“Sebuah hubungan tidak butuh cinta semata.”
“Tante Rindu!” Sambutan semangat Raja saat Rindu dan Jiro masuk ke kamar perawatannya membuat dua orang dewasa itu tersenyum lebar.
Rindu segera berhambur memeluk Raja yang sedang mewarnai. Sementara Jiro berdiri di dekat ranjang sambil menyaksikan interaksi hangat itu. Raja sendiri memeluk erat tubuh Rindu, seolah ia sudah merindukannya meski belum lama berpisah.
“Raja kangen banget sama tante,” ungkap anak itu.
“Tante juga,” balas sang perempuan. Ia menangkup pipi Raja yang tampak sedikit lebih tirus. “Tadi dijenguk si kembar?”
Raja mengangguk. “Mereka bawa buku gambar sama pensil warna!”
Selanjutnya, Raja berceloteh. Anak itu menceritakan rasa senangnya dikunjungi keponakan Rindu. Jiro sendiri menyimak sebentar sebelum pamit keluar karena mendapat pesan dari ibunya. Katanya, sang ibu sedang ada di lobi rumah sakit untuk mengantarkan buah tetapi tidak sempat menjenguk karena terburu-buru.
“Mi?” Jiro menyapa mami yang duduk di kursi besi dekat pintu masuk.
Ibu Miyuki berdiri. Ia memberikan keranjang berisi aneka buah untuk Raja. Namun, setelah memberikan keranjang itu, ia tidak lekas pergi. Ibu Miyuki malah menatap putra bungsunya dengan sangat lekat. “Kamu berkelahi.”
Sudah pasti kejadian tadi akan segera diketahui oleh ibunya. Para tetangga tidak mungkin tinggal diam. Mereka punya grup obrolan khusus dan Ibu Miyuki termasuk sebagai anggota di dalamnya.
Jiro tidak bisa membantah, apalagi sudut bibirnya tampak jelas terluka. “Maaf, nggak bisa menahan diri.”
Kali ini, Ibu Miyuki berdecak. Alih-alih pergi, ia duduk lagi. Tapi matanya tidak lepas, menatap tajam ke arah sang putra. “Kamu ini, bisa nggak sih berhenti buat gebrakan?”
Jiro tahu maksud dari ibunya. Lelaki itu mengambil posisi di sebelah sang ibu. Ia meraih tangan Ibu Miyuki dan menggenggamnya lembut. “Mi, aku bukan ngelakuin hal aneh-aneh loh.”
“Aneh!” Lirikan tajam diterima oleh lelaki itu. “Aneh banget. Mami sampai bingung harus bilang apa sama ART di rumah soal Raja. Mami terpaksa bilang kamu duda, karena nggak mungkin kamu punya anak sebelum nikah.”
“Tapi kan, itu karena…” bantahan Jiro langsung dimentahkan.
“Kasihan?” Sang ibu menggelengkan kepala.
Ibu Miyuki mungkin merasa heran karena anaknya ini terkadang terlampau baik. Malah, kadar kebaikannya sangat memprihatinkan. Jika merawat anak kucing terlantar yang ditemui di tengah jalan, mungkin masih bisa diterima. Tetapi, putranya malah membawa pulang anak orang dan mengakuinya sebagai anak sendiri.
“Mi…” Jiro sedikit merengek. “Kita kan manusia, punya hati dan akal.”
“Punya hati memang perlu, tapi akal kamu kayaknya sedikit nggak jalan,” sindir Ibu Miyuki. Tatapannya berpaling, seperti enggan untuk menyimak alasan putranya.
“Mi, tadi itu karena aku membela Rindu.” Lelaki itu terus berusaha menenangkan ibunya.
Helaan napas berat Ibu Miyuki terdengar. “Terus, apa maksudnya kamu mau menikahi Rindu?”
Kalau cerita tentang adu jotos pasti bocor, tentu saja pembicaraan soal pernikahan juga. Ibunya Rindu tidak mungkin tinggal diam. Jiro tahu itu dan ia sudah memikirkan segala resikonya termasuk mami yang mungkin akan menentang.
“Aku serius soal itu. Sekarang, aku sudah dewasa, Mi. Kami sudah sama-sama dewasa.” Ada ketegasan dari bagaimana Jiro bicara.
Ibu Miyuki kembali memusatkan perhatian pada anaknya. “Cuma biar Rindu nggak jadi dijodohkan sama sepupu jauhnya itu?”
“Salah satunya,” tutur Jiro dengan suara kecil.
Mata kecil Ibu Miyuki menjadi sedikit melebar. “Kamu pikir menikah itu cuma bisa modal tenggang rasa ke teman?”
“Harus ada perasaan juga, Mi. Tapi rasa cinta itu juga bukan faktor utama. Ada banyak hal yang bisa dipertimbangkan termasuk tenggang rasa itu.” Si lelaki menjelaskan dengan suara tenang. “Memang, mami pikir rasa cinta itu nggak ada di sini?” Jiro memegang dadanya.
Ibu Miyuki memejamkan mata sesaat. “Dari dulu begitu?” Tanyanya. “Bukan cuma nostalgia cinta monyet?”
Bibir Jiro terkatup. Jujur, lelaki itu juga bingung bagaimana ia mendeskripsikan perasaan terhadap Rindu. Perempuan itu banyak mengisi hari-harinya saat kecil sampai remaja. Kenangan mereka sangat banyak, dari yang bahagia sampai penuh tragedi di malam hujan itu.
“Kalau aku bilang dari dulu itu bukan sekadar cinta monyet, bagaimana?” Giliran Jiro yang menatap serius sang ibu. “Aku nggak pernah minta macam-macam ke mami. Tapi kali ini, tolong beri restu.”
Mami terkekeh. “Kayak dejavu. Pada akhirnya Rindu sendiri yang pergi.”
“Kali ini nggak.” Jiro terdengar sangat yakin.
Ibu Miyuki beranjak dari tempat duduknya. Ia menatap sang putra sekali lagi sebelum meninggalkan lobi rumah sakit. “Kamu sudah dewasa, hidupmu sama dengan keputusanmu.”
Tidak ada jawaban pasti dari ucapan Ibu Miyuki, tetapi Jiro tahu bahwa sang mami memberikan restunya. Lelaki itu pun tersenyum simpul seraya menatap punggung ibundanya menjauh. Setelah Ibu Miyuki tidak lagi berada dalam jarak pandangnya, Jiro kembali ke kamar perawatan bersama satu keranjang buah yang ditentengnya.
“Raja, nenek barusan bawa buah. Tapi, nenek nggak bisa mampir karena sibuk.” Jiro mendekat ke arah ranjang guna meletakkan buah itu di meja samping. “Kamu mau makan yang mana?”
“Apel,” kata anak itu.
Sementara itu, Rindu tidak terlihat. “Tante Rindu mana?”
“Di kamar mandi.” Anak itu menunjuk satu pintu di ujung ruangan yang tertutup.
Lelaki itu pun duduk di tepi ranjang sambil mengupas apel untuk sang putra. “Raja,” panggilnya.
Mata bulat dan berbinar anak itu menatap Jiro lamat-lamat. “Kenapa, Pa?”
Gerakan mengupas buah itu berhenti. Atensi Jiro terpusat pada sosok mungil di sebelahnya. Ia tersenyum simpul. “Kalau Tante Rindu jadi mama kamu, bagaimana?”
Binar di mata anak itu semakin terang. “Mau!”
Tepat setelahnya, pintu kamar mandi terbuka. Rindu berdiri di depannya, menatap ke arah ayah dan anak itu dengan tatapan bingung sebab keduanya memandang ke arahnya. “Kenapa?” Kening perempuan itu mengernyit.
“Tante mau jadi mamanya Raja?” Anak itu kian bersemangat.
Rindu tidak langsung menjawab. Ia mengelus tengkuknya dan berjalan agak ragu untuk mendekat. “Boleh?” Tanya perempuan itu.
“Mama!” Seru Raja penuh semangat.
Rindu jelas terkejut. Lain lagi dengan Jiro yang malah tersenyum lebar. Lelaki itu menatap ke arah perempuan yang kini salah tingkah. Ia mengedikkan bahu manakala maniknya bertemu pandang dengan tatapan Rindu.
“Mulai sekarang, aku maunya manggil mama.” Raja sudah membuat keputusan bulat. Biasanya, jika sudah seperti ini, keinginan anak itu tidak dapat diganggu gugat. “Mama!”
Meski terkesan canggung, Rindu tetap tersenyum. Ia membiarkan Raja kembali memeluknya erat seraya memanggilnya mama berulang kali. Euforia Raja akhirnya mereda tatkala malam terus beranjak dan perawat memberikannya obat. Anak itu pun jatuh tertidur lebih cepat.
Di ruangan itu, tinggal dua orang dewasa yang kini duduk berdampingan dalam kecanggungan. Rindu beberapa kali berdehem dan posisi duduk Jiro semakin tegak.
“Kamu udah ngomong ke mami kamu soal…” Rindu melirik ke arah samping kanannya.
Jiro yang sudah paham kemana konteks pembicaraan ini mengangguk. “Mami tau dari ibu kamu. Tadi aku juga udah ngomong dan…” lelaki itu tidak langsung menyelesaikan ucapannya. Ia mencoba untuk melihat seberapa tertarik Rindu dengan hasilnya.
Di mata lelaki itu, Rindu terlihat biasa saja. Tetapi kakinya yang bergerak gelisah menandakan bahwa perempuan tersebut sangat menantikan jawabannya.
“Dan mami menyerahkan segala keputusan ke aku. Aku sama kamu sama-sama dewasa dan pastinya tau harus bagaimana.” Penuturan itu diakhiri dengan senyuman. “Sebelum melangkah lebih jauh, aku putuskan untuk cari tempat tinggal untuk kita.”
“Ya?” Sebelah alis Rindu terangkat.
“Kamu mau tetap tinggal di perumahan dengan tetangga ngeselin itu?” Tanya Jiro.
“Bisa tambah nggak waras kalau menetap di sana,” gerutu si perempuan.
Jiro terkekeh. “Makanya, aku udah cari tempat yang lingkungannya bagus. Raja bisa tumbuh lebih stabil di sana.”
“Soal pengobatan.” Rindu tampaknya lebih tertarik dengan kelanjutan masalah Raja. “Bagaimana solusinya?”
Tadi, Jiro juga sempat berdiskusi dengan dokter yang menangani Raja. Berhubung ibu kandung anak itu masih tidak bisa dihubungi, dokter memberikan beberapa saran seperti mengurus semuanya ke dinas sosial. Lelaki itu juga sudah menghubungi pengacara kenalan Rindu. Mereka janjian untuk mengadakan panggilan video besok siang.
“Untuk sementara, dokter akan tetap memberikan pengobatan. Lusa, mungkin pengobatan intensifnya dimulai.” Jiro menatap ke arah pembaringan. Ada rasa sedih dalam sorotnya.
Rindu yang menyaksikan sama sedihnya. Perempuan itu tidak bisa membayangkan tubuh mungil dan rapuh itu akan dimasuki obat-obatan keras. Apakah Raja bisa menahan rasa sakit yang mungkin akan datang akibat efek samping dari pengobatan itu?
Rasa kemanusiaan Rindu terketuk. Keinginannya menjauh dari Jiro mulai pudar. Ia ingin berada di sisi lelaki itu dan juga Raja untuk menguatkan mereka. Orang bilang, bersama-sama akan jauh lebih baik daripada sendirian bukan?
“Aku juga akan selalu ada di sini,” bisik perempuan itu. Kepalanya tiba-tiba bersandar di bahu Jiro. Secara sadar, Rindu merangkul bahu teman lama yang mungkin sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya. “Aku di sini dan kamu sama Raja nggak perlu merasa sendiri.”
Senyum lebar merekah di bibir Jiro. Lelaki itu mengangguk kecil. Ia tidak membuat pergerakan guna membalas perlakuan Rindu. Lelaki tersebut tetap diam, membiarkan Rindu mengambil bagian sebagai penenangnya.
“Makasih, Rin.” Hanya itu yang dapat terucap dari bibir Jiro.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!