A Change In The Rhythm

8 dibaca

A

Setahun Lalu

Ruang kerja para financial analyst di Sterling Financial Partners hampir selalu memiliki suara yang sama. Bunyi keyboard, dering telepon, percakapan singkat tentang angka dan laporan, serta mesin kopi yang bekerja terlalu keras untuk orang-orang yang tidur terlalu sedikit.

Pagi itu, suara seorang pegawai baru membuat ritmenya sedikit berbeda.

“Shamila Farooqi. Senang bertemu dengan kalian.”

Ethan mengangkat kepalanya. Hanya sesaat.

Seorang wanita berdiri tidak jauh dari mejanya, mengenakan pakaian kerja sederhana tetapi elegan. Rambut hitamnya diikat rapi. Wajahnya lembut, dengan mata cokelat gelap yang tenang. Senyum tipis muncul ketika beberapa orang menyambut perkenalannya.

Ethan kembali menatap layar komputer. Deadline laporan kuartal tidak peduli siapa pegawai baru yang datang pagi itu.

“Kalau kau butuh sesuatu, bilang saja,” terdengar suara Julia dari seberang ruangan. “Aku bisa menunjukkan ruang meeting, pantry, dan tempat terbaik untuk mendapatkan kopi.”

Terdengar tawa kecil.

Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki mendekat. Kemudian sebuah kursi ditarik.

Ethan melirik ke samping.

Meja kosong di sebelahnya kini ditempati wanita yang baru saja diperkenalkan.

Ethan kembali bekerja. Ia hampir berhasil melupakannya ketika suara lembut itu menyapanya.

“Hai.”

Ethan mendongak. Shamila berdiri di samping mejanya.

“Aku baru tahu kalau kita duduk bersebelahan.” Ia menunjuk kursi di belakangnya. “Jadi... kalau aku membutuhkan bantuan, boleh bertanya kepadamu?”

Ethan mengangguk. “Sure.”

Shamila tersenyum. Lalu mengulurkan tangan.

“Shamila.”

Ethan menatap tangan itu sedetik sebelum menyambutnya.

“Ethan. Vance.”

“Ethan.”

Entah kenapa, ketika wanita itu mengulangi namanya, Ethan mendengar sesuatu yang berbeda dalam suara itu.

Bukan karena suaranya luar biasa. Hanya lembut.

Sangat lembut.

Ethan melepaskan tangannya dan kembali menatap layar.

”Welcome to Sterling.”

”Thank you.

Shamila kembali ke mejanya.

Ethan mencoba kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Namun untuk beberapa detik, perhatiannya justru tertahan pada suara ketikan di sebelahnya.


Pukul 6.15 sore, Ethan akhirnya mematikan komputernya. Ia merapikan beberapa dokumen yang tersisa di meja, memasukkannya ke dalam tas, lalu berjalan keluar bersama beberapa rekan kerja.

Selama lima tahun, Ethan menjalani perjalanan pulang yang sama. Keluar dari gedung, berjalan beberapa blok menuju Grand Central, turun ke peron, lalu naik kereta menuju Upper East Side. Ia sudah hafal semuanya. Tidak ada yang perlu diperhatikan.

Sampai hari itu, ia menyadari ada seseorang berjalan beberapa langkah di belakangnya.

Ia menoleh.

Shamila.

Wanita itu berjalan sambil memeriksa sesuatu di ponselnya.

Ethan memperlambat langkah.

“Hai.”

Shamila mendongak dan tersenyum. “Hai.”

Shamila kemudian berjalan hingga sejajar dengannya.

“Kau naik kereta dari sini juga?” tanya Ethan.

“Ya.”

Which one?

The six.”

Ethan mengangguk.

Uptown?” tanyanya lagi.

Seventy-seventh.”

East Side?

Shamila mengangguk dan tersenyum. ”I live around East Seventy-Eighth.”

”I’m at Eighty-Sixth.”

Keduanya lalu terdiam.

Mereka berjalan berdampingan memasuki stasiun.

Tidak ada percakapan berarti setelah itu. Hanya obrolan kecil tentang pekerjaan, kantor baru, dan betapa mudahnya tersesat di gedung yang baru bagi Shamila.

Ketika kereta tiba, mereka masuk ke gerbong yang sama. Ethan duduk di salah satu sisi. Shamila mengambil tempat di seberangnya.

Malam itu, untuk pertama kalinya Ethan menyadari sesuatu.

Ia biasanya tidak pernah memperhatikan siapa yang duduk di seberangnya selama perjalanan pulang.

Kali ini, ia memperhatikan.

Ketika kereta berhenti di 77th Street, Shamila berdiri.

”See you tomorrow.”

Ethan mengangguk. ”See you.”

Pintu menutup. Shamila menghilang di antara penumpang yang turun.

Kereta kembali bergerak.

Ethan bersandar pada kursinya. Ia tidak tahu kenapa, tetapi perjalanan pulang malam itu terasa sedikit berbeda.

Keesokan paginya, semuanya kembali seperti biasa.

Setidaknya itulah yang Ethan pikirkan.

Ia baru saja membuka email ketika sebuah map diletakkan di meja sebelahnya.

“Ethan?”

Ia menoleh. Shamila berdiri di sana.

”Can I ask you something about this account?”

Ethan menerima map itu. Nama klien tertera di halaman pertama.

Daniel Holt.

Ethan mengenal akun tersebut. Selama dua tahun terakhir, ia membantu menangani analisis portofolio Holt bersama seorang senior associate, sebelum akun itu dipindahkan ke tim baru.

”What’s the problem?”

“Aku sedang memeriksa risk profile-nya.” Shamila menarik kursinya ke samping meja Ethan. “Ada beberapa keputusan investasi yang menurutku tidak sesuai dengan kebutuhannya.”

Ethan membuka dokumen. Ia membaca beberapa halaman sebelum mengangguk.

“Kau benar.”

Shamila tampak sedikit terkejut.

Really?

“Mr. Holt sudah beberapa kali menolak perubahan portofolio.”

“Kenapa?”

“Karena sebagian besar asetnya dia anggap sebagai sesuatu yang harus bertahan untuk jangka panjang. Dia tidak suka mengambil keputusan berdasarkan pergerakan pasar.”

Shamila mengangguk sambil mencatat.

“Jadi bagaimana biasanya kau menghadapinya?”

Ethan menatapnya.

“Jangan mencoba mengubah pikirannya dalam lima menit.”

Shamila tersenyum kecil. “Lalu?”

“Buat dia percaya bahwa perubahan itu adalah keputusannya sendiri.”

Senyum Shamila melebar.

”That’s manipulative.”

”That’s finance.”

Shamila tertawa pelan. Telapak tangannya menutup mulut, meredam suara tawanya.

Ethan tersenyum tanpa sadar.

Baru setelah itu ia menyadarinya.

”I don’t think that’s something you should be proud of.”

Ethan terkekeh. ”I didn’t say I was.”

Menjelang makan siang, Ethan kembali membuka berkas Holt. Shamila ternyata masih memeriksanya.

“Kau akan menemuinya hari ini?” tanya Ethan tanpa beranjak dari kursinya.

“Ya.” Shamila mengangkat kepala dan menoleh. “Pukul dua.”

“Sendiri?”

Shamila mengangguk. “Aku sudah menyiapkan presentasinya.”

Ethan melihat jam tangannya. “Dia tinggal di Riverdale, Bronx.”

“Aku tahu.”

“Dan ini pertama kalinya kau bertemu langsung dengannya.”

Shamila mengangkat bahu. “Bukankah itu bagian dari pekerjaanku?”

Ethan menatapnya beberapa detik. Wanita itu tidak tampak gugup. Tidak pula berusaha menunjukkan bahwa ia mampu menangani semuanya sendiri. Dia hanya terlihat siap.

“Aku ikut.”

Shamila mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Karena aku yang menangani akunnya selama dua tahun.”

“Itu bukan tanggung jawabmu lagi.”

“Bukan.” Ethan menutup map di hadapannya. “Tapi kalau kau ingin tahu bagaimana cara menghadapi Holt, kau bisa melihatnya langsung.”

Shamila mempertimbangkan tawaran itu.

“Pekerjaanmu?”

“Aku bisa menyelesaikannya malam ini.”

“Ethan—“

“Aku ikut.”

Shamila menatapnya beberapa detik, seolah masih mempertimbangkan.

“Baiklah.” Shamila akhirnya mengangguk.

Ethan kembali membuka komputernya. Ia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia hanya membantu pegawai baru.

Tidak lebih.


Mereka berangkat setelah makan siang.

Perjalanan menuju Bronx berlangsung dalam keheningan yang tidak benar-benar canggung.

Mereka hanya membicarakan pekerjaan. Sesekali Shamila membuka kembali berkas di tangannya dan menanyakan sesuatu tentang akun Holt. Ethan menjawab seperlunya, lalu mereka kembali diam.

Anehnya, Ethan tidak merasa perlu mengisi keheningan itu.

Ethan beberapa kali melirik ke luar jendela taksi. Shamila duduk di sampingnya, fokus membaca catatan yang sudah dibuatnya sejak pagi.

Tidak ada percakapan pribadi. Tidak ada pertanyaan tentang ķeluarga. Tidak ada cerita tentang kehidupan di luar kantor.

Dan Ethan tidak keberatan.

Justru ada sesuatu yang menarik dari cara wanita itu bekerja. Ia tidak banyak bicara, tetapi memperhatikan hampir semua hal. Setiap kali Ethan menjelaskan sesuatu, Shamila mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan mencatat bagian yang dianggapnya penting.

Pertemuan dengan Holt berlangsung hampir satu setengah jam.

Ethan lebih banyak mengamati. Shamila yang memimpin.

Ia tidak memotong pembicaraan klien, tidak memaksakan pendapat. Ketika Holt menolak salah satu rekomendasinya, Shamila tidak membantah.

Ia bertanya, mendengarkan, lalu mencari jalan lain.

Ketika mereka akhirnya meninggalkan gedung, Ethan menatapnya.

“Kau bagus.”

Shamila menoleh. “Itu pujian?”

“Anggap saja begitu.”

Shamila tersenyum kecil. “Aku akan mengingatnya.”

“Jangan terlalu terbiasa,” jawab Ethan. “Aku tidak sering memuji orang.”

Shamila tertawa pelan. Lagi, telapak tangannya refleks menutupi mulutnya.

Ethan ikut tersenyum.

Mereka kembali ke Manhattan dengan percakapan yang tetap terbatas pada pekerjaan. Namun kali ini, Ethan mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak ia sadari.

Cara Shamila mengerutkan kening ketika membaca sesuatu yang tidak ia mengerti. Cara ia tersenyum tipis setiap kali berhasil menemukan solusi.

Hal-hal kecil. Tidak penting. Setidaknya, seharusnya begitu.

Ketika mereka kembali ke kantor menjelang sore, Ethan menyadari bahwa ia telah menghabiskan hampir setengah hari bersama wanita itu.

Tapi anehnya, ia tidak merasa lelah.

Ia justru merasa sedikit kecewa karena hari kerja mereka hampir berakhir.

Ethan kembali ke mejanya dan membuka komputer. Ia mencoba mengalihkan perhatian pada laporan yang belum selesai.

Beberapa menit kemudian, matanya kembali bergerak ke meja di sebelahnya.

Shamila masih bekerja.

Ethan segera mengalihkan pandangan.

Mungkin karena mereka baru menghabiskan hampir setengah hari bersama.

Mungkin juga karena Shamila memang berbeda dari kebanyakan orang yang ia kenal.

Ethan tidak tahu.

Dan untuk saat ini, ia tidak merasa perlu mencari tahu.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk