##
BAU TANAH KUBURAN
Malam telah turun di Desa Weningrejo.
Langit tampak hitam tanpa bintang. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, sementara suara jangkrik terdengar bersahutan dari balik kebun warga.
Desa itu biasanya tidak pernah benar-benar sunyi.
Namun malam itu berbeda.
Terlalu sunyi.
Seolah seluruh kehidupan di desa sedang menahan napas.
Di ujung desa, seorang lelaki tua bernama Mbah Wiryo berjalan pulang melewati jalan setapak yang membelah persawahan. Di tangannya terdapat sebuah lampu minyak kecil yang cahayanya berkedip-kedip diterpa angin.
Usianya sudah lebih dari enam puluh tahun, tetapi Mbah Wiryo masih terbiasa berjalan sendirian pada malam hari.
Malam itu ia baru saja pulang dari rumah seorang tetangga yang sedang sakit.
Langkahnya terhenti.
Mbah Wiryo mengangkat kepala.
Dari arah pemakaman tua di sebelah utara desa, terdengar suara sesuatu bergerak.
Krek...
Ia diam.
Krek... krek...
Suara itu seperti ranting patah.
Mbah Wiryo menyipitkan mata.
“Siapa?” tanyanya.
Tidak ada jawaban.
Hanya kabut.
Ia mencoba melanjutkan langkah.
Namun tiba-tiba hidungnya mencium sesuatu.
Bau tanah basah.
Bau yang sangat khas.
Seperti tanah yang baru saja digali dari kuburan.
Mbah Wiryo berhenti lagi.
“Aneh...”
Malam itu tidak hujan.
Tidak mungkin ada tanah basah.
Ia menoleh ke belakang.
Jalan setapak yang baru saja dilewatinya kosong.
Tetapi bau itu semakin kuat.
Bahkan kini bercampur dengan aroma bunga kenanga.
Mbah Wiryo mulai merasa tidak nyaman.
Ia mempercepat langkah.
Namun baru beberapa meter berjalan, lampu minyak di tangannya mendadak padam.
Puff!
Gelap.
Mbah Wiryo membeku.
Kemudian terdengar suara perempuan dari belakangnya.
“Wiryo...”
Pelan.
Sangat pelan.
Tubuh Mbah Wiryo langsung kaku.
Ia mengenali suara itu.
Suara tersebut sudah tidak asing baginya.
Tetapi orang yang memiliki suara itu...
sudah meninggal lebih dari dua puluh tahun lalu.
“Mbok...?”
Mbah Wiryo tidak berani menoleh.
Suara itu kembali terdengar.
“Wiryo...”
Kali ini lebih dekat.
Tepat di belakang telinganya.
Mbah Wiryo menutup mulut.
Napasnya memburu.
Kemudian ia merasakan sesuatu menyentuh pundaknya.
Dingin.
Sangat dingin.
Seperti tangan seseorang yang baru saja keluar dari dalam tanah.
Mbah Wiryo berbalik.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun di tanah tepat di belakangnya terlihat jejak kaki perempuan.
Jejak itu basah.
Dan yang membuat darahnya terasa berhenti mengalir—
jejak tersebut datang dari arah pemakaman.
Mbah Wiryo mundur perlahan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian matanya menangkap sesuatu di antara kabut.
Ada seorang perempuan berdiri sekitar sepuluh meter darinya.
Rambutnya panjang menutupi wajah.
Tubuhnya dibalut kain putih kusam.
Kain itu kotor oleh tanah.
Mbah Wiryo ingin berteriak.
Tetapi tenggorokannya seperti terkunci.
Perempuan itu tidak bergerak.
Hanya berdiri.
Kemudian kepalanya perlahan terangkat.
Dari balik rambut panjangnya terdengar suara lirih.
“Sudah waktunya...”
Mbah Wiryo mundur lagi.
“Apa yang kamu mau?”
Perempuan itu tidak menjawab.
Tangannya perlahan terangkat.
Jarinya menunjuk ke arah rumah Mbah Wiryo.
Kemudian terdengar bisikan.
“Yang pertama...”
Seketika angin berembus kencang.
Kabut menutupi seluruh jalan.
Mbah Wiryo memejamkan mata.
Ketika ia membukanya kembali—
perempuan itu sudah tidak ada.
Namun di tanah di hadapannya terdapat sesuatu.
Sebuah bunga kenanga putih.
Mbah Wiryo memungutnya dengan tangan gemetar.
Saat itu juga terdengar suara jeritan dari arah desa.
“Aaaaaaaargh!”
Mbah Wiryo menjatuhkan bunga tersebut.
Ia berlari sekuat tenaga.
Tidak peduli lagi pada gelap.
Tidak peduli pada jalan.
Yang ada di pikirannya hanya satu.
Sesuatu telah masuk ke Desa Weningrejo.
Dan malam itu...
adalah awal dari kematian pertama.
Di rumah paling ujung desa, seorang pemuda bernama Raka terbangun dari tidurnya.
Dadanya terasa sesak.
Keringat dingin membasahi lehernya.
Ia duduk di atas tempat tidur.
“Apa yang terjadi?”
Dari luar kamar terdengar suara ibunya.
“Raka! Bangun!”
Raka membuka pintu.
Ibunya berdiri di lorong dengan wajah pucat.
“Ada apa, Bu?”
Ibunya menatapnya.
“Jangan keluar rumah.”
“Kenapa?”
Sang ibu tidak langsung menjawab.
Ia hanya menunjuk ke arah jendela.
Raka mendekati jendela.
Di halaman rumah mereka, tepat di depan pintu...
terdapat tiga bunga kenanga putih.
Dan di sampingnya ada jejak kaki basah.
Jejak kaki perempuan.
Berhenti tepat di depan kamar Raka.
Raka menelan ludah.
Kemudian terdengar suara ketukan.
Tok...
Semua lampu di rumah padam.
Tok...
Ketukan kedua terdengar dari pintu depan.
Tok... tok... tok...
Empat ketukan.
Raka menatap ibunya.
Wajah perempuan itu semakin pucat.
“Bu...”
“Apa?”
“Siapa yang mengetuk?”
Ibunya menggeleng.
Dengan suara hampir tak terdengar, ia menjawab,
“Jangan dibuka.”
“Kenapa?”
Ibunya menatap pintu.
“Karena orang yang mengetuk itu...”
berhenti sejenak.
“...sudah mati tiga hari yang lalu.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!