Bab 5 - Strategi Darurat

0 dibaca

A

Slide pertama hanya berisi satu kata, putih di atas hitam.

SPARKS.

“Nama proyeknya,” kata Tessa, kepala divisi digital Prisma Talent, dengan senyum orang yang sangat bangga pada nama proyek. Ia berumur awal tiga puluhan, berponi tebal, memakai kacamata berbingkai merah dan tiga cincin perak di satu jari, dan berbicara dengan kecepatan seseorang yang terbiasa menjelaskan algoritma TikTok ke bos-bos berumur enam puluh. “Karena yang kita butuhkan sekarang adalah percikan. Sesuatu yang bikin publik lupa sama video empat belas detik itu.”

Claire duduk di kursi kulit yang terlalu dalam di ruang rapat yang sama seperti dua hari lalu. Ghea di kirinya. Mama di kanannya. Pak Hendra di ujung meja, jari bertaut, seperti biksu yang sedang menunggu meditasi selesai.

Tidak ada yang bertanya apakah Claire setuju dengan nama proyek itu. Tidak ada yang bertanya apakah Claire setuju dengan apa pun.

Slide kedua. Awan kata raksasa dari analisis sentimen. Kata-kata terbesar berwarna merah. Sombong. Dingin. Jutek. Toxic. Elitis. Boneka. Settingan. Tidak ramah.

“Ini persepsi publik tentang Claire sejak insiden,” lanjut Tessa. “Tapi yang menarik, kalau kita tarik data enam bulan ke belakang, kata-kata ini sebenarnya sudah ada. Kecil, tapi ada. Insiden ruang rias cuma jadi pemicu. Masalah dasarnya adalah...” Ia mengetuk layar. “Claire terlalu jauh.”

“Jauh?” ulang Claire.

“Terlalu eksklusif. Terlalu sempurna. Nggak pernah main sinetron, nggak pernah ikut reality show, nggak pernah posting makan di warteg. Publik cuma lihat kamu di karpet merah dan iklan skincare. Mereka nggak kenal kamu. Dan orang Indonesia, Mbak Claire,” Tessa tersenyum lagi, “paling gampang membenci orang yang mereka nggak kenal.”

Claire ingin mengatakan bahwa semua itu bukan pilihannya. Bahwa Prisma yang menolak sinetron untuknya. Bahwa Prisma yang memutuskan citra “eksklusif” itu sejak umur enam belas. Bahwa ia pernah, sekali, di umur delapan belas, minta izin posting foto makan bakso di pinggir jalan, dan Pak Hendra sendiri yang bilang tidak.

Tapi Pak Hendra sedang menatapnya. Jadi ia diam.

Slide ketiga.

SOLUSI: Humanisasi melalui hubungan romantis dengan figur yang dekat dengan publik.

Ruangan hening.

“Kalian bercanda,” kata Claire.

“Ini strategi yang sudah terbukti,” kata Tessa, tidak terganggu sama sekali. “Hollywood pakai ini sejak tahun lima puluhan. K-pop pakai ini. Kita cuma lokalisasi. Publik nggak akan maafin Claire. Tapi publik bisa jatuh cinta sama Claire yang sedang jatuh cinta. Itu dua hal yang beda.”

Slide keempat. Sebuah tabel. Lima foto pria, lima nama, dan kolom-kolom berwarna.

Claire menatap tabel itu dan merasa seperti sedang membaca menu.

Kandidat | Engagement | Sentimen | Risiko

1. Raditya Standup Comedy - 29 | Tinggi 71% | positif | Materi lawakan lama soal perempuan

2. Bryan Chef TV - 31 | Sedang 68% | positif | Rumor sudah tunangan

3. Taufik H Atlet bulu tangkis - 24 | Tinggi 89% | positif | Kontrak federasi, tak boleh ada skandal

4. Sean TikToker - 27 | Sangat tinggi 82% | positif | Terlalu jauh dari dunia hiburan, sulit dikendalikan

5. Ezra Cakrawala - Mantan Boyband - 26 |  Sedang, naik 64% |  positif | Rendah

“Empat kandidat pertama punya angka bagus, tapi masing-masing punya risiko.” Tessa memperbesar baris terakhir. “Kandidat kelima ini yang paling menarik.”

Foto pria itu memenuhi layar. Diambil dari Instagram, kelihatannya. Kaus hitam polos, rambut sedikit terlalu panjang, berdiri di depan dinding busa telur sambil memegang gitar, setengah tertawa ke arah sesuatu di luar frame. Rahang tegas. Senyum sedikit miring yang tidak dilatih. Mata yang kelihatan seperti baru bangun tidur, atau baru selesai bernyanyi.

Claire menatapnya. Tidak ada yang muncul di ingatannya.

“Siapa ini?”

“Ezra Cakrawala. Mantan vokalis utama ECLIPSE.” Tessa melihat wajah kosong Claire dan menambahkan, “Boyband tahun 2016. Bubar setelah satu album. Sekarang aktor figuran dan penyanyi independen. Minggu ini video lama ECLIPSE jadi meme, satu koma dua juta views. Publik punya rasa nostalgia, sedikit kasihan, dan rasa penasaran soal kenapa mereka bubar.” Ia menghitung dengan jari. “Nggak pernah kena skandal. Nggak punya pacar yang terekspos. Citra merakyat, ibunya buka warung makan di Pasar Minggu. Dan...”

“Dan?”

“Dan dia butuh uang,” kata Pak Hendra dari ujung meja. Untuk pertama kalinya pagi itu. “Orang yang butuh uang adalah orang yang paling mudah diajak bekerja sama.”

Claire menatap foto itu lagi. Pria dengan kaus hitam dan gitar murah, yang ibunya buka warung, yang akan disewa untuk berpura-pura mencintainya karena butuh uang.

Ada sesuatu yang sangat salah tentang semua ini, dan ia butuh beberapa detik untuk menyadari apa itu. Ia merasa kasihan pada pria itu. Lebih dari pada dirinya sendiri.

“Nggak,” katanya.

Semua kepala menoleh.

“Aku nggak mau.” Suaranya stabil. Ia tidak tahu dari mana kestabilan itu datang. “Aku nggak mau bohong ke publik. Apalagi bohong yang kayak gini. Bawa-bawa orang lain, ibunya, warungnya. Kalau ketahuan, bukan cuma aku yang hancur. Dia juga.”

Pak Hendra tidak langsung menjawab. Ia memiringkan kepala, mengamati Claire seperti seorang kolektor mengamati lukisan yang tiba-tiba punya retak baru.

“Kamu tidak mau berbohong ke publik,” ulangnya pelan.

“Nggak.”

“Menarik.” Jarinya mengetuk meja jati. Sekali. “Karena dari apa yang saya tahu, Claire, kamu sudah berbohong ke publik selama dua tahun. Setiap kali kamu bilang ke wartawan ‘aku lagi fokus kerja dulu’.”

Darah meninggalkan wajah Claire.

Ia tahu. Pak Hendra tahu. Tentang Dean. Tentang pintu belakang dan lift barang dan Pak Darto. Mungkin sejak awal. Mungkin itulah alasan Prisma tidak pernah mempermasalahkan Claire menolak semua gosip asmara selama dua tahun ini. Bukan karena mereka tidak tahu. Karena mereka memilih menyimpannya.

Sebagai kartu.

Mama, di sebelahnya, tidak bereaksi sama sekali. Entah karena tidak mengerti maksud kalimat itu, atau karena terlalu mengerti.

“Bedanya,” lanjut Pak Hendra, suaranya tetap datar, “kebohongan yang itu tidak menguntungkan siapa pun selain kamu. Kebohongan yang ini menyelamatkan karier kamu, kontrak kamu, dan dua ratus karyawan Prisma yang ikut makan dari nama kamu.” Ia berdiri. “Kontrak tiga bulan. Tessa akan menyiapkan semua detailnya. Ghea, hubungi pihak Ezra Cakrawala hari ini.”

“Pak...”

“Bu Larasati, saya rasa Ibu bisa membantu Claire memahami situasinya di rumah.”

Mama mengangguk. Cepat. Patuh. Seperti murid.

Pak Hendra keluar. Tessa membereskan laptopnya sambil bersenandung kecil, puas. Di layar besar, foto Ezra Cakrawala masih terpampang, setengah tertawa, tidak tahu bahwa hidupnya baru saja dirapatkan oleh orang-orang yang tidak pernah ia temui.

Ghea menunduk di atas ponselnya. Ia tidak menatap Claire.

Itu yang paling Claire ingat dari pagi itu. Bahwa Ghea, untuk pertama kalinya dalam enam tahun, tidak bisa menatapnya.


Keluarga Andalas tidak pernah makan malam bersama.

Kecuali malam ini.

Itulah pertanda pertama bahwa ini bukan makan malam. Ini persidangan.

Meja makan marmer untuk dua belas orang, yang biasanya hanya dipakai saat Mama mengadakan arisan, malam ini terisi empat kursi. Mama di kepala meja. Papa di sebelah kanannya, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu keluar dari ruang kerja, kemeja batik rapi, rambut basah habis mandi, seperti mau ke kondangan. Kayla di seberang Claire, ponsel tertelungkup di samping piring, atas perintah Mama, dan jelas sedang menderita karenanya.

Di tengah meja, tablet Mama disandarkan pada vas bunga. Di layarnya, wajah Rafael lewat video call dari Melbourne, rambut acak-acakan, hoodie kampus, latar dinding apartemen studio yang Claire bayar.

“Hai, Kak,” kata Rafael. Senyumnya canggung. “Lama nggak ngobrol.”

Tiga minggu, tepatnya. Sejak tagihan semester terakhir lunas.

“Hai, Raf.”

Asisten rumah tangga meletakkan sup asparagus di depan masing-masing, lalu menghilang ke dapur dengan kecepatan orang yang tahu suasana. Tidak ada yang menyentuh sendok.

Mama berdeham.

“Mama sudah jelaskan ke Papa, Rafael, dan Kayla soal rencana Pak Hendra.”

Tentu saja sudah. Claire menatap wajah-wajah di sekeliling meja dan melihat bahwa semuanya sudah dibahas tanpa dirinya. Papa yang menghindari matanya. Kayla yang menggigit bibir. Rafael yang terus membetulkan posisi laptopnya padahal tidak perlu.

“Dan?” tanya Claire.

“Dan kami semua sepakat ini jalan terbaik.”

“Kalian sepakat aku pacaran pura-pura sama orang yang nggak aku kenal.”

“Cuma tiga bulan, Kak,” kata Papa. Suaranya lembut, seperti biasa. Papa selalu lembut. Papa yang tidak pernah marah, tidak pernah membela, tidak pernah apa-apa. “Nanti juga selesai. Kamu kan sudah biasa akting.”

Sudah biasa akting. Claire menatap ayahnya. Pria yang dulu, waktu ia kecil, menggendongnya di bahu keliling pabrik garmen dan bilang suatu hari Claire akan jadi bos di sana. Pria yang sekarang menghabiskan malam di depan grafik merah dan memintanya membayar cicilan BCA lewat pesan dengan emoji tangan menyembah.

“Kak.” Kayla bicara pelan, matanya berkaca-kaca. Lima belas tahun. Masih memakai kawat gigi berwarna ungu. “Temen-temen aku tadi di sekolah... ada yang nyetel video Kakak di kelas. Pas istirahat. Semua ketawa.” Suaranya pecah. “Aku nggak mau masuk sekolah besok.”

Sesuatu di dada Claire mencengkeram.

“Kay...”

“Terus katanya Kakak bakal putus kontrak. Terus kalau Kakak putus kontrak, aku nggak bisa ikut study tour.” Air matanya jatuh. “Semua temen aku ikut, Kak.”

Di layar tablet, Rafael berdeham. “Kak, aku juga... sori ya, aku nggak mau nambahin beban. Tapi semester depan aku udah daftar mata kuliah. Kalau nggak bayar sebelum tanggal dua puluh, aku nggak bisa lanjut. Visaku juga.” Ia menunduk. “Aku bisa kerja paruh waktu sih. Cuci piring atau apa. Tapi nggak bakal cukup.”

Satu per satu. Dengan wajah sedih dan suara pelan dan kalimat “sori, Kak” dan “aku nggak mau nambahin beban”. Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang memaksa.

Mereka tidak perlu memaksa. Mereka hanya perlu menyebut tagihan.

Mama menunggu sampai semuanya selesai. Lalu ia meletakkan tangannya di atas tangan Claire. Hangat. Jarang sekali Mama menyentuhnya.

“Claire.” Suaranya lembut sekarang. Suara yang Claire kenal dari masa kecil, suara yang dulu membacakan naskah iklan susu bersamanya di ruang tunggu casting. “Dulu Mama nggak punya siapa-siapa. Nggak ada Pak Hendra, nggak ada tim digital, nggak ada yang jagain karier Mama. Waktu Mama jatuh, Mama jatuh sendirian, dan Mama nggak pernah bisa bangun lagi.” Ia meremas tangan Claire. “Mama nggak mau kamu jatuh kayak Mama. Kamu punya kesempatan yang Mama nggak pernah punya. Tolong, Sayang. Jangan sia-siakan.”

Claire menatap tangan ibunya di atas tangannya. Kuku merah marun. Cincin berlian dari arisan. Kulit yang dirawat dengan krim seharga honor satu hari syuting.

Ia ingin bertanya. Ma, kalau aku jatuh, Mama bakal ikut jatuh sama aku? Atau Mama cuma takut nggak ada lagi yang bayar arisan?

Ia tidak bertanya. Ia tahu ia tidak akan suka jawabannya. Lebih buruk lagi, ia tahu jawabannya mungkin dua-duanya.

Empat pasang mata menatapnya. Lima, kalau menghitung Rafael di layar. Menunggu.

Tulang punggung. Bagian tubuh yang tidak boleh patah.

“Oke,” kata Claire.

Kayla menghembuskan napas lega, keras, lalu langsung meraih ponselnya. Rafael bilang “Makasih, Kak, sumpah, makasih” dua kali dan menutup panggilan karena ada kelas pagi. Papa menepuk bahunya sekali, canggung, lalu kembali ke ruang kerja dengan supnya yang belum disentuh.

Mama tersenyum. Senyum yang lega dan bangga dan, di sudut-sudutnya, sedikit menang.

“Mama tahu kamu anak yang pintar.”

Claire mengangguk. Ia menghabiskan supnya yang sudah dingin karena ia tidak tahu harus melakukan apa lagi dengan tangannya.


Di kamar, ponselnya menyala.

D: Maaf soal kemarin. Aku nggak bisa tidur mikirin kamu. Aku kangen.

Dua tahun. Dua tahun ia akan membalas pesan seperti itu dalam tiga detik. Aku juga. Atau Besok? Atau sekadar emoji hati, karena itu yang mereka punya. Huruf satu, dan emoji, dan pintu belakang.

Claire menatap pesan itu lama.

Lalu ia membalik ponselnya. Layar menghadap kasur.

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Claire Andalas membiarkan pesan Dean Sangkerta tidak dibalas.

Rasanya tidak seperti kemenangan. Rasanya seperti mencabut plester yang menempel terlalu lama. Perih, dan di bawahnya, kulit yang belum siap kena udara.


“Seratus lima puluh juta.”

Ezra menjauhkan ponsel dari telinga, menatapnya seolah benda itu baru saja berubah jadi kodok, lalu menempelkannya lagi.

“Bang Jo. Ulang.”

“Seratus. Lima puluh. Juta.” Suara Bang Jo, agen casting kecil yang selama empat tahun terakhir mencarikan Ezra peran Tukang Parkir #2 dan Kakak Sepupu di Adegan Nikahan, terdengar seperti orang yang baru menang lotre tapi takut tiketnya palsu. “Untuk tiga bulan. Dibayar tiga termin. Termin pertama lima puluh juta, cair begitu tanda tangan.”

Ezra duduk di lantai studio Ruang Gema. Pelan. Karena kakinya mendadak tidak bisa dipercaya.

Di seberangnya, Rian berhenti memutar stik drum di jari. Ia tidak bisa mendengar Bang Jo, tapi ia bisa membaca wajah Ezra, dan wajah Ezra jelas sedang mengalami sesuatu.

“Peran apa?” tanya Ezra. “Film layar lebar? Seratus lima puluh juta buat aktor figuran itu nggak masuk akal, Bang.”

Bang Jo diam sebentar. Terlalu lama.

“Bukan film.”

“Sinetron?”

“Bukan.”

“Bang.”

“Ini...” Bang Jo berdeham. “Ini proyek dari Prisma Talent. Mereka mau lo jadi... pacar.”

“Pacar.”

“Pacar Claire Andalas. Di depan publik. Pura-pura.”

Hening.

Di bawah mereka, mesin pengering Laundry Kilat Bu Haji menyala, dan seluruh lantai bergetar, dan untuk sekali ini Ezra merasa itu sangat pas.


“Lo gila kalau nolak,” kata Rian.

Mereka duduk berhadapan di lantai, dua gelas kopi sachet di antara mereka, laptop Rian terbuka di spreadsheet yang sama. Dua puluh tiga juta empat ratus ribu. Kurang lima puluh tujuh juta. Sewa ruko jatuh tempo sembilan hari lagi.

“Seratus lima puluh juta, Zra. Album lo jadi. Mixing, mastering, cello, CD seratus keping yang cuma bakal dibeli nyokap lo. Sewa ruko beres sampai tahun depan. Lo bahkan bisa beli headphone yang busanya nggak ngelupas.”

“Gue harus pura-pura sayang sama orang.”

“Lo aktor.”

“Gue Tukang Parkir #2.”

“Tukang Parkir #2 yang dibayar seratus lima puluh juta.” Rian mencondongkan tubuh. “Bro. Gue tahu ini aneh. Gue tahu ini... ya, settingan, palsu, apalah. Tapi industri ini isinya settingan semua. Lo pikir artis-artis yang tiba-tiba jadian pas film mereka mau tayang itu beneran jatuh cinta di lokasi syuting?”

“Gue nggak pernah pikir gitu.”

“Ya udah. Bedanya, kali ini lo yang dibayar.”

Ezra tidak menjawab. Ia meraih ponselnya, membuka TikTok, dan mencari video itu lagi. Tidak sulit. Video itu masih ada di mana-mana. Dua puluh tiga juta views sekarang. Diunggah ulang, di-stitch, di-duet, dijadikan sound dengan suara Claire berteriak KELUAR! yang dipakai orang untuk video kucing mengusir kucing lain dari kasur.

Empat belas detik. Ia sudah menonton video itu sejak kemarin, mungkin dua puluh kali. Ia belum bilang ke Rian.

Kursi terdorong. Teriakan. Gadis kru yang menangis. Anting berhamburan.

Tapi bukan itu yang Ezra lihat. Bukan itu yang ia lihat sejak pertama kali menonton.

Yang ia lihat adalah detik pertama. Setengah detik sebelum Claire berdiri. Saat kamera belum fokus dan semua orang di internet terlalu sibuk menunggu teriakan untuk memperhatikan.

Tangan Claire. Mencengkeram pinggiran meja rias. Buku-buku jarinya putih. Gemetar.

Persis seperti di kursi belakang sedan putih itu, tiga tahun lalu, di perumahan kosong di Bekasi.

Boneka nggak gemetar.

“Rian,” katanya. “Menurut lo, video ini kepotong nggak?”

Rian mengernyit. “Maksudnya?”

“Lihat awalnya. Dia nggak tiba-tiba marah. Lihat tangannya. Orang yang mau ngamuk nggak pegangan meja kayak gitu. Orang yang mau jatuh yang pegangan kayak gitu.”

Rian menatapnya lama. Lalu menatap layar. Lalu menatap Ezra lagi, dengan ekspresi yang membuat Ezra langsung menyesal membuka mulut.

“Bro.”

“Apa.”

“Lo udah nonton video ini berapa kali?”

“Beberapa.”

“Ezra Cakrawala.”

“Dua puluh, mungkin. Nggak penting.” Ezra mengunci layar. “Poin gue, itu bukan alasan buat bentak anak magang. Tapi itu juga mungkin bukan cerita lengkapnya.”

Rian diam sebentar. Lalu, untuk pertama kalinya malam itu, suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih hati-hati. Suara yang ia pakai sepuluh tahun lalu, di lorong kantor label, saat lima remaja duduk berjejer menunggu keputusan yang sudah mereka tahu jawabannya.

“Zra. Ini bukan soal Claire, kan?”

Ezra tidak menjawab.

“Ini soal Bintang Timur.”

Nama label itu masih membuat perut Ezra mengencang, bahkan setelah sepuluh tahun.

Ia ingat ruang rapat dengan karpet merah anggur yang bau rokok. Ia ingat pria berjas yang tersenyum ramah sambil menyodorkan selembar kertas ke anak enam belas tahun. Ia ingat kalimat yang dipakai, persis, karena kalimat itu tidak pernah benar-benar pergi dari kepalanya. Ini cuma strategi, Dik. Cuma beberapa bulan. Kamu kan sudah biasa akting di panggung.

Dan ia ingat menjawab tidak.

Ia ingat email dua paragraf yang datang tiga minggu kemudian. Ia ingat Dion, di lorong itu, menatapnya dengan mata merah dan berkata dengan suara yang bergetar, Lo puas? Lo puas sekarang, Sok Suci? Ia ingat Rian yang diam saja, tapi tetap duduk di sebelahnya. Ia ingat empat anak lain yang pulang ke rumah masing-masing dengan mimpi yang sudah dikembalikan dalam kardus.

Sepuluh tahun. Dan sekarang ada kertas lain. Agensi lain. Kalimat yang hampir sama.

“Dulu gue bilang nggak,” kata Ezra pelan, “dan lima orang kehilangan semuanya.”

“Dulu lo enam belas tahun dan mereka minta lo bohong ke anak-anak SMP yang beli poster lo,” kata Rian. “Itu beda.”

“Bedanya apa?”

“Bedanya, dulu yang mau dipakai itu lo. Sekarang lo yang milih.” Rian menunjuknya dengan stik drum. “Dan bedanya lagi, sekarang yang dirugiin kalau lo nolak cuma lo sendiri. Bukan empat orang lain. Gue udah gede. Gue bisa cari kerja lain kalau studio ini tutup. Gue bisa main drum di kawinan. Gue cuma mau lo mikir pakai kepala, bukan pakai luka.”

Ezra tertawa kecil. “Lo ngomong kayak nyokap gue.”

“Nyokap lo nonton Mario Teguh. Gue nonton podcast.”

Mereka diam. Kipas laptop Rian berbunyi seperti helikopter tua. Di layar, spreadsheet itu masih terbuka. Dua puluh tiga juta empat ratus ribu.

Ezra memejamkan mata. Ia memikirkan Ibu, lututnya yang berbunyi, kaleng Khong Guan, uang seratus ribu yang dikembalikan diam-diam. Ia memikirkan empat puluh dua lagu setengah jadi di folder Nanti. Ia memikirkan bahwa ia sudah dua puluh enam, dan bahwa “nanti” tidak akan selamanya ada.

Lalu, karena otaknya pengkhianat, ia memikirkan tangan yang gemetar di pinggiran meja rias.

Ia membuka mata. Meraih ponsel. Mengetik.

Ezra: Bang, gue dateng ke meeting-nya.
Ezra: Tapi gue belum bilang iya.

Balasan Bang Jo datang dalam empat detik. Satu baris emoji api, uang, dan tangan berdoa.

“Gue cuma mau lihat orangnya,” kata Ezra pada Rian, pada dirinya sendiri, pada siapa pun yang mungkin sedang mendengarkan.

Rian tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tersenyum, senyum kecil yang menyebalkan, dan kembali memutar stik drum di jarinya.

“Apa?” tanya Ezra.

“Nggak.” Rian mengangkat bahu. “Gue cuma heran. Orang yang ‘cuma mau lihat orangnya’ biasanya nggak nonton videonya dua puluh kali.”

Ezra melemparnya dengan sachet kopi kosong. Meleset.

Di bawah, mesin pengering berhenti. Lantai berhenti bergetar. Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Ezra Cakrawala merasa sedang berdiri di depan pintu yang sama dua kali, dengan tangan yang sama, tapi tidak yakin lagi jawaban mana yang benar.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk