Malam semakin larut, tetapi John masih duduk di sofa, menatap Aphiella yang kini tertidur di lantai dengan posisi yang sama sekali tidak elegan. Lengan dan kakinya terentang ke segala arah, sementara wajahnya menempel di atas bantal dengan mulut sedikit terbuka.
”Dewi agung, ya?” pikir John sambil menghela napas.
Setelah makan dengan rakus tadi, Aphiella sempat mencoba melanjutkan pidatonya tentang betapa agung dan kuatnya dirinya, tetapi kelelahan akhirnya menang. Tidak sampai sepuluh menit setelah makan, dia tertidur begitu saja di lantai ruang tamu.
John menggaruk kepalanya, berpikir apa yang harus ia lakukan dengan gadis ini. Jika memang benar dia hanya anak kecil yang tersesat dan berkhayal menjadi dewa, maka mungkin yang terbaik adalah melaporkannya ke polisi. Tapi… sesuatu tentang Aphiella terasa berbeda.
Matanya.
Mata ungu cerah yang tampak seperti bisa menembus jiwa seseorang. Itu bukan sesuatu yang dimiliki manusia biasa. Ditambah lagi, John merasa samar-samar bahwa gadis ini memang bukan manusia biasa.
Ia menghela napas. “Entah bagaimana, aku bisa merasakan kalau masalah akan datang.”
Ia menatap jam. Sudah hampir tengah malam.
Akhirnya, ia menyerah. Ia berdiri, mengambil selimut dari kamarnya, lalu dengan hati-hati menyelimuti Aphiella.
“Malam ini kau boleh tidur di sini,” gumamnya. “Besok, aku akan cari tahu siapa sebenarnya kau.”
Lalu, ia berjalan ke kamarnya dan menutup pintu.
Keesokan paginya, John terbangun karena suara ribut di dapur.
BRAK!
“Apa yang kau lakukan?!” seru John sambil bergegas keluar dari kamar.
Begitu sampai di dapur, yang ia temukan adalah kekacauan total. Aphiella berdiri di tengah-tengah, tampak frustrasi, sementara beberapa panci dan peralatan dapur berserakan di lantai.
“Aku mencoba menggunakan sihir untuk menciptakan makanan, tapi… entah kenapa, itu tidak berhasil!” kata Aphiella dengan nada kesal.
John menatap dapur yang berantakan, lalu menatap Aphiella yang tampak kesal seperti anak kecil yang mainannya diambil.
“Jadi, kau mencoba memasak dengan sihir, tapi gagal?”
Aphiella mengangkat dagunya. “Aku biasanya tidak perlu memasak! Sebagai dewi, aku bisa menciptakan makanan hanya dengan jentikan jari! Tapi sekarang…” Ia mengepalkan tinjunya. “Sihirku tidak bekerja!”
John menatapnya dengan ekspresi datar. “Itu karena kau bukan dewi.”
Aphiella menoleh padanya dengan ekspresi penuh penghinaan. “Beraninya kau meragukan keilahianku?!”
John mendesah, lalu berjalan ke kulkas dan mengambil beberapa bahan makanan. “Lupakan soal sihir. Jika kau lapar, aku akan membuatkan sarapan lagi.”
Aphiella tampak ingin membantah, tetapi perutnya berbunyi lagi, membuat wajahnya merah padam.
“Ugh! Sangat memalukan…” gumamnya.
John hanya tersenyum kecil sambil menyiapkan sarapan.
Saat mereka makan, Aphiella duduk dengan tangan terlipat di dada. Tatapan matanya penuh kebanggaan, meskipun ia tampak sedikit kesal.
John akhirnya memutuskan untuk bertanya.
“Jadi, kalau kau memang dewi, kenapa kau ada di dunia manusia?”
Aphiella, yang sedang mengunyah roti panggang, tiba-tiba terdiam.
Ekspresi percaya dirinya sedikit meredup, dan matanya tampak sedikit gelisah.
“Itu…” Ia tampak ragu sejenak, tetapi akhirnya menghela napas panjang. “Aku diusir.”
John berhenti makan. “Apa?”
Aphiella mengalihkan pandangannya, tampak kesal. “Para dewa lain… mereka iri padaku! Aku adalah dewi yang luar biasa, tetapi mereka tidak tahan melihatku bersinar lebih terang daripada mereka!”
John menaikkan alis. “Iri? Kau yakin bukan karena kau melakukan sesuatu yang membuat mereka marah?”
Aphiella terdiam sejenak sebelum mendengus. “Mungkin ada… beberapa insiden kecil…”
John melipat tangannya. “Seberapa kecil?”
Aphiella memainkan ujung rambut pirangnya, terlihat enggan untuk menjawab. “Yah… aku mungkin… secara tidak sengaja membanjiri satu kerajaan dengan hujan selama lima tahun berturut-turut…”
John menatapnya dengan ekspresi kosong.
“… Dan mungkin aku juga mengubah hutan suci menjadi ladang bunga beracun karena salah mengucapkan mantra…”
John menutup wajahnya dengan tangannya. “Astaga…”
Aphiella buru-buru melanjutkan, “Tapi! Itu semua kesalahan kecil! Mereka tidak seharusnya mengusirku dari alam dewa hanya karena itu!”
John menarik napas panjang, berusaha memahami situasi.
“Jadi, kau ini semacam dewi amatir yang terus membuat kesalahan, dan akhirnya para dewa lain tidak tahan lagi, lalu mengusirmu?”
Aphiella menatapnya tajam. “Aku bukan amatir!”
John hanya menatapnya dengan ekspresi datar.
Aphiella mendengus dan memalingkan wajahnya. “Baiklah, mungkin aku sedikit tidak berpengalaman dalam beberapa hal… tapi itu tidak berarti aku pantas diusir!”
John menghela napas dan mengusap kepalanya.
”Jadi, dia ini memang benar seorang dewi, tapi dia juga amatir dan kekanak-kanakan? Bagaimana bisa makhluk seperti ini punya kekuatan ilahi?”
Setelah beberapa saat berpikir, ia akhirnya berkata, “Oke. Katakanlah aku percaya padamu. Apa rencanamu sekarang?”
Aphiella terdiam.
John menyipitkan mata. “Jangan bilang kau tidak punya rencana.”
Aphiella terlihat semakin gelisah, lalu akhirnya berseru, “Aku akan mendapatkan kembali kekuatanku dan kembali ke tempatku yang seharusnya!”
John mengangguk pelan. “Dan bagaimana caranya?”
Aphiella membuka mulutnya, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.
Setelah beberapa detik hening, John mendesah. “Kau bahkan tidak tahu caranya, kan?”
Aphiella menggembungkan pipinya, tampak kesal. “Tentu saja aku tahu! Aku hanya… butuh waktu untuk mengingatnya!”
John mengusap wajahnya. “Astaga… jadi aku sekarang harus mengurus seorang dewi amatir yang tidak tahu cara kembali ke tempatnya?”
Aphiella menatapnya dengan ekspresi penuh percaya diri. “Bukan mengurus! Kau adalah pelayan pertamaku di dunia fana ini! Itu kehormatan besar!”
John menatapnya dengan ekspresi kosong.
“… Tidak.”
Aphiella berkedip. “Apa?”
“Aku bukan pelayanmu.”
Aphiella terdiam sejenak, lalu mendekat dan menepuk kepala John dengan ringan. “Kau tidak perlu malu. Aku mengerti. Mendapat kehormatan ini pasti membuatmu terkejut.”
John menatapnya tajam. “Kau ini benar-benar…”
Aphiella, yang awalnya tampak santai, tiba-tiba menegang.
“… Mereka sudah menemukanku,” gumamnya pelan.
John menatapnya. “Siapa?”
Aphiella menggertakkan giginya. “Entahlah”
Setelah perbincangan mereka tentang para dewa dan rencana Aphiella yang masih kabur, suasana di apartemen John kembali tenang. Aphiella duduk bersila di sofa dengan tangan terlipat di dada, tampak masih kesal karena John menolak menjadi “pelayannya.”
John, sementara itu, hanya bisa menghela napas. Gadis ini benar-benar merepotkan.
Tiba-tiba, mata ungu Aphiella berbinar saat melihat benda persegi panjang berwarna hitam di sudut ruangan. “Itu apa?” tanyanya, menunjuk ke televisi.
John menoleh. “TV?”
Aphiella mengangguk dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu. “Ya! Apa itu? Sepertinya bukan artefak sihir, tapi juga bukan benda biasa.”
John memiringkan kepalanya. “Tunggu, kau belum pernah melihat TV sebelumnya?”
Aphiella mendengus dan mengangkat dagunya. “Tentu saja tidak! Di alam para dewa, kami tidak membutuhkan benda aneh seperti itu!”
John menatapnya dengan skeptis. “Jadi, para dewa tidak punya hiburan?”
Aphiella mengerutkan kening. “Kami punya perjamuan megah, pertunjukan tarian surgawi, dan para musisi ilahi! Kenapa kami perlu benda seperti itu?”
John hanya mengangkat bahu. “Terserah. Kalau kau penasaran, aku akan menyalakannya.”
Ia mengambil remote dan menekan tombol. Seketika, layar TV menyala, menampilkan siaran berita pagi. Seorang pembawa berita wanita muncul di layar, berbicara dengan nada serius tentang cuaca dan berita terbaru.
Aphiella tersentak. Matanya membesar saat melihat gambar bergerak di dalam “kotak ajaib” itu.
“APA?!” serunya, melompat mundur seperti baru melihat iblis. “Ada manusia di dalam kotak kecil itu?!”
John hampir tertawa melihat reaksinya. “Bukan, bukan. Itu hanya gambar. TV menampilkan siaran dari tempat lain.”
Aphiella masih tampak ragu. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap layar dengan seksama. “Jadi… mereka bukan benar-benar terjebak di dalam sana?”
“Tidak,” jawab John sambil duduk santai. “Ini hanya cara manusia mengirimkan gambar dan suara ke banyak orang sekaligus. Seperti… jendela ke dunia lain.”
Aphiella tampak terpesona. “Manusia bisa melakukan ini tanpa sihir?”
John mengangguk. “Teknologi.”
Aphiella bergumam, “Menarik… jadi, meskipun manusia lemah, mereka punya cara sendiri untuk menciptakan keajaiban…”
John menyeringai. “Jadi, sekarang kau mengakui kalau manusia tidak seburuk itu?”
Aphiella mendengus. “Jangan salah paham! Ini hanya sedikit mengesankan, bukan berarti aku mengakui keunggulan manusia!”
John tertawa kecil. “Terserah.”
Aphiella terus menatap TV dengan penuh rasa ingin tahu. John mengganti saluran ke acara kartun yang lebih ringan, berharap bisa mengalihkan perhatian gadis itu dari pembicaraan tentang para dewa dan utusan yang mencarinya.
Begitu kartun mulai diputar, Aphiella semakin tertarik. Ia tampak benar-benar terpukau oleh warna-warna cerah dan karakter yang bergerak di layar. Sesekali, ia tertawa kecil atau mendengus saat sesuatu yang lucu atau bodoh terjadi.
John hanya memperhatikan dari samping sambil tersenyum kecil.
”Dia benar-benar hanya anak kecil,” pikirnya.
Lama-kelamaan, kepala Aphiella mulai terangguk-angguk. Kelopak matanya perlahan menutup, dan akhirnya, ia tertidur dengan posisi duduk, bersandar pada lengan sofa. Nafasnya teratur, wajahnya tampak jauh lebih damai dibandingkan sebelumnya.
John menghela napas dan berdiri. Dengan hati-hati, ia mengambil selimut dan menyelimutinya, sama seperti tadi malam.
Sebelum mematikan TV, ia menatap Aphiella sebentar.
”Entah bagaimana, aku merasa kalau aku akan terjebak dalam masalah besar karena dia,” pikirnya.
Ia kemudian mematikan TV, lalu berjalan ke kamarnya.
Malam ini, untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang berubah dalam hidupnya. Sesuatu yang ia belum tahu apakah itu baik atau buruk.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!