[BAB 2: PEMFITNAH DAN PENGKHIANAT]
Liora jatuh berlutut, napasnya tersengal menahan rasa sakit yang membakar. Matanya masih membelalak tak percaya menatap lengannya.
Darah masih merembes dari luka yang seharusnya hanya dimiliki Kallias.
“Ini bukan perbuatanku, bodoh!” Liora membentak pewaris takhta yang ada di hadapannya tanpa ragu.
“Kenapa juga aku yang ingin membunuhmu malah menyeret diriku dalam kutukan aneh ini!”
Kallias terdiam tidak menjawab.
Kemudian, bau belerang tipis mulai tercium menyengat hidung, bercampur dengan abu dari puing-puing bangunan.
Sesuatu yang tidak menyenangkan.
“Kamar utama,” gumam Kallias pada dirinya sendiri.
Kallias tiba-tiba mengangkat kepala.
Tatapannya beralih ke arah dinding yang tadi memisahkan mereka dari kamar utama.
Untuk pertama kalinya malam ini, senyum di wajah pangeran hilang tergantikan oleh wajah pucat yang kosong.
“Ayah.”
Belum sempat salah satu dari mereka bergerak, sisa-sisa pintu kayu ek ruangan itu ditendang hancur dari luar.
Debu mengepul tebal saat selusin prajurit elit berzirah mendobrak masuk, mengepung ruangan dengan ujung tombak terhunus.
Di belakang barisan prajurit itu, seorang pria melangkah masuk dengan tongkat berukir singa. Jubahnya bersih tanpa noda debu dan senyum dingin terukir di wajahnya yang bersudut tajam.
Pria itu adalah Lord Vane Max Nordheim sang Menteri Tinggi di kerajaan ini.
“Paman ...,” gumam Kallias singkat.
Wajah dan nadanya sulit dibaca. Apakah Pangeran itu sedang takut, terkejut, atau justru marah.
Vane menghentikan langkahnya, menatap puing-puing ruangan, lalu memandang Kallias dengan sorot mata penuh kekecewaan buatan.
“Kau masih bernapas, Kallias? Sayang sekali.”
“Apa yang kau lakukan?!” bentak Kallias. Suaranya bergetar menahan amarah saat ia menyadari situasi mengancam dengan semua tombak terhunus padanya.
“Melakukan apa yang harus dilakukan demi kebaikan kerajaan ini,” jawab Vane santai.
Tongkatnya mengetuk lantai marmer yang retak. Menghasilkan bunyi nyaring yang tidak menyenangkan.
“Ledakan barusan telah menewaskan ayahmu di kamar utama. Sebuah tragedi yang sangat memilukan.”
Mata tajam Vane kemudian beralih pada Liora yang masih berlutut dalam balutan jubah hitam asasinnya.
Vane melihat tanda kutukan bunga Lycoris di punggung tangan Liora, lalu melihat punggung tangan Kallias.
Senyum tidak senang muncul setelah Vane sepertinya menyadari apa yang terjadi.
“Ah, aku mengerti sekarang,” ujar Vane, suaranya menggema dingin di ruangan yang hancur ini.
“Seharusnya, setelah ayahmu mati kau langsung menyusulnya. Kau seharusnya mati tanpa perlawanan, Kallias.”
Vane mengalihkan pandangannya ke arah Liora.
“Namun, rupanya ada hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Seekor tikus tiba-tiba menyusup ke kamarmu,” ujar Vane dengan nada merendahkan.
Liora menggertakkan giginya.
Pria di hadapannya ini pasti terlibat.
Tidak mungkin seseorang datang dengan pasukan lengkap sesaat setelah ledakan, lalu langsung menguasai keadaan tanpa mengetahui apa pun.
“Tikus yang mengendap-endap ingin mengigitmu, malah merubah takdirmu,” lanjut Vane, nada suaranya seolah sedang tertarik pada hal baru.
“Sepertinya malam ini takdir memilih pasangan yang berbeda.”
Kallias mencengkeram gagang rapiernya, buku-buku jarinya memutih.
“Kau gila. Kau tidak bisa menjatuhkanku hanya dengan cerita semacam itu. Dewan bangsawan akan menuntut bukti.”
“Bukti?”
Senyum Vane mengembang tipis.
“Kau di kamarmu bersama seorang asasin pemberontak dan ayahmu mati. Tak seorang pun melihat siapa yang memicu ledakan.”
Vane lalu melanjutkan, “Aku tidak perlu membuat mereka percaya padaku. Aku hanya perlu membuat mereka meragukanmu.”
Kemudian, Vane merentangkan kedua tangannya. Ia menoleh ke arah komandan pengawal miliknya dengan tatapan penuh otoritas.
“Kalian semua melihatnya, bukan? Pangeran Kallias menyewa seorang asasin pemberontak untuk meledakkan ayahandanya sendiri demi merebut takhta. Sungguh sebuah pengkhianatan tingkat tinggi!”
Para prajurit elit itu serentak menatap Kallias dengan tatapan tajam.
Tak terlihat seorang pun prajurit membantah ucapan sang menteri tinggi di depan mereka.
“Bawa keponakanku dan asasin itu ke alun-alun,” perintah Vane dingin, membalikkan badannya untuk pergi.
“Jika mereka melawan, bunuh sang asasin. Kematiannya akan secara otomatis mencabut nyawa keponakanku yang berharga ini.”
Saat barisan tombak itu merangsek maju, insting Liora mengambil alih.
Dirinya tidak bisa mati di sini. Namun, Liora juga tidak bisa sekadar berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.
Di ujung penglihatannya, terlihat lampu gantung di langit-langit kamar yang tali penyangganya rusak akibat ledakan.
Liora lalu meraih pecahan kaca dari lantai dan melemparkannya tepat ke arah lampu gantung yang apinya masih menyala di atas para prajurit.
Pecahan kaca berbunyi nyaring di tengah riuhnya langkah kaki pasukan Istana.
Lampu gantung raksasa itu runtuh, menimpa barisan depan prajurit dan memicu kobaran api disertai kepulan asap hitam.
“Rak buku di timur,” Kallias berkata dengan suara tenang di tengah kekacauan.
Meski nadanya tenang, ia dengan cepat menarik Liora yang baru saja berdiri.
Namun, Liora menepis tangannya. Walau sisi dirinya yang rasional tetap mengikuti langkah Kallias yang berlari.
Sang pangeran menekan sebuah tuas tersembunyi di balik buku bersampul merah. Dinding batu bergeser cepat, membuka lorong gelap gulita.
Kallias dan Liora melesat masuk tepat saat ujung tombak pertama menembus asap beberapa langkah di belakang mereka.
Pintu batu itu menutup kembali dengan bunyi gemeretak keras.
Saat pasukannya berhasil menembus kekacauan itu, Lord Vane hanya mendapati kamar itu kosong tanpa jejak.
Lord Vane mendengus tajam. Suaranya yang berat terdengar bergema dari kejauhan.
“Cari mereka. Jangan biarkan para pengkhianat itu bisa lari hidup-hidup.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!