Bab 4 - Tembok Sangkerta

0 dibaca

A

Ruang rapat lantai dua puluh Prisma Talent dirancang untuk membuat orang merasa kecil.

Meja panjang dari kayu jati utuh. Kursi kulit hitam yang terlalu dalam, sehingga siapa pun yang duduk di sana akan sedikit tenggelam. Dinding kaca yang menghadap Sudirman, dan di dinding sebaliknya, deretan poster film dan sampul majalah artis-artis Prisma dalam bingkai emas tipis. Wajah Claire ada di tiga di antaranya.

Pagi ini, wajah-wajah di dinding itu terasa seperti juri.

Claire datang tanpa riasan, rambut dikuncir rendah, kacamata hitam besar yang baru ia lepas setelah pintu tertutup. Ia hanya tidur empat puluh menit. Matanya bengkak dengan cara yang tidak bisa disembunyikan eye patch Luminé mana pun, dan ironi itu tidak luput darinya.

Ghea duduk di sebelah kirinya dengan laptop terbuka, rahang terkatup. Mama di sebelah kanan, berdandan lengkap, blazer krem, mutiara di telinga, seolah sedang menghadiri pemakaman yang ingin ia menangkan.

Pak Hendra masuk tepat pukul delapan. Tidak satu menit lebih awal. Tidak satu menit lebih lambat.

Ia pria berusia akhir lima puluhan dengan rambut perak yang disisir rapi, kemeja putih tanpa dasi, dan suara yang tidak pernah naik. Ia telah membangun Prisma dari kantor sewaan dua ruangan di Mampang menjadi agensi yang memegang tiga puluh persen wajah di layar kaca Indonesia, dan ia melakukannya dengan satu prinsip. Artis adalah produk. Produk yang baik dijaga. Produk yang rusak diperbaiki. Produk yang tidak bisa diperbaiki ditarik dari pasar.

Claire tidak tahu ia masuk kategori mana pagi ini.

“Ghea,” kata Pak Hendra sambil duduk. Tidak menyapa Claire. “Angka.”

Ghea memutar laptopnya ke layar besar di ujung meja. Grafik merah. Angka-angka yang sudah Claire hafal dari semalam, sekarang dalam ukuran yang bisa dibaca dari luar gedung.

“Sentimen negatif tujuh puluh tujuh persen,” kata Ghea, suaranya datar. “Video asli sudah ditonton delapan belas juta kali lintas platform. Reupload di TikTok lebih dari empat ratus akun. Tagar #ClaireAttitude bertahan di trending sebelas jam. Pengikut Instagram turun dua ratus tiga puluh ribu sejak tengah malam.” Jeda. “Luminé kirim surat resmi pukul enam pagi. Mereka kasih waktu tujuh hari. Kalau sentimen nggak membaik, mereka putus kontrak sepihak dengan klausul etika. Tanpa kompensasi.”

Mama menghembuskan napas pelan, seperti orang yang baru saja ditusuk tapi tidak mau terlihat berdarah.

Claire tahu persis apa yang sedang dihitung ibunya, karena ia sendiri sudah menghitungnya sejak subuh di lantai kamar mandi. Cicilan rumah Pondok Indah. Cicilan Alphard Papa. Dua utang bank peninggalan pabrik garmen. Semester Rafael di Melbourne, plus sewa apartemennya. SPP Kayla di sekolah internasional, plus study tour Jepang yang DP-nya jatuh tempo minggu ini. Gaji tiga asisten rumah tangga, satu sopir, dan ahli gizi. Arisan berlian Mama. Totalnya hampir dua ratus juta sebulan, sebelum Claire membeli satu barang pun untuk dirinya sendiri.

Tanpa Luminé, tanpa dua iklan yang ditunda, tabungannya hanya cukup untuk lima bulan.

Lima bulan. Lalu keluarga Andalas akan tahu rasanya tulang punggung yang patah.

Pak Hendra mengangguk sekali. Lalu, akhirnya, ia menatap Claire.

“Ceritakan.”

Claire membuka mulut. Ia sudah menyiapkan kalimat ini sejak subuh, di lantai kamar mandi, mengulanginya dalam kepala sampai licin.

“Ruangannya penuh. Aku udah minta mereka keluar baik-baik, dua kali. Aku lagi kena panic attack, Pak. Aku punya riwayat itu, Ghea tahu. Mbak Nadia nyentuh bahuku dari belakang dan aku...” Suaranya goyah. Ia memaksanya tetap lurus. “Aku bereaksi. Aku salah karena teriak. Tapi aku udah minta maaf ke dia secara pribadi, di toilet kru, sepuluh menit setelahnya. Videonya dipotong. Dari sudut sofa. Itu sengaja.”

“Kamu punya bukti kamu minta mereka keluar baik-baik?”

“Ada belasan orang di ruangan itu.”

“Dan berapa yang akan bersaksi untuk artis yang sedang dihujat delapan belas juta orang?” Pak Hendra tidak menunggu jawaban. “Mbak Nadia ini, Ghea?”

“Freelancer, Pak. Netizen sudah menemukan akun Instagram-nya semalam. Dia digeruduk dua arah. Ada yang minta dia speak up, ada yang nuduh dia cari panggung. Akunnya sudah diprivat jam tiga pagi.”

Perut Claire terpilin. Gadis itu bertanya apakah ia baik-baik saja. Dan sekarang, karena Claire, gadis itu harus mengunci dirinya dari internet.

“Kalau begitu kita buat pernyataan,” kata Claire. “Aku jelasin soal panic attack. Aku minta maaf ke publik, ke Nadia, ke semua orang. Aku jujur aja.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, sesuatu yang hampir seperti senyum muncul di wajah Pak Hendra. Bukan senyum ramah. Senyum guru yang mendengar murid menjawab soal dengan percaya diri dan salah total.

“Claire. Berapa umurmu?”

“Dua puluh dua.”

“Dua puluh dua.” Ia mengangguk pelan. “Saya sudah tiga puluh tahun di industri ini. Izinkan saya menjelaskan bagaimana publik bekerja. Saat ini, mereka sudah memutuskan siapa kamu. Kamu perempuan cantik, kaya, sombong, yang membentak anak magang sampai menangis. Kalau hari ini kamu keluar dan bilang ‘aku punya panic attack’, mereka tidak akan mendengar ‘panic attack’. Mereka akan mendengar ‘alasan’.” Ia meletakkan dua jari di meja jati. “Narasi korban hanya berhasil kalau publik sudah lebih dulu menyukaimu. Hari ini, mereka tidak menyukaimu.”

“Tapi itu kenyataannya, Pak.”

“Kenyataan tidak masuk trending, Claire. Cerita yang masuk trending.”

Hening. AC berdengung. Di luar kaca, Sudirman macet seperti biasa, ribuan orang dalam ribuan mobil yang tidak peduli siapa Claire Andalas.

“Jadi apa yang harus aku lakukan?”

“Untuk sekarang? Tidak ada.” Pak Hendra berdiri, merapikan kemejanya. “Kamu tidak posting apa pun. Tidak story, tidak klarifikasi, tidak like, tidak balas komentar. Kamu tidak keluar rumah kecuali ke tempat yang Ghea izinkan. Tim saya sedang menyiapkan strategi. Kita butuh cerita baru, dan cerita baru butuh waktu dua atau tiga hari untuk dirancang dengan benar.”

“Cerita baru apa?”

Pak Hendra sudah sampai di pintu. Ia menoleh, dan untuk sesaat, matanya menyapu Mama, lalu Ghea, lalu kembali ke Claire. Ada sesuatu di sana yang tidak Claire suka. Kalkulasi.

“Nanti kamu tahu,” katanya. “Bu Larasati, bisa kita bicara sebentar di ruangan saya?”

Mama berdiri terlalu cepat. Merapikan blazernya. Tidak menoleh ke Claire saat keluar.

Pintu tertutup. Tinggal Claire dan Ghea di ruangan yang dirancang untuk membuat orang merasa kecil.

Rancangannya berhasil.

“Ghe,” kata Claire pelan. “Kamu tahu rencananya?”

Ghea menutup laptop. Lama. “Belum. Tapi aku kenal Pak Hendra.” Ia menatap Claire, dan di matanya ada permintaan maaf untuk sesuatu yang belum terjadi. “Apa pun itu, dia nggak akan nanya pendapat kamu dulu.”

Claire menatap pantulan dirinya di dinding kaca. Lalu ke poster-poster berbingkai emas. Lalu ke ponselnya, yang sudah berhenti bergetar karena Ghea mematikan semua notifikasi.

Ada satu orang yang bisa mengubah cerita ini dalam satu kalimat. Satu orang yang suaranya dipercaya jutaan. Satu orang yang memiliki separuh portal berita yang sekarang menulis tentang dirinya.

Kalau saja Dean mau bicara.


Thread itu muncul pukul dua siang.

Claire tidak seharusnya melihatnya. Ghea sudah mematikan notifikasinya, menghapus aplikasi X dari ponselnya, dan menyita iPad-nya “demi kesehatan mental”. Tapi Ghea lupa satu hal. Claire masih punya laptop, dan Claire masih manusia.

@detektifseleb_ 🧵 Ternyata Claire Andalas dan Dean Sangkerta pernah satu lokasi syuting film “Rumah di Ujung Senja” 2 tahun lalu. Gue nemu BTS lama ini dan kok... auranya beda ya? Thread ini bukan fitnah, cuma observasi 👀

Foto pertama. Lokasi syuting di Lembang, kabut pagi, Claire memakai kostum gaun desa, Dean duduk di kursi sutradara di sebelahnya. Mereka tidak bersentuhan. Mereka bahkan tidak saling menatap. Tapi Dean sedang tertawa ke arah sesuatu di luar frame, dan Claire sedang menatap tawa itu.

Hanya satu detik yang tertangkap kamera. Satu detik yang cukup.

Claire ingat hari itu. Hari ketika Dean pertama kali menyelipkan secarik kertas ke naskah miliknya. Nanti malam, teras belakang vila. Aku cuma mau ngobrol. Sumpah. Dan mereka memang hanya mengobrol, sampai jam tiga pagi, di kursi kayu teras yang dingin, berselimut jaket kru masing-masing. Dua bulan kemudian, Dean memberinya alamat Sangkerta Residence dan nama Pak Darto.

Thread itu sudah di-retweet dua puluh ribu kali. Di kolom balasan, orang-orang mulai menyusun teori. Jangan2 Claire marah2 gara2 putus sama Dean. Pantes Dean ga pernah komen soal kasus ini, takut kebawa. Dean pls jangan sama cewek toxic.

Ponselnya bergetar. Kontak dengan satu huruf.

D: Malam ini. Jam sepuluh. Pintu belakang.

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, kalimat itu tidak membuat jantungnya berdebar karena senang.


Pak Darto menatap layar CCTV seperti biasa. Lift barang berderit seperti biasa. Pintu tanpa nomor sudah terbuka sedikit, seperti biasa.

Yang tidak biasa adalah Dean.

Ia tidak bersandar di kusen dengan gelas anggur dan senyum miring. Ia berdiri di tengah ruang tamu dengan kemeja kantor yang lengannya digulung, rambut berantakan karena terlalu sering disisir dengan jari, dan begitu Claire masuk, ia menyeberangi ruangan dalam empat langkah dan memeluknya.

Erat. Lama. Dagunya di puncak kepala Claire.

“Aku lihat videonya,” katanya ke rambutnya. “Aku tahu itu bukan kamu.”

Tujuh kata. Tujuh kata yang ia tunggu sejak pukul tiga pagi kemarin, di lantai kamar mandi.

Claire tidak sadar ia menangis sampai kemeja Dean basah di bawah pipinya.

“Ssh.” Tangan Dean mengusap punggungnya. “Aku di sini.”

Di sini. Lagi-lagi di sini.

Tapi untuk beberapa menit, Claire membiarkan dirinya tidak peduli. Ia membiarkan Dean menuntunnya ke sofa putih itu, membiarkan Dean menghapus air matanya dengan ibu jari, membiarkan Dean menciumnya pelan, sangat pelan, di dahi, di kelopak mata, lalu di bibir, ciuman yang rasanya seperti permintaan maaf untuk sesuatu yang belum ia lakukan.

Lalu Claire menarik diri. Menarik napas.

“Dean. Aku butuh bantuan kamu.”

“Apa pun.”

“Satu kalimat.” Ia menatap mata cokelat gelap itu. “Di Instagram, atau wawancara, atau di mana aja. Kamu nggak perlu bilang kita pacaran. Kamu cukup bilang, ‘Saya pernah kerja bareng Claire. Saya kenal dia. Dia bukan orang seperti itu.’ Satu kalimat dari kamu, Dean, dan setengah internet bakal berhenti.”

Sesuatu berubah di wajah Dean. Cepat sekali. Seperti tirai yang ditarik turun.

“Claire...”

“Kamu punya dua puluh juta pengikut. Kamu aktor paling dipercaya se-Indonesia. Dan sekarang mereka udah nyangkut-nyangkutin nama kamu juga, jadi kamu memang harus ngomong sesuatu. Kenapa nggak sekalian ngomong yang benar?”

Dean berdiri. Berjalan ke dinding kaca. Menatap kota dengan tangan di saku.

“Aku udah ngomong sama Om Bram,” katanya tanpa berbalik. “Pengacara keluarga. Dia bisa urus semuanya dari belakang. Somasi ke akun-akun gosip itu. Takedown video yang diunggah ulang. Kita bisa cari tahu siapa yang pertama kali kirim videonya ke @lambe_kepo. Semua biaya aku yang tanggung. Kamu nggak perlu keluar sepeser pun.”

“Aku nggak minta uang, Dean.”

“Aku tahu.”

“Aku nggak butuh pengacara. Aku butuh kamu.”

“Ini aku.” Ia berbalik. “Ini caraku bantu kamu.”

“Dari belakang.”

Dean tidak menjawab.

“Semuanya selalu dari belakang.” Suara Claire bergetar. “Pintu belakang. Lift barang. Hadiah yang cuma boleh dipakai di sini. Sekarang pengacara yang kerjanya di balik layar. Dean, sekali aja. Sekali aja, berdiri di depan.”

“Kamu nggak ngerti posisiku.”

“Aku ngerti. Aku cuma...”

Bunyi bip elektronik dari arah pintu depan.

Bukan pintu belakang. Pintu depan. Pintu utama apartemen, yang terkunci dengan sidik jari dan hanya bisa dibuka oleh dua orang di dunia ini.

Dean membeku. Lalu wajahnya, wajah tenang yang bisa memerankan tentara di medan perang tanpa berkedip, berubah pucat.

“Mama.”


Walk-in closet Dean Sangkerta lebih besar dari kamar Ezra Cakrawala, meski Claire belum tahu siapa Ezra Cakrawala, dan tidak akan peduli malam ini.

Dean mendorongnya masuk dalam waktu kurang dari lima detik, berbisik maaf, maaf, sebentar aja, lalu menutup pintunya. Klik pelan. Gelap. Hanya garis cahaya tipis dari celah bawah pintu.

Claire berdiri di antara deretan jas yang digantung rapi sesuai warna. Bau kayu cedar dan parfum Dean. Heels-nya. Heels-nya masih di rak sepatu dekat pintu belakang.

Dadanya mulai mengencang.

Tidak. Jangan di sini. Jangan sekarang.

“Dean.” Suara perempuan. Rendah, jernih, setiap konsonan diucapkan dengan presisi orang yang tidak pernah perlu mengulang kalimatnya. “Kamu belum tidur.”

“Belum, Ma. Lagi baca naskah. Mama kok ke sini malam-malam?”

“Karena anak Mama tidak mengangkat telepon sejak sore, dan Mama harus tahu dari sekretaris bahwa nama anak Mama ada di thread gosip bersama perempuan itu.”

Perempuan itu.

Claire menekan punggungnya ke dinding lemari. Ia mencoba trik lima benda. Jas abu-abu. Jas biru dongker. Garis cahaya di bawah pintu. Jam tangan berkilat di rak kaca. Bayangan kakinya sendiri.

“Cuma pernah satu film, Ma. Dua tahun lalu. Netizen kan suka ngarang.”

“Mama tahu netizen suka mengarang. Mama yang membayar separuh dari mereka.” Bunyi tas diletakkan di meja kaca. “Mama lihat videonya, Dean. Perempuan itu berteriak seperti orang pasar. Persis ibunya.”

Claire berhenti bernapas.

“Mama kenal ibunya?”

“Larasati Andalas.” Nama itu diucapkan seperti nama penyakit. “Dua puluh lima tahun lalu dia artis film yang lumayan laku. Cantik, ambisius, dan sangat, sangat berusaha masuk ke pesta-pesta yang tidak mengundangnya. Dia pernah mengejar Om Haris-mu. Semua orang tahu.” Jeda. “Perempuan panggung, Dean. Mereka dilatih sejak kecil untuk satu hal. Membuat orang melihat mereka. Ibunya gagal. Anaknya sekarang mencoba lagi. Kamu tahu seluruh keluarga itu hidup dari anak perempuannya? Bapaknya bangkrut, adiknya kuliah di Australia pakai uang FTV. Keluarga seperti itu tidak mencari menantu, Dean. Mereka mencari ATM.”

Di dalam lemari, Claire menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Bilang sesuatu. Dean, bilang sesuatu. Bilang dia salah. Bilang aku bukan seperti itu. Bilang apa aja.

Hening panjang.

“Iya, Ma,” kata Dean. “Aku ngerti.”

Tiga kata. Lebih sedikit dari tujuh kata tadi. Tapi entah kenapa jauh lebih berat.

“Bagus. Besok pagi kamu ada acara golf amal dengan keluarga Hadiwinata. Anindita ikut. Kamu foto dengan dia, unggah sebelum jam sepuluh. Caption yang hangat. Tim Mama sudah siapkan.” Bunyi tas diangkat lagi. “Biar orang punya hal lain untuk dibicarakan. Dan biar nama kamu tidak lagi muncul di sebelah nama perempuan itu.”

“Ma, Anindita kan...”

“Anindita anak sahabat Mama, lulusan London, dan tidak pernah sekali pun berteriak di depan kamera. Mama tidak minta kamu menikahinya. Belum.” Langkah sepatu hak menjauh ke pintu. “Satu foto, Dean. Untuk keluarga.”

“Iya, Ma.”

Bip. Pintu depan terbuka. Tertutup.

Sunyi.

Di dalam lemari, di antara jas-jas yang disusun berdasarkan warna, Claire Andalas akhirnya membiarkan napasnya keluar. Pendek. Pecah. Ia menghitung dalam kepala. Satu. Dua. Tiga. Ia sampai di angka empat puluh sebelum tangannya berhenti gemetar.

Tidak ada yang meletakkan sebotol air di dekatnya.


Pintu lemari terbuka dua menit kemudian.

Cahaya dari ruang tamu masuk, terlalu terang, dan Dean berdiri di sana dengan wajah orang yang baru saja menabrak sesuatu dan belum berani melihat apa.

“Claire. Maaf. Aku nggak tahu dia bakal datang. Dia nggak pernah datang tanpa...”

Claire melangkah keluar. Melewatinya. Tidak menyentuhnya.

Anehnya, ia merasa sangat tenang. Ketenangan aneh yang dingin, seperti air kolam renang jam lima pagi. Barangkali karena tubuhnya sudah terlalu lelah untuk panik dua kali dalam dua hari. Barangkali karena sebagian dirinya sudah tahu, sejak lama, dan baru malam ini mendengarnya diucapkan keras-keras.

“Kamu bilang ‘iya, Ma’,” katanya.

“Claire...”

“Dia bilang aku perempuan panggung. Dia bilang Mamaku ngejar-ngejar laki-laki. Dia bilang aku berusaha lagi, kayak ibuku. Dan kamu bilang ‘iya, Ma, aku ngerti’.”

“Kalau aku bantah, dia bakal curiga. Kamu dengar sendiri dia nyuruh aku foto sama Anindita. Kalau aku nolak, dia bakal nyari tahu kenapa, dan kalau dia nyari tahu...” Dean mengusap wajahnya. “Aku lagi lindungin kamu, Claire. Aku lindungin kita.”

Claire menatapnya lama.

Selama dua tahun, ia percaya kalimat itu. Aku lindungin kita. Ia percaya bahwa pintu belakang dan lift barang dan hadiah yang hanya boleh dipakai di sini adalah bentuk perlindungan. Bahwa Dean menyembunyikannya karena Dean menyayanginya terlalu dalam untuk membiarkan dunia menyakitinya.

Malam ini, di dalam lemari yang berbau kayu cedar, ia akhirnya mengerti apa yang sebenarnya dilindungi Dean.

Bukan dirinya. Bukan mereka.

Dean.

“Foto aja sama Anindita,” kata Claire. “Captionnya yang hangat, ya. Tim Mama kamu udah siapin.”

Ia mengambil heels-nya dari rak sepatu dekat pintu belakang. Tidak memakainya. Menentengnya saja, dengan dua jari, seperti dua malam lalu.

“Claire. Tunggu.” Dean menangkap pergelangan tangannya. Lembut. Selalu lembut. “Aku sayang kamu. Kamu tahu itu, kan?”

Claire menatap tangan itu di pergelangannya. Tangan yang sama yang memasang gelang berlian di sana. Tangan yang sama yang menempelkan telunjuk ke bibir saat ibunya menelepon. Ssst.

“Aku tahu,” katanya. Dan itu benar. Itulah yang paling menyakitkan. “Tapi kamu lebih sayang yang lain.”

Ia menarik tangannya. Pelan. Dean tidak menahannya.

Lift barang berderit turun empat puluh dua lantai. Di basement, Pak Darto menatap layar CCTV.

“Hati-hati, Mbak.”

Kali ini Claire berhenti. Menoleh ke pria tua itu, yang selama dua tahun berpura-pura tidak melihatnya, dan yang malam ini, untuk pertama kalinya, mengangkat wajah dari layar dan menatapnya langsung. Ada sesuatu di matanya. Bukan penasaran. Bukan menghakimi.

Iba.

“Makasih, Pak,” kata Claire. “Bapak juga.”


Foto itu naik pukul 09.47 keesokan paginya. Tiga belas menit sebelum tenggat yang ditentukan Nyonya Sangkerta. Dean memang selalu tepat waktu untuk ibunya.

Lapangan golf hijau, langit biru tanpa awan, Dean dengan polo putih dan topi visor, tersenyum lebar. Di sebelahnya, Anindita Hadiwinata. Cantik dengan cara yang tidak berusaha. Rambut hitam lurus sebahu, polo krem, tangan memegang stik golf dengan postur atlet sungguhan. Mereka tidak bersentuhan, tapi bahu mereka berdekatan, dan kepala Anindita sedikit miring ke arah Dean. Sudut yang, Claire tahu, sudah diatur oleh seseorang.

Pagi yang hangat untuk kebaikan. Terima kasih @anindita.hw sudah menemani dan jadi partner paling sabar di lapangan 🤍⛳ #GolfForGood #SangkertaPeduli

Dalam dua jam, foto itu mendapat satu koma empat juta likes.

YA AMPUN COCOK BGT

ini baru namanya old money ketemu old money, elegan, ga drama

mba anindita lulusan london loh, cantik pinter kalem, bukan artis toxic 😌

fix #DeanDita kapal baru gue

syukurlah dean klarifikasi gini, ternyata ga ada apa2 sama si C. aman bang 👍

Tagar #DeanDita naik ke trending nomor dua. Tepat di bawah #ClaireAttitude, yang masih bertahan di nomor satu.

Thread @detektifseleb_ dihapus pukul sebelas. Tidak ada yang tahu siapa yang memintanya. Claire tahu.

Ia melihat semua itu dari tempat tidurnya, dengan laptop di pangkuan dan tirai yang belum dibuka. Ia tidak menangis. Ia sudah selesai menangis di lemari jas semalam, diam-diam, dengan mulut tertutup tangan.

Ia hanya membuka laci paling bawah. Kotak sepatu. Tumpukan sweter. Museum kecil berisi hadiah yang tidak boleh dilihat siapa pun. Gelang berlian. Jam tangan. Dua kalung. Cincin safir. Anting yang hanya dipakai sekali.

Ia menatap semuanya lama.

Lalu menutup laci itu lagi. Belum bisa. Belum hari ini.

Ponselnya bergetar. Ghea. Bukan pesan, telepon.

“Halo.”

“Kamu udah lihat?” Suara Ghea hati-hati. Terlalu hati-hati.

“Udah. Mereka cocok.”

Ghea diam sebentar. Ghea yang tahu segalanya dan tidak pernah bertanya. Ghea yang selama dua tahun mengambil ponsel Claire di karpet merah dan menyerahkannya kembali tanpa membaca isinya.

“Claire,” katanya pelan. “Aku turut sedih.”

Tiga kata. Dan itu, anehnya, membuat mata Claire panas lagi.

“Makasih, Ghe.”

“Ada satu hal lagi.” Ghea menarik napas. Claire mendengar suara pintu ditutup di ujung sana, seolah Ghea sedang memastikan tidak ada yang mendengar. “Pak Hendra udah punya rencana. Dia ngomong sama Mama kamu kemarin, dua jam. Mama kamu udah setuju.”

“Rencana apa?”

“Kamu nggak akan suka.”

“Ghe. Rencana apa?”

Jeda yang panjang. Di luar jendela, matahari Jakarta sudah tinggi, terik, tidak peduli.

“Kamu harus pacaran,” kata Ghea. “Secepatnya. Di depan publik.”

Claire tertawa. Tawa pendek, kering, tidak percaya. “Sama siapa? Dean baru aja...”

“Bukan sama Dean.” Ghea berhenti. “Sama orang yang belum pernah kamu kenal.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk