[BAB 1: CAHAYA MAUT BERPENDAR]
Ujung belati Liora hanya berjarak satu inci dari urat leher Pangeran Kallias saat pria itu tiba-tiba memutar tubuhnya.
Suara dari kedua bilah besi beradu nyaring.
Delapan tahun lalu, Liora kehilangan keluarganya karena penghuni takhta.
Malam ini. Ditempat ini. Dendam delapan tahun harus tuntas.
Bunga api memercik di udara, menerangi kamar pribadi sang pangeran yang remang.
Belati kembar Liora tidak menembus kulit, melainkan ditangkis dengan rapier perak yang ditarik Kallias dalam kecepatan yang tak masuk akal.
“Langkahmu terlalu ringan untuk seorang pembunuh, namun napasmu terlalu berat,” bisik Kallias.
Senyum sinis yang biasanya selalu menghiasi wajahnya di tiap aula perayaan tidak goyah sedikit pun, matanya menatap Liora dingin.
“Sepertinya, nafsu membunuh merusak instingmu.”
Liora tidak membuang napas untuk menjawab.
Ia memutar tubuhnya, menggunakan momentum tolakan untuk melancarkan tebasan memutar ke arah perut sang pangeran.
Namun Kallias bukanlah mangsa yang mudah.
Sang pewaris takhta itu bermanuver mundur dengan keluwesan luar biasa, menangkis setiap sayatan beringas Liora dengan ayunan pedang rampingnya.
Di saat Liora mengorbankan pertahanan untuk menerjang maju, tangan kiri Kallias berkelebat. Tiga jarum perak setipis helaian rambut melesat dari balik lengan bajunya.
Insting Liora bergerak cepat.
Ia menjatuhkan diri ke lantai marmer, berguling saat jarum-jarum itu melesat di atas kepalanya dan menancap pada tiang ranjang.
Warna ungu pekat langsung merayap di permukaan kayu. Liora mengenali itu adalah racun pelumpuh saraf.
“Pengecut licik,” desis Liora.
Ia memanfaatkan posisi rendahnya untuk menendang lutut Kallias dengan keras.
Kallias kehilangan keseimbangan sesaat, dan jeda beberapa detik itu sudah cukup bagi seorang asasin.
Liora melesat bangkit, Ia memutar belati kirinya, menjepit rapier dari sisi luar, lalu menghantam pergelangan Kallias dengan gagang belati.
Kaki Liora menerjang tubuh sang pangeran hingga punggungnya menghantam dinding batu dengan keras.
Tangan kiri Liora menarik kerah kemeja Kallias, sementara tangan kanannya mengangkat belatinya tinggi-tinggi.
Mata biru samudra Liora berkilat dipenuhi niat membunuh kuat. Ia akhirnya akan menusuk jantung pewaris takhta dari Wangsa Zeth Nordheim ini.
Namun, Kallias tidak meronta.
Pria itu menatap mata Liora, dadanya naik turun. Namun, seringainya itu kembali terukir.
“Lakukan, Asasin. Dan lihat siapa sampah yang akan mewarisi takhta kerajaan ini.”
Di jeda itu, sebuah ketukan samar yang janggal terdengar. Namun, Liora mengabaikannya dan fokus total pada pertarungan.
Tepat saat Liora mengayunkan belatinya, sekeliling mereka tiba-tiba meledak.
Lantai di bawah kaki mereka hancur berkeping-keping. Gelombang kejut yang memekakkan telinga merobek dinding kamar sang pangeran.
Suara itu berasal dari kamar di sebelah.
Ledakan magis berwarna merah pekat menyapu ruangan, menghancurkan kaca jendela dan melempar Liora serta Kallias ke arah yang berlawanan.
Telinga Liora berdenging keras. Paru-parunya dipenuhi asap tebal dan bau jelaga. Ia terbatuk, memaksa matanya terbuka di tengah pandangan yang berputar.
Ruangan itu hancur berantakan.
Di tengah debu yang beterbangan, Liora melihat sebuah pendaran cahaya merah darah yang janggal.
Cahaya itu membentuk sulur-sulur energi gaib yang melesat melintasi udara.
Lalu menancap lurus ke arah Kallias yang sedang terbatuk di sudut lain.
Sulur merah itu berdenyut satu kali, selaras dengan detak jantung Liora, sebelum akhirnya meresap hilang ke dalam kulit mereka berdua.
Bersamaan dengan hilangnya cahaya itu, punggung tangan kanan Liora terasa seperti disundut besi panas.
Ia mendesis kesakitan, mencengkeram tangannya sendiri. Di sana, tepat di atas kulitnya, sebuah tanda kemerahan yang menyala perlahan tercetak.
Bentuknya menyerupai kelopak panjang bunga Lycoris merah yang mekar sempurna.
Apa yang sedang terjadi?
Liora mengabaikan firasat buruk yang merayap di tengkuknya. Misinya belum selesai.
Ia memaksa tubuhnya yang ngilu untuk bangkit, meraih belatinya yang tergeletak di dekat tumpukan puing.
Ia mendekati Kallias di seberang yang masih setengah berlutut.
Tanpa ragu, Liora mengayunkan belatinya ke arah lengan Kallias yang terbuka untuk melumpuhkannya sebelum pria itu sempat mengambil pedangnya.
Sayangnya, Kallias menghindar tepat di detik-detik terakhir. Belati Liora hanya mampu merobek kain kemeja dan menggores tipis daging sang pangeran.
Darah segar menetes jatuh ke lantai marmer yang retak akibat goresan itu.
Seketika, jeritan tertahan keluar dari mulut Liora.
Belatinya terlepas jatuh berdenting. Liora mundur terhuyung, mencengkeram lengan kirinya sendiri dengan panik.
Rasa perih menyayat dagingnya dari dalam.
Dari balik lengan jubah asasinnya, darah segar merembes keluar. Persis di titik, ukuran, dan kedalaman sayatan yang sama dengan luka yang baru saja ia buat di lengan Kallias.
Matanya membelalak tak percaya menatap darah di lengannya, lalu beralih menatap tanda di punggung tangannya.
Tanda bunga Lycoris di punggung tangannya kini berdenyut redup seirama dengan rasa sakitnya.
Di seberangnya, Kallias memegangi lengannya yang terluka. Pria itu menatap tanda yang sama persis di punggung tangan kirinya.
Ketenangan dan senyum angkuh sang pangeran hancur total. Keningnya berkerut menyadari kegilaan apa yang baru saja terjadi.
“Ledakan ini ... jebakan paman,” desis Kallias, suaranya bergetar antara amarah dan teror yang tak bisa ditutup-tutupi.
Lalu Kallias perlahan mengangkat wajahnya menatap Liora. Matanya terpaku pada darah yang menetes dari lengan Liora.
Sebuah cerminan sempurna dari lukanya sendiri.
“Sihir apa yang baru saja mengikat kita, dasar Asasin bodoh?!”
Napas Liora tak beraturan.
Ia tidak tahu nama kutukan ini, ia tidak tahu sihir apa yang baru saja terjadi padanya.
Namun, melihat darah mereka yang menetes dalam ritme yang sama, satu fakta mengerikan menghantam benak Liora.
Jika pangeran di hadapannya ini terluka, maka tubuh Liora akan ikut tersayat bersamanya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!