”I ought to be thy Adam, but I am rather the fallen angel, whom thou drivest from joy for no misdeed.”
- Mary Shelley, Frankenstein
Pisau itu akhirnya menancap pada talenan kayu. Bunyi tumpul yang dihasilkan membuat Pak Surya berjengit. Sofie meletakkan kedua tangan di atas meja, telapak menghadap ke bawah, posisi yang menunjukkan seluruh tubuhnya terbuka dan tidak bersenjata.
“Sophie ada di kamar mandi sekarang,” lanjut Sofie.
“Dia tidak tahu aku bicara dengan kalian. Tapi dia tahu sesuatu yang tidak seharusnya dia ketahui.”
“Entitas itu membaca pikiran-“
“Dia bukan entitas.”
Suara Sofie tetap datar, namun ada sesuatu di bawahnya yang membuat Bu Fyfi terdiam. Sesuatu yang lebih keras dari teriakan.
“Dia memanggilku kakak. Dia bertanya kenapa kalian takut padanya.” Sofie menggeser irisan roti paling atas, memperhatikan serat gandum yang terlihat di permukaan.
“Dia berusia tujuh tahun. Dia takut kalau lampu dimatikan. Dia menyimpan krayon warna-warni di bawah bantalnya.”
Pak Surya menutup mata. Kedua bahunya turun, seolah beban yang ia pikul akhirnya menekannya hingga ke lantai.
“Kau tidak mengerti apa yang kita lakukan,” ucapnya pelan.
“Kau tidak mengerti risikonya.”
“Maka jelaskan.”
“Tidak semudah itu-“
“Maka jangan bilang aku tidak mengerti.”
Sofie menatap ayahnya lurus-lurus. Matanya yang biasanya lembut kini terasa seperti permukaan logam yang baru dikeluarkan dari lemari es. Dingin, keras, tidak bisa ditembus.
Bu Fyfi bergerak pertama kali sejak gelas itu diletakkan. Ia berjalan ke jendela, menjauh dari meja, dari putrinya, dari suaminya yang masih terpaku di kursi. Tangan kanannya meraih tirai, menariknya sedikit seolah ingin memastikan malam masih ada di luar sana.
“Ada protokol,” ucapnya ke arah kaca yang gelap.
“Protokol yang harus diikuti sebelum integrasi penuh. Jika dilanggar-“
“Jika dilanggar, apa?”
“Kita tidak tahu.”
Tiga kata itu jatuh seperti batu. Bu Fyfi akhirnya berbalik, wajahnya tampak lebih tua dari yang Sofie ingat, garis-garis yang biasanya tersembunyi kini terukir jelas di bawah cahaya lampu.
“Itulah masalahnya, Sayang. Kita benar-benar tidak tahu. Tidak ada dokumentasi. Tidak ada yang pernah sampai sejauh ini.”
Sofie menatap kedua orang tuanya secara bergantian. Ayahnya yang hancur di kursi, ibunya yang berdiri seperti orang asing di sudut dapur sendiri. Roti yang sudah terpotong rapi mulai mengering di udara, ujung-ujungnya mengkerut perlahan.
“Jadi kalian bereksperimen,” kata Sofie. Bukan pertanyaan. Pengamatan.
“Kita menyelamatkan-“
“Jangan.”
Satu kata itu cukup. Bu Fyfi terdiam, bibirnya masih terbuka di tengah kalimat yang tidak akan pernah selesai.
“Jangan gunakan kata itu. Bukan di depanku. Bukan setelah apa yang kulihat di cermin tadi malam.”
Pak Surya bangkit dari kursi. Langkahnya goyah, melewati meja dengan jarak yang terlalu lebar, seolah takut bersentuhan dengan apa pun. Ia berhenti di ambang pintu, tangan kanannya menahan kusen untuk menstabilkan tubuh.
“Kami pikir kami punya waktu,” ucapnya ke arah lantai.
“Kami pikir ada tanda-tanda yang akan kami lihat. Sesuatu yang memungkinkan kami menyiapkanmu.”
“Menyiapkan aku untuk apa?”
Tidak ada jawaban. Pak Surya hanya menggeleng, lambat, seperti orang yang baru sadar dari mimpi buruk namun belum yakin apakah ia benar-benar terbangun.
Sofie menatap kedua orang tuanya yang tegang. Keheningan menyelimuti ruangan sejenak sebelum Bu Fyfi bergerak mengambil telepon genggamnya dan menekan sebuah nomor yang tampaknya sudah dihapal di luar kepala.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!