Lampu kilat itu tidak pernah berhenti.
Claire Andalas sudah tahu itu sejak umur enam belas, sejak mahkota Gadis Sampul ditaruh di kepalanya dan seorang fotografer berteriak, “Dagunya turun dikit, Sayang, matanya ke sini!” seolah ia manekin yang kebetulan bisa berkedip. Enam tahun kemudian, ia masih berdiri di tempat yang sama. Karpetnya saja yang lebih merah. Gaunnya lebih mahal. Senyumnya lebih otomatis.
Kalau ada penghargaan untuk Senyum Paling Konsisten di Bawah Tekanan, Claire sudah punya tiga piala dan satu nominasi seumur hidup.
“Kiri,” bisik Ghea dari belakang tanpa menggerakkan bibir. Manajernya punya bakat ventriloquist yang sia-sia di industri ini. “Tiga detik. Terus kanan.”
Claire memutar bahu ke kiri. Satu, dua, tiga. Kanan.
Gaun champagne itu memeluk tubuhnya seperti tangan yang terlalu posesif. Rancangan desainer yang namanya sudah Ghea ulang empat kali di mobil supaya Claire tidak salah sebut, karena tahun lalu seorang aktris salah menyebut nama desainer dan netizen menggorengnya selama dua minggu. Dua minggu. Untuk satu huruf.
“Claire! Claire, sebelah sini!”
“Claire, senyum dong!”
Ia sedang senyum. Sudah empat puluh menit, tepatnya. Pipinya mulai berdenyut dengan cara yang tidak akan pernah ditampilkan di foto mana pun.
Di ujung karpet, poster raksasa film Sepanjang Hujan berdiri dengan wajahnya sendiri, tiga kali lipat ukuran aslinya, menatap balik dengan ekspresi sendu yang ia latih di depan cermin selama sebulan. Claire Andalas versi poster kelihatan seperti perempuan yang tahu apa yang ia inginkan dalam hidup.
Claire Andalas versi asli cuma ingin melepas heels-nya.
Seorang reporter infotainment menyodorkan mikrofon berlogo stasiun TV, terlalu dekat ke wajahnya. “Claire, selamat ya buat filmnya! Katanya kamu lagi dekat sama seseorang? Netizen penasaran banget, lho.”
Netizen selalu penasaran. Netizen itu seperti cuaca. Ada di mana-mana, tidak bisa dikendalikan, dan selalu punya pendapat soal penampilanmu.
“Makasih, Kak.” Claire memiringkan kepala lima derajat, sudut yang menurut tim agensinya paling “approachable tapi tetap mahal”. “Aku lagi fokus kerja dulu. Doain aja ya, filmnya bisa diterima penonton.”
Bohong nomor sebelas malam ini. Ia menghitung.
Dada Claire terasa sedikit sempit. Bukan karena korset gaun. Ia kenal rasa ini. Rasa yang datang diam-diam seperti tamu tak diundang, duduk di tulang rusuknya, lalu pelan-pelan menekan. Jantung yang berlari tanpa alasan. Telapak tangan yang dingin di bawah lampu sepanas ini.
Jangan sekarang.
Ia melakukan trik yang diajarkan psikolog yang hanya sempat ia temui tiga kali sebelum Mama bilang jadwalnya terlalu padat. Lima benda yang bisa dilihat. Logo sponsor. Sepatu merah reporter itu. Lampu sorot. Kuku Ghea yang dicat hijau zaitun. Poster dirinya sendiri, yang tidak membantu sama sekali.
Empat suara. Tiga rasa. Napas masuk, tahan, keluar.
Dadanya melonggar sedikit. Cukup untuk tetap berdiri. Cukup untuk tetap tersenyum.
“Babe!”
Aroma vanila datang lebih dulu daripada orangnya. Valerie Mahardika menghambur dari arah samping dengan gaun hitam berpotongan tinggi, rambut cokelat madu yang di-blow sempurna, dan senyum yang bisa membuat lima puluh kamera berputar serempak. Ia memeluk Claire erat, pipi menempel ke pipi, pose yang sudah mereka lakukan begitu sering sampai fanbase punya nama untuknya.
#ValClaire. Bestie paling goals se-Gen Z.
“Kamu cantik banget,” kata Valerie cukup keras untuk mikrofon terdekat. Lalu, lebih pelan, tepat di telinga Claire, “Kamu kurusan, ya? Cocok, sih. Mukamu jadi kelihatan lebih tirus di kamera.”
Claire tertawa kecil karena itulah yang diharapkan darinya. “Kamu juga cantik, Val.”
“Ih, apaan. Aku mah apa atuh dibanding kamu.”
Di belakang mereka, Ghea memasang ekspresi yang biasanya ia simpan untuk tukang parkir yang minta uang dua kali.
Lalu kerumunan berubah.
Claire merasakannya sebelum melihatnya. Volume teriakan naik dua kali lipat. Lampu kilat berpindah arah seperti kawanan burung yang mendadak berbelok. Seseorang di barisan fans menjerit sebuah nama dengan nada yang biasanya hanya dipakai untuk memanggil Tuhan.
Dean Sangkerta keluar dari mobil hitamnya seperti orang yang tidak pernah sekali pun dalam hidupnya meragukan bahwa dunia akan menunggunya.
Tuksedo hitam. Rambut disisir ke belakang dengan berantakan yang disengaja. Senyum santai, satu sudut bibir lebih tinggi dari yang lain. Aktor terlaris tiga tahun berturut-turut. Pewaris tunggal Sangkerta Group, yang kebetulan juga memiliki stasiun TV di balik mikrofon reporter tadi dan setengah portal berita yang besok pagi akan menulis tentang malam ini.
Ia menyapa fans. Menandatangani dua poster. Melambai ke kamera dengan gerakan yang terlihat malas tapi sebenarnya diukur sampai ke sudut pergelangan tangan.
Ia tidak menoleh ke Claire. Sekali pun tidak.
Claire juga tidak menoleh ke arahnya. Mereka profesional. Mereka sudah latihan dua tahun.
Saat Dean berjalan melewati belakangnya menuju area foto berikutnya, jarak mereka tinggal sejengkal. Buku jari Dean menyentuh lekuk punggung bawahnya. Setengah detik. Mungkin kurang.
Tidak ada kamera yang menangkapnya. Tidak ada yang melihat.
Nol koma lima detik. Itu jatah mereka di depan umum.
Kulit Claire terbakar di titik itu bahkan setelah Dean sudah tiga meter jauhnya, tertawa bersama sutradara, tidak menoleh sama sekali.
Ponsel di clutch-nya bergetar. Ghea mengambilnya, karena Ghea selalu memegang ponselnya di karpet merah, lalu menyerahkannya dengan wajah datar yang terlatih.
Satu pesan. Dari kontak yang tersimpan dengan satu huruf saja.
D: Pintu belakang. Jam satu.
Claire mengunci layar sebelum Ghea bisa membaca lebih lama dari perlu. Ghea sudah tahu, tentu saja. Ghea selalu tahu. Tapi ada perbedaan antara tahu dan melihatnya ditulis.
“Kamu trending,” kata Ghea sambil menggulir ponselnya sendiri. “Nomor tiga.”
“Karena filmnya?”
Ghea menatapnya sebentar. Ada sesuatu yang mirip kasihan di matanya, lalu hilang.
“Karena gaunnya.”
Tentu saja. Claire tersenyum lagi ke arah kamera.
Satu, dua, tiga. Kanan.
Pintu belakang Sangkerta Residence tidak punya karpet merah.
Yang ada hanya lantai semen basement yang berbau oli dan kaporit kolam renang, satu lampu neon yang berkedip seperti sedang sekarat, dan Pak Darto, satpam tua yang sudah dua tahun ini berlatih tidak melihat Claire Andalas.
“Malam, Mbak,” katanya pada layar CCTV.
“Malam, Pak.”
Itu percakapan terpanjang mereka selama dua tahun. Claire cukup yakin Pak Darto lebih jago akting daripada separuh pemeran sinetron prime time.
Lift servis naik ke lantai empat puluh dua dengan bunyi derit yang membuat Claire selalu bertanya-tanya apakah malam ini malam ia akan mati terjebak di antara lantai dan headline besok pagi akan berbunyi Aktris Claire Andalas Ditemukan di Lift Barang Apartemen Mewah, Netizen: Ngapain?
Pintu terbuka. Lorong sepi. Satu pintu tanpa nomor.
Pintu itu sudah terbuka sedikit sebelum ia mengetuk.
“Kamu telat,” kata Dean.
Ia bersandar di kusen dengan dasi kupu-kupu yang sudah dilepas dan kancing atas kemeja yang terbuka dua. Gelas wine di satu tangan. Rambut yang tadi rapi di karpet merah sekarang jatuh ke dahinya, versi Dean Sangkerta yang tidak pernah dilihat kamera mana pun.
Versi yang, kalau Claire jujur, ia sukai paling banyak.
“Aku harus pamit ke tiga produser, dengerin satu investor cerita soal kapal pesiarnya, dan pura-pura ketawa waktu Valerie bilang aku ‘ternyata bisa juga akting sedih’.” Claire melepas heels-nya di ambang pintu, mengangkatnya dengan dua jari. “Jadi ya. Telat.”
Sudut bibir Dean naik. “Val bilang begitu?”
“Dengan nada sayang. Tentu aja.”
“Tentu aja.” Dean mengambil heels dari tangannya, meletakkannya di rak sepatu marmer seolah benda itu kaca, lalu menarik Claire masuk dengan satu tangan di pinggangnya. “Kamu tahu apa yang aku pikirin tadi di karpet merah?”
“Sudut lambaian tangan yang paling fotogenik?”
“Itu juga.” Napasnya hangat di pelipis Claire. “Tapi kebanyakan aku mikir, berapa lama lagi sampai aku bisa cium kamu tanpa ada yang motret.”
Claire tertawa. Tawa yang asli, yang keluar dari perut dan bukan dari otot pipi yang lelah. Rasanya asing, seperti memakai sepatu lama yang ternyata masih pas.
“Tiga jam empat puluh menit,” katanya. “Aku hitung.”
“Untung aku sabar.”
“Kamu nggak pernah sabar, Dean.”
“Buat kamu, aku bisa belajar.”
Lalu ia menciumnya, dan untuk beberapa saat dunia menyusut jadi ukuran yang bisa Claire tangani. Bibir Dean yang rasa anggur merah mahal. Telapak tangan yang menangkup rahangnya seolah ia sesuatu yang mudah pecah. Dinding kaca setinggi langit-langit di belakangnya, dingin di kulit punggungnya yang terbuka oleh potongan gaun.
Ciuman. Selalu hanya sampai ciuman. Claire yang menarik garis itu di bulan ketiga, tanpa banyak penjelasan, dan Dean, harus diakui, tidak pernah sekali pun melewatinya. Kadang Claire bertanya-tanya apakah itu karena Dean menghormatinya, atau karena Dean juga tahu sesuatu yang belum berani mereka ucapkan. Bahwa ada yang belum utuh di antara mereka.
Dan selalu di sini. Di gedung ini. Tidak pernah di tempat lain.
Di luar kaca, Jakarta menyala seperti seseorang menumpahkan kotak perhiasan ke atas kain hitam. SCBD. Semanggi. Garis lampu merah tak berujung di tol dalam kota. Dari ketinggian ini, kabut polusi menggantung di bawah mereka, abu-abu dan lembut seperti awan.
Di atas awan, pikir Claire. Begitu tinggi sampai tidak ada yang bisa melihatmu.
Itu intinya, kan.
Setengah jam kemudian, Dean menyodorkan kotak beludru biru tua.
Claire duduk di sofa kulit seputih susu, masih dengan gaun champagne-nya, kaki telanjang terlipat di bawah tubuh, jas tuksedo Dean tersampir di bahunya karena pendingin ruangan apartemen ini disetel untuk pria yang tidak pernah kedinginan. Ia menatap kotak itu. Logonya tidak perlu disebut. Logo seperti itu tidak pernah perlu disebut.
“Dean.”
“Buka dulu.”
Gelang tipis dengan deretan berlian kecil yang menangkap cahaya kota lalu memantulkannya kembali sepuluh kali lebih terang. Cantik. Sangat cantik. Jenis cantik yang membuat orang berhenti di tengah kalimat.
“Aku nggak bisa pakai ini ke mana-mana,” kata Claire pelan. “Netizen bakal zoom fotonya, cari harganya, terus cari siapa yang beliin. Kamu tahu mereka. Dalam dua jam ada thread.”
Dean mengambil pergelangan tangannya. Memasangkan gelang itu dengan jari yang hati-hati. Kaitnya berbunyi klik kecil.
“Pakai di sini aja,” katanya.
Di sini.
Claire menatap berlian yang melingkari tulang pergelangannya. Dua tahun. Dua tahun pintu belakang, lift barang, Pak Darto yang pura-pura buta, dan pesan dari kontak berinisial satu huruf. Dua tahun hadiah-hadiah indah yang semuanya punya alamat yang sama: apartemen ini, lantai empat puluh dua, di atas awan.
“Dean,” katanya, sebelum ia sempat berubah pikiran. “Kapan kita bisa makan di luar?”
Dean tertawa kecil. “Kita bisa pesan apa aja. Kamu mau sushi? Aku kenal chef yang...”
“Bukan itu.” Claire menarik tangannya pelan. “Di luar. Di restoran. Yang ada jendelanya. Yang orang lain bisa lihat kita duduk berdua dan pesan makanan kayak manusia normal.”
Hening sebentar. Hanya dengung pendingin ruangan dan detak jam dinding yang harganya mungkin setara rumah orang.
“Sebentar lagi,” kata Dean akhirnya. Suaranya lembut. Selalu lembut di bagian ini. “Kamu tahu Mama lagi sensitif soal merger tahun ini. Begitu situasinya tenang...”
“Tahun lalu katanya akuisisi.”
“Claire.”
“Tahun sebelumnya ulang tahun Sangkerta Group yang ke lima puluh.”
“Claire.” Ia mengusap pipinya dengan ibu jari. Matanya cokelat gelap, hangat, sungguh-sungguh. Itulah bagian paling buruknya. Dean selalu sungguh-sungguh. “Aku janji. Oke? Aku cuma butuh waktu.”
Claire ingin menjawab. Ia benar-benar ingin.
Lalu ponsel Dean berbunyi.
Nada dering khusus. Claire hafal. Dua tahun cukup untuk menghafal nada dering yang membuat seluruh tubuh Dean berubah.
Layar menyala di meja kaca. Mama.
Dean sudah berdiri sebelum dering kedua. Bahunya tegak. Rahangnya mengeras. Ia menatap Claire dan menempelkan telunjuk ke bibir, gerakan kecil yang mungkin maksudnya lucu dan intim, tapi rasanya seperti tamparan yang sangat sopan.
Ssst.
Ia berjalan ke balkon. Pintu kaca bergeser menutup. Lewat kaca, Claire melihatnya berdiri di bawah angin malam lantai empat puluh dua, satu tangan di pagar, kepala sedikit menunduk.
“Iya, Ma. Udah di rumah, Ma. Sendiri. Iya. Iya, besok rapat jam delapan. Nggak, Ma. Nggak ada apa-apa.”
Nggak ada apa-apa.
Claire menatap pantulannya sendiri di dinding kaca. Perempuan dua puluh dua tahun dengan gaun karpet merah, jas tuksedo milik pria yang sedang menyangkalnya di balkon, dan gelang berlian yang tidak boleh dilihat siapa pun, duduk sendirian di sofa putih di ruangan seluas lapangan futsal. Rambutnya masih berbentuk sanggul karpet merah yang setengah runtuh. Mata yang sama dengan poster raksasa tadi.
Perempuan yang tahu apa yang ia inginkan dalam hidup.
Yeah. Tentu.
Dean kembali tujuh menit kemudian. Ia berlutut di depan sofa, menyandarkan dahinya ke lutut Claire, dan berkata maaf dengan cara yang membuat Claire hampir percaya ini terakhir kalinya.
Hampir.
Ia tetap tinggal sampai pukul tiga. Mereka menonton film hitam-putih kesukaan Dean di layar raksasa ruang tengah, kepala Claire di bahunya, dan tidak membicarakan restoran lagi.
Saat Claire memakai kembali heels-nya di ambang pintu, Dean mencium dahinya.
“Hati-hati di jalan. Kabarin kalau udah sampai.”
Bukan aku antar. Tidak pernah aku antar.
Lift barang turun dengan derit yang sama. Pak Darto masih menatap layar CCTV.
“Hati-hati, Mbak.”
Lucu. Dua orang mengucapkan kalimat yang sama malam ini, dan hanya satu yang benar-benar menatapnya.
Rumah di Pondok Indah itu terlalu besar untuk keluarga yang jarang saling menyapa, dan terlalu sunyi untuk disebut rumah.
Claire masuk lewat pintu samping pukul empat kurang sepuluh. Ia menenteng heels di satu tangan dan menahan napas seperti remaja yang pulang lewat jam malam, padahal ia membayar cicilan rumah ini sendiri sejak umur sembilan belas.
Lampu dapur menyala.
Tentu saja menyala.
Mama duduk di kursi tinggi di depan meja dapur marmer, kacamata baca bertengger di ujung hidung, iPad di tangan, wajah diterangi cahaya biru layar. Rambutnya masih tergulung rol. Sisa-sisa krim malam berkilat di tulang pipinya, tulang pipi yang dua puluh lima tahun lalu pernah menghiasi sampul majalah dan poster film yang sekarang hanya bisa ditemukan di grup Facebook nostalgia.
“Kamu dari mana?” tanya Mama tanpa mengangkat kepala.
“After party.”
“Sampai jam segini?”
“Ada produser yang ngajak ngobrol.”
Bohong nomor tujuh belas. Claire berhenti menghitung setelah dua puluh. Biasanya.
Mama akhirnya mengangkat wajah, bukan untuk menatap Claire, melainkan untuk memutar iPad-nya ke arah Claire. Grafik batang. Garis naik tajam. Angka-angka berwarna hijau dan merah.
“Reach kamu naik tiga ratus empat puluh persen dari kemarin,” kata Mama, dengan nada yang biasanya dipakai ibu-ibu lain untuk melaporkan nilai rapor anaknya. “Gaunnya bagus. Mama sudah bilang kan, champagne itu warnamu. Tapi lihat ini.”
Jari bercat merah marun menggulir ke bawah. Kolom komentar.
kok mukanya capek bgt ya
cantik sih tp kayak ga ikhlas senyumnya
kantung matanya ga ketutup makeup wkwk
“Ada empat ratus komentar soal mata kamu,” kata Mama. “Empat ratus, Claire. Besok pagi pakai eye patch dari Luminé yang kemarin dikirim. Sekalian foto, buat story. Jadi kelihatan kamu pakai produk mereka.”
“Oke, Ma.”
“Ngomong-ngomong soal Luminé, Ghea sudah tanya soal perpanjangan kontrak? Kontrak kamu habis Maret. Mama dengar dari Tante Rini, Luminé lagi lirik artis lain. Anak baru itu. Siapa namanya. Yang FYP terus.”
“Nanti aku tanya Ghea.”
“Jangan nanti. Besok.” Mama menurunkan kacamatanya. “Dean datang tadi?”
Tenggorokan Claire mendadak kering.
“Datang.”
“Kalian foto bareng?”
“Nggak, Ma.”
Mama berdecak. Bunyi kecil yang Claire kenal seumur hidupnya, bunyi yang selalu terdengar seperti kegagalan. “Kamu harus lebih sering kelihatan sama dia, Claire. Satu frame aja cukup. Biar orang mulai ngomongin. Kamu tahu siapa keluarga Sangkerta? Satu foto sama Dean nilainya lebih dari sepuluh FTV.”
Claire menatap ibunya. Lalu menatap gelang di pergelangan tangannya sendiri, yang ia lupa lepas di mobil. Berlian kecil berkilat di bawah lampu dapur.
Mama tidak melihatnya. Mama sedang membaca komentar lagi.
Ironis. Selama dua tahun, satu-satunya orang yang paling ingin Claire bersama Dean Sangkerta adalah orang yang paling tidak boleh tahu bahwa ia sudah bersamanya.
“Iya, Ma,” katanya. “Nanti aku usahain.”
“Bagus.” Mama kembali ke layarnya. “Tidur. Jam sepuluh ada fitting.”
Tidak ada kamu sudah makan?
Tidak ada capek, Nak?
Claire berjalan ke kulkas karena perutnya mendadak ingat bahwa terakhir kali ia makan adalah setengah roti gandum pukul dua belas siang, di mobil, di antara dua sesi makeup. Pintu kulkas dua pintu itu penuh magnet dari luar negeri yang tidak pernah ia kunjungi untuk liburan, hanya syuting. Di tengahnya, di bawah magnet menara Eiffel, tertempel selembar kertas hasil cetak dengan huruf tebal.
SENTIMEN POSITIF: 87%. Tanggalnya kemarin. Ada coretan pulpen merah di sebelahnya, tulisan tangan Mama: Target 90!
Claire membuka pintu kulkas. Rak-rak penuh kotak salad berlabel nama harinya. Jus cold-pressed hijau. Greek yogurt rendah lemak. Semua disusun oleh asisten rumah tangga sesuai menu dari ahli gizi yang dibayar agensi.
Ia menutup kulkas lagi.
Tidak lapar. Tiba-tiba saja tidak.
Tangga ke lantai dua melewati tiga pintu, dan setiap pintu punya tagihan.
Pintu pertama, ruang kerja Papa. Cahaya biru merembes dari celah bawahnya. Herman Andalas belum tidur, seperti biasa, duduk di depan dua monitor yang menampilkan grafik saham dan kripto yang naik turun seperti detak jantung pasien sakit. Dulu Papa punya pabrik garmen di Tangerang dengan tiga ratus karyawan. Pabrik itu tutup waktu Claire berumur empat belas, meninggalkan utang di dua bank dan seorang pria yang sejak itu memperkenalkan diri sebagai “konsultan bisnis” tanpa pernah punya klien. Claire yang membayar cicilan utang itu sekarang. Juga cicilan Alphard di garasi, yang kata Papa “penting untuk citra kalau ketemu investor”. Investor yang tidak pernah datang.
Claire tidak mengetuk. Papa tidak keluar. Mereka sudah lama sepakat tanpa kata bahwa begitu lebih mudah bagi keduanya.
Pintu kedua, kamar Rafael. Gelap dan rapi, terlalu rapi, karena penghuninya sedang di Melbourne, semester tiga jurusan bisnis, tinggal di apartemen studio dekat kampus yang sewanya, kalau dirupiahkan, lebih mahal dari honor satu FTV. Rafael anak yang manis. Ia selalu menelepon Claire di hari ulang tahunnya. Ia juga selalu menelepon Claire dua minggu sebelum tagihan semester jatuh tempo.
Pintu ketiga, kamar Kayla. Lampunya masih menyala. Jam empat pagi, dan adik bungsunya yang berumur lima belas tahun masih terjaga, ring light menyala, musik TikTok merembes pelan dari balik pintu. Kayla bersekolah di sekolah internasional di Cilandak dan bercita-cita jadi selebgram “kayak Kak Claire, tapi lebih seru”.
Di pintu kamar Claire sendiri, tertempel satu sticky note merah muda dengan tulisan tangan bulat-bulat.
Kak, DP study tour Jepang bayar minggu ini yaaa 🙏 transfer ke rek Mama aja. Love u kakakku yg paling cantik sedunia!!! 💕 K
Claire mencabut kertas itu. Melipatnya. Menggenggamnya.
Mama punya istilah untuk ini. Ia mengucapkannya di depan tamu arisan dengan nada bangga, di depan wartawan dengan nada haru, dan di depan Claire dengan nada yang tidak pernah bisa Claire tebak, entah pujian entah peringatan.
Kamu ini tulang punggung keluarga, Claire.
Tulang punggung. Bagian tubuh yang tidak boleh patah. Karena kalau patah, semuanya ikut roboh.
Kamarnya di lantai dua dingin seperti hotel bintang lima. Rapi seperti hotel bintang lima. Sama tidak ada orangnya seperti hotel bintang lima.
Claire melepas gelang dan menyimpannya di laci paling bawah, di dalam kotak sepatu, di bawah tumpukan sweter yang tidak pernah ia pakai di Jakarta. Di sana sudah ada jam tangan, dua kalung, satu cincin bermata safir, dan anting yang pernah ia pakai satu kali di depan cermin kamar ini lalu tidak pernah lagi.
Museum kecil berisi hadiah yang tidak boleh dilihat siapa pun.
Ia berbaring di atas selimut tanpa membersihkan makeup, sesuatu yang akan membuat dermatologisnya menangis. Ponsel di dada. Layar menyala.
62.418 notifikasi.
Ia menggulir tanpa membaca. Like. Mention. Tag dari fanbase. Kolase foto karpet merah dengan musik dramatis. Seseorang membuat video perbandingan gaunnya dengan gaun aktris Korea. Seseorang lagi menulis thread tentang “5 kali Claire Andalas membuktikan dia queen of red carpet”. Seseorang lain menulis thread tandingan berjudul “Claire Andalas overrated, ini buktinya”.
Lalu jempolnya berhenti.
@lambe_kepo mengunggah fotonya. Close-up wajahnya, tepat di detik ketika dadanya terasa sempit di karpet merah. Matanya sedikit kosong. Senyumnya sedikit terlambat.
Cantiknya ga ngotak sih, tapi kok makin hari makin jutek ya mba nya? 🤭 Lagi ada masalah atau emang aslinya gini? Spill di kolom komentar, admin ga ikut-ikutan 🙈
Like 214rb · Komentar 18rb
Claire tahu ia seharusnya tidak membuka komentarnya. Ghea sudah bilang seribu kali. Psikolog yang hanya tiga kali itu juga sudah bilang.
Ia membukanya.
sok eksklusif, ga pernah mau main sinetron, ngerasa paling mahal
ini mah capek abis begadang sama om om wkwkwk
aku fans dari gadis sampul, plis jangan jahat 😭
kasian deh liatnya, kayak boneka
Kayak boneka.
Claire membaca kalimat itu tiga kali. Lalu mengunci layar dan menatap langit-langit kamar yang putih bersih, tanpa retak satu pun, tanpa noda, persis seperti dirinya di setiap foto.
Ponselnya bergetar lagi. Satu DM. Dari satu-satunya orang yang mungkin bisa ia sebut teman.
valeriemhrdk: Tadi kamu cantik bgttt beb 🥹 tapi jujur kamu keliatan capek banget, aku sampe khawatir. Istirahat ya. Love you 🤍
Sesuatu di dada Claire menghangat sedikit. Paling tidak satu orang memperhatikan. Paling tidak satu orang khawatir.
Ia membalas dengan emoji hati. Lalu, setelah ragu sebentar, mengetik makasih Val dan mengirimnya juga.
Di luar jendela, langit Jakarta mulai berubah dari hitam ke abu-abu kotor. Azan subuh terdengar dari masjid kompleks sebelah, sayup, seperti datang dari dunia lain. Dunia di mana orang-orang bangun, sarapan, dan ditanya sudah makan atau belum.
Enam puluh dua ribu notifikasi.
Nol orang yang bertanya apakah ia baik-baik saja.
Claire Andalas memejamkan mata. Bintang di atas awan. Tinggi. Terang.
Sendirian.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!