KETUKAN TENGAH MALAM

0 dibaca

A

KETUKAN TENGAH MALAM


Tok...


Ketukan itu terdengar lagi.


Raka berdiri membeku di tengah ruang keluarga.


Ibunya, Bu Sari, menggenggam lengannya erat-erat.


“Jangan mendekati pintu,” bisiknya.


Raka menatap pintu depan.


Tidak ada suara langkah.


Tidak ada suara orang memanggil.


Hanya ketukan.


Tok... tok...


Lalu sunyi.


Raka menelan ludah.


“Bu, siapa yang meninggal tiga hari lalu?”


Bu Sari tidak menjawab.


Matanya masih terpaku pada pintu.


“Bu?”


“Jangan sebut namanya.”


“Kenapa?”


“Karena kalau namanya disebut...”


Bu Sari menarik napas panjang.


“...dia bisa mendengar.”


Raka mengernyit.


“Dia siapa?”


Sebelum Bu Sari menjawab, ketukan terdengar lagi.


Kali ini bukan dari pintu.


Tok... tok... tok...


Dari jendela.


Raka perlahan menoleh.


Jendela ruang tamu tertutup rapat.


Di balik kaca hanya ada kegelapan halaman.


Namun kemudian sesuatu bergerak di sana.


Bayangan hitam.


Tinggi.


Diam.


Rambut panjang menjuntai sampai ke dada.


Raka mundur selangkah.


“Bu...”


Bu Sari langsung menutup mulut Raka dengan tangannya.


“Jangan lihat.”


Tetapi terlambat.


Bayangan itu perlahan mendekat ke kaca.


Raka dapat melihat wajah pucat di balik rambut yang basah.


Matanya hitam seluruhnya.


Tidak ada bagian putih.


Perempuan itu menempelkan telapak tangannya ke jendela.


Plak.


Kaca berembun.


Lalu dengan satu jari, perempuan itu menulis sesuatu.


Raka memperhatikan tulisan tersebut.


Satu huruf.


Kemudian huruf berikutnya.


R...


A...


K...


Nama itu tertulis dari luar kaca.


Raka merasa tubuhnya kehilangan tenaga.


“Dia tahu namaku...”


Bu Sari menangis tanpa suara.


“Makanya Ibu bilang jangan keluar.”


Raka menatap ibunya.


“Ibu tahu siapa dia.”


Bu Sari menggeleng.


“Aku cuma tahu...”


Suaranya bergetar.


“...kalau dia bukan orang yang seharusnya datang ke rumah kita.”


Tiba-tiba kaca jendela retak.


Krek.


Raka tersentak.


Retakan kecil menjalar dari tulisan namanya.


Krek... krek...


Bu Sari menarik Raka menjauh.


“Ke kamar!”


Mereka berlari.


Namun sebelum pintu kamar tertutup, Raka mendengar suara perempuan itu.


“Raka...”


Suara itu terdengar seperti berasal dari dalam rumah.


Bukan dari halaman.


Raka berhenti.


Bu Sari langsung membanting pintu kamar.


BRAK!


Mereka berdiri dalam kegelapan.


Hanya suara napas yang terdengar.


Beberapa detik berlalu.


Tidak ada ketukan.


Tidak ada suara.


Raka mengira semuanya telah berakhir.


Sampai terdengar suara sesuatu jatuh dari ruang tamu.


Brak!


Bu Sari memejamkan mata.


“Jangan keluar.”


Raka mengangguk.


Namun kemudian ia mencium aroma yang sama.


Tanah basah.


Kenanga.


Dan kali ini ada aroma lain.


Bau busuk.


Seperti daging yang terlalu lama dikubur.


Raka menutup hidung.


“Bu...”


“Apa?”


“Bau itu.”


Bu Sari menatapnya.


Air mata kembali mengalir di pipinya.


“Dia sudah masuk.”


Raka memandang pintu kamar.


“Masuk ke rumah?”


Bu Sari mengangguk perlahan.


“Dan kalau benar yang Ibu takutkan...”


Tiba-tiba terdengar suara kuku menggores pintu.


Srrrkkk...


Raka mundur.


Srrrkkk...


Goresan itu semakin panjang.


Seolah ada kuku tajam yang sedang menggambar sesuatu di kayu.


Bu Sari memeluk Raka.


“Jangan bersuara.”


Goresan berhenti.


Sunyi.


Kemudian suara perempuan terdengar tepat di balik pintu.


“Bu Sari...”


Raka menatap ibunya.


Wajah Bu Sari berubah pucat.


Suara itu kembali.


“Bu Sari...”


Kali ini lebih dekat.


“Keluar...”


Bu Sari menggeleng.


“Tidak.”


“Keluar...”


“Tidak!”


Suara perempuan itu berubah.


Tidak lagi lembut.


Melainkan penuh kemarahan.


“KEMBALIKAN MILIKKU!”


BRAK!


Pintu kamar bergetar keras.


Raka tersentak.


Sekali lagi.


BRAK!


Kayu pintu mulai retak.


Raka memandang ibunya.


“Apa yang dia maksud?”


Bu Sari tidak menjawab.


“Bu, apa yang Ibu sembunyikan?”


Bu Sari menunduk.


Air matanya jatuh.


“Raka...”


“Jawab, Bu.”


“Ada sesuatu yang tidak pernah Ibu ceritakan.”


Pintu kembali bergetar.


BRAK!


Bu Sari menarik napas.


“Dua puluh tahun lalu...”


Ia berhenti.


“...sebelum kamu lahir, ada seorang perempuan bernama Sulastri.”


Raka terdiam.


“Sulastri siapa?”


“Anak seorang dukun.”


Raka mulai merasa dingin.


“Ibu mengenalnya?”


Bu Sari mengangguk.


“Dulu kami berteman.”


“Terus?”


“Sulastri meninggal dengan cara yang tidak wajar.”


Raka menatap pintu.


“Bagaimana?”


Bu Sari memejamkan mata.


“Dia ditemukan meninggal di dalam rumahnya. Tidak ada luka. Tidak ada darah.”


“Terus?”


“Di mulutnya ditemukan bunga kenanga.”


Raka membeku.


Bau kenanga kembali memenuhi kamar.


Bu Sari melanjutkan dengan suara bergetar.


“Orang-orang desa bilang Sulastri terkena teluh.”


“Siapa yang mengirim?”


Bu Sari menggeleng.


“Tidak pernah diketahui.”


Raka menatap ibunya.


“Kalau begitu kenapa dia datang ke rumah kita?”


Bu Sari terdiam cukup lama.


Kemudian berkata,


“Karena sebelum meninggal...”


Ia menatap Raka.


“...Sulastri pernah mengatakan satu hal kepadaku.”


“Apa?”


“Dia bilang kalau suatu hari teluh itu kembali...”


Bu Sari menelan ludah.


“...orang pertama yang akan dicari adalah keturunan dari orang yang mengkhianatinya.”


Raka terdiam.


“Ibu...”


Bu Sari tidak sanggup menatap anaknya.


“Siapa yang mengkhianatinya?”


Tidak ada jawaban.


Raka semakin mendesak.


“Bu.”


Bu Sari akhirnya berkata,


“Ayahmu.”


Dunia Raka seakan berhenti.


“Ayah?”


Bu Sari mengangguk.


“Ketika itu ayahmu masih muda.”


“Dia kenal Sulastri?”


“Lebih dari sekadar kenal.”


Tiba-tiba pintu kamar berhenti bergetar.


Sunyi.


Raka menatap ibunya.


“Bu...”


“Apa?”


“Kenapa tiba-tiba diam?”


Bu Sari menggeleng.


“Aku tidak tahu.”


Raka perlahan mendekati pintu.


“Jangan!”


Bu Sari mencoba menahannya.


Tetapi Raka sudah menempelkan telinganya pada pintu.


Tidak ada suara.


Kemudian terdengar sesuatu dari luar.


Bukan suara manusia.


Suara tanah diseret.


Srakk...


Srakk...


Srakk...


Seperti seseorang sedang menyeret tubuhnya di lantai.


Raka membuka sedikit celah pintu.


Ruang keluarga kosong.


Lampu masih mati.


Tetapi di lantai terdapat sesuatu.


Jejak tanah.


Jejak itu berasal dari pintu depan.


Berjalan melewati ruang tamu.


Menuju kamar Raka.


Namun jejak itu tidak berhenti di depan pintu.


Jejak tersebut terus menuju...


bawah tempat tidur Raka.


Raka perlahan menunduk.


Jantungnya berdetak keras.


“Ada sesuatu di bawah tempat tidur...”


Bu Sari langsung menariknya.


“Jangan lihat!”


Tetapi sebuah suara keluar dari bawah ranjang.


Suara perempuan.


Sangat pelan.


“Raka...”


Raka membeku.


“Raka...”


Suara itu semakin jelas.


“...aku belum mati.”


Mata Raka melebar.


Tiba-tiba tangan pucat menyembul dari bawah tempat tidur.


Jari-jarinya mencengkeram lantai.


Bu Sari menjerit.


Raka mundur.


Tangan itu semakin keluar.


Lalu kepala perempuan berambut panjang perlahan muncul dari bawah ranjang.


Wajahnya pucat.


Matanya hitam.


Mulutnya dipenuhi tanah.


Ia tersenyum.


Dan dari sela bibirnya jatuh sebuah bunga kenanga.


Perempuan itu menatap Raka.


Kemudian berbisik,


“Cari makamku.”


Seketika tubuhnya menghilang.


Hanya meninggalkan segenggam tanah hitam di lantai.


Raka berdiri terpaku.


Di antara tanah itu terdapat secarik kain putih.


Raka mengambilnya.


Ada tulisan merah di atas kain tersebut.


WENINGREJO — MAKAM NOMOR 17


Raka menatap ibunya.


“Bu...”


Bu Sari menangis.


“Apa?”


“Besok aku ke makam.”


Bu Sari menggeleng keras.


“Jangan.”


“Kenapa?”


“Karena makam nomor 17...”


Bu Sari menatap kain di tangan Raka.


“...sudah tidak ada.”


Raka terdiam.


“Bagaimana mungkin?”


Bu Sari menjawab dengan suara gemetar.


“Karena makam itu...”


“...digali dan dikosongkan dua puluh tahun lalu.”


Di luar rumah, terdengar suara lonceng tua dari arah pemakaman.


Tong...


Tong...


Tong...


Tiga kali.


Kemudian seluruh Desa Weningrejo mendengar suara perempuan menjerit dari arah kuburan.


“AKU PULANG...”


Dan malam itu, di sebuah rumah yang berjarak beberapa ratus meter dari kediaman Raka, seorang warga ditemukan meninggal.


Di samping jasadnya terdapat satu benda.


Bunga kenanga putih.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk