PANGGILAN SANG MEDIUM

1 dibaca

A
“And if you gaze long into an abyss, the abyss also gazes into you.”
— Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil


Bu Fyfi mengambil telepon genggamnya dan menekan sebuah nomor yang tampaknya sudah dihapal di luar kepala. Jari-jarinya bergerak cepat, tanpa ragu-ragu, seolah urutan angka itu sudah mengalir di otot-ototnya lebih lama dari ingatannya sendiri.

“Bram, Bisma, kalian harus datang ke rumah sekarang juga. Wadahnya mulai retak,” perintah Bu Fyfi singkat.

Suara di seberang garis terdengar samar, terlalu rendah untuk Sofie tangkap. Yang bisa ia baca hanya dari sisi wajah ibunya—rahang mengencang, sebelah mengerjap sekali, lalu telepon ditutup tanpa kata perpisahan.

Sofie memperhatikan ibunya, mencatat setiap perubahan setiap detiknya pada ekspresi wajah wanita itu. Alis yang berkerut sedikit lebih dalam dari biasanya. Sudut mulut yang turun setengah derajat. Sesuatu di sana, sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya: ketidakpastian.

“Siapa Bram dan Bisma? Apa mereka bagian dari organisasi yang Sophie bilang tadi?” tanya Sofie.

Bu Fyfi menatap putrinya dengan pandangan yang sulit diartikan, antara kasihan dan kewaspadaan. Cahaya dari lampu langit-langit memantul di pupil matanya, membuat sorot itu tampak lebih gelap dari yang seharusnya.

“Mereka om-om kamu, Sofie. Mereka nanti yang akan jelaskan kenapa kamu berbeda dari anak-anak lain di dunia ini.”

Pak Surya bergerak dari sudut ruangan, buku catatannya masih terjepit di ketiak.

“Fyfi, apa ini benar-benar waktunya? Kau tahu apa risikonya kan kalau—“

“Aku tahu risikonya kalau kita gak lakuin sekarang,” potong Bu Fyfi.

Suaranya tetap datar, tapi ada getaran di ujung kata terakhir yang Sofie tangkap. Sesuatu yang hampir seperti ketakutan.

Sofie meraba kalung perak di lehernya. Permukaannya masih hangat, meski cahaya ungunya sudah meredup. Di sudut mata, ia bisa melihat pantulan cermin besar di kamar seberang—bayangan yang berdiri sedikit terlalu tegak, sedikit terlalu diam.

“Ibu bilang mereka Om - om aku,” ucap Sofie, masih menatap ibunya.

“Tapi Sophie bilang kalian bukan orang tuaku. Kalau gitu, siapa yang melahirkan aku?”

Bu Fyfi tidak menjawab langsung. Tangannya bergerak menyusun rambut yang tidak berantakan, ritual kecil yang Sofie kenal sebagai tanda—ibunya sedang menghitung waktu, menimbang kata, memilih yang paling aman untuk diucapkan.

“Biarkan mereka yang menjelaskan ya,” kata Bu Fyfi akhirnya.

“Beberapa kebenaran... lebih baik datang dari sumber yang kamu belum curigai.”

Jam berputar. Suasana rumah mencekam menanti kedatangan paman-paman yang dijanjikan, udara terasa berat sebelum sosok hitam itu akhirnya melangkah masuk.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk