Rezeki Gak Kemana, Tapi Kadang Nyasar

2 dibaca

A

Aroma sangit yang familiar membuat Elen mengangkat pandangan dari laptopnya. Mata Elen memandang awas, memperhatikan setiap kabel dan barang elektronik yang ada di sekitarnya—curiga ada kabel yang gosong terbakar.

Saat bau itu semakin tajam, Elen akhirnya sadar kalau ia baru saja meninggalkan brownies wortelnya sepuluh menit lebih lama dari yang seharusnya. Ia buru-buru menghempaskan keripik kentang di pangkuan, kemudian berlari tergesa ke dapur sambil merapalkan gerutuan kecil.

“Gue—bodoh” gumam Elen di depan satu loyang brownies yang sudah dikeluarkan dari oven. Ia menatap nanar, bibirnya melengkung ke bawah sedikit.

Habis sudah. Satu loyang brownies wortel yang gosong sama dengan menghanguskan total tujuh puluh lima ribu sebagai uang modal. Elen menghela napas panjang, dengan berat hati ia memisahkan brownies tersebut ke dalam wadah, tidak dibuang.

Elen menghukum dirinya sendiri dengan menghabiskan satu loyang brownies wortelnya agar tidak mubazir. Setidaknya kenyang, walau lidahnya pasti protes besar-besaran.

Setelah membereskan dapur, Elen kembali duduk di depan laptopnya. Keripik kentang sudah tidak menarik lagi untuk dimakan, bahkan saus mustard di atasnya untuk cocolan keripik juga sudah tidak dapat membuat Elen tergugah. Elen berdecak pelan, lalu meminum segelas air dingin untuk membuat dirinya kembali fokus ke pekerjaan.

Lengan bajunya ia gulung hingga ke siku, setelah itu Elen mengikat ulang rambut sebahu yang tadi sempat ia acak karena frustasi. “Gue gak akan mengulangi hal yang sama. Elen lima menit lalu bukanlah Elen yang sekarang.” ia menatap lurus ke layar laptop.

Nina Yulistiana, sarjana Psikologi.

Itu yang Elen lihat pertama di profil Linkedin-nya. Semakin Elen menelusuri laman itu sampai ke bawah, Elen tahu bahwa kliennya yang kali ini bukan orang yang mudah untuk percaya dengan tipu daya kartu tarot.

Dia psikologi, ahlinya membaca manusia. Tesis akhir yang dia tulis juga terdengar rumit dan panjang—Hubungan Bias Kognitif dan Intuisi dengan Pengambilan Keputusan pada Dewasa Awal berdasarkan Dual-Process Theory. Selain itu, Nina baru lulus tahun ini dengan gelar cum laude dan dia memiliki pengalaman satu tahun sebagai Human Resources di salah satu perusahaan berkembang.

Elen menatap foto profil Nina lebih lekat kali ini, disusul oleh tawa kecilnya yang terdengar sumbang. Elen sudah lama menunggu saat-saat seperti ini, waktu yang sepertinya Tuhan berikan untuk mengetes sejauh mana batas kemampuan ‘tiga A plus satu O’ yang sudah lama jadi pegangan  Elen. Analyst, Acting, Adapt, dan Observe.

Yang jelas kemampuan ini sudah Elen pakai selama dua tahun, di depan klien dengan latar belakang yang berbeda. Dari yang paling normal yaitu karyawan negeri maupun swasta yang biasanya penghasilannya sudah stabil, tapi belum besar—kemudian mulai beragam; koki, Ibu rumah tangga, pejabat, tukang AC, sampai pengangguran pun pernah menjadi klien Elen.

Dan sekarang, sampailah Elen kepada tantangan baru—yang kalau berhasil, menambah satu tingkat kepercayaan diri Elen. Lulusan psikologi dengan gelar yang mampu membuat lutut tukang tarot palsu manapun bergetar. Elen tergelitik, ia menelusuri akun sosial medianya yang lain untuk menambah informasi yang mungkin berguna.

Dari postingan playlist lagu yang Nina bagikan di Instagram, Elen mengetahui akun Spotify gadis tersebut. Ia menyelami salah satu playlist Nina yang diatur untuk publik, nama playlist itu membuat Elen menipiskan bibir, menahan tawa agar tidak keluar. Elen melihat kumpulan lagu-lagu yang didominasi oleh musik Indonesia di sana.

Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya - Hindia 
Evaluasi - Hindia 
Kepala, Pundak, Kerja Lagi - Sal Priadi 
PHK - Iwan Fals

Dan satu lagu yang Elen tidak tahu mengapa ada di sana.

Tunak Tunak Tun - Daler Mehndi

Elen mengangguk paham sambil melakukan pemindaian kasar terhadap lagu pilihan Nina di daftar putar. Setelah itu, Elen menutup tab tersebut dan mulai menulis catatan kecil di ponselnya seperti yang biasa ia lakukan. Selesai dengan Spotify, Elen memutuskan untuk menelusuri daftar pengikut di Instagram Nina.

Mayoritas di antaranya tidak ada yang menarik, hanya teman, teman, dan teman lain.

Sampai jari Elen berhenti bergulir dan menemukan satu akun dengan nama Ricebowlku. Yang lebih dari cukup untuk membuat Elen puas. Ia menekan akun tersebut, bisa disimpulkan itu adalah akun jualan dengan produk rice bowl yang di beberapa postingannya, Nina muncul sebagai owner yang sedang mengulas produknya sendiri.

Oke, Elen sudah menemukan benang merahnya.

Lulusan psikologi, sempat menjadi HR dari perusahaan selama satu tahun, kemudian beralih ke bisnis makanan. Bukan siklus yang asing bagi Elen, karena begitulah dia juga bisa berakhir jadi peramal tarot palsu—yang sialnya, menghasilkan pundi-pundi rupiah lebih besar.

Tapi—ada satu hal yang janggal.

Elen mengetuk-ngetuk jarinya di atas keyboard, ia memangku dagu dengan satu tangan dan tatapan yang masih mengarah lurus ke layar laptop. Meski bisa diakui matanya mulai lelah karena sudah lebih dari tiga jam ia berdiam di sana—dan tambahan dua jam karena Elen menyempatkan diri untuk menonton serial dokumenter yang baru diupload di Netflix.

S1 Psikologi Cum Laude
Tesis: Hubungan Bias Kognitif dan Intuisi dengan Pengambilan Keputusan pada Dewasa Awal berdasarkan Dual-Process Theory. 
(Gue gak paham-paham banget, tapi gue tahu gue akan muntah setelah baca ini tujuh belas halaman) 
Pengalaman kerja: Perusahaan berkembang multinasional setahun 

Elen menyisir lagi catatan yang sudah ia tulis di ponsel satu persatu. Sampai akhirnya Elen tahu bagian mana yang sebenarnya paling mengusik buat dia.

Fakta bahwa Nina adalah seorang lulusan psikologi dengan tesis lima belas kata—yang mengkaji kenapa manusia kadang lebih percaya dengan isi kepala daripada bukti nyata, berhasil membuat Elen mengernyit. Lipatan dahinya lebih banyak dibanding dua detik yang lalu.

Nina seharusnya adalah orang yang paling paham kalau ramalan bukan alat psikologis anti-scam untuk memprediksi masa depan. Tapi nyatanya dia ke sini, booking konsultasi ramalan tarot. Jadi sekarang pertanyaan Elen tinggal satu: kenapa dia tetap datang?


“Aku sebenarnya udah gak tau lagi harus gimana. Bisnis Ricebowlku rasanya gak ada peningkatan, modal yang aku taruh di sini cuma kaya bakar uang.” Nina memainkan ujung taplak meja polkadot, suaranya stabil namun tersirat rasa lelah dan kecewa di dalamnya.

Elen memperhatikan dengan seksama sambil mengocok deck kartu. Sesekali ia memberikan anggukan sebagai gestur kalau ia paham dengan kesulitan yang dialami Nina. “Sudah berapa lama Kak?”

“Tiga bulan”

“Dan selama tiga bulan ada peningkatan?”

Nina menggeleng pelan, kepalanya bukan lagi mengarah ke taplak meja tapi menatap Elen yang masih mengocok kartu. “Kalau ada peningkatan aku gak kesini Kak, lagi sibuk masak sama packing orderan di rumah.”

Elen merapatkan bibirnya. Lebih dari sekedar paham dengan masalah yang dialami Nina karena dia pernah ada diposisi yang sama. Dalam hatinya, Elen terkekeh pelan, bukan karena lucu tapi lebih ironis. Kemudian Elen menghela napas pendek sebelum akhirnya meletakkan tiga kartu di atas meja dalam posisi terbuka.

Seven of Pentacles. Two of Swords. The Hanged Man.

Nina mencondongkan badan, mulutnya terbuka sedikit. “Artinya apa Kak?”

Elen menatap kartu pertama yang keluar, Seven of Pentacles. Ia terdiam sebentar, mengolah kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya dengan wajah serius. “Kamu sudah menanam sesuatu cukup lama tapi belum ada hasilnya. Buahnya belum bisa dipanen.” kata Elen dengan intonasi rendah.

“Lalu kartu Two of Swords disini melambangkan posisi dimana kamu sedang bingung mengambil keputusan. Entah harus berhenti, mengganti strategi, atau justru tetap menjalaninya seperti keputusan awal” lanjut Elen.

Nina tertegun. Dua kartu yang dijabarkan sangat sesuai dengan kondisinya saat ini, terutama pada kartu kedua—dia memang sedang bingung apakah harus berhenti atau menggulung bisnis makanan nya ini. “Kalau orang yang digantung terbalik ini artinya apa?” Nina menunjuk salah satu kartu di sisi kanan. Kartu terakhir.

“Ini nama kartunya The Hanged Man Kak, kartu ini biasanya muncul ketika seseorang terlalu lama memaksakan dirinya melihat sesuatu dari cara yang sama. Energi yang diambil stagnasi, atau keadaan yang tidak bergerak.”

Nina terdiam, bingung ingin bereaksi seperti apa. Elen juga ikut diam karena dia ingin memberikan waktu kepada Nina untuk mencerna semuanya.

Setidaknya lima menit, sampai Elen bisa melihat apakah Nina masuk ke perangkap atau tidak. Sisanya Elen hanya sedang menunggu Nina melakukan bagiannya dengan mudah, yaitu: bercerita sendiri.

“Menurut kamu—” akhirnya Nina bertanya, “aku harus berhenti gak Kak?”

Elen menatap dengan seksama, “Tarotnya gak bilang kamu harus berhenti. Mau gimanapun keputusannya ada ditangan kamu” Elen mengambil jeda, “tapi kartu ini juga gak bilang kamu harus terus jalan, apalagi kamu gak tahu jalan yang kamu ambil jalan buntu atau bukan.”

“Kalau aku berhenti…” Nina memangku dagunya, “uang yang aku keluarkan selama ini gimana ya?”

“Kamu masih ada uang untuk survive kalau bisnisnya berhenti, kan?”

Nina nyengir kuda, “Tadinya ada—sebelum aku pakai buat tarot”

Elen membeku, tangannya yang tadi mengocok deck kartu seketika terhenti. “Tarot … tarot aku? Yang ini?” Elen menatap Nina lamat yang menjawabnya dengan anggukan polos.  Kedipan mata Elen melambat sepersekian detik, dia memberikan senyum terbaiknya.

“Oh, iya masuk akal sih,” Elen ikut nyengir kuda sampai matanya menyipit. “Aku kalau ada di posisi kamu juga pasti akan pakai sisa uang buat konsultasi tarot.” urat-urat tipis di sekitar rahangnya agak tegang.

Nina menegakkan punggung. “Ya kan! Temanku malah bilang kalau ini bad decision padahal aku cuma mau penilaian yang objektif dari orang luar.” Cerocos Nina panjang sampai sesekali air liurnya muncrat ke luar. Untungnya jarak antara Nina dan Elen cukup jauh.

It’s not a bad decision. It’s a stupid decision. Kata Elen, hanya berani dalam hati.

Dua puluh menit kemudian Nina sudah berdiri di depan pintu, kartu nama Elen di tangan kanan dan tas coklat di tangan kiri. Nina memberikan pelukan singkat sambil mengucapkan terima kasih kepada Elen, yang juga dibalas hangat oleh Elen.

Pintu tertutup, aroma parfum berry vanilla juga ikut menipis seiring dengan pemiliknya yang sudah pergi. Elen menghembuskan napas panjang, sambil duduk di karpet bulu, tangannya naik melepas anting dengan bandul keunguan yang sejak tadi terasa berat.

“Lulusan psikologi,” anting sebelah kanan itu Elen taruh di atas meja. “Tesisnya tentang bias kognitif yang judulnya aja gak bisa gue hafal dalam sekali duduk.”

Anting sebelah lagi menyusul, “terus atas dasar apa dia bayar gue pakai uang terakhirnya hanya untuk konsultasi tarot?” Elen berdecak kecil sambil menggeleng tidak percaya. “She’s either stupid atau emang gak miskin-miskin amat.”

“Emang salah gue sempat simpati di awal-awal.”

Elen mengusap sisa lipstik di bibirnya dengan kapas, warnanya luntur sedikit demi sedikit, meninggalkan garis merah muda di permukaan kapas. “Besok-besok kalau ada yang bilang lagi bokek, gue suruh pulang.”

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk