MONSTER DI BAWAH LAMPU

1 dibaca

A

[BAB 4: MONSTER DI BAWAH LAMPU]

Distrik bawah kota adalah dunia yang sama sekali berbeda dari kemegahan Ibu Kota Nordheim.

Jalanan di sini terbuat dari lumpur dan batu kasar, dipenuhi genangan air kotor dan bau busuk dari limbah rumah tangga.

Bangunan-bangunan kayu reyot berdiri berhimpitan, seolah saling bertumpu agar tidak rubuh.

Di tempat seperti inilah Liora lebih mengenal cara bergerak daripada di istana.

Sang asasin bergerak tanpa suara, menyatu dengan bayang-bayang di bawah atap yang menjorok.

Di belakangnya, Kallias berusaha mengimbangi ritme Liora.

Untuk seorang pangeran yang seumur hidupnya berjalan di atas karpet sutra, Kallias bergerak cukup gesit, meski langkahnya mulai sedikit diseret.

“Berhenti,” desis Liora sambil mengangkat tangan kanannya untuk menahan gerakan Kallias.

Ia mundur dengan cepat, menekan punggungnya ke dinding bata yang berlumut di sebuah gang sempit yang diapit dua rumah bordil.

Tindakannya memaksa sang pangeran merapat ke dinding di sebelahnya, tepat ke dalam bayangan terdalam gang tersebut.

Hanya sedetik kemudian, derap langkah sepatu bot besi bergema dari ujung jalan.

Sekelompok patroli pengawal istana dengan obor menyala berlari melintasi mulut gang. Cahaya jingga menyapu genangan air hanya beberapa sentimeter dari ujung sepatu Kallias.

Dalam ruang yang begitu sempit, dada Liora dan Kallias nyaris bersentuhan. Liora menahan napasnya, matanya terpaku pada para prajurit.

Namun, konsentrasinya terusik oleh dentuman ritmis yang bergema di telinganya. Butuh beberapa detik bagi Liora untuk menyadari bahwa itu bukan detak jantungnya sendiri.

Itu adalah ritme jantung Kallias yang berdetak sedikit lebih cepat. Detak jantungnya merambat melalui kutukan yang mengikat mereka.

Rupanya, bahkan perubahan detak jantung akibat kewaspadaan pun bisa mereka rasakan.

Sensasi berbagi detak kehidupan seperti ini menjengkelkan.

Begitu derap langkah prajurit menjauh, Liora melepaskan cengkeramannya dan mendorong Kallias menjauh.

“Berapa jauh lagi kedai informanmu itu?” bisik Liora tajam.

“Dua blok. Di balik pabrik penyamakan kulit,” balas Kallias pelan.

Napasnya teratur kembali, senyum tipis yang meresahkan itu kembali menghiasi wajahnya.

Seakan ia sama sekali tidak terganggu oleh fakta bahwa mereka nyaris tertangkap meski tadi jantungnya berdegup panik.

“Lewat sini,” ujar Kallias yang kemudian berbalik dan mulai memimpin jalan.

Liora memutar bola matanya dengan kesal dan mengikuti langkah Kallias.

Mereka kembali bergerak menembus labirin kumuh, menghindari para pemabuk yang tertidur di lorong hingga wanita malam yang mengintip dari jendela berjeruji.

Akhirnya, mereka tiba di sebuah bangunan batu setengah rubuh tanpa papan nama.

Kallias berjalan menyusuri sisi samping bangunan menuju sebuah pintu gudang bawah tanah yang bergembok karatan.

Sang pangeran kemudian mengetuk pintu kayu dengan ritme yang unik.

Dua kali ketukan keras.

Jeda.

Terakhir, tiga ketukan gesekan.

Setelahnya, terdengar bunyi palang besi ditarik.

Pintu terbuka sedikit, menampilkan wajah pria dewasa akhir dengan satu mata yang ditutup penutup mata berbahan kulit.

Pria itu mengangkat lentera, mata lainnya yang tersisa membelalak lebar saat  mengenali wajah Kallias yang kotor oleh debu.

Pria itu lalu beralih mengamati Liora dan belatinya yang berkilat di pinggang.

“Demi dewa-dewi yang mati,” umpat pria itu sambil buru-buru menarik mereka berdua masuk dan membanting pintu kembali.

Saat masuk ke dalam, pandangan Liora menyusuri sekitar.

Gudang bawah tanah itu pengap karena dipenuhi tong-tong anggur selundupan dan meja kayu kasar.

Pria tadi kemungkinan besar adalah Thorne si informan yang dimaksud Kallias.

Tangannya meletakkan lentera ke atas meja dengan gemetar. Ia mondar-mandir sambil mengusap wajahnya yang kasar.

“Lonceng istana berbunyi! Seluruh ibu kota ditutup!” Thorne meremas telapak tangannya dengan panik.

“Lord Vane baru saja mengumumkan bahwa Anda membunuh Raja dan menyewa asasin!”

“Dan kau percaya pada omong kosong pamanku itu, Thorne?”

Kallias menarik sebuah kursi kayu reyot dan duduk dengan keanggunan seorang bangsawan di atas singgasananya. Sikapnya mengabaikan fakta bahwa ia sedang berada di gudang kumuh.

Seolah tak peduli di mana pun ia berada, wibawa keluarga kerajaan tetap melekat padanya.

“Aku menyelamatkan kepalamu dari tiang gantung tiga tahun lalu. Aku datang untuk menagih hutang itu malam ini.”

Thorne menelan ludah, nyalinya menciut di bawah tatapan dingin Kallias.

“Aku selalu menepati janjiku. Tapi situasi ini ... ini agak sulit. Ini bunuh diri. Setidaknya, kalian butuh penyamaran.”

Thorne bergegas membuka sebuah peti kayu di sudut ruangan dan melemparkan dua helai jubah wol panjang berwarna abu kusam yang berbau apek dan sebuah gulungan kertas seperti peta.

Ia juga melemparkan sebuah salep herbal berbentuk pasta hijau.

Liora menangkap jubah itu dan langsung memakainya hingga menutupi rambut merahnya yang bergelombang.

Jubah itu praktis menyembunyikan pakaian asasinnya.

Liora melirik salep hijau itu, lalu melihat Kallias yang sedang mengoleskannya ke luka sayatan di lengannya.

Sensasi dingin dan kebas perlahan merayap di lengan kiri Liora. Untuk pertama kalinya di malam ini, rasa nyeri di lengannya mereda.

“Kita ambil jalur penyelundup di bawah kanal timur,” ucap Kallias sambil menutupi lengannya kembali dengan lengan jubah wol barunya.

“Buka gerbang airnya. Kami akan keluar dari ibu kota sebelum fajar.”

Thorne menghela napas panjang, menyisir rambutnya yang tipis.

“Itu masalahnya, Yang Mulia. Lord Vane tidak sebodoh itu. Dia tahu Anda mengenal jalur bawah tanah istana. Tak lama setelah loncengnya berbunyi, pasukannya meledakkan pilar penyangga di kanal timur dan barat. Seluruh terowongan tikus di bawah kota ini telah runtuh atau kebanjiran. Tidak ada jalan keluar dari bawah tanah.”

Thorne bergumam dengan nada pelan, “Situasinya terlihat seperti sudah disiapkan jauh-jauh hari.”

Tangan Liora yang sedang mengikat tali jubahnya terhenti. Rahangnya mengeras.

“Maksudmu, kita terjebak di ibu kota ini?” geram Liora.

Langkah kaki Liora mendekati meja Thorne dalam beberapa detik dengan tatapan mengancam.

“Pamannya bisa mengerahkan ribuan prajurit ke jalanan. Jika kita menunggu sampai fajar, mereka akan menyisir dari rumah ke rumah!”

“Asasin ini benar,” ucap Thorne pahit. “Lord Vane menutup setiap gerbang perbatasan dengan teralis besi berlapis dan menempatkan pemanah. Tapi ....”

Thorne menatap peta usang yang tergelar di atas meja tongnya.

“Ada satu gerbang yang tidak ditutup sepenuhnya karena ia berasumsi tidak akan ada buronan waras yang berani lewat sana. Gerbang Utara.”

Liora mendengus kasar.

Sebagai seorang asasin, tentu Liora mengetahui tentang gerbang berbahaya itu.

“Gerbang Utara adalah salah satu gerbang menuju luar kota. Penjagaannya paling kuat. Kapten penjaga di sana bisa melihat wajah kita dari jarak lima puluh langkah di bawah cahaya obor. Belum lagi Hutan Kematian yang terhampar di ujung gerbang.”

“Itu satu-satunya jalan yang masih memiliki celah, Nona. Lord Vane fokus mencari kalian di jalur tikus, bukan di gerbang utama.”

Thorne menatap Kallias. Tatapannya seakan meminta pangeran yang duduk tenang itu untuk memikirkan ide yang lebih baik.

Di tengah ketegangan dan jalan buntu tersebut, Kallias justru tersenyum.

Bukan senyum tipis yang dipaksakan, melainkan senyum anggun yang sering ditampilkannya di pesta para bangsawan.

Namun saat ini, senyum itu bagai senyum seekor ular yang baru saja menemukan celah pada mangsanya.

Sang pangeran bangkit dari kursinya. Tangannya merapikan jubah wol apeknya secara perlahan dengan gerakan lembut.

Lalu, Kallias mengamati peta cukup lama, tepat pada simbol yang menunjukkan Gerbang Utara.

“Bagus,” ucap Kallias pelan.

“Pamanku selalu berpikir bahwa untuk membunuh monster, kau harus menyudutkannya ke dalam bayang-bayang.”

Kallias memiringkan sedikit kepalanya. Dari balik poni pirangnya, matanya tak berkedip dengan tatapan dingin.

Bibirnya membentuk garis senyum tipis.

“Ia lupa bahwa tempat terbaik untuk bersembunyi adalah tepat di bawah cahaya lampu.”

Liora menatapnya, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Kallias.

“Kau mau kita berjalan melewati belasan penjaga elit yang sudah diperintahkan untuk menangkapmu?”

“Tidak, Kenari. Kita tidak akan sekadar berjalan melewati mereka,” sahut Kallias dengan nada geli.

Mata zamrudnya menoleh pada Liora dengan tatapan penuh keyakinan.

“Kita akan membuat mereka membukakan gerbang itu dengan tangan mereka sendiri.”

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk