Tidak bermaksud sombong, tapi Elen bukanlah pemula dalam mencari informasi tentang seseorang. Biasanya Elen mengulik akun sosial media, akun teman-teman terdekatnya, sampai unggahan lama yang bahkan pemiliknya sendiri mungkin sudah lupa pernah dibuat. Semua itu dilakukan satu hari sebelum klien Elen datang dan duduk di ruang konsultasi tarot.
Sayangnya, kali ini kemampuan stalking Elen diuji. Setelah bergulir di akun sosial media kliennya selama dua jam, Elen mendapatkan nol informasi. Nihil. Akun Instagramnya terkunci, Facebook, TikTok, bahkan LinkedIn-nya tidak memberikan informasi apa pun selain nama panggilan lelaki itu—Evan.
Tiga gelas kopi hitam, sebungkus siomay, serta roti dua ribuan yang Elen beli di warung, sama sekali tidak membantu matanya untuk tetap terbuka lebar. Tanda-tanda kelelahan sudah nampak jelas di raut wajah Elen, matanya perih, lengkap dengan rambutnya yang sudah tidak beraturan.
Elen mengucek kedua matanya sebelum kembali menatap layar laptop. Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam, wanita itu belum menyerah, sekali lagi Elen membuka akun Instagram Evan, berharap akun yang tadinya terkunci tiba-tiba berubah menjadi publik.
Percuma, tetap terkunci.
“Ya Tuhan … lo sebenarnya manusia apa bukan sih?”
Elen menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi, pangkal hidungnya ia pijat pelan guna meredakan pusing. Lalu Elen menatap layar laptop sepersekian detik, sebelum akhirnya memutuskan untuk menghentikan kegiatan stalking.
Elen beranjak dari kursi, tidak mau ambil pusing untuk konsultasi tarotnya dengan Evan besok. Elen lebih percaya pengalaman dua tahunnya sebagai peramal tarot palsu cukup untuk menghadapi satu klien baru.
Sudah lebih dari lima kali Evan mendengar nama perempuan asing disebut-sebut oleh adik perempuannya di dalam rumah. Elen, Mona Elen, Molen—panggilannya begitu beragam sampai Evan ragu itu nama orang sungguhan.
Evan tidak peduli, sungguh, walau telinganya sedikit panas karena adiknya tak henti membicarakan Mona Elen bahkan saat makan malam bersama. Sampai suatu malam, Evan mendengar sendiri harga yang dibayar Jihan untuk berkonsultasi dengan Mona Elen.
“Dua ratus ribu?”
Jihan mengangguk santai, nasi dengan siraman kuah gulai kepala ikan masuk ke mulutnya.
Raut muram Evan tidak bisa disembunyikan. “Ngapain?”
“Tarot. Abang tahu juga kan dari Bunda?” jawab Jihan tenang. Ia sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Evan.
“Ngapain kamu ke pembaca tarot seharga dua ratus ribu untuk satu kali konsultasi?” tanya Evan datar. Pandangannya jatuh kepada Jihan yang masih makan tanpa rasa bersalah. “Sementara kamu masih minta uang dari Bunda buat hangout tiap weekend.”
Jihan mulai terusik, “Bunda juga bolehin kok. Lagipula, dua ratus ribu itu untuk dua kali sesi konsultasi!” tangannya tidak lagi memegang sendok dengan santai.
“Dan kamu masih minta uang ke Bunda tiap weekend.”
“Bunda yang kasih, aku gak minta” Jihan semakin merengut, bibirnya sudah maju dua senti ke depan dari yang seharusnya.
“Terus manfaatnya apa pergi ke peramal tarot itu? Dua ratus ribu itu dapat apa, Jihan?”
“Abang—” air mata Jihan keburu meleber. Kelemahan gadis itu adalah ditegur Evan, bahkan jika yang menegur Bunda, Jihan masih sanggup menyahuti satu atau dua kalimat.
Evan menghela napas, “cengeng.”
Jihan tidak membalas, ia senantiasa memberikan tatapan permusuhan kepada Evan yang duduk di depannya.
“Abang tanya karena kamu gak bijak menggunakan uang, Jihan. Coba hitung berapa kali bulan ini kamu minta uang tambahan ke Bunda?” Ucap Evan, kali ini nadanya lebih tenang karena ia tidak mau Jihan semakin merengek seperti bocah berumur sepuluh tahun.
“Tapi, kan—kata Bunda boleh—”
“Ya, makanya Abang yang ingetin kamu”
“Tapi, gak gitu! Aku juga nabung buat konsultasi tarot ke Kak Elen. Aku gak minta Bunda”
“Justru itu, kamu nabung tapi uangnya dipakai buat yang gak berguna.” Evan mendengus tidak habis pikir dengan pemikiran anak remaja jaman sekarang. Keras kepala, tidak rasional, dan tindakan-tindakan yang diambil sangat impulsif.
“Lagian ini salah Abang juga. Coba aja Abang mau ramalin aku pakai tarot, pasti aku gak akan datang ke peramal tarot lain!”
Begitulah, pada akhirnya Evan lagi yang disalahkan. Dua ratus ribu bukanlah uang yang sedikit, keluarga mereka memang bisa dibilang berkecukupan, tapi jika Jihan masih bersikeras untuk datang ke konsultasi tarot rutin selama dua bulan, itu berarti ada yang tidak beres.
Evan masih ingat dua minggu terakhir ini Jihan mengeluh kalau tabungannya sedang kering kerontang. Namun, di sisi lain Jihan justru dengan santainya menghadiri sesi konsultasi tarot seharga dua ratus ribu?
Tidak masuk akal.
Ini bisa terjadi karena dua kemungkinan; Jihan yang obsesinya dengan tarot mulai tidak sehat, atau perempuan bernama Mona Elen itu tahu betul bagaimana membuat Jihan tetap datang tiap minggu.
Karena itulah Evan berakhir di Jalan Merdeka Raya, Blok B-12 No.7—tepat di depan sebuah rumah yang pohon mangga di halamannya sudah mulai berbuah.
Rumah si peramal tarot, Mona Elen. Yang rutin didatangi adiknya selama dua bulan. Evan mengecek lagi titik koordinat melalui ponselnya, jaga-jaga supaya tidak salah alamat.
Perhatian Evan jatuh pada kotak surat berwarna hijau di depan rumah itu. Nomor rumah dan nama Mona Elen terukir di permukaannya. Seharusnya, Evan sudah berada di jalan yang benar.
Ya, kecuali kalau informasi pada kotak surat itu ditujukan untuk mengecoh siapa pun yang datang.
Evan memasukkan ponselnya ke dalam saku, ia memutuskan untuk melipir sejenak ke warung kopi yang tidak jauh dari sana. Evan datang dua puluh menit lebih awal, dan untungnya sempat melewati warung itu saat perjalanan tadi.
Kaki panjang Evan langsung menuju meja kosong di pojok ruangan, setelah beberapa menit akhirnya makanan yang dia pesan datang. Seraya menikmati hidangannya, Evan membuka kembali riwayat pesan dengan Mona Elen beberapa hari lalu, hari dimana ia memutuskan untuk memesan jadwal konsultasi tarot.
Tampak normal, selayaknya orang pada umumnya. Kemudian Evan beralih ke catatan di ponsel, terlihat baris informasi yang sudah Evan kumpulkan dari jauh-jauh hari untuk melakukan background checking. Akun Instagram, TikTok, Facebook, LinkedIn, dan bahkan akun Jobstreet milik Mona Elen berhasil Evan temukan.
Sayangnya, tidak ada satu pun informasi yang Evan dapatkan bisa mendukung kecurigaannya. Tidak ada komentar buruk di akun TikTok-nya, bahkan di kolom komentar Instagram Elen, kebanyakan berisi aspirasi tentang mereka yang belum mendapatkan jadwal konsultasi bersama Elen. Semuanya tampak biasa saja, Mona Elen seperti peramal tarot yang menjanjikan.
Sisa sepuluh menit lagi. Evan beranjak, membayar makanan yang ia pesan, kemudian berjalan meninggalkan warung kopi.
Entah kenapa Evan merasakan sepatu yang ia pakai sedikit lebih sempit daripada tadi pagi. Ia menghembuskan napas, bukan sesuatu yang asing baginya. Evan tahu ada sesuatu yang menunggunya di tempat konsultasi tarot Mona Elen.














Elu berdua mending gabung buka consultant detective kek sherlock dan John 😂 mau ngeramal tarot atau jadi detektif? Kenceng amat stalkingnye lebih2in bareskrim 😂😂
Elen sama Evan pas konsul nanti jadi kaya perang psikologi🤣 makasih banget udah mampir, aku follow akunmu ya Kak😋🥕🥕