[BAB 3: DENTANG LONCENG KEMATIAN]
Kegelapan di dalam lorong rahasia itu terasa pekat dan menyesakkan.
Bau debu batu dan lumut basah langsung memenuhi paru-paru Liora. Namun, yang paling mengganggunya adalah bau anyir darah.
Darahnya dan darah sang pangeran.
Mereka menuruni undakan batu yang melingkar curam ke dasar istana bersama-sama.
Kallias berjalan di depan, memimpin jalan hanya dengan mengandalkan insting dan rabaan tangannya pada dinding yang lembap.
Langkah pangeran itu mulai limbung.
Setiap kali bahu Kallias terbentur dinding batu yang sempit, Liora mendesis. Bahu kirinya sendiri terasa ngilu seolah baru saja ikut menghantam batu yang sama.
Kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri adalah mimpi terburuk bagi seorang asasin sepertinya.
Saat mereka tiba di dasar tangga, lorong itu melebar menjadi jalur gorong-gorong kuno dengan aliran air setinggi mata kaki.
Sedikit cahaya bulan merembes dari sela-sela teralis besi di ujung terowongan yang jauh.
Melihat sedikit ruang dengan cahaya, tanpa peringatan, Liora menerjang maju.
Liora dengan cepat mencengkeram kerah Kallias, menarik pria itu berdiri secara paksa, dan membanting punggung sang pangeran ke dinding batu gorong-gorong.
Tangan kanan Liora langsung mengunci leher Kallias, mencengkeram urat nadinya dengan kuat.
“Kau pikir kau bisa mengendalikan situasi ini, Yang Mulia Kallias Zeth Nordheim?” geram Liora.
Tangan asasinnya menekan jakun Kallias, siap kapan saja untuk meremukkan saluran udaranya. Mata Liora menyala oleh amarah yang tertahan.
“Kau pikir dengan kutukan sialan ini kau bisa selamat dariku?”
Namun, kata-kata Liora terputus oleh suara cekikan.
Suara cekikan dari tenggorokannya sendiri.
Mata Liora membelalak. Saluran udaranya tiba-tiba menutup rapat seolah ada tangan besi tak kasat mata yang mencekiknya dengan kekuatan yang sama persis seperti cengkeramannya sendiri.
Paru-parunya seketika terbakar menuntut udara. Ia mencoba menarik napas, namun yang terdengar hanya suara serak yang menyedihkan dari mulutnya.
Di hadapannya, wajah Kallias memerah karena kekurangan napas. Namun, di balik napasnya yang tersendat, senyum tipis masih muncul di sudut bibirnya.
Mata hijau zamrud sang pangeran menatap Liora yang mulai gemetar panik.
“Teruslah ... menekan ...,” bisik Kallias dengan suara serak yang tercekik.
Kallias bahkan tidak berusaha menepis tangan Liora. Ia membiarkan Liora sendiri menyadari seberapa jauh kutukan itu akan menghancurkan mereka berdua.
“Mari kita lihat ... siapa yang mati lebih dulu.”
Pandangan Liora mulai menggelap.
Dirinya dipaksa menerima kenyataan bahwa nyawanya benar-benar terikat bersama pria ini.
Dengan erangan frustrasi, Liora melepaskan cengkeramannya dan terhuyung mundur.
Keduanya ambruk bertumpu pada lutut di air gorong-gorong yang kotor, terbatuk-batuk dan meraup udara dengan kasar.
Liora memegangi lehernya sendiri, merasakan sisa tekanan jari-jarinya yang masih membekas.
“Kau sudah selesai ... membuktikan keraguanmu, Kenari?” tanya Kallias di sela-sela napasnya yang tidak stabil.
“Beraninya kau ... jangan panggil aku sesukamu!” bentak Liora di sela-sela dirinya yang masih menstabilkan napasnya.
Pria itu bersandar pada dinding batu. Ia mengabaikan Liora yang masih menatapnya dengan tatapan membunuh.
“Bukankah itu cocok? Kau bagai Kenari pemberontak yang kini terperangkap dalam sangkar kutukan bersamaku.”
Liora menatapnya sinis. Kalimat itu terdengar seperti ejekan yang dibungkus racun.
Setelah mengatakan hal itu, Kallias menarik belati kecil dari balik sepatu botnya dan menyobek ujung jubahnya yang kering.
Dengan satu tangan, Kallias melilitkan sobekan kain itu pada lengannya. Ia menggigit ujung kain untuk menarik ikatannya hingga cukup kuat menahan darah.
Di seberangnya, Liora tersentak pelan.
Sensasi ketatnya tekanan kain langsung menjalar ke lengan kiri Liora.
Perihnya sedikit mereda digantikan tekanan hangat yang sama seperti kain itu juga membalut kulitnya.
Liora menatap lengannya yang kosong. Tidak ada balutan kain apa pun di sana, namun ia merasakan perlakuan Kallias secara nyata.
Sentuhan paksa ini membuat perut Liora mual.
“Kita butuh tempat untuk bersembunyi sebelum pamanku memblokir seluruh akses keluar ibu kota,” ucap Kallias, suaranya sudah kembali mendapatkan ritme otoritasnya.
Kallias bangkit berdiri dan menepis kotoran dari lututnya.
“Ada sebuah kedai di distrik bawah. Pemiliknya seorang perantara informasi bernama Thorne. Dia berhutang nyawa padaku. Kita akan bergerak ke sana.”
Liora mendengus, menahan lengannya yang masih berdenyut nyeri.
“Kau pikir seorang tikus bawah tanah akan menolong buronan besar yang baru saja dituduh membunuh Raja?”
“Thorne tidak peduli pada mahkota,” balas Kallias singkat.
“Dia hanya peduli pada siapa yang bisa memberinya perlindungan dan keuntungan. Aku pastikan, tawaranku masih lebih berharga daripada emas milik pamanku.”
Kallias memutar tubuhnya, berjalan perlahan menuju ujung gorong-gorong.
Liora tidak punya pilihan selain mengikuti dari belakang layaknya bayangan yang dirantai pada orang yang paling ingin ia bunuh.
Dan itu tak henti-hentinya membuat dirinya muak.
Udara malam yang dingin menyapu wajah mereka ketika Kallias mendorong teralis besi di ujung gorong-gorong.
Mereka merangkak keluar, berdiri di sebuah gang sempit dan kumuh di distrik terbawah ibu kota Nordheim.
Tepat saat Liora baru saja menghirup udara yang bebas dari bau darah, sebuah suara berat membelah keheningan malam.
Satu kali dentang.
Suara lonceng utama Istana Nordheim berdentang lambat, rendah, dan sarat akan kematian.
Dua kali dentang.
Langkah Kallias seketika terhenti. Liora menatap punggung sang pangeran yang mematung.
Tiga kali dentang.
Raungan terompet penjaga menyahut dari empat penjuru menara kota.
Suaranya menggema, membangunkan seluruh penduduk ibu kota dari tidur mereka.
Itu adalah Lonceng Kematian. Tanda resmi bahwa Raja telah tiada.
Dalam hitungan detik, suara derap langkah sepatu bot besi dan teriakan komando para prajurit terdengar dari arah istana.
Menyebar ke setiap jalan, setiap gang, dan setiap rumah. Barikade sedang didirikan. Obor-obor dinyalakan.
Lord Vane rupanya mulai menggerakkan seluruh bidak yang dimilikinya.
Liora menatap lonceng raksasa di puncak menara istana yang terlihat di kejauhan, lalu menoleh pada pangeran berambut pirang di sampingnya.
Realitas yang jauh lebih mengerikan dari sekadar kutukan kini menghantamnya. Menghantam mereka berdua.
Mulai malam ini, baik prajurit, pemburu bayaran, dan pembunuh dari Ordonya sendiri menginginkan kepala pria ini.
Dan jika Liora ingin tetap bertahan hidup, sang asasin kini harus memastikan pria itu tidak mati.
Pihak musuh yang sejak awal ingin Liora lihat kehancurannya, kini justru menjadi nyawa yang harus ia lindungi.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!