindu.

“Jadi, ini pertunjukan yang kamu maksud?” Tanya lelaki itu. Ia menoleh untuk menelisik ekspresi Rindu.

Tetap mempertahankan tatapannya ke depan, Rindu mengangguk. “Kita kasih sumber gosip terpanas untuk mereka.”

Genggaman tangan perempuan itu semakin erat ketika melewati rumah biang gosip komplek. Kebetulan, Ibu Azizah—si biang gosip—sedang duduk di teras rumahnya sambil ngerujak bersama Mbak Salma—rekan tukang gosipnya. Dua orang itu tentunya langsung heboh sendiri. Mata mereka tidak lepas dari dua orang yang sedang bergandengan itu.

Tidak tanggung-tanggung, Rindu semakin memanaskan pertunjukan. Tiba-tiba saja perempuan tersebut merapatkan tubuhnya ke arah Jiro. Ia menyandarkan kepala di bahu lelaki itu. Tidak peduli tubuh Jiro jadi kaku akibat terkejut.

“Kamu ngapain?” Bisik lelaki itu.

“Improvisasi supaya beritanya semakin panas.” Jawaban Rindu diikuti dengan kekehan geli.

Tampaknya, Rindu sudah tidak gundah seperti tadi. Tetapi, Jiro tahu jika teman masa kecilnya itu hanya mengubur sementara semua perasaan perihnya. Bersikap main-main begini sedikit memberi hiburan bagi perempuan tersebut. Juga, menjadi jalan untuknya supaya ibu dan bapak berpikir ulang soal menjodohkannya.

Bayangkan, apa kata tetangga kalau mereka melihat Rindu dan Jiro bergandengan mesra, tapi akhirnya Rindu malah dijodohkan pada orang lain. Jika melihat bagaimana watak ibu, tentu saja hal seperti ini akan membuatnya berpikir ulang melakukan hal itu. Ibu tidak mau menjadi sumber gosip orang-orang sekitar.

Semakin dekat dengan jarak rumah, Rindu kian kuat menggenggam tangan Jiro. Posisi jalannya kembali tegak, tapi napasnya tercekat manakala melihat motor milik Damar masih terparkir di depan gerbang rumah.

Menyadari itu, Jiro membalas lembut tautan jari mereka. “Kali ini, biar aku yang ngasih pertunjukan,” katanya.

Seketika Rindu menoleh. Langkah mereka terhenti sejenak. “Seperti apa pertunjukannya?”

Senyum hangat Jiro terbit. Lelaki itu menepuk pelan kepala Rindu sebelum memimpin jalan untuk masuk ke dalam rumah keluarga perempuan tersebut. Kehadiran mereka pun menjadi pusat perhatian, mengundang kerut dalam di kening ibu dan bapak. Sementara Damar menyeringai kecil dan menatap dengan remah.

“Ibu, bapak, bisa aku bicara sebentar?” Jiro angkat bicara.

Di mata Rindu, ibu tampak enggan tapi terpaksa setuju karena bapak yang memberi izin. “Silahkan duduk.”

“Aku mau bicara dengan keluarga saja.” Kali ini, lirikan Jiro tertuju pada Damar.

“Semuanya di sini keluarga. Termasuk Damar yang memang masih sepupunya Rindu.” Ibu bicara dengan nada dingin.

“Rafandra!” Bapak memanggil adik bungsu Rindu yang mungkin sedang ada di kamar bersama istri dan anaknya.

Salah satu pintu terbuka. Rafandra muncul sambil tersenyum canggung ke arah Jiro. Ia duduk di sofa sebelah Damar. Tetapi, Rindu dan Jiro belum juga duduk di sofa seberang bapak dan ibu.

“Nadira juga harus ada di sini. Dia termasuk ke dalam keluarga inti.” Rindu protes, karena istri Rafandra seperti dikecualikan. Padahal Damar yang keluarga jauh ada di antara mereka.

Awalnya, ibu hendak protes. Untungnya ayah lebih dulu memanggil sang menantu. “Nadira!”

Begitu semua sudah berkumpul, Rindu dan Jiro baru duduk. Keduanya duduk dengan jarak yang sangat dekat. Tautan tangan mereka bahkan tidak terlepas, malah semakin kuat. Jiro sendiri bisa merasakan ketakutan mulai muncul dari diri Rindu tatkala matanya tanpa sengaja bersirebak dengan tatapan Damar.

“Aku mau melamar Rindu.” Jiro bicara tanpa basa-basi.

Hening menguasai ruang tamu. Orang-orang di sana menatap lekat ke arah dua orang yang belakangan menjadi topik panas para penggosip. Si perempuan yang selalu dipanggil perawan tua menyedihkan dan si lelaki yang dapat julukan duda gagal. Bukankah ini combo mematikan?

“Apa ini permainan kamu, Rindu?” Ibu melengos, fokusnya tertuju pada putri sulungnya.

Adu tatap antara ibu dan anak itu terjadi lagi. Untungnya tidak intens seperti tadi. Si anak—Rindu—menaikkan sebelah alisnya. “Permainan?” Perempuan itu terkekeh. “Setelah enam hari waktuku lebih banyak sama Jiro, apa pantas bermain-main?”

“Kak…” Rafandra yang ingin angkat bicara jadi urung. Tangan bapak lebih dulu memberikan tanda agar putra semata wayangnya diam saja.

Giliran bapak yang menginterogasi Jiro. “Kalian baru ketemu lagi setelah sekian lama. Bagaimana bisa kamu yakin mau menikahi Rindu. Jiro, kamu sendiri kembali ke sini karena kegagalan rumah tangga sebelumnya.”

Mendengar itu, Jiro mengangguk kecil. Ia tidak gentar tatkala membalas tatapan bapak. Berbeda dengan Rindu, sorot mata lelaki itu lebih lembut. “Pada dasarnya, aku dan Rindu sudah lama saling mengenal. Usia kami sangat matang dan perasaan itu tidak pernah bisa diprediksi seberapa cepat tumbuhnya.”

Sebelah tangan Jiro yang menggenggam jemari Rindu terangkat. Lelaki tersebut mencium ringan permukaan kulit tangan perempuan di sampingnya. Aksi itu jelas membuat semua orang terbelalak, khususnya ibu dan bapak. Rindu sendiri sebisa mungkin menjaga ekspresinya agar tetap tenang meski nyatanya perempuan itu terkejut akan pertunjukan yang diperlihatkan Jiro.

“Karena kami sudah lama saling mengenal, kecocokan itu secara otomatis timbul. Tidak perlu waktu lama untuk perasaan cinta itu tumbuh di antara kami.” Jiro melanjutkan penuturannya.

Tiba-tiba, tepuk tangan keras dari arah Damar terdengar. Pria itu tertawa, seolah penampilan Jiro barusan seperti pertunjukan lawak yang sangat lucu. “Sandiwara yang sempurna.”

“Sandiwara?” Geram dengan lelaki itu, Rindu angkat bicara. “Kenapa kamu pikir ini sandiwara?” Mata Rindu membulat. Ia membuang ketakutannya ketika harus menatap mata kelam Damar.

Seringai lelaki itu terbit. “Atau karena cuma dia yang mau terima kamu apa adanya, jadi kamu pasrah? Apa mungkin kamu benar-benar ahli menggoda dari dulu?”

Tubuh Rindu sedikit bergetar. Ketakutan bercampur amarah kini menguasai emosinya. Rasanya, perempuan tersebut ingin menerjang dan menggaruk keras wajah Damar. Ia ingin mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan lelaki itu.

“Cukup. Berhenti main-mainnya. Rindu akan menikah dengan Damar.” Ibu bersuara lantang. “Seperti mau kamu dulu yang suka menggoda dia, jadi sekarang kami kabulkan mau kamu itu.” Ibu menatap Rindu sangat dingin.

Hati perempuan itu mencelos. Luka hatinya seolah terkoyak. Kerongkongannya mendadak kering, tidak bisa membantah sang ibu secara langsung. Padahal, ia ingin berteriak jika dirinya bukan penggoda. Rindu tidak pernah mau dengan Damar. Semuanya hanya ucapan yang diputarbalikkan Damar untuk mengubur perbuatan tercelanya di masa lalu. Seperti dulu, ibu selalu termakan ucapan anak dari saudara sepupunya itu.

“Damar nggak mungkin bohong. Damar itu anak baik, pintar, dan soleh. Kamu itu perempuan, jaga harga dirimu. Jangan asal menggoda seperti perempuan murahan!”

Ucapan ibu kala itu masih terekam jelas dalam ingatan Rindu. Kini, ibunya sama sekali tidak berubah. Waktu sama sekali tidak membuat sang ibu bisa memihak kepadanya. Ia terus dibungkam oleh keadaan. Sementara kebenaran itu bersembunyi dalam kelam kebohongan Damar.

“Ibu boleh anggap aku bukan anak lagi mulai sekarang. Aku nggak seperti yang ibu tuduhkan dan nggak akan pernah sudi menikah dengan Damar.” Suara Rindu mungkin tidak meledak-ledak, tapi tiap kata penuh dengan penekanan.

Rindu beranjak dari tempat duduknya. Ia melihat ke arah Rafandra dan Nadira yang tampak kebingungan. Perempuan itu juga menatap pilu ke arah bapak yang tidak pernah bisa menjadi pembelanya. Terakhir, tatapan tajam itu ia arahkan pada ibu dan Damar.

“Selamat tinggal,” katanya.

Rindu melangkah keluar dari rumah. Jiro menyusul dan dengan sigap lelaki itu menggenggam jemarinya. Tubuh Rindu yang bergetar mulai terasa lebih tenang akibat aksi kecil nan hangat itu.

Sementara itu, sebelah tangan Jiro mengepal kuat. Sekilas ia melirik ke arah dalam dan dapat menangkap sedikit sosok Damar yang masih dengan percaya diri duduk di antara orang tua Rindu. Kemarahan lelaki itu mulai naik. Jika waktu bisa diputar kembali, Jiro ingin menjadi lebih kuat agar bisa memberi pelajaran pada Damar.

Apakah sekarang adalah waktu yang tepat untuk membalas semua luka yang ditorehkan Damar pada Rindu di masa lalu?

Entah mengapa, kata otaknya mendominasi perilaku Jiro. Lelaki itu melepas genggaman tangannya pada Rindu. Ia kembali masuk ke dalam rumah, menarik kerah baju Damar dan melabuhkan tinju ke wajah pria itu.

Ibu memekik, bapak terpaku, dan Rafandra maju untuk memisahkan mereka. Keadaan ruang tamu tak ayal berubah menjadi sasana tinju sebab Damar tidak tinggal diam. Adu jotos itu tidak dapat dihindari. Sementara Rindu berdiri di ambang pintu seperti patung, membiarkan Jiro untuk memenangkan pertarungan itu.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk