BUNGA DI DEPAN PINTU

3 dibaca

A

BUNGA DI DEPAN PINTU


Pagi belum sepenuhnya terang ketika Raka kembali memasukkan kunci besi itu ke dalam saku celananya.


Kunci bernomor tujuh belas.


Benda kecil itu terasa jauh lebih berat daripada ukurannya.


Sejak mendengar bisikan di depan pintu, pikirannya tidak pernah berhenti bekerja.


“Jangan percaya ibumu.”


Kalimat itu terus terngiang.


Raka menatap Bu Sari yang masih berdiri di dekat meja.


Ibunya terlihat gelisah.


“Bu.”


Bu Sari mengangkat wajah.


“Ya?”


“Aku mau bertanya satu hal.”


“Apa?”


“Kenapa Ibu tidak pernah menceritakan tentang Sulastri sebelumnya?”


Bu Sari terdiam.


“Karena aku takut.”


“Takut kepada siapa?”


“Takut kepada masa lalu.”


Raka menggeleng.


“Masalahnya, masa lalu itu sekarang datang mencariku.”


Bu Sari menunduk.


Raka mendekati jendela.


Di luar rumah, matahari mulai muncul dari balik bukit. Beberapa warga berjalan menuju pasar. Anak-anak mulai berangkat sekolah.


Semuanya terlihat normal.


Terlalu normal.


Padahal malam sebelumnya seseorang telah meninggal.


Dan Raka tahu, kematian itu bukan yang terakhir.


Ia memasukkan kunci nomor tujuh belas ke dalam saku.


“Aku akan pergi ke pemakaman.”


Bu Sari langsung berdiri.


“Jangan.”


“Aku harus tahu apa yang ada di sana.”


“Raka, dengarkan Ibu.”


“Ibu selalu bilang jangan. Tapi Ibu tidak pernah memberi alasan yang cukup.”


Bu Sari menatap anaknya.


“Kalau kamu pergi ke sana, mungkin kamu tidak akan kembali.”


Raka terdiam.


“Kalau aku tidak pergi, mungkin orang lain yang akan mati.”


Bu Sari tidak bisa menjawab.




Sekitar pukul sembilan pagi, Raka berjalan menuju rumah Mbah Darman.


Ia memilih tidak pergi sendirian.


Ada sesuatu dalam dirinya yang mengatakan bahwa ia membutuhkan seseorang yang memahami sejarah Desa Weningrejo.


Rumah Mbah Darman berada di ujung desa, dekat sebuah sungai kecil yang airnya mengalir menuju hutan.


Pintu rumah itu terbuka.


Raka mengetuk beberapa kali.


“Mbah?”


Tidak ada jawaban.


Ia masuk perlahan.


“Mbah Darman?”


Rumah itu sunyi.


Aroma tembakau dan kayu tua memenuhi ruangan.


Di dinding terdapat beberapa benda kuno: keris, tombak kecil, topeng kayu, dan beberapa lembar kain yang digantung dalam bingkai.


Raka berjalan lebih dalam.


“Mbah?”


Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.


“Kalau mencari jawaban, jangan datang sendirian.”


Raka terkejut.


Mbah Darman muncul dari sebuah ruangan kecil.


Lelaki tua itu membawa tongkat kayu.


“Maaf, Mbah.”


“Duduk.”


Raka menurut.


Mbah Darman duduk di kursi kayu.


Tatapannya langsung jatuh ke saku celana Raka.


“Kamu membawa sesuatu.”


Raka mengeluarkan kunci besi itu.


Mbah Darman langsung berubah wajah.


“Darimana kamu mendapatkan itu?”


“Ditemukan di depan rumah.”


Mbah Darman mengambilnya.


Tangannya gemetar.


“Nomor tujuh belas.”


“Mbah tahu?”


“Lebih dari yang kamu kira.”


Raka mencondongkan tubuh.


“Makam nomor tujuh belas itu makam siapa?”


Mbah Darman diam cukup lama.


“Sulastri.”


Raka menarik napas.


“Benar-benar ada makam itu?”


“Dulu.”


“Dulu?”


“Makamnya pernah dipindahkan.”


“Kenapa?”


Mbah Darman menatap ke arah jendela.


“Karena setelah Sulastri meninggal, banyak kejadian aneh terjadi.”


“Seperti apa?”


“Orang-orang yang datang ke makamnya mengalami mimpi yang sama.”


“Mimpi apa?”


“Mereka melihat seorang perempuan berdiri di dalam sumur.”


Raka terdiam.


“Dan setiap orang yang melihat mimpi itu...”


Mbah Darman berhenti.


“...meninggal dalam waktu tujuh hari.”


Raka merasakan bulu kuduknya berdiri.


“Berapa orang?”


“Enam.”


“Enam?”


“Orang ketujuh adalah ayahmu.”


Raka langsung terdiam.


Mbah Darman menatapnya.


“Karena itulah makam Sulastri dipindahkan.”


Raka menggenggam tangannya.


“Jadi Ayah pernah datang ke makam itu?”


“Sering.”


“Untuk apa?”


Mbah Darman menghela napas.


“Untuk mengembalikan sesuatu.”


“Apa?”


Mbah Darman tidak menjawab.


Raka berdiri.


“Mbah.”


Lelaki tua itu menatapnya.


“Saya harus tahu.”


Mbah Darman akhirnya berkata,


“Pusaka.”


Raka mengerutkan kening.


“Pusaka apa?”


“Namanya tidak boleh disebut sembarangan.”


“Kenapa?”


“Karena pusaka itu bukan sekadar benda.”


Mbah Darman menatap kunci di tangannya.


“Di dalamnya ada bagian dari ilmu yang digunakan untuk mengirim teluh.”


Raka terdiam.


“Jadi ini...”


“Iya.”


Mbah Darman mengembalikan kunci itu.


“Adalah kunci menuju tempat pusaka itu disembunyikan.”




Sore hari, Raka kembali ke rumah.


Namun langkahnya berhenti ketika melihat sesuatu di depan pintu.


Ada bunga.


Satu.


Dua.


Tiga.


Bahkan lebih dari dua puluh bunga kenanga putih tersusun membentuk lingkaran.


Di tengah lingkaran terdapat sebuah batu kecil.


Batu itu berwarna hitam.


Raka tidak menyentuhnya.


Ia hanya berdiri memandangi benda tersebut.


Bu Sari keluar dari rumah.


Begitu melihat bunga-bunga itu, wajahnya langsung pucat.


“Raka...”


“Ibu tahu apa ini?”


Bu Sari mengangguk.


“Itu tanda.”


“Tanda apa?”


“Tanda bahwa seseorang sudah dipilih.”


Raka menatap bunga-bunga itu.


“Siapa?”


Bu Sari tidak menjawab.


Raka menatap ibunya.


“Siapa yang dipilih?”


Bu Sari akhirnya berkata,


“Kamu.”


Angin tiba-tiba berembus.


Bunga-bunga kenanga bergerak bersamaan.


Raka menoleh.


Di seberang jalan, seorang anak kecil berdiri.


Seorang perempuan.


Usianya mungkin sekitar tujuh tahun.


Ia mengenakan pakaian putih.


Rambutnya panjang.


Raka memandangnya.


Anak itu tersenyum.


Kemudian mengangkat tangannya.


Menunjuk ke arah hutan.


Raka berkedip.


Anak itu hilang.


“Bu...”


“Apa?”


“Barusan ada anak kecil.”


Bu Sari melihat ke arah yang ditunjuk Raka.


Tidak ada siapa-siapa.


“Jangan ikuti.”


“Tapi dia...”


“Raka!”


Suara Bu Sari terdengar keras.


Raka terdiam.


Ibunya memegang bahunya.


“Apapun yang kamu lihat mulai sekarang, jangan pernah mengikutinya.”


“Kenapa?”


“Karena teluh tidak selalu datang untuk membunuh.”


Raka menatap ibunya.


“Kadang...”


Bu Sari menelan ludah.


“...teluh datang untuk menuntun korbannya ke tempat kematian.”




Malam kembali turun.


Raka tidak bisa tidur.


Jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat lima puluh.


Ia duduk di dekat jendela sambil memegang kunci nomor tujuh belas.


Lalu terdengar suara.


Tok.


Raka menoleh.


Bukan dari pintu.


Suara itu berasal dari bawah lantai.


Tok.


Raka berdiri.


Ia menempelkan telinga ke lantai.


Tok... tok...


Suara itu terdengar lagi.


Raka mengerutkan kening.


Rumah mereka tidak memiliki ruang bawah tanah.


Dari mana suara itu berasal?


Ia mengambil lampu dan memeriksa lantai.


Tidak ada apa-apa.


Kemudian terdengar suara bisikan.


“Raka...”


Raka membeku.


Suara itu datang dari bawah lantai.


“Raka...”


Ia mundur.


“Siapa?”


Tidak ada jawaban.


Kemudian suara perempuan itu berkata,


“Buka.”


Raka menatap lantai.


Tiba-tiba sebuah garis retak muncul.


Krek.


Raka mundur.


Retakan itu semakin panjang.


Krek... krek...


Sebuah bagian lantai terangkat.


Di bawahnya terdapat ruang kecil yang selama ini tersembunyi.


Raka menyalakan lampu.


Di dalam ruang itu terdapat sebuah kotak kayu tua.


Kotak yang bentuknya hampir sama dengan kotak yang diberikan ibunya pagi tadi.


Namun kali ini ada sesuatu yang membuat jantung Raka berdegup lebih cepat.


Di atas kotak tersebut terdapat ukiran.


17.


Raka membuka kotak itu.


Di dalamnya terdapat kain hitam.


Sebilah pisau kecil berkarat.


Dan sebuah foto lama.


Raka mengambil foto tersebut.


Tangannya langsung gemetar.


Di dalam foto terlihat lima orang berdiri di depan sebuah makam.


Salah satunya adalah ayahnya.


Di samping ayahnya berdiri Mbah Darman.


Dan seorang perempuan yang wajahnya dicoret dengan tinta hitam.


Sulastri.


Namun ada satu orang lagi.


Seorang lelaki yang tidak dikenal Raka.


Di belakang foto terdapat tulisan tangan:


“Kami berenam membuka pintu yang seharusnya tidak pernah dibuka.”


Raka membalik foto.


Ada tulisan lain.


“Lima akan mati. Satu akan membawa teluh kepada darahnya sendiri.”


Raka menatap foto itu dengan napas tertahan.


Kemudian ia menyadari sesuatu.


Ada enam orang di foto.


Tetapi hanya lima yang memiliki bayangan.


Raka mendekatkan lampu.


Orang yang wajahnya dicoret itu...


tidak memiliki bayangan.


Sulastri.


Tiba-tiba foto tersebut menjadi basah.


Bukan air.


Darah.


Darah mulai merembes dari wajah Sulastri.


Raka menjatuhkan foto itu.


Di lantai, darah tersebut membentuk sebuah tulisan.


BESOK MALAM.


Kemudian tulisan itu berubah.


MAKAM NOMOR 17.


Raka mundur.


Dari belakangnya terdengar suara langkah.


Tap...


Raka membeku.


Tap...


Langkah itu semakin dekat.


Tap...


Ia perlahan menoleh.


Di ujung lorong berdiri sosok perempuan berbalut kain putih.


Rambutnya menutupi wajah.


Raka tidak bergerak.


Perempuan itu mengangkat tangan.


Di tangannya terdapat bunga kenanga.


Kemudian ia membuka rambut yang menutupi wajahnya.


Raka melihat wajah pucat itu.


Wajah Sulastri.


Namun ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan.


Bibirnya bergerak.


“Aku bukan yang mengirim teluh.”


Raka terdiam.


Sulastri menunjuk ke arah belakang Raka.


“Dia.”


Raka perlahan berbalik.


Tidak ada siapa-siapa.


Ketika ia kembali melihat ke depan, Sulastri sudah menghilang.


Hanya satu bunga kenanga yang tertinggal di lantai.


Raka mengambilnya.


Di bawah bunga itu terdapat selembar kertas kecil.


Tulisan di atasnya hanya terdiri dari satu kalimat:


“Jangan percaya Mbah Darman.”


Raka terdiam.


Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa semua orang yang selama ini membantunya mungkin menyimpan rahasia.


Ibunya.


Ayahnya.


Mbah Darman.


Sulastri.


Dan mungkin...


orang yang sebenarnya mengirim Teluh Mayit.


Malam semakin larut.


Di luar rumah, terdengar suara seseorang berjalan menuju jalan desa.


Langkahnya berhenti tepat di depan rumah Raka.


Kemudian terdengar suara lelaki tua.


“Raka.”


Raka mengenali suara itu.


Mbah Darman.


“Besok malam jangan datang ke makam.”


Raka tidak menjawab.


Suara Mbah Darman kembali terdengar.


“Kalau kamu datang...”


Ia berhenti.


“...kamu akan membuka sesuatu yang selama ini kami kubur.”


Raka berdiri di balik pintu.


“Siapa yang Mbah kubur?”


Tidak ada jawaban.


Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah menjauh.


Namun sebelum benar-benar menghilang, Mbah Darman berkata:


“Bukan Sulastri.”


Raka membeku.


Di dalam rumah, semua lampu tiba-tiba padam.


Dan dari bawah lantai terdengar suara ketukan.


Tok... tok... tok...


Tiga kali.


Lalu suara perempuan berbisik:


“Aku masih di sini.”

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk
BUNGA DI DEPAN PINTU · TELUH MAYIT · Author Unfiltered