Silent Guilt

8 dibaca

A

Restoran Parker & Quinn malam itu cukup ramai oleh para pekerja Sterling Financial Partners yang berkumpul untuk makan malam sekaligus menyambut beberapa mantan rekan kerja mereka. Mereka menempati satu meja panjang di tengah ruangan.

Ethan duduk bersama Derek, salah satu rekan kerjanya, di salah satu sisi meja. Beberapa kursi di seberang mereka, Julia sedang berbicara dengan Shamila, mantan rekan kerja mereka.

Ethan awalnya tidak berniat mendengarkan. Suara mereka hanya sesekali terdengar di antara percakapan lain dan bunyi peralatan makan.

Sampai suara Shamila terdengar lebih jelas.

Suara yang sudah enam bulan tidak ia dengar.

Suara yang ia rindukan.

Ethan meletakkan gelasnya perlahan di atas meja.

Wanita itu duduk hanya beberapa meter darinya, tetapi tetap tidak dapat ia sentuh.

Rambut hitamnya masih tertata rapi. Senyumnya masih lembut. Bahkan cara duduknya masih tenang seperti yang Ethan ingat saat mereka masih bekerja di tempat yang sama.

Saat Shamila masih menjadi istri seorang pria bernama Hamza Farooqi.

Hanya saja, kali ini ada yang berbeda. Wajah wanita itu terlihat lebih tirus daripada yang Ethan ingat.

“Aku turut menyesal mendengar perceraianmu, Sham,” kata Julia lembut.

Wanita Afro-Amerika itu menepuk punggung tangan Shamila dengan penuh simpati.

Perceraian.

Tubuh Ethan menegang. Ia tidak menyangka satu kata itu akan terasa seberat ini.

“Tak apa, Jules. Aku sudah mulai menerimanya.”

Suara Shamila terdengar tenang. Namun Ethan melihat jemarinya menggenggam lebih erat gelas cola di hadapannya.

Ethan mengenal gerakan itu. Shamila selalu begitu ketika berusaha menyembunyikan sesuatu.

Ethan menurunkan pandangan sejenak.

Ia seharusnya tidak mendengarkan. Namun beberapa detik kemudian, tubuhnya justru sedikit condong ke depan.

“Tapi kenapa?” tanya Julia. “Terakhir kali aku melihat kalian, semuanya baik-baik saja.”

Ethan memusatkan perhatian pada percakapan mereka. Di sampingnya, Derek menyentuh pundaknya.

”Beer?”

Ethan menggeleng dan mengangkat gelasnya yang masih berisi setengah.

”Cola? Really?”

“Aku menyetir,” jawan Ethan singkat.

Derek mengangkat bahu lalu kembali membicarakan pertandingan baseball yang batal mereka datangi.

Ethan mengangguk sesekali. Ia bahkan tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Derek. Perhatiannya tetap tertuju pada meja di seberang.

“Memfitnahmu?” Suara Julia meninggi.

Ethan kembali menoleh.

Shamila tersenyum tipis, tetapi matanya memancarkan kesedihan yang gagal ia sembunyikan.

“Aku tidak tahu siapa,” katanya. “Tapi seseorang mengirim pesan anonim kepada Hamza. Katanya aku berselingkuh.”

Tangan Ethan mengencang di sekitar gelas. Ia baru menyadari bahwa dirinya menahan napas ketika dinginnya cola mulai terasa di telapak tangannya.

”Jesus. No.” Julia menutup mulutnya, tampak tak percaya. “Tega sekali.”

Shamila hanya tersenyum tipis.

“Kau tidak mencoba mencari tahu siapa yang mengirim pesan itu?”

Shamila menggeleng pelan. “Tidak.”

Tidak ada kemarahan dalam suaranya. Ia hanya menunduk sebentar sebelum melanjutkan.

“Tapi aku juga tidak menyalahkan Hamza.”

Ethan menarik napas pelan. Pandangannya turun ke gelas di tangannya.

“Aku hanya kecewa.” Shamila mengusap sisi gelas dengan ibu jarinya. “Selama lima tahun kami menikah, ternyata Hamza tidak cukup mempercayaiku.”

Suara Derek kembali terdengar di sebelahnya, tetapi kali ini Ethan bahkan tidak berusaha berpura-pura mendengarkan.

Ia menatap piringnya. Mashed potato yang tadi ia makan terasa hambar di mulut.

Lalu ia kembali menatap Shamila.

Wanita itu masih duduk dengan anggun. Masih tersenyum ketika diajak bicara. Masih berusaha terlihat baik-baik saja, seolah perceraian itu tidak menghancurkan apa pun.

Tapi Ethan tahu lebih baik daripada siapa pun. Ia tahu dari mana semua itu bermula.

Dialah yang mengirim pesan anonim itu.

Karena dia mencintai seorang wanita yang telah menjadi milik orang lain.

Dan ia tidak pernah membayangkan bahwa satu pesan singkat yang dikirim dalam keadaan cemburu akan berakhir dengan sebuah perceraian.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk