John Decrine menghembuskan napas panjang saat ia menaiki tangga menuju apartemennya. Hari itu benar-benar melelahkan. Pekerjaannya sebagai pegawai kantoran tidak pernah memberi kejutan, hanya tumpukan dokumen yang harus ditangani dan atasan yang terus menambah pekerjaannya.
Saat ia sampai di lantai tempat apartemennya berada, ia merogoh sakunya untuk mengambil kunci. Namun, sebelum sempat memasukkannya ke dalam lubang kunci, pandangannya tertuju pada sesuatu di depan pintu.
Seseorang… atau lebih tepatnya, seorang gadis tergeletak di sana.
John berkedip beberapa kali, memastikan bahwa matanya tidak mempermainkannya. Gadis itu memiliki rambut panjang berwarna pirang keemasan yang berantakan, seolah baru saja berkelahi dengan badai. Ia mengenakan pakaian aneh yang menyerupai gaun putih berornamen emas, tapi robek di beberapa bagian, membuatnya terlihat tidak asing namun tetap aneh.
Yang paling mencolok adalah wajahnya—wajah seorang anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun. Namun, ekspresinya terlihat angkuh bahkan saat ia sedang pingsan.
John menggaruk kepalanya, berusaha memahami situasi.
”Oke, ini aneh. Kenapa ada anak kecil di depan apartemenku?”
Ia berjongkok, mencoba memeriksa apakah gadis itu bernapas. Syukurlah, dadanya masih naik turun dengan stabil. Tidak ada luka serius yang terlihat, hanya pakaiannya yang kusut dan kotor.
“Mungkin dia tersesat?” gumam John.
Namun, bagaimana mungkin seorang anak kecil tersesat dan kebetulan jatuh pingsan tepat di depan pintunya? Itu terlalu kebetulan.
John menghela napas.
”Kalau aku membiarkannya di sini dan dia sakit, aku akan merasa bersalah.”
Dengan hati-hati, ia mengangkat tubuh mungil gadis itu. Anehnya, ia terasa lebih ringan dari yang seharusnya.
“Baiklah, anak kecil misterius, ayo masuk dulu,” gumamnya sebelum membuka pintu apartemen dan membawanya ke dalam.
Saat gadis itu membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih apartemen John. Kedua matanya yang berwarna ungu berkedip beberapa kali sebelum akhirnya ia mengangkat tubuhnya dengan cepat.
John, yang sedang duduk di kursi dekat meja makan, menatapnya dengan ekspresi datar.
“Oh, kau sudah sadar?” tanyanya santai.
Gadis itu memutar kepalanya ke arahnya, lalu mengangkat dagunya dengan angkuh.
“Manusia rendahan! Bersyukurlah karena kau telah diberi kehormatan untuk menyaksikan kebangkitanku!” serunya lantang.
John mengedip.
“... Apa?”
Gadis itu melompat dari sofa dan menunjuk dirinya sendiri dengan penuh percaya diri.
“Aku adalah Aphiella! Dewi Agung yang telah hidup selama sepuluh ribu tahun! Aku adalah makhluk yang berada di atas segalanya, yang mengatur keseimbangan dunia dan memberi berkah kepada mereka yang berdoa kepadaku!”
John menatapnya selama beberapa detik.
Lalu, ia berkata dengan nada datar, “Oke. Sekarang serius, siapa namamu?”
Aphiella tampak terkejut. “Kau meragukan keilahianku? Sungguh manusia yang bodoh!”
Ia mendekat ke John dan menepuk kepalanya dengan ringan, seolah-olah sedang memberkatinya. “Kau harus bersujud di hadapanku, manusia! Tunjukkan rasa hormatmu kepada dewa yang telah kau selamatkan!”
John hanya diam, menatap Aphiella yang tengah membusungkan dadanya dengan penuh kebanggaan.
Lalu, tanpa peringatan, perutnya berbunyi keras.
“A-Apa?” Aphiella menatap perutnya sendiri dengan ekspresi terkejut.
John menatapnya sebentar, lalu mendesah. “Jadi, dewi agung juga bisa kelaparan?”
Aphiella mendengus dan memalingkan wajahnya. “Tentu saja tidak! Aku hanya... ini hanyalah efek samping dari berada di dunia fana ini!”
John menatapnya dengan ekspresi tidak terkesan. “Ya, ya, tentu. Kau mau makan sesuatu?”
Aphiella memutar bola matanya seolah-olah itu adalah pertanyaan yang menghina. “Hmph! Jika manusia rendahan sepertimu ingin menyajikan persembahan kepadaku, aku akan menerimanya!”
John menahan dorongan untuk menghela napas lagi. Gadis ini benar-benar percaya bahwa dirinya adalah seorang dewi.
Ia berjalan ke dapur dan membuka lemari es, mencari sesuatu yang mudah dimasak. Setelah berpikir sejenak, ia mengambil beberapa telur dan mulai menggorengnya.
Sementara itu, Aphiella mondar-mandir di ruang tamu, mengamati apartemen John dengan ekspresi penasaran.
“Hmm... tempat ini sangat sederhana untuk seorang pelayan dewa sepertimu,” gumamnya sambil menyentuh sofa dengan ujung jarinya.
John, yang mendengar itu, hanya menggelengkan kepala. “Aku bukan pelayan dewa. Aku hanya orang biasa yang kebetulan menemukan anak kecil pingsan di depan pintuku.”
Aphiella langsung memutar badannya. “Aku bukan anak kecil!” protesnya keras.
“Kau terlihat seperti anak kecil,” balas John santai.
Aphiella mendengus. “Penampilan ini hanyalah bentuk fisik yang aku pilih! Aku sebenarnya berusia lebih dari sepuluh ribu tahun!”
John menatapnya dari atas ke bawah. “Kalau kau benar-benar setua itu, kau pasti satu-satunya dewi yang masih berperilaku seperti anak-anak.”
Wajah Aphiella langsung memerah karena marah. “Beraninya kau! Aku adalah dewi yang sangat dihormati di alam para dewa! Aku memiliki kekuatan yang bahkan dapat menghancurkan dunia ini dengan sekali jentikan jari!”
John mengangkat alis. “Kalau begitu, kenapa kau pingsan di depan pintuku?”
Aphiella langsung terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak ia sadar, ekspresi percaya dirinya sedikit goyah. Ia memalingkan wajahnya, terlihat sedikit canggung.
“U-Um... itu bukan urusanmu!”
John tidak menekan lebih jauh. Jika gadis ini memang tersesat atau memiliki masalah, ia bisa mencari tahu nanti. Untuk sekarang, yang paling penting adalah memberinya makanan agar ia tidak pingsan lagi.
Setelah beberapa menit, John akhirnya selesai memasak dan membawa sepiring telur orak-arik serta roti panggang ke meja.
“Ini, makanlah,” katanya, mendorong piring ke arah Aphiella.
Aphiella menatapnya ragu, lalu dengan angkuh berkata, “Aku hanya makan makanan dewa. Kau pikir aku akan makan—“
Namun, sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, aroma telur yang baru matang menyerang hidungnya. Perutnya kembali berbunyi.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung mengambil garpu dan mulai melahap makanannya dengan cepat.
John menatapnya, lalu tersenyum kecil.
”Dewi, huh? Kalau dia benar-benar dewa, dia adalah dewa yang paling amatir yang pernah kulihat.”
Sementara Aphiella sibuk mengunyah, John bersandar di kursinya dan berpikir.
Gadis ini jelas bukan manusia biasa. Entah dia benar-benar seorang dewi atau hanya seseorang yang mengalami delusi berat, ada sesuatu yang tidak biasa tentangnya.
Dan anehnya, John merasa bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah bertemu dengannya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!