“Menangis tidak akan menyambung kembali pembuluh darah. Tapi aku belajar, orang-orang lebih tenang kalau melihatmu mencoba.”
—Sofie
Lantai kayu di lorong rumah keluarga Surya terasa dingin di bawah telapak kaki kecil Sofie yang tidak beralas. Jarum jam dinding di ruang tengah berdetak dengan ritme yang monoton, membelah kesunyian malam yang pekat di luar jendela. Cahaya bulan yang pucat hanya mampu menerangi sebagian kecil meja makan yang tertata rapi tanpa cela.
Sofie berdiri diam di depan pintu kamarnya, merasakan denyut nadinya yang tetap stabil meski kegelapan menyelimuti seluruh sudut ruangan. Pintu kayu jati itu tertutup rapat, menyembunyikan pantulan kaca yang menunggu untuk berbicara tepat saat jarum jam menyentuh angka dua belas.
“Belum tidur?”
Suara itu datang dari arah dapur. Sofie menegakkan bahu, tapi tidak berbalik. Ia mengenal nada suara itu—lemah, serak, selalu terdengar seperti bisikan meski diucapkan dengan normal.
“Sebentar lagi,” jawabnya.
Tangannya masih menempel di gagang pintu.
Langkah kaki mendekat, berhenti tiga langkah di belakangnya. Sofie bisa mencium aroma kopi instan yang menempel di pakaian sang ayah, bau yang sama setiap malam sejak ibunya pergi.
“Mimpi buruk lagi?”
“Bukan.”
Sofie akhirnya menoleh.
Wajah ayahnya tampak lebih tua di bawah cahaya lampu dapur yang meremang-remang. Garis-garis di sudut matanya dalam, seolah menampung sesuatu yang belum sempat dikatakannya.
“Ada suara,” ucap Sofie pelan.
“Dari halaman.”
Ayahnya mengerutkan dahi. Keduanya terdiam, mendengarkan. Hanya angin malam yang menyibak dedaunan. Tapi Sofie yakin—ia sudah mendengarnya tiga malam berturut-turut, selalu setelah tengah malam, selalu dari arah yang sama.
“Kucing,” kata ayahnya.
Tapi tangannya meraih gagang pintu depan.
Sofie membuka pintu dan turun ke halaman. Di sana, Pak Surya sedang membungkuk di dekat semak-semak, menatap sesuatu di tanah dengan ekspresi prihatin.
#LogikadiatasEmpati
Sofie berdiri di tepi semak, sepatunya hampir menyentuh bulu-bulu yang kusut. Bau tanah basah tercium dari bekas paruh yang terbuka. Matanya tetap terarah pada patahan sayap yang tersangkut di dahan rendah.
“Kenapa kau tidak menangis, Sofie? Burung ini sudah mati,” tanya Pak Surya sambil menunjuk bangkai pipit di halaman.
Sofie hanya menatap bulu-bulu yang kaku itu tanpa kedipan sedikit pun. Baginya, kematian hanyalah berhentinya fungsi biologis sistem pernapasan dan jantung.
“Secara anatomis, sayapnya patah dan terjadi pendarahan internal, Ayah. Menangis tidak akan menyambung kembali pembuluh darahnya,” jawab Sofie datar.
Pak Surya menelan ludah, tangannya yang memegang buku catatan medis tampak sedikit gemetar. Ia segera menuliskan sesuatu dengan sangat cepat sembari menghindari tatapan mata putrinya yang terlalu jernih.
“Tapi ini makhluk hidup, Sof. Bukan mesin.”
“Semua makhluk hidup adalah mesin biologis, Ayah. Hanya lebih kompleks.”
Pak Surya berhenti menulis. Ujung penanya menekan kertas hingga berlubang kecil.
“Kau pernah menangis? Waktu ibumu pergi?”
Sofie mengedip sekali.
“Air mata adalah respons fisiologis terhadap stres emosional. Stres itu tidak mengubah kenyataan.”
“Dan kenyataannya?”
“Ibu tidak kembali.”
Pak Surya menutup buku catatannya dengan bunyi pelan. Langit mulai memerah di barat, memanjangkan bayangan mereka di rumput.
“Masuklah. Makan malam sudah siap.”
Sofie masih berdiri di tempatnya, menatap bangkai itu dengan ekspresi yang sama — bukan sedih, bukan pula acuh. Hanya pengamatan. Seperti seseorang yang membaca peta jalan yang sudah usang.
Malam tiba, meredupkan cahaya sore. Kamar Sofie sunyi, hanya diterangi cahaya bulan yang menyelinap masuk melalui celah tirai, mempersiapkan kegelapan untuk malam itu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!