Studio Ruang Gema terletak di lantai dua sebuah ruko di Pasar Minggu, tepat di atas Laundry Kilat Bu Haji, dan karena itu seluruh lagu Ezra Cakrawala direkam dengan aroma pewangi pakaian rasa sakura.
Ini bukan metafora. Kadang Ezra benar-benar bersin di tengah take.
“Take empat belas,” kata Rian lewat talkback. Suaranya serak, bosan, dan sedikit puas dengan dirinya sendiri, kombinasi yang selalu ia pakai jam sebelas malam. “Dan kali ini, tolong, nyanyi kayak lo pernah patah hati. Bukan kayak lo lagi nunggu ojol.”
Ezra menatapnya lewat kaca kecil yang memisahkan booth vokal dari ruang kontrol. Booth itu sebenarnya bekas gudang yang dilapisi busa telur, karpet bekas masjid, dan dua selimut Hello Kitty milik keponakan Rian karena busanya kurang. Luasnya kira-kira satu kali satu setengah meter. Kalau Ezra merentangkan tangan, sikunya menyentuh dinding.
“Gue emang lagi nunggu ojol,” katanya ke mikrofon. “Ojol yang bawa duit delapan puluh juta buat mastering.”
“Itu bukan patah hati. Itu kemiskinan.”
“Bedanya apa?”
Rian menunjuknya lewat kaca dengan stik drum yang entah kenapa selalu ia pegang, bahkan saat tidak ada drum di ruangan. Kebiasaan sepuluh tahun lalu yang tidak pernah hilang. “Nyanyi. Sekarang. Sebelum Bu Haji nyalain mesin pengering.”
Ezra memejamkan mata. Memasang headphone yang busanya sudah mengelupas. Intro gitar akustik mengalir, rekaman demonya sendiri dari tiga bulan lalu, sederhana dan sedikit fals di senar keempat.
Lagu itu berjudul Tanpa Lampu. Ia menulisnya di angkot jurusan Kampung Melayu, di ponsel retak, di antara dua audisi yang tidak pernah menelepon balik.
Ia bernyanyi.
Dan selama tiga menit empat puluh detik, ruang sempit berbau sakura itu menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Ezra Cakrawala tidak gagal.
Saat nada terakhir memudar, ia membuka mata. Rian tidak bicara. Rian sedang menatap layar laptopnya dengan dahi berkerut.
“Kenapa? Fals?”
“Nggak.” Rian berdeham. “Itu bagus, Zra. Itu bagus banget, anjir.”
Dari Rian, yang pernah menyebut lagu andalan ECLIPSE “jingle sabun cuci yang dikasih koreografi”, itu setara dengan standing ovation.
Lalu mesin pengering Bu Haji menyala di bawah mereka, dan seluruh lantai bergetar seperti ada gempa kecil yang khusus menyerang mimpi orang miskin.
“Oke,” kata Rian. “Kita break.”
Break di Ruang Gema berarti dua hal. Kopi sachet. Dan menghitung uang.
Rian membuka spreadsheet di laptop yang kipasnya berbunyi seperti helikopter tua. Ezra duduk di lantai, punggung bersandar ke rak berisi kabel kusut yang tidak jelas fungsinya, dan meniup kopi di gelas plastik bekas air mineral yang dipotong.
“Sewa ruko jatuh tempo tanggal dua puluh,” kata Rian. “Mixing tiga lagu terakhir, kita butuh session player buat cello. Mastering, gue udah nego sampai mentok. Terus duplikasi CD...”
“Siapa yang masih beli CD?”
“Fans lo.”
“Fans gue tinggal tiga orang, dan salah satunya nyokap gue.”
“Makanya CD-nya cuma seratus keping.” Rian memutar laptopnya. “Total yang kita butuh delapan puluh juta. Yang kita punya...”
Ezra tidak perlu melihat angkanya. Ia sudah tahu. Dua puluh tiga juta empat ratus ribu. Hasil tabungan tiga tahun, honor dua FTV di mana ia jadi kakak sepupu tokoh utama yang muncul di adegan pernikahan, satu iklan obat masuk angin yang tayang jam dua pagi, dan...
“Oh iya.” Rian menyeringai. Seringai jahat. Seringai yang Ezra kenal sejak mereka berumur lima belas dan Rian menyembunyikan sepatu panggungnya sepuluh menit sebelum tampil di acara musik pagi. “Klien lo nungguin konten.”
“Rian.”
“Kopi Sachet Mantap Jiwa. Dua ratus ribu rupiah. Satu video. Durasi tiga puluh detik. Deadline jam dua belas malam ini, dan sekarang,” ia melirik jam di laptop, “jam sebelas lewat dua puluh.”
Ezra menutup wajah dengan kedua tangan. “Gue mantan vokalis utama boyband yang pernah konser di Istora.”
“Istora-nya cuma keisi setengah, Bro.”
“Itu bukan poinnya.”
“Poinnya,” kata Rian sambil menyalakan ring light murah yang lampunya sudah kedap-kedip di satu sisi, “dua ratus ribu itu bisa bayar session player cello selama, kurang lebih, empat puluh lima menit. Ayo, superstar. Senyum yang ikhlas.”
Sepuluh menit kemudian, Ezra Cakrawala, dua puluh enam tahun, berdiri di depan dinding busa telur dengan sachet kopi di tangan kanan, mencoba mengatakan “Pagi-pagi lesu? Ngopi dulu biar Mantap Jiwa!” dengan wajah yang tidak terlihat seperti sedang disandera.
Take tujuh akhirnya lolos. Rian bertepuk tangan pelan, sarkastis, lalu terbatuk karena tertawa.
Ezra mengunggahnya. Lima menit kemudian, video itu punya empat puluh dua views.
Satu komentar.
kak ezra yang dulu di eclipse kan?? kok sekarang jualan kopi kak 😭
“Wah,” kata Ezra. “Pengakuan.”
“Ngomong-ngomong soal pengakuan.” Rian mendadak sibuk dengan ponselnya. Terlalu sibuk. Ia menggulir sesuatu, berhenti, menggulir lagi, dan memasang wajah yang ia pakai saat akan menyampaikan berita buruk tapi mencoba terdengar santai. “Lo... jangan buka TikTok dulu malam ini.”
Tentu saja Ezra langsung membuka TikTok.
FYP-nya menyambutnya dengan wajahnya sendiri. Umur enam belas tahun. Rambut dicat perak, jaket kulit kebesaran dengan rantai dekoratif yang tidak masuk akal, berdiri di tengah formasi lima remaja yang sedang melakukan koreografi lagu Cahaya Untukmu di sebuah acara musik pagi tahun 2016. Gerakan tangan berputar. Lompatan yang mendarat sedikit terlambat. Dion di paling kiri, satu-satunya yang benar-benar hafal gerakan.
Teks di atas video berbunyi: POV: boyband yang lupa kalau mereka nggak bisa nari 💀
1,2 juta views. 89 ribu komentar.
vokalisnya kayak lagi nyari sendal jepit yang ilang
ini era di mana label asal comot cowok cakep terus disuruh nyanyi wkwk
eh jujur suara vokalisnya bagus deh, sayang aja boybandnya
mereka bubar kenapa sih? katanya ada yang cabut duluan ya
katanya gara2 vokalisnya sok idealis 🤡
Ezra menatap komentar terakhir itu sedikit terlalu lama. Lalu ia tertawa, karena itulah yang ia lakukan sepuluh tahun terakhir setiap kali masa lalunya muncul di tempat yang tidak ia undang. Tertawa. Gulir. Lanjut hidup.
“Lihat deh,” katanya sambil mengangkat ponsel ke arah Rian. “Lo kelihatan di pojok belakang. Lagi salah gerakan.”
“Gue drummer. Gue nggak pernah dikasih tahu kenapa drummer harus nari.”
“Kenapa juga drummer harus pakai rompi bulu?”
“Gue nggak mau bahas rompi bulu.”
Mereka tertawa. Tawa yang hangat dan sedikit pahit, seperti kopi sachet yang terlalu lama didiamkan. Di bawah mereka, mesin pengering Bu Haji berhenti berputar.
Rian mematikan ring light. “Udah. Pulang sana. Warung nyokap lo bentar lagi tutup, dan gue tahu lo belum makan dari siang.”
“Lo kok kayak istri gue.”
“Kalau gue istri lo, gue udah minta cerai dari tahun 2018.”
Warung Bu Ratna tidak punya papan nama.
Tidak perlu. Semua ojol di radius tiga kilometer sudah tahu bahwa di mulut gang sebelah musala Al-Ikhlas ada warung tenda biru yang buka sampai jam satu pagi, sayur asemnya paling seger se-Jakarta Selatan, dan ibu pemiliknya akan menambahkan tempe goreng gratis kalau kau kelihatan sedih.
Ezra kelihatan sedih hampir setiap malam. Ia dapat tempe goreng hampir setiap malam.
Saat ia memarkir motor bebek tuanya di depan tenda, warung sudah setengah tutup. Kursi plastik ditumpuk di sudut. Dua pengemudi ojol sedang menghabiskan es teh sambil menonton TV tabung kecil yang tergantung di tiang tenda, diikat dengan tali rafia dan doa. Ibu Ratna berdiri di balik etalase kaca, mengelap panci besar dengan gerakan yang sama yang Ezra lihat sejak ia masih setinggi meja.
“Le.” Ibunya tidak menoleh. Ia selalu tahu itu Ezra dari suara knalpot motornya. “Wis mangan?”
Pertanyaan yang sama. Setiap malam. Selama dua puluh enam tahun.
“Belum, Bu.”
“Duduk.”
Ezra duduk. Dalam tiga menit, di depannya sudah ada sepiring nasi, semangkuk sayur asem yang masih mengepul, dua potong tempe goreng, satu telur balado, dan sambal terasi dalam cobek kecil yang dulu ia pakai untuk main masak-masakan. Ia tidak memesan satu pun dari itu.
“Bu, aku cuma mau nasi sama sayur.”
“Itu nasi sama sayur.”
“Ada telurnya.”
“Telurnya sisa. Daripada dibuang.”
Ezra menatap telur balado yang jelas-jelas baru digoreng lima menit lalu, lalu menatap ibunya, yang membalas tatapannya dengan wajah polos tanpa dosa. Ibu Ratna Cakrawala, lima puluh dua tahun, janda sejak Ezra berumur sembilan, pembohong yang buruk sekali tapi tidak pernah berhenti berusaha.
Ia makan. Sayur asemnya asam dan manis dan pedas di tempat yang tepat, dan untuk pertama kalinya hari ini, perut Ezra berhenti terasa seperti lubang.
“Ibu tadi lihat video kamu,” kata Ibu Ratna sambil duduk di seberangnya. Ia meluruskan kaki kanannya pelan, lututnya berbunyi kecil. Ezra pura-pura tidak dengar. Ibunya juga pura-pura tidak sakit. Keluarga mereka sangat berbakat dalam hal pura-pura. “Yang kopi itu.”
Ezra tersedak kuah sayur. “Ibu lihat?”
“Ibu kasih love. Sama komen.”
Tentu saja. Empat puluh dua views. Ia baru saja tahu siapa salah satunya.
“Komen apa?”
Ibu Ratna mengeluarkan ponsel dengan casing bergambar bunga yang sudah retak di satu sudut, memicingkan mata, lalu membacakan dengan bangga, “Ganteng sekali anak saya. Kopinya pasti enak. Salam dari Warung Bu Ratna, Pasar Minggu.” Ia menurunkan ponsel. “Biar sekalian promosi.”
Ezra meletakkan sendoknya. Menatap ibunya lama sekali.
“Ibu,” katanya, “aku sayang Ibu. Tolong hapus komennya.”
“Nggak mau.”
Dua pengemudi ojol di meja sebelah tertawa. Salah satunya, Bang Udin, langganan sejak Ezra SMP, mengacungkan jempol. “Kopinya enak nggak, Zra?”
“Rasanya kayak keputusan hidup yang salah, Bang.”
“Wah, cocok buat gue.”
TV tabung di tiang tenda berganti dari sinetron ke tayangan infotainment tengah malam. Live dari premiere film. Karpet merah. Lampu kilat. Musik dramatis yang terlalu keras untuk speaker sekecil itu.
Dan wajah Claire Andalas memenuhi layar.
Gaun warna sampanye. Rambut disanggul tinggi. Senyum yang sempurna, simetris, terukur. Ia sedang menjawab pertanyaan reporter. Aku lagi fokus kerja dulu, Kak. Kepalanya miring sedikit, sudut yang sama persis setiap kali kamera berganti. Seperti video yang diulang.
“Wah, Neng Claire,” kata Bang Udin. “Bini gue ngefans berat. Katanya cantiknya kayak boneka.”
Ezra menatap layar. Ada yang mengganjal di tenggorokannya, dan bukan sayur asem.
Ia pernah satu lokasi dengan perempuan itu. Tiga tahun lalu. Satu FTV. Claire Andalas pemeran utama, Ezra Cakrawala pemeran “Tukang Parkir #2” dengan dua baris dialog dan satu adegan di mana ia harus mengembalikan dompet Claire yang terjatuh. Ia ingat Claire mengucapkan terima kasih tanpa sekali pun melihat matanya. Ia ingat asisten Claire memayunginya dari matahari sementara Ezra berdiri di aspal panas selama empat jam. Ia ingat berpikir, Oke. Jadi begini rasanya jadi properti.
Ia juga ingat hal lain. Tapi itu tidak penting sekarang.
“Cantik,” kata Ibu Ratna pelan, matanya ikut menatap layar. Lalu, dengan nada yang sama yang ia pakai saat melihat pelanggan yang datang terlalu kurus, “Tapi kok kayak orang belum makan, ya.”
Ezra menoleh ke ibunya. Ibunya masih menatap TV, kening sedikit berkerut, seolah perempuan di layar itu salah satu ojol yang lupa membawa uang.
“Bu. Itu artis paling mahal se-Indonesia. Dia pasti makannya salmon tiap hari.”
“Salmon kan nggak bikin kenyang hati, Le.”
Ezra tidak tahu harus menjawab apa. Jadi ia makan tempenya.
Pukul satu lewat lima belas, Ezra membantu menurunkan terpal tenda dan menumpuk kursi terakhir. Bang Udin sudah pulang. Gang sepi, hanya ada suara jangkrik dan seorang bapak yang mengorok dari balik jendela rumah sebelah.
Ibu Ratna menghitung uang di kaleng biskuit Khong Guan yang sejak dulu tidak pernah berisi biskuit. Lalu ia menyisihkan selembar seratus ribuan, melipatnya, dan menyodorkannya ke Ezra.
“Buat album kamu.”
“Bu. Nggak.”
“Ini uang arisan. Ibu menang bulan ini.”
“Ibu nggak ikut arisan.”
“Mulai bulan ini ikut.”
Ezra mendorong tangan ibunya kembali, pelan. Tangan itu kasar, penuh bekas luka kecil dari minyak panas dan pisau dapur, dan masih wangi bawang merah meski sudah dicuci tiga kali. Tangan yang sama yang dulu menyetrika kostum panggung ECLIPSE jam tiga pagi. Tangan yang sama yang menepuk punggungnya setelah label memutus kontrak mereka lewat email dua paragraf, dan Ezra, enam belas tahun, menangis di kamar mandi karena malu menangis di depan ibunya.
“Ibu,” katanya. “Kalau albumnya gagal lagi gimana? Aku udah dua puluh enam. Temen-temen SMA udah pada punya rumah, punya anak, punya BPJS. Aku punya tiga lagu setengah jadi sama video jualan kopi yang ditonton empat puluh dua orang.” Ia tertawa, tapi tawa itu patah di tengah. “Dan di TikTok, aku cuma meme boyband gagal.”
Ibu Ratna tidak menjawab langsung. Ia memasukkan uang seratus ribu itu kembali ke kaleng Khong Guan, menutupnya, lalu duduk di kursi plastik terakhir yang belum ditumpuk.
“Le. Kamu ingat waktu kecil, kamu nyanyi di musala pas Maulid?”
“Bu, itu waktu aku umur tujuh.”
“Penontonnya cuma dua puluh orang. Separuh ketiduran. Mikrofonnya mati di tengah lagu.” Ibunya tersenyum. “Tapi Pak Haji Somad nangis. Kamu ingat?”
Ezra ingat. Lelaki tua itu memeluknya setelah acara dan menyelipkan lima ribu rupiah ke saku bajunya.
“Bukan karena suaramu paling bagus,” kata Ibu Ratna. “Karena kamu nyanyinya sungguh-sungguh. Orang bisa dengar bedanya.” Ia menepuk lutut Ezra dua kali. “Lagu yang jujur itu tetap kedengaran jujur, Le. Sekecil apa pun panggungnya.”
Gang itu sunyi. Lampu jalan berkedip satu kali, lalu menyala stabil.
Ezra menunduk. Menatap sandal jepitnya yang talinya sudah disambung peniti. Matanya panas, dan ia sangat, sangat tidak ingin menangis di depan ibunya lagi. Sepuluh tahun kemudian, ternyata ia masih malu.
“Ibu ngomong kayak motivator.”
“Ibu nonton Mario Teguh dulu.”
Ezra tertawa. Kali ini tawanya utuh.
Kamar Ezra ada di belakang warung, dipisahkan dari dapur oleh tirai manik-manik dan satu pintu triplek yang engselnya berderit setiap kali dibuka. Kasur busa tipis di lantai. Kipas angin berdiri yang kepalanya tidak bisa diam. Gitar akustik bekas yang ia beli dari uang honor pertama ECLIPSE dan satu-satunya benda dari masa itu yang tidak pernah ia jual.
Di dinding, satu poster. Bukan poster ECLIPSE. Poster konser band indie lokal yang pernah ia tonton dari pinggir panggung sebuah kafe di Bulungan, saat ia berumur delapan belas dan masih percaya ada jalan kedua.
Ia berbaring dengan ponsel di atas dada. Pukul dua lewat sepuluh.
Tidak bisa tidur. Tentu saja tidak bisa tidur.
Notifikasi masuk. Satu lagi views di video kopi. Empat puluh tiga. Lalu satu notifikasi lain, dari akun yang sudah lama ia matikan pemberitahuannya tapi entah kenapa muncul lagi.
dion.prakasa membagikan ulang video meme ECLIPSE ke story-nya.
Ezra seharusnya tidak membukanya. Ia membukanya.
Dion, dua puluh tujuh tahun, rambut rapi, kemeja linen putih, duduk di studio podcast dengan logo neon di belakangnya. Akunnya punya tiga ratus ribu pengikut dan centang biru. Di atas video meme itu, ia menulis:
Masa-masa kelam wkwk. Gue sih masih hafal semua gerakannya, yang lain kayaknya udah lupa. Ada juga yang dari dulu emang paling susah diatur 😂 Full story di episode minggu depan 🎙️
Tidak ada nama. Tidak perlu ada nama.
Rahang Ezra mengeras. Ia menatap layar sampai story itu bergulir sendiri ke unggahan berikutnya, dan ia tidak mengetik balasan apa pun, karena sepuluh tahun lalu ia sudah memutuskan untuk tidak pernah lagi berdebat dengan Dion Prakasa. Bukan karena Dion benar. Karena Dion selalu lebih keras.
Ia menggulir terus, mencari apa saja yang bukan wajahnya sendiri umur enam belas.
Dan berhenti di wajah Claire Andalas.
@lambe_kepo. Close-up dari karpet merah tadi. Bukan foto yang dipilih tim humas. Foto di antara pose, ketika senyum belum sempat terpasang. Matanya sedikit kosong. Bibirnya sedikit terbuka, seperti sedang menghitung sesuatu.
Cantiknya ga ngotak sih, tapi kok makin hari makin jutek ya mba nya? 🤭 Lagi ada masalah atau emang aslinya gini?
Delapan belas ribu komentar. Ezra membaca beberapa.
sok eksklusif
ngerasa paling mahal
kasian deh liatnya, kayak boneka
Kayak boneka. Kalimat yang sama yang diucapkan Bang Udin dua jam lalu, sambil memuji.
Ezra menatap foto itu lebih lama. Lalu, tanpa diminta, ingatan yang tadi ia singkirkan di warung kembali dengan jelas sekali.
Lokasi syuting FTV tiga tahun lalu. Perumahan kosong di pinggir Bekasi. Jeda makan siang. Kru berkumpul di bawah tenda dengan nasi kotak, tertawa keras, merokok. Ezra berjalan ke mobil van untuk mengambil botol minum dan melihat Claire Andalas duduk sendirian di kursi belakang mobil sedan putihnya. Jendela terbuka setengah. AC menyala, mesin hidup, tapi ia sendirian.
Matanya terpejam. Kedua tangannya mencengkeram lutut. Bibirnya bergerak tanpa suara, menghitung. Satu. Dua. Tiga. Napasnya pendek dan cepat, bahunya naik-turun seperti orang yang baru berlari padahal sejak pagi ia hanya duduk dan berdiri sesuai arahan sutradara.
Tangannya gemetar. Ezra ingat itu dengan jelas. Tangan pemeran utama paling mahal se-Indonesia, gemetar seperti daun.
Ia tidak tahu apa yang terjadi. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya tahu dua hal. Bahwa perempuan itu jelas tidak mau dilihat. Dan bahwa tidak ada satu pun orang di lokasi itu yang sedang mencarinya.
Jadi Ezra melakukan satu-satunya hal yang terpikir. Ia mengambil satu botol air mineral dingin dari cooler kru, meletakkannya di kap depan sedan putih itu, di tempat yang pasti terlihat saat Claire membuka mata, lalu berjalan pergi sebelum ia sempat melihatnya.
Sejam kemudian, Claire kembali ke depan kamera dengan senyum sempurna dan tidak menatap matanya saat mengucapkan terima kasih untuk dompet yang dikembalikan. Ezra tidak pernah tahu apakah botol air itu diminum, dibuang, atau tidak pernah terlihat sama sekali.
Ia tidak pernah menceritakannya pada siapa pun. Bahkan pada Rian.
Ezra menatap kolom komentar itu lagi. Kayak boneka.
Boneka nggak gemetar, pikirnya.
Lalu ia mengunci layar dan menaruh ponsel telungkup di lantai. Bukan urusannya. Perempuan itu tinggal di dunia yang berbeda, dunia dengan karpet merah dan payung dari asisten dan pacar rahasia, mungkin, yang pasti punya mobil lebih bagus dari motor bebek tuanya. Ezra punya album yang kurang lima puluh tujuh juta, sewa ruko yang jatuh tempo tanggal dua puluh, dan mantan rekan band yang sedang menyiapkan episode podcast tentang dirinya.
Masalahnya sudah cukup. Ia tidak butuh masalah orang lain.
Kipas angin berputar. Di dapur, kulkas warung berdengung pelan. Dari jauh, azan subuh mulai terdengar, sama sayupnya seperti di Pondok Indah, meski Ezra tidak akan pernah tahu itu.
Ia meraih ponselnya lagi. Membuka aplikasi catatan. Jempolnya diam lama di atas layar kosong.
Lalu ia mengetik dua baris.
It is funny how you’d be so immovable
You know my heart is yours
Ezra menatapnya. Mendengus. Terlalu cengeng. Terlalu romantis. Rian akan menertawakannya selama seminggu.
Ia tidak menghapusnya. Ia menyimpannya di folder berjudul Nanti, di antara empat puluh dua lagu setengah jadi lainnya, lalu akhirnya tertidur saat langit mulai terang. Tidur gelisah. Tanpa mimpi.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!