SUARA DARI LIANG KUBUR
Malam semakin pekat.
Setelah Mbah Darman pergi dari depan rumah, Raka masih berdiri di ambang pintu. Tatapannya kosong menembus halaman yang hanya diterangi cahaya bulan.
Kalimat lelaki tua itu terus berputar di kepalanya.
“Bukan Sulastri.”
Kalau bukan Sulastri yang dikubur di tempat itu...
Lalu siapa?
Dan apa yang sebenarnya disembunyikan Mbah Darman selama dua puluh tahun?
Raka perlahan menutup pintu.
Begitu kunci diputar, terdengar suara dari bawah lantai.
Tok...
Raka membeku.
Tok... tok...
Suara itu datang dari tempat yang sama seperti sebelumnya.
Di bawah ruang tengah.
Bu Sari yang sedang duduk di kursi langsung berdiri.
“Raka... jangan.”
Raka menoleh.
“Ibu tahu suara itu?”
Wajah Bu Sari berubah pucat.
“Jangan tanya sekarang.”
“Ibu tahu, kan?”
Bu Sari terdiam.
“Selama ini Ibu menyembunyikan sesuatu dariku.”
“Karena Ibu ingin kamu tetap hidup.”
Raka mengepalkan tangannya.
“Kalau begitu, katakan semuanya.”
Tidak ada jawaban.
Dari bawah lantai terdengar suara perempuan.
Pelan.
Nyaris seperti bisikan yang keluar dari dalam tanah.
“Raka...”
Bu Sari langsung menutup mulutnya.
Suara itu kembali terdengar.
“Buka...”
Raka menatap lantai.
“Ibu dengar?”
Bu Sari mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
“Dia sudah menemukanmu.”
“Siapa?”
Bu Sari tidak menjawab.
Tiba-tiba suara ketukan berubah menjadi hentakan.
DUG!
Lantai bergetar.
DUG!
Debu berjatuhan dari langit-langit.
DUG!
Raka mundur selangkah.
Lalu terdengar suara seperti kuku menggores kayu dari bawah.
Kreeeek... kreeeek...
Bu Sari menarik tangan Raka.
“Jangan dibuka!”
Namun Raka melepaskan tangannya.
“Ibu sendiri yang bilang aku harus mencari tahu.”
Ia mengambil linggis kecil dari belakang dapur.
Satu per satu papan lantai dibongkarnya.
Ketika papan terakhir terangkat, terlihat sebuah lubang persegi yang ditutup batu hitam.
Di permukaan batu itu terdapat ukiran aneh.
Bukan tulisan biasa.Ada gambar bunga kenanga.Ada bentuk seperti mata.Dan di tengahnya terdapat simbol menyerupai mahkota.Raka menyentuh batu itu.Seketika kepalanya berdenyut hebat.
Suara gamelan terdengar dari kejauhan.
Gong...
Raka tersentak.
Ia melihat sebuah pendapa tua dalam pikirannya.
Di sana terdapat seorang perempuan mengenakan kebaya putih.
Wajahnya tidak terlihat.
Di belakang perempuan itu berdiri enam orang.
Ayah Raka ada di antara mereka.
Mbah Darman juga.
Namun kali ini Raka melihat sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Di tengah pendapa terdapat sebuah benda yang dibungkus kain putih.
Benda itu diletakkan di atas meja kayu.
Perempuan itu berkata:
“Pusaka ini bukan untuk manusia.”
Ayah Raka menjawab,
“Kalau kita mengembalikannya, semuanya akan selesai.”
Perempuan itu menggeleng.
“Tidak.”
Kemudian suara lain terdengar.
Suara laki-laki.
“Kalau pusaka itu bisa membuka jalan menuju kerajaan para leluhur, kenapa harus dikembalikan?”
Raka berusaha melihat wajah lelaki tersebut.
Namun wajahnya seperti tertutup bayangan.
Tiba-tiba lelaki itu menoleh.
Langsung menatap Raka.
“Kau anaknya.”
Raka terbangun.
Ia terjatuh di lantai.
Bu Sari berteriak.
“Raka!”
Napas Raka tersengal.
“Ada... ada seseorang.”
“Siapa?”
“Aku tidak tahu.”
Raka menatap batu hitam itu.
“Dia bersama Ayah.”
Bu Sari langsung menangis.
“Apa yang Ibu tahu?”
Bu Sari berlutut.
“Dua puluh tahun lalu, ayahmu, Mbah Darman, dan beberapa orang lainnya datang ke rumah Sulastri.”
“Untuk apa?”
“Karena mereka mencari pusaka.”
Raka terdiam.
“Pusaka apa?”
Bu Sari menggeleng.
“Tidak ada yang tahu namanya.”
Raka kembali melihat ukiran pada batu.
“Kalau begitu kenapa ada simbol mahkota?”
Bu Sari tidak menjawab.
Dari bawah batu terdengar suara perempuan lagi.
Kali ini lebih jelas.
“Jangan biarkan mereka membangunkannya...”
Raka mendekat.
“Siapa?”
Sunyi.
Lalu suara itu menjawab:
“Sang penjaga.”
Raka merinding.
“Sulastri?”
Tidak ada jawaban.
Sebaliknya, batu hitam itu perlahan retak.
Krek...
Retakan menjalar dari tengah hingga ke tepinya.
Bu Sari berteriak.
“Raka! Mundur!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Batu itu pecah.
Di bawahnya terdapat tangga sempit menuju ruang bawah tanah.
Udara dingin langsung menyembur keluar.
Bau tanah basah bercampur bunga kenanga memenuhi rumah.
Raka menyalakan senter.
Tangga itu terlihat sangat tua.
Dindingnya terbuat dari batu bata merah.
Di sepanjang dinding terdapat tulisan Jawa kuno yang sebagian sudah terkikis.
Raka menuruni tangga.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Bu Sari mengikuti dari belakang meskipun tubuhnya gemetar.
Di ujung tangga terdapat sebuah ruangan kecil.
Di tengah ruangan ada meja batu.
Di atasnya terletak sebuah benda yang dibungkus kain putih.
Raka berhenti.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
“Ini yang Ayah ambil.”
Bu Sari langsung memegang lengannya.
“Jangan disentuh.”
“Kenapa?”
“Karena itu bukan pusaka biasa.”
Raka menatap benda tersebut.
“Lalu apa?”
Bu Sari berbisik:
“Dulu Sulastri menyebutnya Pusaka Wening.”
Lampu senter Raka berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu mati.
Ruangan menjadi gelap.
Dari sudut ruangan terdengar suara perempuan.
“Jangan buka kainnya...”
Raka membeku.
Suara itu sangat dekat.
Ia menyalakan kembali senter.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun kain putih yang membungkus pusaka itu sudah terbuka sedikit.
Terlihat gagang sebuah benda.
Bentuknya seperti gagang keris.
Tetapi ukirannya bukan naga.
Bukan singa.
Melainkan wajah seorang perempuan.
Raka belum sempat menyentuhnya ketika suara langkah terdengar dari tangga.
Tap...
Bu Sari menoleh.
Tap...
Seseorang sedang turun.
Raka mengarahkan senter.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian muncul bayangan seorang lelaki di dinding.
Tubuhnya tinggi.
Membawa sesuatu di tangannya.
Bu Sari langsung mengenali bayangan itu.
Wajahnya berubah pucat.
“Tidak mungkin...”
Raka menatap ibunya.
“Ibu kenal?”
Bayangan itu semakin dekat.
Lalu terdengar suara lelaki tua.
“Seharusnya kalian tidak membuka ruangan ini.”
Raka mengangkat senter.
Mbah Darman berdiri di ujung tangga.
Tangannya menggenggam sebilah pisau tua.
“Jadi benar...” kata Raka.
“Mbah yang menyembunyikan semuanya.”
Mbah Darman menatap pusaka di atas meja.
“Bukan aku yang menyembunyikannya.”
“Lalu siapa?”
Mbah Darman terdiam cukup lama.
Kemudian ia berkata:
“Orang yang selama ini kalian kira sudah mati.”
Raka menelan ludah.
“Sulastri?”
Mbah Darman menggeleng.
“Bukan.”
Ia menatap dinding belakang ruangan.
Di sana terdapat sebuah pintu batu yang sebelumnya tidak terlihat.
“Dia.”
Tiba-tiba pintu batu itu bergetar.
DUG!
Mbah Darman mundur.
Bu Sari mulai menangis.
Raka menatap pintu tersebut.
Dari baliknya terdengar suara gamelan.
Satu nada.
Gong...
Kemudian suara perempuan berbisik.
“Dua puluh tahun...”
Gong...
“Aku menunggu...”
Gong...
“Sekarang darahnya sudah kembali.”
Raka merasa seluruh tubuhnya dingin.
Suara itu kemudian berubah menjadi tawa pelan.
“Raka...”
Pintu batu mulai retak.
Dari celahnya keluar tangan pucat.
Jari-jari panjang dengan kuku hitam mencengkeram batu.
Mbah Darman berteriak:
“Jangan biarkan dia keluar!”
Raka menatapnya.
“Siapa dia?!”
Mbah Darman tidak menjawab.
Tangan itu semakin kuat menarik pintu.
Retakan melebar.
Dan dari balik kegelapan terdengar suara yang membuat Raka kehilangan napas.
Suara ayahnya.
“Raka... jangan percaya mereka.”
Raka membeku.
Ayahnya telah meninggal.
Tetapi suara itu kembali terdengar.
Lebih jelas.
Lebih dekat.
“Nak... pusaka itu bukan untuk membuka makam.”
Suara tersebut berhenti sejenak.
Lalu berbisik:
“Pusaka itu untuk membuka kerajaan.”
Pada saat yang sama, kain putih pembungkus pusaka terlepas sendiri.
Keris tua di atas meja bergetar.
Kemudian berdiri tegak.
Ujungnya mengarah tepat kepada Raka.
Dan pada bilah keris yang hitam, perlahan muncul tulisan merah seperti darah:
“DARAH TERAKHIR TELAH DATANG.”
Raka mundur.
Mbah Darman menatapnya dengan wajah penuh ketakutan.
“Sekarang kau mengerti kenapa aku melarangmu datang ke makam nomor tujuh belas?”
Raka menatap pintu batu yang terus retak.
“Tidak.”
Ia menggenggam erat senter.
“Aku justru semakin ingin tahu.”
Dari balik pintu terdengar suara perempuan tertawa.
Lalu sebuah kalimat terakhir menggema memenuhi ruang bawah tanah:
“Datanglah ke makam nomor tujuh belas sebelum malam Jumat Kliwon.”
Pintu batu terbuka sedikit.
Dan dari celah gelap itu...
sepasang mata merah menatap Raka.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!