Satpam gedung Prisma Tower melihat motor bebek Ezra seperti melihat kambing yang nyasar ke mal.
“Parkir motor di basement dua, Mas. Ojol tunggu di luar pagar.”
“Saya bukan ojol, Pak.”
Satpam itu menatap jaket jins pudar Ezra. Helm dengan stiker band indie yang setengah mengelupas. Sepatu kanvas yang dulunya putih. Lalu kembali ke wajahnya, mencari-cari alasan untuk percaya.
“Saya ada meeting di lantai dua puluh.”
“Sama siapa?”
“Prisma Talent.”
Satpam itu tidak mengatakan apa-apa, tapi alisnya mengatakan banyak. Kurang lebih: Iya, Mas. Saya juga ada meeting sama Presiden.
Ezra memarkir motornya di basement dua, di antara Pajero hitam dan Lexus putih, dan merasa motor bebek itu kelihatan seperti anak SD yang nyasar ke rapat direksi. Ia menepuk joknya sekali. Sabar, Bro. Kita cuma numpang.
Bang Jo menunggunya di lobi, berkeringat dalam kemeja batik yang terlalu tebal untuk cuaca Jakarta. Agen casting itu berumur akhir empat puluhan, perutnya sudah lama menyerah pada nasi Padang, dan ia memegang map plastik biru seperti orang memegang tiket undian.
“Lo telat dua menit.”
“Satpamnya nggak percaya gue bukan ojol.”
“Ya lo pakai jaket begitu.” Bang Jo menekan tombol lift dengan jari gemetar. “Dengar. Jangan nyolot. Jangan bercanda. Jangan bahas meme ECLIPSE. Dan demi Tuhan, Zra, jangan ngomong kayak lo lagi di warung nyokap lo.”
“Gue ngomongnya emang begini, Bang.”
“Itu masalahnya.”
Lantai dua puluh berbau pengharum ruangan mahal dan ketakutan orang lain.
Perempuan yang menjemput mereka di depan lift bukan resepsionis. Ezra tahu itu dari caranya berdiri. Pendek, berambut bob, celana kain hitam dan sneakers putih, tas selempang yang isinya pasti tiga charger dan obat sakit kepala. Wajahnya bulat dan ramah, tapi matanya tidak. Matanya sedang menilai.
“Mas Ezra? Ghea. Manajer Claire.” Ia mengulurkan tangan. Jabatannya pendek dan kuat. “Terima kasih sudah datang.”
“Terima kasih udah ngundang. Saya kira satpam di bawah bakal nyuruh saya ambil pesanan.”
Sudut bibir Ghea bergerak. Hanya sedikit. “Pak Slamet memang begitu. Dia pernah nyuruh aktor pemenang Piala Citra lewat pintu barang.”
“Serius?”
“Nggak.” Ghea berbalik dan mulai berjalan. “Tapi Mas sedikit lebih tenang sekarang, kan?”
Ezra menatap punggungnya. Lalu, tanpa sadar, tersenyum. Oke. Ia suka perempuan ini.
Ghea berhenti di depan pintu kaca buram bertuliskan RUANG RAPAT 3. Tangannya di gagang, tapi ia belum membukanya. Ia menoleh ke Ezra, dan untuk sesaat ekspresi ramah itu luntur, digantikan sesuatu yang lebih jujur dan jauh lebih lelah.
“Mas Ezra. Satu hal sebelum masuk.”
“Ya?”
“Apa pun yang Mas sudah lihat di internet minggu ini,” kata Ghea pelan, “itu bukan cerita lengkapnya.”
Ezra menatapnya. Ia ingin bilang, Saya tahu. Saya lihat tangannya. Tapi ia tidak tahu apakah ia berhak mengatakan itu. Jadi ia hanya mengangguk.
Ghea membuka pintu.
Claire Andalas duduk di ujung meja, punggung tegak, kaki disilangkan, kacamata hitam besar masih di wajah meski mereka di dalam ruangan dan tidak ada matahari dalam radius lima puluh meter.
Itu hal pertama yang Ezra perhatikan. Kacamata hitam di dalam ruangan. Tameng.
Hal kedua, ia lebih kecil dari yang ia bayangkan. Di poster, di layar TV warung, di FYP yang penuh dengan teriakannya, Claire selalu kelihatan seperti sesuatu yang berukuran lebih besar dari manusia. Di sini, di kursi kulit hitam yang terlalu dalam, dengan kemeja putih polos dan rambut dikuncir rendah, ia kelihatan seperti mahasiswi yang sedang menunggu hasil sidang skripsi dan sudah tahu jawabannya buruk.
Hal ketiga, ia tidak menoleh saat Ezra masuk.
Tentu saja tidak. Persis seperti di lokasi FTV tiga tahun lalu, saat Ezra mengembalikan dompetnya dan ia mengucapkan terima kasih ke arah bahu kiri Ezra. Beberapa hal tidak berubah.
“Mbak Claire,” kata Ghea. “Ini Mas Ezra Cakrawala.”
Claire akhirnya menoleh. Melepas kacamatanya. Pelan, seperti adegan film, dan Ezra yakin itu bukan disengaja, tapi tetap saja efeknya ada.
Matanya lebih gelap dari di layar. Lingkaran hitam di bawahnya tidak tertutup riasan sama sekali. Dan matanya bergerak dari atas ke bawah, satu kali, cepat. Jaket jins. Sepatu kanvas. Helm yang masih ia tenteng karena tidak tahu harus ditaruh di mana.
Satu kali. Itu saja. Lalu matanya kembali ke wajah Ezra, dan sesuatu di sana mengeras.
Ezra kenal tatapan itu. Ia sudah melihatnya ribuan kali, di ruang casting dan di lokasi syuting dan di acara musik pagi sepuluh tahun lalu. Tatapan orang yang sedang menghitung berapa nilaimu.
“Halo,” kata Claire. Datar.
“Halo, Mbak.”
Ia mengulurkan tangan. Tidak berdiri. Ezra menyalaminya. Tangan itu dingin, kering, dan tidak gemetar sama sekali.
Aneh. Ezra merasa sedikit kecewa, dan ia tidak tahu kenapa.
“Kita belum pernah ketemu, kan?” tanya Claire. Bukan karena penasaran. Lebih seperti memastikan.
Ezra menatapnya. Satu detik. Dua.
Ia memikirkan perumahan kosong di Bekasi. Aspal panas. Dompet yang dikembalikan. Sedan putih dengan jendela setengah terbuka. Botol air dingin di atas kap mobil.
“Belum, Mbak,” katanya.
Ia tidak tahu kenapa ia berbohong. Mungkin karena kebenarannya terlalu aneh untuk diucapkan di ruang rapat ber-AC dengan Bang Jo berkeringat di belakangnya. Mungkin karena ia tidak mau melihat wajah perempuan itu berusaha mengingat dan gagal.
Atau mungkin karena, untuk alasan yang sama sekali tidak masuk akal, ia ingin menyimpan satu hal yang tidak bisa dibeli Prisma Talent.
Dia lebih tinggi dari yang Claire kira.
Itu bukan hal yang penting. Itu bahkan bukan hal yang seharusnya ia perhatikan. Tapi otaknya, yang sudah empat hari tidak tidur dengan benar, memutuskan untuk mencatatnya. Tinggi. Bahu lebar di balik jaket jins pudar. Rambut hitam yang sedikit terlalu panjang dan jelas tidak tersentuh pomade. Rahang yang belum dicukur sejak kemarin. Dan senyum, yang tidak sedang ia pakai sekarang, tapi garis-garisnya ada di sudut mata. Jejak orang yang terlalu sering tertawa.
Di foto Tessa, ia kelihatan seperti penyanyi kafe. Di dunia nyata, ia kelihatan seperti penyanyi kafe yang tahu persis betapa menyebalkannya ia.
Dan ia menenteng helm. Ke ruang rapat lantai dua puluh. Seperti mau setor paket.
Oportunis, putus Claire. Karena itu lebih mudah daripada memikirkan bahwa pria ini, dengan helm dan sepatu kanvasnya, sama-sama dijual seperti dirinya.
Tessa masuk dengan laptop dan senyum puas yang sama dari dua hari lalu, diikuti seorang staf legal berkacamata tebal yang membawa dua bundel kontrak setebal skripsi. Ia membagikan satu ke Claire, satu ke Ezra. Kertasnya masih hangat dari printer.
“Oke, teman-teman!” Tessa duduk, menautkan jari bercincinnya. “Selamat datang di Proyek Spark. Saya akan bacakan poin-poin utama, nanti detailnya bisa dibaca sendiri, ya. Siap?”
Tidak ada yang menjawab. Tessa tidak terganggu.
“Satu. Durasi kontrak tiga bulan, terhitung dari tanggal penandatanganan. Dua. Para pihak wajib tampil bersama di ruang publik minimal satu kali seminggu, lokasi dan waktu ditentukan oleh agensi. Tiga. Para pihak wajib mengunggah konten bersama di media sosial minimal dua kali seminggu, dengan caption yang sudah disetujui tim digital. Empat. Para pihak tidak boleh mengonfirmasi maupun membantah hubungan kepada media tanpa izin tertulis agensi.”
Claire membalik halaman. Kata-kata di kertas itu berenang. Kehadiran. Konten. Engagement. Narasi. Ia membaca kontrak cinta yang ditulis seperti kontrak sewa ruko.
“Lima. Skenario berakhirnya hubungan akan dirancang oleh agensi dan diumumkan pada akhir masa kontrak. Enam. Kerahasiaan mutlak. Pelanggaran dikenakan denda satu miliar rupiah.”
Di seberang meja, Ezra bersiul pelan. “Satu miliar. Saya harus jual ginjal berapa, Mbak?”
“Tiga, kurang lebih,” jawab Tessa tanpa berkedip. “Dan tujuh.”
Ia berhenti. Tersenyum lebih lebar. Ini jelas bagian favoritnya.
“Klausul Nomor Tujuh. Para Pihak dilarang mengembangkan hubungan romantis yang nyata selama masa kontrak berlangsung.”
Hening sejenak.
Lalu Ezra tertawa. Bukan tawa sopan. Tawa betulan, keras, tiba-tiba, seperti ia baru saja mendengar lelucon terbaik minggu ini. Bang Jo, yang duduk di sebelahnya, menyikutnya keras.
“Maaf, maaf.” Ezra mengangkat tangan. Matanya masih berbinar. “Cuma... kalian beneran harus tulis itu?”
“Ini standar,” kata staf legal.
“Standar.” Ezra mengangguk-angguk. “Oke. Tenang aja, Mbak Tessa. Nggak bakal kejadian.”
Claire tidak tahu kenapa kalimat itu membuat pipinya panas. Mungkin karena caranya mengucapkan. Ringan. Yakin. Seperti mengatakan nggak bakal hujan hari ini sambil melihat langit cerah.
“Klausul itu harusnya ditulis buat kamu,” kata Claire. Suaranya keluar lebih dingin dari yang ia rencanakan. Tapi ia tidak menariknya kembali. “Bukan buat aku.”
Ezra berhenti tertawa. Menatapnya. Mata yang tadi berbinar sekarang menyipit sedikit, bukan marah, tapi penasaran. Seperti orang yang baru saja melihat kucing liar mendesis dan bertanya-tanya apakah kucing itu lapar atau terluka.
“Oh ya?” katanya. “Kenapa? Mbak takut saya jatuh cinta sama Mbak?”
“Aku takut kamu jatuh cinta sama exposure-nya.”
Tessa berdeham. Ghea menunduk. Bang Jo memejamkan mata seperti orang yang sedang berdoa supaya bumi terbelah.
Ezra, anehnya, tersenyum. Senyum miring itu akhirnya muncul, yang garis-garisnya tadi sudah terlihat di sudut matanya.
“Mbak Eksklusif,” katanya dengan nada ramah sekali, “saya sudah sepuluh tahun hidup tanpa exposure. Saya baik-baik aja. Saya ke sini buat seratus lima puluh juta dan satu album. Bukan buat Mbak. Bukan buat kamera. Sumpah.”
Mbak Eksklusif.
Tidak ada yang pernah memanggil Claire seperti itu di depan wajahnya. Di kolom komentar, ya. Ratusan kali, dengan emoji muntah. Tapi tidak di depan wajahnya, dengan senyum, seperti panggilan sayang yang dibalik.
“Bagus,” kata Claire. “Kita sepakat.”
“Sepakat.”
“Oke!” Tessa bertepuk tangan sekali, keras. “Energinya bagus! Chemistry-nya ada! Benci-benci gemes. Netizen suka itu.” Ia mengetik sesuatu di laptopnya, kemungkinan besar benci-benci gemes. “Sebelum tanda tangan, ada klausul tambahan yang mau diajukan dari masing-masing pihak?”
Ezra mengangkat tangan. Seperti murid SD.
“Satu.”
“Silakan, Mas.”
Nada suaranya berubah. Bercandanya hilang. “Ibu saya. Warungnya. Nggak boleh dijadikan konten, nggak boleh difoto, nggak boleh dimasukkan ke narasi apa pun tanpa izin saya dan izin beliau. Ibu saya bukan properti kampanye.”
Claire melirik pria itu. Untuk pertama kalinya, sungguh-sungguh melirik.
Tessa sedikit kecewa, jelas sekali, karena “cowok merakyat dengan ibu pemilik warung” adalah separuh isi slide presentasinya. Tapi ia mengangguk. “Dicatat.”
“Mbak Claire?”
Claire membuka mulut. Ia sudah memikirkan ini sejak semalam. Ia akan minta hak veto atas semua caption. Ia akan minta jadwal kencan tidak lebih dari dua jam. Ia akan minta tidak ada foto berciuman.
Yang keluar dari mulutnya adalah, “Dia nggak boleh nyentuh aku tanpa bilang dulu.”
Ruangan mendadak sangat sunyi.
Claire merasakan semua mata beralih kepadanya. Tessa. Staf legal. Bang Jo. Ghea, yang mengangkat kepala dengan cepat, matanya penuh pengertian yang tidak ingin Claire lihat. Dan Ezra.
Terutama Ezra.
Ia menatap Claire dengan cara yang sangat berbeda dari sebelumnya. Senyumnya hilang. Matanya turun sesaat ke tangan Claire di atas meja, lalu kembali ke wajahnya.
Claire ingin menarik kalimat itu. Ingin menambahkan maksudku, untuk kenyamanan profesional atau standar etika kerja. Ia ingin menjelaskan bahwa ini bukan tentang Nadia, bukan tentang ruang rias, bukan tentang dua puluh empat bohlam dan tangan di bahunya dari belakang. Bahwa ini cuma klausul biasa.
Tapi Ezra bicara lebih dulu.
“Deal,” katanya. Pelan. Tanpa nada mengejek sedikit pun. “Saya juga nggak suka disentuh tiba-tiba.” Jeda. Senyum kecil, nyaris tidak kelihatan, kembali ke sudut bibirnya. “Kecuali sama ibu saya. Dia suka nyubit pipi saya kalau saya kurus.”
Bang Jo mengerang pelan. Tessa tertawa. Bahkan staf legal tersenyum.
Dan Claire, yang tidak tertawa sejak empat hari, merasakan sesuatu di dadanya mengendur. Hanya sedikit. Cukup untuk menarik napas.
Ia tidak mengucapkan terima kasih. Tapi sampai rapat selesai, ia tidak memakai kembali kacamata hitamnya.
Staf legal membagikan pulpen. Pulpen hitam berat dengan logo Prisma berwarna emas.
Claire menandatangani setiap halaman dengan tanda tangan yang sudah ia latih sejak umur enam belas. Rapi. Miring ke kanan. Indah. Tanda tangan yang sudah muncul di ribuan poster dan buku fans dan kontrak yang tidak pernah benar-benar ia baca.
Ezra menolak pulpen Prisma. Ia merogoh saku jaket jinsnya dan mengeluarkan bolpoin biru murah yang tutupnya sudah digigit-gigit. Di batangnya, tulisan putih yang hampir pudar: TOKO BANGUNAN HERMAWAN JAYA
“Pulpen keberuntungan,” katanya, ke ruangan secara umum. “Dipakai buat tanda tangan semua kontrak FTV saya.”
“Dan FTV-nya laku?” tanya Claire sebelum bisa menahan diri.
Ezra mendongak dari kertas. Menatapnya. Senyum miring.
“Nggak satu pun, Mbak.”
Lalu ia tetap menandatangani dengan pulpen itu. Halaman demi halaman. Tanda tangan yang miring ke kiri, tergesa-gesa, seperti ditulis orang yang sedang berlari.
Di halaman tujuh, Klausul Nomor Tujuh, Claire melihat Ezra berhenti. Sebentar sekali. Ujung bolpoinnya melayang di atas garis.
Lalu ia tanda tangan. Dan membalik halaman.
Ghea mengantar Ezra kembali ke lift.
Bang Jo sudah turun duluan, tidak sabar menelepon istrinya untuk mengabarkan bahwa komisi sepuluh persennya akan membayar uang pangkal SD anak bungsunya. Lorong lantai dua puluh sepi. Hanya ada mereka berdua dan dengung AC.
“Mas Ezra.”
“Hm?”
Ghea menekan tombol lift. Tidak menatapnya. “Tadi. Waktu Claire minta klausul itu.”
“Soal nyentuh.”
“Mas nggak nanya kenapa.”
Ezra mengangkat bahu. “Bukan urusan saya, Mbak. Orang boleh punya alasan.”
Pintu lift terbuka. Ghea menahannya dengan satu tangan. Sekarang ia menatap Ezra, lama, dengan mata yang sama seperti di depan pintu ruang rapat tadi. Menilai. Tapi kali ini ada yang lain juga. Sesuatu yang mirip lega.
“Banyak orang yang bakal nanya,” katanya. “Wartawan. Netizen. Kru. Nanti, waktu kalian di depan kamera, akan ada yang nyentuh dia dari belakang, minta foto, narik tangannya. Dia nggak bakal bilang apa-apa. Dia bakal senyum.” Ghea menelan ludah. “Tolong perhatiin.”
Ezra tidak langsung menjawab. Ia memikirkan tangan di pinggiran meja rias. Kursi belakang sedan putih. Satu, dua, tiga.
“Iya, Mbak,” katanya. “Saya perhatiin.”
Ghea mengangguk sekali, melepaskan pintu lift, dan menghilang di balik pintu yang menutup sebelum Ezra bisa melihat ekspresinya.
Turun dua puluh lantai. Ezra menatap pantulannya sendiri di dinding lift berlapis cermin. Jaket jins. Helm di tangan. Pria yang baru saja menandatangani kontrak untuk berpura-pura jatuh cinta, dan satu klausul yang melarangnya melakukan itu sungguhan.
Nggak bakal kejadian, katanya tadi. Dengan yakin.
Ia menatap matanya sendiri di cermin.
“Nggak bakal,” ulangnya. Pada siapa, ia tidak yakin.
Di kursi belakang mobil, dalam perjalanan pulang, Claire mengetik nama itu di kolom pencarian.
Ia bilang pada dirinya sendiri bahwa ini riset. Ia harus tahu siapa yang akan menggandeng tangannya di depan kamera selama tiga bulan. Itu profesional. Itu masuk akal. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan cara pria itu mengatakan deal tanpa bertanya kenapa.
Hasil pertama, video meme ECLIPSE. Ia menontonnya. Remaja berambut perak dengan jaket kulit penuh rantai, melompat sedikit terlambat dari teman-temannya, wajah serius sekali seolah sedang menyelamatkan dunia lewat koreografi.
Claire menutup mulutnya dengan punggung tangan.
Ia tidak tertawa. Tentu saja tidak. Ia hanya... menahan sesuatu. Sesuatu yang naik dari perut dan keluar sebagai bunyi kecil dari hidungnya, yang membuat sopirnya, Pak Wahyu, melirik dari spion.
“Mbak?”
“Nggak apa-apa, Pak.”
Hasil kedua: akun Instagram Ezra. Delapan ribu pengikut. Kebanyakan unggahannya video pendek bernyanyi dengan gitar di ruangan sempit berdinding busa telur. Komentarnya sedikit. Likes-nya sedikit. Tapi suaranya...
Claire memutar satu video. Lagu yang tidak ia kenal, dengan lirik tentang lampu jalan yang menyala sendirian. Hanya gitar dan suara. Tanpa filter, tanpa efek. Suara itu agak serak di nada tinggi, sangat hangat di nada rendah, dan menyanyikan setiap kata seolah kata-kata itu penting.
Ia menontonnya dua kali. Lalu menutupnya cepat-cepat, seperti ketahuan.
Hasil ketiga, video endorse. Pagi-pagi lesu? Ngopi dulu biar Mantap Jiwa! Wajah Ezra di depan ring light yang lampunya berkedip, terlihat seperti tawanan perang yang dipaksa membacakan pernyataan.
Dan di kolom komentar, satu komentar dengan foto profil bunga mawar, disematkan di paling atas oleh pemilik akun:
Ganteng sekali anak saya. Kopinya pasti enak. Salam dari Warung Bu Ratna, Pasar Minggu.
Kali ini Claire benar-benar tertawa.
Tawa betulan. Keras dan mendadak, di kursi belakang mobil, sampai Pak Wahyu hampir mengerem. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tertawa sampai matanya basah, dan tidak tahu lagi apakah itu tawa atau sesuatu yang lain, setelah empat hari tidak tertawa sama sekali.
Ibunya mengomentari video endorse-nya. Ibunya mempromosikan warungnya di kolom komentar endorse anaknya. Dan pria itu, alih-alih menghapusnya karena malu, malah menyematkannya di paling atas.
Claire menatap komentar itu lama setelah tawanya reda.
Ia mencoba membayangkan Mama melakukan hal yang sama. Menulis cantik sekali anak saya di bawah unggahan Claire, tanpa menambahkan kode promo atau mengingatkan soal sentimen.
Ia tidak bisa membayangkannya.
Ia mengunci layar ponsel dan menatap ke luar jendela. Sudirman. Gedung-gedung tinggi. Jakarta yang tidak peduli.
Oportunis, ulangnya dalam hati. Tapi kata itu terdengar sedikit kurang meyakinkan dari dua jam lalu.
Pukul empat sore, di lampu merah perempatan Mampang, dengan hujan yang turun tiba-tiba dan jas hujan plastik yang robek di bagian ketiak, ponsel Ezra bergetar di saku.
Ia menepi di depan minimarket. Mengusap layar dengan ujung kaus yang setengah basah.
Transfer masuk. Rp50.000.000,00. Dari: PT PRISMA TALENT INDONESIA. Berita: Termin 1 Proyek Spark.
Ezra menatap angka itu.
Lima puluh juta. Ia menghitung nolnya tiga kali. Lalu empat. Hujan menetes dari ujung helmnya ke layar, membuat angkanya berkilau buram, dan untuk sesaat ia berpikir mungkin ini salah lihat, mungkin besok pagi uang itu akan hilang, mungkin seseorang di Prisma akan menelepon dan bilang maaf, Mas, salah transfer.
Tidak ada yang menelepon.
Ia menekan nomor Rian.
“Bro,” kata Rian, suaranya tegang. “Gimana? Lo jadi tanda tangan? Atau lo nolak terus sekarang lagi nangis di pinggir jalan?”
“Rian.”
“Apa.”
“Telepon pemain cello-nya.”
Hening tiga detik.
Lalu Rian berteriak. Teriakan panjang, kasar, bahagia, yang membuat Ezra harus menjauhkan ponsel dari telinga. Seorang ibu yang keluar dari minimarket dengan kantong belanja menatapnya curiga.
“Gue telepon sekarang!” seru Rian. “Gue telepon sekarang! Gue juga mau beli busa headphone baru! Gue mau...”
Ezra menutup telepon sambil tersenyum. Lalu, sebelum menyalakan motor lagi, ia mengetik satu pesan untuk ibunya.
Ezra: Bu, malam ini nggak usah masak telur balado buat aku.
Ezra: Aku yang beliin martabak.
Balasan datang dalam lima detik. Ibu Ratna selalu membalas dalam lima detik.
Ibu: Martabak manis atau telor?
Ibu: Dua-duanya aja ya Le. Bu Haji Laundry juga mau.
Ezra tertawa di bawah hujan.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini nomor tidak dikenal. Pesan dari Tessa, rapi dan berpoin seperti presentasi.
Halo Mas Ezra! Welcome to Spark!
Kencan Publik #1:
Warung tenda seafood, Jl. Senopati
Sabtu, 19.30
Dress code: casual tapi mahal
Fotografer akan standby, Mas cukup natural aja ya!
Ezra membaca baris keempat tiga kali.
Casual tapi mahal.
Ia menatap jaket jinsnya yang basah kuyup. Sepatu kanvas yang dulunya putih. Jas hujan plastik robek seharga dua puluh ribu.
“Casual tapi mahal itu apaan, anjir,” katanya pada hujan.
Hujan tidak menjawab. Hujan Jakarta tidak pernah menjawab. Ezra menyalakan motor bebeknya dan menembus Mampang menuju Pasar Minggu, lima puluh juta rupiah lebih kaya dan sama sekali tidak tahu harus memakai baju apa hari Sabtu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!