Selama tiga puluh empat tahun hidupnya, Ethan Vance selalu tahu bagaimana mengendalikan dirinya.
Ia dibesarkan dengan aturan.
Ibunya mengajarinya bahwa setiap tindakan memiliki batas dan ayahnya mengajarkan sesuatu yang berbeda:
Cinta tidak harus selalu diucapkan. Jika seseorang berarti bagimu, tunjukkan melalui tindakan.
Mungkin karena itulah Ethan tumbuh menjadi pria yang tidak banyak meminta.
Ia menyelesaikan masalahnya sendiri, membuat keputusan sendiri, dan terbiasa menanggung konsekuensi dari pilihannya. Sejak kecil, Ethan belajar bahwa tidak semua hal perlu dibicarakan atau dibagi dengan orang lain. Jika ada sesuatu yang bisa ia selesaikan sendiri, ia tidak melihat alasan untuk meminta bantuan.
Beberapa wanita pernah datang ke dalam hidupnya. Sebagian pergi karena Ethan terlalu sulit dibaca. Mereka menginginkan lebih banyak kata, lebih banyak perhatian, lebih banyak kepastian.
Ethan tidak pernah benar-benar mengerti apa yang kurang. Ia setia, hadir ketika dibutuhkan, dan melakukan apa yang menurutnya seharusnya dilakukan seorang pasangan. Ketika hubungan itu berakhir, ia menerimanya begitu saja. Ia tidak pernah mengejar seseorang yang sudah memutuskan untuk pergi.
Mungkin itu sebabnya Ethan selalu merasa hidupnya berada dalam kendalinya.
Sampai Shamila datang.
Dan untuk pertama kalinya, Ethan menginginkan sesuatu yang tidak seharusnya ia inginkan.
Siang itu, pantry kantor hampir kosong. Sebagian besar karyawan memilih makan di kantin gedung atau restoran di sekitar kantor.
Ethan berdiri sendirian di depan mesin kopi, menunggu air panas mengisi cangkirnya.
Pintu kayu terbuka. Ethan menoleh.
Shamila.
“Buat kopi?” sapa wanita itu dengan senyum tipis di bibirnya.
Tangannya berhenti sesaat sebelum kembali mengaduk kopi.
“Ya.”
Ethan memperhatikan dari sudut matanya Shamila yang berjalan ke meja di sebelahnya dan mulai membuat minuman sendiri.
Ia mencoba mengembalikan pikirannya pada pekerjaan.
Shamila hanyalah rekan kerja. Mereka kebetulan duduk bersebelahan dan sesekali pulang dengan kereta yang sama. Tidak ada yang lebih dari itu.
Namun sebuah pikiran muncul begitu saja. Sebuah kesempatan. Dan Ethan tahu seharusnya ia membiarkannya lewat.
“Hey, Sham.”
Shamila menoleh. “Ya?”
Ethan terdiam. Satu detik. Dua detik.
Ia masih bisa mengurungkan.
“Aku punya dua tiket pertandingan baseball,” katanya akhirnya. “Tapi sepertinya aku tidak bisa datang. Kalau kau dan suamimu tertarik, kalian bisa menggunakannya.”
Shamila tampak berpikir.
“Aku tidak tahu apakah dia bisa. Akhir-akhir ini pekerjaannya cukup sibuk.”
”It’s free,” timpal Ethan, terlalu cepat.
Shamila tersenyum kecil. “Oh, bukan soal itu.”
”Yeah. I know.”
Ethan menyesap kopinya. Kemudian, seolah pertanyaan berikutnya hanyalah bagian dari percakapan biasa, ia berkata, “Suamimu kerja di mana?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi Ethan menyadari bahwa selama dua bulan terakhir, ia tidak pernah benar-benar menanyakan apa pun tentang kehidupan pribadi Shamila.
“Blackwell.”
Ethan mengangkat alis. ”Blackwell Capital Group?”
Shamila mengangguk.
Ia tahu perusahaan itu. Lebih besar daripada Sterling Financial Partners. Salah satu nama yang cukup sering muncul dalam percakapan bisnis di New York.
Dan kemudian Ethan teringat seseorang. Teman kuliahnya di NYU. Seseorang yang sekarang bekerja di sana.
”Interesting.”
Shamila tersenyum. “Kalau Hamza bisa datang, nanti aku kabari.”
”Sure.” Ethan mengangguk.
Tidak ada lagi yang dibicarakan.
Namun saat Shamila meninggalkan pantry, Ethan masih berdiri di tempatnya dengan cangkir kopi di tangan.
Ia tahu persis apa yang baru saja dilakukannya. Ia baru saja mencari celah untuk mengenal pria yang menikahi wanita yang mulai ia inginkan.
Dan seharusnya itu cukup untuk membuatnya berhenti.
Tidak.
Belum.
Dalam perjalanan pulang sore itu, Ethan menelepon temannya.
“Hey, you work with Hamza Farooqi, right?”
”Yeah.”
“I need to ask him something about a client.”
”Sure. I have his number. I’ll send it to you.”
Ethan menutup sambungan telepon.
Beberapa detik kemudian, sebuah nomor masuk ke ponsel Ethan.
Hamza Farooqi.
Ethan menatap nama itu cukup lama. Lalu layar ponselnya ia matikan.
Ia tidak melakukan apa-apa malam itu.
Setidaknya, belum.
Dua malam berikutnya, Ethan duduk sendirian di sofa apartemennya di Upper East Side. Lampu ruang tamu hanya menyala sebagian. Jas kerjanya sudah ia lepaskan, tetapi ia belum berganti pakaian.
Ponselnya tergeletak di meja. Di layar terdapat satu nomor yang belum pernah ia hubungi.
Nomor Hamza.
Ethan mengambilnya.
Ia bisa menghapus nomor itu sekarang. Tidak ada yang tahu bahwa ia pernah mendapatkannya. Tidak ada yang akan bertanya. Lalu ia bisa kembali menjalani hidup seperti sebelumnya.
Tetapi wajah Shamila muncul di kepalanya.
Senyumnya. Suaranya. Cara ia menyebut namanya. Cara wanita itu selalu menjaga jarak, tetapi entah bagaimana membuat Ethan merasa begitu dekat.
Ethan menundukkan kepala.
Ia tahu Shamila sudah menikah dan itu seharusnya cukup.
Namun pikirannya mulai mencari pembenaran.
Bagaimana jika pernikahan mereka tidak sekuat yang terlihat?
Bagaimana jika Hamza tidak mengenal Shamila sebaik dirinya?
Bagaimana jika hanya dibutuhkan satu alasan untuk membuat pria itu melihat siapa Shamila sebenarnya?
Ethan mengembuskan napas panjang. Pikiran itu terdengar buruk bahkan di dalam kepalanya sendiri.
Ia masih bisa berhenti. Dan seharusnya berhenti.
Namun beberapa menit kemudian, ia membuka layar pesan dan mengetik sebuah kalimat.
”You should know your wife is having an affair.”
Ethan membaca ulang pesan itu.
Jantungnya berdetak lebih keras. Jarinya berhenti di atas layar.
Hapus.
Hentikan semuanya.
Ia hampir melakukannya.
Namun sebelum jarinya menyentuh layar, sebuah pikiran lain, yang lebih berbahaya, menyelusup masuk.
Mungkin pernikahan mereka tidak sesempurna yang selama ini ia bayangkan.
Mungkin Shamila juga tidak sebahagia itu.
Mungkin...
Ethan mengetik lagi.
”With a man named Ethan Vance.”
Kali ini ia menatap layar lebih lama.
Tidak ada rasa lega atau kemenangan. Hanya keheningan panjang dan kesadaran bahwa setelah tombol itu ditekan, semuanya tidak akan lagi berada dalam kendalinya.
Ethan tahu itu.
Ia tetap menekan Send.
Pesan terkirim.
Ethan menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum meletakkannya di meja.
Tidak ada yang terjadi.
Belum.
Ia bersandar di sofa dan mengembuskan napas panjang.
Selama ini Ethan selalu tahu apa yang harus dilakukan ketika sesuatu berada di luar kendalinya.
Kali ini, ia bahkan tidak tahu apa yang baru saja ia mulai.
Dan ia juga tidak tahu apakah ia berharap pesan itu berhasil.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!