Bab 19

0 dibaca

A

“Percayalah kamu tidak sendirian.”


Angin laut yang tadinya berhembus lembut bertiup kian kencang ketika waktu beranjak. Sinar mentari tampak lebih kuning dibandingkan saat Rindu tiba di pantai berbatu itu. Deburan ombak semakin besar dan sedikit memercik ke arah tubuh Rindu. Bagi perempuan itu, ini pertanda bahwa sudah saatnya berhenti mencari ketenangan di tempat ini.

Ia menoleh, menatap ke arah Jiro yang ternyata sejak tadi terus memperhatikannya. Sebelah alis lelaki itu terangkat, seolah bertanya dalam hati apakah waktu menyendiri perempuan itu sudah cukup. Walau tanpa kata, tatapan keduanya seperti terkoneksi sehingga Rindu menganggukkan kepala sebagai jawabannya.

Lelaki itu, Jiro, beranjak dari tempat duduknya. Kaki panjang Jiro melangkah lebar, melompat guna menghindari batu-batu karang runcing. Tepat di dekat Rindu, tangannya terulur. “Ayo, aku antar kemanapun kamu mau.”

Dua manik itu saling beradu dengan jarak lebih dekat. Tentu saja, meski Rindu tahu bahwa teman masa kecilnya itu baik sejak dulu, ia tetap punya sisi ragu. Hati kecilnya mempertanyakan ketulusan Jiro terhadapnya. Maka dari itu, Rindu menggali ke dalam tatapan lelaki yang kini membantunya beranjak.

“Sekarang, aku nggak punya tujuan.” Rindu mengedikkan bahu tanpa melepas tatapannya.

Senyum simpul merekah di bibir Jiro. “Kamu punya aku.”

Ketulusan itu tampak jelas dalam mata Jiro. Sejauh ini, Rindu tidak melihat kepalsuan. Sosok lelaki di sampingnya masih sama seperti dulu. Hal ini membuatnya takut. Apalagi saat ingat dengan kesepakatan mereka tadi di minimarket sebelum segala huru-hara di rumah menyapa.

Pegangan tangan Jiro tidak lepas meski kini mereka melangkah bersama menuju tangga. Malah, lelaki itu menggenggam erat tangannya. Semua bukan sekadar pertunjukan. Tidak ada orang yang ingin mereka buat kesal. Mata lain yang melihat mungkin hanyalah binatang laut yang menempel pada batu karang. Mungkin, burung-burung di atas sana juga ikut menyaksikan bagaimana Jiro menautkan jemarinya.

“Aku akan langsung ngomong ke ayah dan mami setelah ini.” Jiro baru lanjut bicara setelah sama-sama duduk di dalam mobil.

Atensi Rindu pun tidak bisa berpaling. “Maksudnya?”

Mesin mobil menyala, tetapi Jiro belum memindahkan persneling maupun menginjak gas. Lelaki tersebut kembali fokus membalas tatapan perempuan di sebelahnya. “Ngomong untuk melamar kamu secepatnya. Nggak mungkin aku jadi tujuan tapi kita cuma sebatas teman masa kecil.”

Mata Rindu mengerjap. Darahnya berdesir dan rasa panas merambat ke pipinya. Ucapan Jiro bukan soal cinta. Ini juga bukan tentang perasaan. Namun, debaran jantung perempuan itu bisa tetap menggila. Mungkin, karena apa yang ditawarkan lelaki itu bukan sebatas rasa, melainkan tempat pulang.

Jiro menawarkan rumah yang bisa menjadi tujuan Rindu. Mungkin, tempat itu juga jauh lebih aman daripada sekarang. Hanya saja, tiba-tiba Rindu merasa semuanya tidak tepat. Ia lupa jika tadi menjadi orang yang bersemangat mengeluarkan ide agar dirinya dan Jiro terikat pernikahan saja sekalian. Nyali perempuan tersebut mendadak ciut dengan rasa bersalah menggerogotinya.

Rindu berpikir lagi, apakah dirinya pantas bersanding dengan Jiro?

Jiro sangat baik. Ia datang dari keluarga yang normal-normal saja. Kehidupannya sudah pasti lebih stabil. Lelaki itu juga rela menanggung beban membesarkan seorang anak yang bahkan bukan darah dagingnya. Jiro menahan semua julukan jelek yang diberikan para tetangga meski semua tidak benar.

Sementara apalah Rindu. Perempuan itu pulang karena memang gagal. Masa remaja sudah hancur berkeping-keping. Harga dirinya telah lama hilang, diinjak oleh orang-orang di dekatnya. Tidak ada yang bisa Rindu tawarkan pada Jiro, bahkan perasaan pun agaknya tidak pantas.

“Jiro?” Rindu meremas tangannya.

Perempuan tersebut tidak sanggup menatap mata sang sahabat. Maniknya melihat lurus ke depan. Jalanan pantai sore ini cukup lengang dan di sebelahnya, Jiro terdiam–menunggu kalimat lanjutan Rindu.

“Mungkin, lebih baik aku sendirian aja.” Satu keputusan itu disuarakan sang perempuan. “Anggap omongan di minimarket tadi nggak pernah ada.”

Helaan napas berat terdengar di telinga kanan Rindu. Ia mencuri pandang dan mendapati Jiro mengerutkan keningnya. “Jangan merasa rendah diri begitu.” Lelaki itu menoleh sekilas.

Tatapan Rindu beralih, menjadi menunduk. Ia menatap sepuluh jarinya yang saling meremas gelisah. “Aku udah rendah dari dulu.”

Sesak dadanya kembali. Kehadiran Damar memang benar-benar memberikan dampak nyata pada diri Rindu. Setelah bertahun-tahun menghindar, kini ingatan buruk itu seolah terlempar tepat di depan wajahnya. Tangan perempuan itu pun kembali bergetar.

“Aku… aku nggak pantas bersanding sama kamu.” Air mata jatuh begitu saja ke punggung tangan Rindu. “Aku… aku.” Bibirnya bergetar.

Mobil yang sudah melaju beberapa meter kinil melambat. Jiro menepi di bahu jalan yang lebih luas. Lelaki itu melepas sabuk pengaman dan duduk miring agar bisa berhadapan dengan Rindu. “Rindu, liat aku,” pintanya lembut.

Sang perempuan menelan ludahnya susah payah. Perlahan, kepala Rindu mendongak dan ikut duduk miring menghadap Jiro. Sepasang mata penuh air mata dengan sorot penuh luka membuat Jiro menghela napas berat lagi.

Tiba-tiba, lelaki itu merentangkan tangannya. “Kalau kamu butuh pelukan, aku ada di sini.”

Lelaki lain mungkin saja akan mengambil kesempatan dan tiba-tiba memeluknya. Hanya saja, Jiro tidak begitu. Ia seolah tahu bahwa kemungkinan Rindu akan menghindar jika dirinya berinisiatif menenangkan dengan sentuhan kecil itu.

Rindu menatap dengan air mata terus mengalir. Kepalanya berisik, mempertimbangkan apakah dirinya memerlukan pelukan untuk menenangkan diri. Lantas, jika pelukan berhasil membuatnya lebih tenang, bagaimana kalau dirinya jadi ketergantungan?

Di tempatnya, Jiro masih merentangkan tangan. Ia menunggu reaksi Rindu yang saat ini malah terdiam dengan air mata terus berlinang. Lelaki itu tahu, sang perempuan sedang berjibaku dengan pikirannya sendiri untuk membuat sebuah keputusan. Perlahan, Rindu mendekat dan kalah pada ketakutan akan ketergantungan.

Rindu memeluk erat Jiro dan membenamkan wajahnya di dada lelaki itu. Kali ini, ia merasakan tangan besar si lelaki menyelubungi tubuhnya dengan sangat lembut dan berhati-hati. Ia juga dapat mendengar suara detak jantung sang teman masa kecil yang begitu kencang.

“Jangan pernah berpikir kalau kamu cuma sendirian. Ada aku, ada adik-adik kamu. Juga, ada Raja yang akan selalu menemani kamu,” bisik Jiro.

Rindu semakin tergugu. Namun anehnya, ia mulai lega. Pundaknya yang berat sedikit lebih ringan. Dadanya yang sesak menjadi jauh lebih baik dalam menghirup oksigen. Pelukan hangat itu menenangkan dan sama sekali tidak menakutkan. Tentu saja, Jiro berbeda, bukan sosok yang suka menyakiti apalagi menghancurkan kehidupan seseorang. Lelaki itu sejak dulu selalu baik.

“Makasih,” cicit Rindu.

“Kembali kasih,” balas si lelaki dan sedikit mengeratkan pelukan. “Soal rencana tadi…” lelaki itu terdiam sejenak. “Aku serius.”

Kali ini, Rindu memberi jarak meski tangannya masih melingkari tubuh Jiro. Kepalanya mendongak hingga matanya dapat kembali bertemu pandang dengan manik coklat cerah milik Jiro. “Aku… aku baik-baik aja tanpa kita–”

“Aku memang mau,” potong lelaki itu. “Aku yang mau kamu jadikan aku tempat tujuan kamu. Aku yang memang mau jadi tempat kamu pulang dengan aman dan nyaman. Aku….” Tatapan mata Jiro bergetar.

Rindu mengukir senyum tipis di bibirnya. “Makasih.”

Sang lelaki menggeleng. “Aku serius.”

Rengkuhan itu dilepas oleh Rindu. “Dari dulu kamu selalu kasihan sama aku. Aku nggak mau cuma jadi beban karena itu.”

“Siapa bilang?” Ekspresi wajah Jiro menjadi serius. “Bahkan waktu itu, aku serius untuk mengambil tanggung jawab pada kamu.”

Mata Rindu terbelalak. “Jiro.”

“Sekarang, aku tetap serius. Aku akan bertanggung jawab penuh,” ucap lelaki tersebut dengan sangat yakin.

Sementara itu, Rindu hanya bisa terperangah. Jantungnya bergemuruh, tapi dalam waktu yang sama kepalanya semakin ribut. Potongan memori masa lalu lainnya muncul. Tatapan Jiro waktu itu sama seperti sekarang. Ada kesungguhan dan ketulusan yang tentu saja sangat dibutuhkan Rindu sejak dulu. Namun, dapatkah perempuan itu benar-benar yakin untuk menerima ketulusan ini?

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk