Bonsai & Kucai

11 dibaca

A

“The Moon, wow” Elen menaikkan sebelah alisnya dengan senyum tipis. “Seperti yang dapat dilihat di sini kalau ada energi buram dari Ibu. The Moon ini melambangkan sebuah kecurigaan, dan sesuatu yang tidak jelas.”

Tika, ibu-ibu yang duduk di depannya memperhatikan dengan kedua telinga terbuka lebar. Tangannya menggenggam terlalu keras botol air mineral yang sudah kosong sampai menimbulkan bunyi khas  plastik.

“Kan! Saya juga sudah tahu dari awal pasti suami saya selingkuh. Emang bajingan ya!”

“Eh, sabar dulu Bu. Kita lihat kartu selanjutnya yang Ibu tarik.” Elen membalikkan kartu yang tertutup di atas meja. “Wow, Seven of Pentacles”

“Tuh kan! Kata saya juga--“

“Belum Bu. Sabar” Elen nyengir kuda sambil mengangkat kartunya canggung tapi penuh penguasaan diri. “Kartu ini cukup menarik ya, dimana melambangkan kalau ada sesuatu yang sudah lama dirawat dan diberikan investasi waktu yang ... bisa dibilang lumayan besar.”

Tika makin berkerut, yang jadi sasaran tangannya bukan lagi botol air mineral tapi kartu Seven of Pentacles yang dipegang Elen juga ikut diambil kasar.

“Coba saya lihat!” Tika memerhatikan kartu tersebut secara seksama dengan wajah semakin kusut dan mulutnya terbuka siap mengomel.

“Bu—“

“Bajingan dia! Sudah lima bulan saya dicuekin bahkan dia gak sentuh saya ternyata karena punya simpanan lain” Tika menurunkan kartunya dengan sentakan ke atas meja. Suara tangis perlahan mulai memenuhi ruangan.

Elen sigap mengambil botol air mineral yang masih tersegel di sebelah rak, kemudian memberikannya kepada Tika setelah segelnya dibuka. “Minum dulu Bu. Saya tahu ini berat, tapi sesi kita masih ada sekitar lima belas menit.”

“Tapi Mbak Elen—sa-saya kecewa–”

“Bu, percaya sama saya. Energi dapat membawa pesan baik, mari kita lihat kartu selanjutnya ya, Bu” Elen mengelus bahu Tika yang duduk di depannya sekilas sebelum akhirnya kembali beralih pada kartu terakhir yang berada di mejanya dalam posisi terbalik.

Elen menarik napas, tangannya mengelus bagian belakang kartu tersebut dengan dramatis sambil diselingi dengan hembusan nafas yang entah kenapa terdengar terlalu berat bagi seseorang yang tidak melakukan aktivitas berat selain membalik kartu, mengocok deck kartu, dan berulang kali membetulkan posisi taplak meja hitam dengan polkadot putih.

Tika masih menangis, air matanya membekas di sekitaran pipi dan hidungnya yang cenderung pendek. Ia menaruh perhatian lagi kepada usapan dramatis Elen di kartu terakhir. Jantungnya berdetak lebih cepat daripada saat ia ikut latihan zumba minggu kemarin.

Elen membalik kartu perlahan, musik instrumental no copyright yang terputar sedari tadi mengiringi rasa penasaran Tika terhadap kartu terakhir. Ia berharap kartu yang melambangkan cinta atau kesetiaan.

Kartu dibalik, Knight of Pentacles.

Tika terdiam, menimbang apakah gambar ksatria yang menunggangi kuda sambil memegang pentacle memiliki arti bagus atau justru sebaliknya. “Itu artinya suami saya sebagai ksatria berkuda yang mencoba melindungi saya, ya?”

“Bukan.” Elen mengangkat kartunya, diam sejenak seperti sedang mengingat sesuatu. “Knight of Pentacles melambangkan suatu ketekunan, ketelitian, dan kedisiplinan dalam mengurus atau merawat sesuatu. Artinya bisa luas, tapi dari energi Ibu yang saya tangkap cukup selaras dengan kartu sebelumnya yaitu Seven of Pentacles.”

Tidak ada tanggapan dari Tika. Dia menatap kosong ke arah kartu, seolah jika ditatap dengan intens dalam jangka waktu tertentu maka kartunya akan berubah. Pias tergambar di wajah Tika dengan jelas, sementara Elen berusaha menahan raut wajahnya tetap netral.

“Bu, Ibu gak apa-apa kan?” Elen memusatkan perhatiannya pada wanita paruh baya yang masih belum mau bereaksi. Satu-satunya gestur tubuh yang diperlihatkan adalah gerakan menggaruk kepala sampai sanggulnya agak keluar jalur.

Elen memutar otak. Ekor matanya menangkap jarum jam sudah bergeser ke angka yang lain, artinya sisa sepuluh menit lagi sampai sesi konsultasi tarot ini berakhir. Tangan Elen terulur mematikan musik instrumental no copyright yang sedari tadi sudah membuat telinganya penging. Lalu Elen mengambil sebuah kotak dan menaruh kotak oranye berukuran sedang dengan aksen hijau itu ke atas meja.

“Ini untuk Ibu, kue wortel. Lihat, wortelnya saya gambar sendiri” Elen menunjuk icing cake bergambar wortel yang berada di tengah-tengah kue wortel itu. Elen mengarahkan kotak kue tersebut lebih dekat ke arah Tika.

“Saya gak suka wortel”

“Hah?” Tangannya menggantung. Elen menatap lurus Tika dengan tatapan apa-yang-baru-saja gue-dengar yang kentara jelas selama sepersekian detik. Elen mengendalikan kontrol wajahnya lagi, kali ini ia tersenyum tipis. “Bu, saya memberikan Ibu kue wortel buatan saya ini bukan tanpa alasan. Tapi saya merasa ada energi yang cukup kuat terkait dengan tumbuhan atau mungkin sayuran, dan konsumsi wortel dapat membantu mempertajam energi tersebut.”

Tika melongo. “Serius? Energi apa?”

“Serius, Bu. Coba Ibu lebih fokus kembali ke alam. Nature sinergy. Nanti Ibu akan diberi petunjuk. Nah, salah satu yang dapat membantu Ibu ya ini—kue wortel saya.”

Raut wajah Tika mulai berubah. Guratan pias hilang, tergantikan dengan gestur matanya yang menyipit penasaran dibarengi badan yang condong ke depan. Ia sekali lagi menundukkan kepalanya, menatap serius kue wortel itu. Dalam hatinya, Tika meyakinkan dirinya sendiri kalau wortel walaupun tidak enak tapi ada khasiat baik. Lagipula wujud kue wortel di kotak oranye ini tampak seperti terlalu niat untuk berada di tempat konsultasi tarot.

“Ini … bayar?” Tanya Tika.

“Sebetulnya ini limited stock Bu, dan harga normalnya cuma delapan puluh ribu aja sudah dibuat dengan bahan premium. Tapi karena saya sejujurnya mau mendukung Ibu buat lebih semangat, harganya saya kasih lima puluh ribu aja.”

“Serius, Mbak Elen?”

Elen mengangguk mantap.

Tika mengulurkan tangan, menyentuh kemasan dengan perlahan dan mencoba meneliti kue tersebut lebih dekat. Baunya enak. “Kalau saya mau dua—ada?”

“Oh, tentu Bu! Saya ada jenis makanan manis berbasis wortel lain. Ada cookies, puding, donat, sampai mochi pun ada. Tapi kalau Ibu mau kue wortel yang sama bisa saya ambilkan.” Elen dengan langkah percaya diri menghampiri rak di sisi lain ruangan. Sengaja dibuat untuk memajang produk makanan yang ia jual agar terlihat oleh klien  saat datang konsultasi.

Elen kembali dengan sekotak kue wortel di tangannya. Ia menyerahkannya kepada Tika, lalu kembali ke tempat duduk. “Kalorinya rendah, jadi cocok untuk diet maupun untuk anak karena kandungan gulanya menggunakan gula stevia.”

“Tapi betulan kalau saya rajin makan wortel, energi saya akan lebih tajam dan bisa diberi petunjuk?” Tika masih ragu. Sayangnya bukan tipe yang mudah teralihkan.

The card said it. Saya hanya menyampaikan apa yang seharusnya sampai ke Ibu, ini pesan semesta dan saya hanya media. Cobalah untuk melihat gambaran yang lebih luas Bu karena dunia bekerja lebih sunyi dari yang kita bisa bayangkan.”

“Baik. Saya ambil dua,” Tika menganggukan kepala yakin. Ia menumpuk kedua kotak kue tersebut dan secara tersirat meminta Elen untuk membungkusnya untuk dibawa pulang.

“Terima kasih ya Mbak Elen. Saya harap saya bisa segera mendapat petunjuk dari semesta”

Elen mengangguk dengan senyum menenangkan. Tangannya terulur ke laci meja yang terdapat plastik dengan sablon bergambar wortel di depannya, lengkap dengan informasi untuk pemesanan produk dan tagline Eat Carrot For a Better Life yang terpampang jelas.

“Jangan khawatir Bu, mungkin semesta tidak akan selalu memberikan petunjuk yang jelas, tapi pasti jalannya akan dimudahkan untuk mereka yang mendekat ke nature sinergy.” Elen menyerahkan dua kotak kue wortel yang sudah dibungkus rapi.


Nature sinergy, tai kucing.”

Senyum profesional Elen luntur tepat ketika Tika sudah betulan pergi. Tubuh Elen roboh  pada sofa yang warnanya sudah pucat di sebagian sisi, kemudian ia melepas anting yang hanya dipasang di telinga sebelah kanan. Ibu-ibu tadi—Tika, sudah setidaknya mengambil separuh dari semangat hidup Elen untuk hari ini. Elen membuka catatan di ponselnya yang berjudul Tika Hermiwa—nama lengkap dari pelanggannya tadi. Jemari Elen bergulir memberi catatan baru di sana.

Tika Hermiwa
Status: finished 
Payment: ceklis. (kembali lima ribu) 
Carrot product: 2 
Follow up potential: medium. emak-emak rare

Elen menggeser lagi layar ke bawah. Masih ada sederet catatan yang belum dihapus. Beberapa diantaranya diberi simbol ceklis, yang lain digarisbawahi atau dicetak miring.

Nama suami: Arman Hermiwa 
Insta: arman.00
facebook: arman.tika.00
Rutin keluar Sabtu-Minggu. Berangkat pagi, pulang cenderung larut. Akun Facebooknya lebih aktif daripada Instagram. Suka wortel (kelihatan di postingan nya). Kedapatan mengikuti beberapa akun tanaman yang namanya lebih serius daripada judul report gue. 

Kemudian Elen berhenti di baris kalimat paling bawah yang seluruh tulisannya kapital, dicetak miring, digarisbawahi, dan ditandai dengan warna hijau pekat. Informasi paling krusial yang Elen temukan di jam tiga pagi setelah bolak-balik mengganti akunnya menjadi anonim dan ikut terlibat percakapan dengan bapak-bapak lain di grup Facebook.

Ikatan Bonsai Kucai Nusantara Angkatan III

Sudut bibir Elen bergetar. Ia memijat pangkal hidungnya.

Semalaman. Elen butuh semalaman untuk menemukan sumber keresahan dari seorang istri yang curiga karena suaminya sibuk di luar dan tidak pernah sesering dulu berada di rumah.

Riwayat pesan dengan Tika dibuka, ia membaca ulang kiriman pesan sehari sebelum konsultasi tarot tatap muka. Isinya penuh kecurigaan, beserta tangkapan layar wilayah dari google maps yang katanya bukti perselingkuhan, dia sering ke sini—disertai emoji wajah dengan sebiji keringat di samping mata.

Ponsel Elen dibiarkan tergeletak di atas sofa, sedangkan pemiliknya memejamkan mata—usaha untuk melupakan nama komunitas bonsai dan kucai yang ia temui di Facebook. Arman bergabung di dalamnya. Dia memiliki kedekatan emosional yang tidak wajar dengan kedua tumbuhan itu.

Elen tidak menghakimi karena ia berkaca kepada dirinya sendiri. “Gue suka wortel sebagaimana orang-orang suka coklat. Normal kan?” Itu rapalan mantra yang berkali-kali Elen sebutkan jika ada yang mempertanyakan kesukaannya terhadap wortel.

Jadi, sedikit banyaknya Elen paham perasaan suami dari Tika Hermiwa. Tika salah paham. Suaminya bukan selingkuh, dia hanya ingin menjalani apa yang ia sukai tanpa dihakimi.

Masalahnya, mengatakan—Suami Ibu gak selingkuh. Dia cuma ikut Ikatan Bonsai Kucai Nusantara Angkatan III— bukanlah jenis informasi yang seharusnya bisa keluar dari tiga kartu tarot. Ya, kecuali ada kartu tarot yang gambarnya spesifik bonsai dan kucai.

Jadi, Elen memilih versi penjelasan yang lebih aman. Kalimat yang general seperti; sesuatu yang dirawat, investasi waktu, ketekunan. Dan sisanya Elen berterima kasih kepada Tika sendiri yang menginterpretasikan semuanya secara mandiri.

Setidaknya, waktu tidur Elen dibayar tuntas oleh dua kotak kue wortelnya yang terjual.

Sesuai klaim, ini harus selesai

Janji banget aku Kak🥲

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk