The Rumor

3 dibaca

A

Keesokan harinya, tidak terjadi apa pun yang diam-diam Ethan tunggu.

Shamila masih tersenyum seperti biasa. Ia tetap berbicara kepadanya dengan nada yang sama, tetap mendiskusikan pekerjaan tanpa menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Hari berikutnya pun begitu.

Ethan tidak tahu apakah ia merasa lega atau justru kecewa.

Mungkin keduanya.

Hari ketiga masih sama. Namun kali ini, Ethan mulai melihat sesuatu yang kecil.

Beberapa kali, tatapan Shamila berhenti pada satu titik terlalu lama. Kadang pada dinding di depannya, layar komputer, atau meja kerjanya yang selalu tertata rapi.

Hanya beberapa detik. Lalu ia kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa.

Ethan tidak pernah melihatnya melakukan itu sebelumnya.

Pada siang hari di hari keempat, ketika sebagian besar karyawan meninggalkan ruangan untuk makan, Shamila mendekati mejanya. Ethan yang sudah berdiri dan hendak keluar mengurungkan niatnya.

Shamila berdiri di hadapannya dengan kedua tangan saling bertaut. Keningnya berkerut, dan untuk pertama kalinya sejak Ethan mengenalnya, wanita itu terlihat tidak tahu harus berkata apa.

“Ya, Sham? Kau butuh bantuanku?” Nada suara Ethan tetap datar, meskipun di dalam kepalanya sebuah pertanyaan langsung muncul.

Sudah dimulai?

“Aku... tidak tahu harus berkata apa,” jawab Shamila terbata. Ia menunduk sebentar sebelum kembali menatapnya. “Ada seseorang yang mengatakan sesuatu tentang kita.”

Ethan menunggu.

Shamila menarik napas. “Dia mengatakan kita memiliki hubungan.”

Tubuh Ethan membeku.

Ia sudah tahu kalimat itu akan datang. Tetapi mendengarnya langsung dari Shamila, dengan suara yang terdengar begitu hati-hati, tetap terasa berbeda. Sesaat, Ethan tidak tahu harus menjawab apa.

“Sham, aku bisa membantumu menjelaskan kepada—“

“Maaf.” Shamila memotongnya dengan suara lirih.

Ethan langsung terdiam.

“Kau jadi ikut terseret dalam masalah ini,” lanjut Shamila. “Aku tidak bermaksud merepotkanmu. Aku hanya ingin meminta maaf.”

Dada Ethan mendadak terasa sesak. Rasa bersalah yang sejak beberapa hari terakhir berusaha ia tekan kembali menghantamnya.

“Aku bisa bicara dengan suamimu—“

Shamila menggeleng. “Aku tidak bermaksud menolak bantuanmu.” Senyumnya muncul tipis. “Tapi ini masalah pribadi kami. Aku dan Hamza akan menyelesaikannya sendiri.”

Ethan hanya bisa mengangguk.

Shamila kembali tersenyum, senyum yang sama yang selama ini selalu ia berikan kepadanya.

“Aku ke kantin dulu.”

Ia berbalik dan pergi.

Ethan tetap berdiri di tempatnya.

Ia baru saja menyaksikan akibat dari sesuatu yang ia lakukan sendiri. Namun wanita yang menjadi korbannya justru datang untuk meminta maaf kepadanya.

Ethan menutup mata. Kedua tangannya mengepal erat.

Ada banyak kata yang ingin ia katakan. Tapi tidak satu pun pantas keluar dari mulutnya.

Untuk pertama kalinya, Ethan merasa benar-benar jijik pada dirinya sendiri.

Ia ingin memiliki Shamila.

Dan untuk mendapatkan kemungkinan itu, ia telah menempatkan wanita itu dalam masalah yang tidak pernah ia minta.


Hari-hari berikutnya berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Shamila tetap bekerja di meja sebelahnya. Ia masih berbicara dengannya, masih tersenyum ketika mereka membahas pekerjaan, dan masih memperlakukannya dengan sopan.

Namun Ethan mulai melihat batas yang sebelumnya tidak ada.

Shamila selalu menghindari situasi berdua dengan rekan kerja pria di dalam ruangan, bahkan dengan Ethan.

Ia mulai mengatur waktu makan berbeda.

Kadang ia pulang lebih awal. Kadang justru menunggu sampai sebagian besar karyawan meninggalkan kantor sebelum beranjak.

Dan perjalanan menuju Grand Central yang dulu sesekali mereka lakukan bersama, perlahan menghilang.

Ethan baru menyadarinya sekitar seminggu kemudian.

Shamila tidak pernah mengatakan apa-apa.

Ethan mengerti. Wanita itu sedang berusaha menjaga pernikahannya.

Ethan menatap layar komputernya lebih lama dari biasanya.

Ia tidak tahu apa yang terjadi di antara Shamila dan Hamza. Ia juga tidak pernah bertanya. Ia memilih untuk menghormati batas yang telah dibuat Shamila.

Jika pesan itu tidak menghancurkan pernikahan mereka, mungkin itu hal yang baik. Berarti Hamza memilih untuk mempercayainya. Berarti pria itu cukup mencintai Shamila untuk tidak membiarkan satu tuduhan menghancurkan kehidupan pernikahan mereka.

Dan jika memang begitu, Ethan harus mundur. Ia harus membiarkan Shamila kembali menjalani hidupnya.

Keputusan itu tidak mudah. Namun, sejak memutuskan mengirim pesan tersebut, Ethan merasa mungkin masih ada sesuatu yang bisa ia lakukan dengan benar.

Pergi.


Enam bulan setelah Shamila pertama kali datang ke Sterling Financial Partners, pada suatu pagi di bulan September ketika udara New York mulai terasa lebih dingin, Ethan mendengar kabar yang tidak pernah ia duga akan membuat dadanya sesak.

Shamila mengundurkan diri. Ia menerima tawaran dari EY.*

Karier yang lebih baik. Kesempatan yang lebih besar. Sebuah pencapaian yang seharusnya membuat semua orang bangga.

Ethan termasuk di antaranya.

”Congratulations.” Ia menjabat tangan Shamila.

”Thank you, Ethan.”

Ethan tersenyum tipis.

“Semoga kau sukses...” Ia berhenti sebentar. “...dengan semuanya.”

Shamila menatapnya.

Untuk sesaat, mereka saling memahami tanpa perlu menjelaskan apa pun.

Lalu Shamila tersenyum kecil dan melepaskan tangannya.

”Thank you.”

Itu saja.

Tidak ada janji untuk tetap berhubungan. Tidak ada alasan untuk bertemu lagi.

Hari itu, Ethan membiarkan Shamila pergi dari hidupnya. Dan kali ini, ia benar-benar berniat untuk membiarkannya.

Ia hanya belum tahu bahwa beberapa bulan kemudian, hidup akan mempertemukan mereka lagi.

Dengan satu perbedaan besar.

Kali itu, Shamila tidak lagi menjadi istri Hamza Farooqi.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk