Tarot bukan hal yang asing lagi bagi Jihan. Ia tumbuh di keluarga yang sudah akrab dengan kartu-kartu itu, terutama sejak Oma Seya masih sering membacakannya untuk orang-orang terdekat. Setiap Jihan meminta untuk dibacakan kartu tarot kepada Oma Seya, wanita tua itu hanya akan tersenyum sambil mengatakan kalau Jihan masih terlalu kecil untuk diramal oleh tarot.
Jihan yang saat itu masih duduk di sekolah dasar, tidak bisa protes karena Jihan percaya kalau semua hal pasti ada waktunya. Gadis itu menunggu dengan sabar, tapi waktu berlalu begitu cepat sampai Oma Seya, nenek kesayangannya meninggal dunia.
Mimpi Jihan untuk dibacakan tarot hampir pupus pada awalnya, tapi seakan diberikan harapan kembali, Jihan mengetahui kalau ternyata abangnya, Evan, menuruni kemampuan meramal tarot dari Oma Seya.
Tidak ada hari-hari tenang bagi Evan tanpa Jihan yang merengek untuk dibacakan tarot. Sampai akhirnya Evan memberikan ultimatum kalau sampai kapanpun dia tidak akan pernah meramal Jihan menggunakan tarot.
Itulah mengapa Jihan ada di sini. Di ruangan berukuran empat kali lima meter dengan cat yang didominasi warna putih dan aksen hijau di beberapa sisi. Setiap Jihan datang berkunjung, lemari pendingin yang berisi produk berbasis wortel itu tidak pernah kosong, memanggil-manggil Jihan untuk memakan salah satu puding wortel di dalam sana.
Di dindingnya terdapat rak menempel dengan buku-buku tersusun rapi. Kebanyakan judulnya Jihan tidak tahu, hanya buku Laut Bercerita saja yang familiar untuknya. Pandangan Jihan menyisir ruangan kemudian mata teduhnya jatuh kepada tiga kartu tarot yang diletakkan terbalik di atas meja.
“Mau dimulai?” Suara yang mengayun lembut itu memecah fokus Jihan pada tiga kartu tarot di atas meja.
“Aku mau sambil makan puding wortel boleh gak, Kak?” Jihan nyengir kuda. Setelah anggukan diberikan oleh pemiliknya, Jihan bergegas mengambil sekotak puding wortel yang terdapat fla susu di bagian atas.
Jihan kembali duduk, dia menyendokkan sesuap puding itu kemudian mengangguk. “Aku siap, ayo mulai Kak!”
Wanita berambut sebahu di depan Jihan terkikik geli, lesung pipinya tercetak jelas. “Kita mulai dari kartu paling kanan dulu ya”
Jihan mengangguk tanpa protes.
Kartunya dibalik. Knight of Wands.
“Aku melihat sosok cowok yang spontan dan suka mendekati kamu dengan manis, tapi—”
Dering telepon memotong perkataan Elen.
Mungkin aku sedang tak bisa…
Tak bisa jatuh cinta—
Jihan mengangkat panggilan di ponselnya, otomatis lagu Teh Hijau yang dipasang sebagai nada dering terhenti.
“Hehe… abang aku telepon, tunggu ya Kak” Jihan tersenyum masam, ia mengernyit kemudian kembali menempelkan ponsel ke telinganya.
“Apa sih, Abang? Aku lagi ada urusan”
“Kenapa gak ngomong ke Bunda?”
Elen samar-samar mendengar percakapan Jihan dan Kakak laki-lakinya. Ia pura-pura tidak menguping, walau usahanya sia-sia karena suaranya masih bisa Elen tangkap.
“Bunda juga udah tahu kok, kan setiap Rabu aku ke sini.” Alis Jihan mengerut, bibirnya mengerucut.
“Jihan, lupa sama yang Abang bilang? Bunda memang gak ngelarang, tapi Abang—”
“Udah lah, lagipula aku gak pakai uang Abang buat datang ke sini. Bunda juga suka sama kue wortel yang aku bawa”
“Jihan—”
“—Bye! Jangan telepon lagi atau aku blok.” Jihan mematikan ponselnya, tidak lupa mengatur ponselnya ke mode pesawat. “Udah Kak, ayo mulai lagi.”
Elen menggelengkan kepalanya tipis, “Knight of Wands. Dia punya ketertarikan sama kamu, Jihan. Tapi dia orangnya impulsif. Kadang dia mengikuti perasaannya, kadang dia sendiri nggak tahu apa yang sebenarnya dia mau.”
Jihan mendengarkan dengan khidmat. “Jadi, dia suka aku juga kan Kak?”
“Well, masih ada dua kartu lagi. Gimana kalau kita lihat yang lain dulu?”
Jihan mengangguk antusias.
Elen membuka dua kartu lainnya dengan perlahan, ia menangkap gurat penasaran dari wajah Jihan. “Oke, The Moon dan—” Elen membuka kartu terakhir. “—Page of Cups.”
“Apa tuh Kak artinya?”
“The Moon berarti dia memang memiliki ketertarikan sama kamu, tapi dia belum tau perasaannya betulan suka atau cuma sekelebat saja”
Jihan mengatupkan bibirnya.
“Kalau Page of Cups melambangkan perasaan yang baru tumbuh. Ada ketertarikan dan ada keinginan untuk mendekat”
“Jadi dia suka sama aku gak sih?” seru Jihan. Dia memakan lagi sesendok puding wortel untuk meredakan rasa frustasinya.
Elen terkekeh, “sayangnya tarot gak kasih kamu jawaban seperti itu. Lagipula kalau emang dia suka sama kamu, terus kamu mau apa?”
“Ya—aku jadi gak bingung aja Kak” suara Jihan melambat di akhir kalimat. Ia memangku dagunya lengkap dengan raut wajah yang tidak bersemangat seperti awal.
Elen sebetulnya paham kalau Jihan hanya memerlukan validasi untuk perasaannya, karena bagaimanapun juga orang yang datang dengan urusan percintaan seperti ini mau tidak mau harus diberi sedikit harapan.
Elen menyusun tiga kartu itu kembali ke dalam deck, ia memberikan waktu untuk Jihan bereaksi. Entah gadis remaja ini ingin menangis, marah, atau membanting meja tarot—tugas Elen hanyalah memastikan kalau setelah Jihan pulang dari tempat ini, dia akan kembali lagi di minggu depan.
“Kak,” Jihan menyendok suapan terakhir dari puding wortel di tangannya. “Menurut Kakak, selanjutnya aku harus ngapain?”
“Menurut aku gak harus ngapa-ngapain. Kalau memang kalian ditakdirkan bersama, pasti jalannya akan mengarah ke sana”
Jihan manut, ia mengamini perkataan Elen yang dia pikir masuk akal. “Kamu jago banget Kak, solutif dan membantu buat aku” Jihan nyengir kuda.
Elen menyipitkan matanya sambil tersenyum netral. Jihan ternyata memang betulan menganggap Elen seperti jin yang keluar dari lampu ajaib dan bisa mengabulkan semua permintaannya.
Elen bingung harus merasa tersanjung atau kasihan.
“Minggu depan aku mau ke sini lagi ya Kak. Bulan ini jujur aku merasa capek dan stres, makanya aku mau ngobrol sama Kakak lagi.” Senyum Jihan menguar, ia menatap Elen dengan sesuatu yang membuat Elen sedikit terusik.
“Selagi kamu bayar, pintu akan selalu terbuka lebar” gurauan Elen ditanggapi dengan tawa kecil yang pecah dari Jihan.
“Aku cabut ya Kak. Abang aku udah ribut nih, nyuruh aku balik” Jihan beranjak dari tempat duduknya, ia mengotak-atik ponselnya dengan wajah kentara sebal.
Elen ikut berdiri, mengantar Jihan sampai ke pintu keluar. Sebelum Jihan benar-benar meninggalkan rumah itu, ia menyempatkan diri untuk memberikan pelukan yang dibalas hangat oleh Elen.
Jihan sudah pergi. Senyum cerianya terpahat di ingatan Elen seperti cicilan kulkas yang baru Elen lunasi dua minggu lalu. Elen merebahkan dirinya di sofa, enggan melepas anting atau membersihkan polesan make-up yang melekat di wajahnya.
Kepala Elen masih berputar di sesi konsultasi tarot bersama Jihan tadi. Jujur saja, kalau Elen berada di posisi Jihan, sepertinya ia akan lebih memilih untuk booking konsultasi dengan psikolog daripada seorang peramal tarot.
Tapi Jihan bukan Elen. Dan selama gadis itu masih percaya padanya, Elen tidak punya alasan untuk menghentikan pekerjaannya.
Ia merogoh saku roknya, menghitung uang hasil konsultasi hari ini, lalu tersenyum tipis. Setidaknya, masalah orang lain masih bisa membayar deretan tagihan miliknya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!