RITUAL MALAM

1 dibaca

A

Versi suara

Dibacakan zaxarofna · 9 mnt

# RITUAL TENGAH MALAM

Sofie terbangun tepat saat angka digital di jam mejanya berganti menjadi pukul tiga pagi. Tidak ada rasa kantuk yang tersisa, seolah otaknya telah diprogram untuk terjaga pada detik ini.

Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju cermin besar berbingkai perak di sudut kamar.

“Kamu terlambat satu detik dari biasanya,” gumam Sofie pada bayangannya sendiri.

Namun, bayangan di dalam cermin tidak mengikuti gerakannya. Sosok di balik kaca itu tetap diam mematung dengan tangan bersedekap.

Sofie menyentuh permukaan kaca yang biasanya dingin, tapi kali ini ia merasakan getaran halus yang aneh.

Ia menarik tangannya sedikit, lalu menempelkannya lagi. Getaran itu masih ada, seperti denyut yang tersembunyi di balik lapisan kaca.

“Kamu siapa?” tanya Sofie.

Suaranya keluar lebih datar dari yang ia duga.

Sosok di balik cermin tidak menjawab. Matanya—mata yang persis seperti milik Sofie—terarah lurus ke depan, melewati bayangan Sofie yang sebenarnya, seolah menatap sesuatu di belakang bahunya.

Sofie menoleh ke belakang. Hanya kegelapan di sana, tirai yang bergoyang perlahan karena angin malam.

“Kamu gak bisa berdiri begitu saja,” kata Sofie, kali ini lebih keras.

“Ini cerminku. Kau harus mengikuti.”

Sosok itu berkedip. Sekali. Lambat, seperti orang yang belajar cara berkedip dari nol.

Sofie mundur selangkah. Kakinya menabrak kaki tempat tidur, tapi ia tidak merasa. Seluruh perhatiannya terkunci pada gerakan aneh itu—gerakan yang seharusnya tidak mungkin, karena bayangan tidak punya kelopak mata sendiri.

“Kau melihatku,” bisik Sofie.

Bukan pertanyaan. Pengamatan.

Sosok di balik kaca mengangkat tangan kanannya. Perlahan, seperti di bawah air. Tangan Sofie yang sebenarnya tetap di sisinya, gemetar, tidak berani meniru.

“Apa yang kamu inginkan?” tanya Sofie.

Tangan di balik cermin menunjuk ke bawah. Ke lantai. Ke tempat di mana bayangan seharusnya tidak bisa menunjuk, karena tidak ada cermin di sana.

Sofie menunduk. Tidak ada apa-apa. Lantai kayu polos, debu di celah papan, sepatu sandal yang ia lepas sebelum tidur.

“Di sana tidak ada—“

Sosok itu menunjuk lagi, lebih tegas. Jari-jarinya—jari-jari yang persis seperti milik Sofie, garis-garis telapak yang sama—melengkung dalam gerakan menarik.

Sofie berjongkok. Jari-jarinya menyapu lantai, mencari sesuatu yang tidak ia lihat. Debu. Serat kayu. Kedinginan yang merambat dari telapak ke punggung tangan.

Lalu ia merasakannya. Goresan. Tipis, seperti bekas pisau yang ditarik dengan sengaja. Ia menelusuri dengan ujung jari—garis lurus, panjangnya sekitar lima sentimeter, tepat di antara dua papan lantai.

“Ini baru ada,” kata Sofie pada dirinya sendiri.

Atau pada sosok itu. Ia tidak tahu lagi bedanya.

Sosok di cermin mengangguk. Sekali. Mekanis, seperti boneka.

Sofie berdiri. Lututnya berbunyi pelan. Ia menatap cermin lagi, mencari perubahan lain—kerutan di baju, posisi rambut, sesuatu yang bisa menjelaskan.

Tidak ada. Sosok itu identik dengannya, kecuali satu hal: di leher kirinya, tepat di bawah tulang rahang, ada bintik hitam kecil yang Sofie tidak punya.

“Tanda lahir,” bisik Sofie.

“Aku gak punya tanda lahir di sana.”

Sosok itu tersenyum. Tidak lebar, hanya sudut bibir yang naik sedikit—senyum yang Sofie kenal, karena ia sering memakainya sendiri: senyum palsu untuk tamu yang datang terlalu lama.

“Kamu bukan aku,” kata Sofie.

Senyum itu melebar. Tidak ada gigi yang terlihat, hanya garis bibir yang membentuk sesuatu yang salah.

“Terus siapa?” tanya Sofie.

Sosok itu mengangkat kedua tangan, menempelkannya ke permukaan cermin dari sisi dalam. Telapak tangan menekan kaca, jari-jari menyebar. Bayangan Sofie yang sebenarnya—bayangan yang seharusnya ada—lenyap, tergantikan oleh tangan-tangan itu yang kini tampak menekan ke arahnya.

Sofie mundur lagi, kali ini sampai punggungnya menempel dinding. Kaca di depannya berembun di tempat tangan-tangan itu menekan, membentuk pola yang aneh—bukan jejak jari, lebih seperti tulisan yang terlalu kabur untuk dibaca.

“Aku gak bisa baca,” kata Sofie.

“Tulis lebih jelas.”

Tangan-tangan itu bergeser, menulis ulang. Embun membentuk garis-garis tegas: tiga huruf, spasi, tiga huruf lagi. S O F I E — namanya, tapi terbalik, seolah ditulis dari sisi lain.

“Itu namaku,” kata Sofie.

“Bukan jawaban.”

Tangan-tangan itu menekan lebih keras. Embun menyebar, menghapus tulisan. Kaca bergetar, pelan, seperti yang terjadi saat pesawat lewat di kejauhan—tapi tidak ada bandara di kota ini, dan jam tiga pagi bukan waktunya.

Sofie melangkah maju satu langkah. Kemudian satu lagi. Jaraknya ke cermin kini hanya sepanjang lengan, jarak di mana ia bisa merasakan dingin yang bukan dari udara.

“Kamu dingin,” kata Sofie.

“Lebih dingin dari kaca.”

Sosok itu menurunkan tangannya. Kembali ke posisi bersedekap, diam mematung, seperti ketika Sofie pertama kali melihatnya. Tapi sekarang matanya berbeda—tidak lagi menatap ke belakang bahu Sofie, tapi lurus ke mata Sofie sendiri.

“Kau menunggu sesuatu,” kata Sofie.

“Apa?”

Tidak ada jawaban. Hanya tatapan yang tidak berkedip, yang membuat Sofie sadar bahwa ia sendiri telah berhenti berkedip, menahan napas, menunggu.

Ia menghela napas. Perlahan, sengaja, memastikan suaranya terdengar di kamar yang sunyi ini.

“Aku akan tidur lagi,” kata Sofie.

“Dan kamu akan hilang.”

Sosok itu menggeleng. Sekali. Pelan, seperti orang yang kasihan.

“Kamu gak setuju?”

Gelengan lagi, lebih lambat. Tangan kanannya naik, menunjuk ke arah jendela—tirai yang bergoyang, celah yang membiarkan cahaya bulan masuk.

“Bulan?” tanya Sofie.

“Kamu muncul karena bulan?”

Tangan itu menunjuk ke bawah lagi. Ke lantai. Ke goresan yang Sofie temukan.

“Goresan itu ada hubungannya sama bulan?”

Sosok itu tidak menjawab. Tangan kanannya tetap menunjuk ke bawah, tangan kirinya kini ikut menunjuk—ke arah yang berbeda, ke sudut kamar yang gelap, tempat lemari pakaian berdiri terbuka sedikit.

Sofie menoleh ke sana. Tidak ada apa-apa. Bayang-bayang di antara gantungan baju, bau kapur barus yang ia gantungkan minggu lalu.

“Di sana gak ada—“

Sosok di cermin membuka mulut. Pertama kalinya. Mulut itu membentuk kata, tapi tidak ada suara yang keluar, hanya gerakan bibir yang Sofie bisa baca: tiga.

“Tiga?”

Bibir itu bergerak lagi. Dua.

“Dua?”

Satu.

Getaran itu memuncak. Layar kaca bergetar hebat, dan sosok tanpa gerak tiba-tiba membuka mulut untuk berbicara.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk