Bab 1 Desa Clowfitch

4 dibaca

A

Pagi itu belum menyentuh tepi langit dengan cahayanya. Gelap masih membentang luas dari ujung timur hingga barat, membungkus seluruh desa Clowfitch dengan kesunyian yang hanya bisa dipecahkan oleh kokok ayam jantan yang bersahutan dari satu pekarangan ke pekarangan lainnya. Udara dingin merayap perlahan-lahan di antara dedaunan basah, menyisip masuk ke celah-celah dinding kayu rumah-rumah penduduk yang berdiri sederhana di sepanjang jalan tanah desa itu. Embun menetes pelan dari ujung-ujung daun pisang yang tumbuh rimbun di halaman-halaman rumah, jatuh ke atas tanah yang lembap dan menimbulkan bunyi halus yang nyaris tak terdengar oleh telinga manusia.

Desa Clowfitch bukanlah desa yang besar. Letaknya tersembunyi di balik perbukitan hijau yang menjulang tinggi di sebelah utara dan hamparan sawah yang membentang luas di sebelah selatan. Jika seseorang berdiri di atas bukit tertinggi dan memandang ke bawah, dia akan melihat desa itu tampak seperti sebuah lukisan tua yang indah dan tenang. Rumah-rumah kayu dengan atap jerami dan atap seng yang sudah berkarat tersebar di antara pepohonan besar yang rindang. Jalan-jalan tanah yang sempit berkelok-kelok di antara rumah-rumah itu, menghubungkan satu keluarga dengan keluarga lainnya dalam sebuah ikatan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun lamanya.

Di ujung barat desa, tepat di mana jalan tanah itu berbelok tajam menuju arah sawah, berdiri sebuah rumah kayu yang lebih besar dari rumah-rumah lainnya. Rumah itu milik Regard, seorang petani yang namanya sudah dikenal oleh setiap penduduk di desa Clowfitch dan bahkan di desa-desa tetangga. Rumah itu memiliki teras depan yang luas dengan lantai papan kayu yang sudah menghitam dimakan usia. Di teras itu ada sebuah kursi goyang tua yang biasa diduduki Regard setiap sore setelah pulang dari sawah, sambil memandangi matahari yang tenggelam di balik perbukitan. Di samping kursi goyang itu ada sebuah meja kecil yang di atasnya selalu ada secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis.

Regard adalah seorang pria berusia lima puluh tiga tahun dengan tubuh yang masih tegap dan kuat meskipun rambutnya sudah mulai memutih di bagian pelipis. Kulitnya berwarna cokelat gelap, dibakar oleh matahari selama puluhan tahun bekerja di sawah. Tangannya besar dan kasar, penuh dengan kapalan yang menjadi bukti betapa kerasnya dia bekerja sepanjang hidupnya. Matanya kecil namun tajam, selalu memancarkan kehangatan ketika menatap orang-orang yang dia sayangi, terutama anak perempuan satu-satunya, Lucy.

Tidak ada seorang pun di desa Clowfitch yang meragukan kemampuan Regard dalam mengelola sawah. Dia adalah petani padi terbaik yang pernah dimiliki desa itu. Sawahnya selalu menghasilkan padi yang melimpah setiap kali musim panen tiba, sementara sawah-sawah milik petani lainnya terkadang gagal panen karena serangan hama atau kekeringan. Regard memiliki pengetahuan yang luar biasa tentang tanah, tentang air, tentang angin, dan tentang semua hal yang berhubungan dengan pertanian. Pengetahuan itu tidak dia dapatkan dari buku atau dari sekolah pertanian mana pun. Dia mendapatkannya dari ayahnya, dan ayahnya mendapatkannya dari kakeknya, dan begitu seterusnya hingga ke generasi-generasi yang sudah tidak bisa lagi ditelusuri jejaknya.


Karena keahliannya itulah, warga desa Clowfitch secara bulat memilih Regard sebagai ketua tim petani desa. Jabatan itu bukanlah jabatan yang mewah atau menghasilkan banyak uang. Tidak ada gaji tetap yang diterima Regard setiap bulannya karena menjadi ketua tim petani. Tidak ada kantor besar dengan pendingin ruangan yang bisa dia gunakan untuk bekerja. Yang ada hanyalah tanggung jawab yang besar untuk memastikan bahwa semua petani di desa Clowfitch bisa menghasilkan padi yang cukup untuk menghidupi keluarga mereka masing-masing.

Regard menjalankan tanggung jawab itu dengan penuh dedikasi. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, dia sudah berada di sawahnya sendiri, memeriksa kondisi tanaman padinya, memastikan bahwa aliran air irigasi berjalan dengan lancar, dan mengamati tanda-tanda cuaca yang bisa mempengaruhi pertumbuhan padi. Setelah itu, dia akan berkeliling ke sawah-sawah milik petani lainnya, memberikan saran dan bantuan kepada siapa pun yang membutuhkannya. Dia tidak pernah menolak ketika ada petani yang datang ke rumahnya di malam hari untuk meminta nasihat tentang tanaman mereka yang terserang penyakit atau tentang waktu yang tepat untuk menanam bibit baru.

“Tanah itu seperti manusia,” kata Regard suatu kali kepada para petani yang berkumpul di rumahnya untuk rapat bulanan. “Kalau kita memperlakukan tanah dengan baik, tanah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Tapi kalau kita merusaknya, tanah akan marah dan tidak mau memberikan apa-apa.”

Para petani mengangguk-angguk mendengar kata-kata Regard. Mereka percaya sepenuhnya kepada pria tua itu karena mereka sudah melihat sendiri buktinya selama bertahun-tahun. Sawah milik Regard selalu menjadi yang paling subur, paling hijau, dan paling banyak menghasilkan padi di antara semua sawah di desa Clowfitch.


Di rumah besar itu, Regard tinggal bersama istrinya yang bernama Marta. Marta adalah wanita yang pendiam namun sangat perhatian. Dia tidak banyak bicara, tidak seperti wanita-wanita lain di desa yang suka bergosip di pasar setiap pagi. Marta lebih suka menghabiskan waktunya di dapur, memasak makanan untuk keluarganya, atau di halaman belakang rumah, merawat tanaman-tanaman obat yang tumbuh subur di sana. Dia menanam jahe, kunyit, lengkuas, sereh, dan berbagai jenis tanaman herbal lainnya yang sering digunakan oleh penduduk desa untuk mengobati berbagai macam penyakit ringan.

Regard dan Marta memiliki seorang anak perempuan. Namanya Lucy.

Lucy lahir di rumah itu pada suatu malam yang hujannya sangat deras sehingga sungai kecil di belakang rumah nyaris meluap. Marta melahirkan Lucy dengan dibantu oleh dukun beranak desa yang bernama Bu Siti, seorang wanita tua yang sudah membantu kelahiran hampir semua anak di desa Clowfitch selama tiga puluh tahun terakhir. Ketika tangisan pertama Lucy memecah keheningan malam itu, Regard yang menunggu di teras dengan gelisah langsung berlari masuk ke dalam kamar. Dia melihat bayinya yang mungil dan merah, menangis keras dengan tangan-tangan kecilnya yang mengepal erat. Air mata Regard menetes jatuh ke atas pipinya yang kasar. Itu adalah pertama kalinya para tetangga melihat Regard menangis.

“Namanya Lucy,” kata Regard kepada Marta yang berbaring kelelahan di atas tempat tidur. “Seperti ibuku.”

Marta tersenyum lemah dan mengangguk. Dia memeluk bayinya yang masih menangis itu dan mendekapnya erat-erat ke dadanya. Sejak saat itu, Lucy menjadi pusat dari segala sesuatu yang dilakukan Regard dan Marta. Setiap keputusan yang mereka ambil, setiap kerja keras yang mereka lakukan, semuanya untuk Lucy.


Lucy tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pekerja keras, persis seperti kedua orang tuanya. Rambutnya panjang dan hitam berkilau, tergerai hingga ke punggungnya. Kulitnya berwarna sawo matang, halus dan bersih meskipun dia menghabiskan banyak waktunya di bawah terik matahari. Matanya bulat dan besar, berwarna cokelat gelap, selalu memancarkan kebaikan dan ketulusan. Senyumnya hangat, seperti sinar matahari pagi yang menyentuh permukaan embun di atas daun-daun padi.

Sejak kecil, Lucy sudah terbiasa membantu ayahnya di sawah. Ketika anak-anak perempuan lain di desa bermain boneka atau berlarian di halaman rumah mereka, Lucy sudah belajar cara menanam bibit padi, cara mencabut rumput liar yang tumbuh di antara tanaman padi, dan cara mengatur aliran air di saluran irigasi. Regard mengajari semua itu dengan sabar, tidak pernah membentak atau memarahi Lucy meskipun gadis kecil itu sering melakukan kesalahan.

“Tidak apa-apa,” kata Regard sambil tersenyum ketika Lucy kecil tidak sengaja menginjak beberapa batang padi yang baru ditanam. “Yang penting kamu sudah berusaha. Besok kita coba lagi.”

Lucy mengangguk dengan mata berkaca-kaca, merasa bersalah karena telah merusak tanaman ayahnya. Tapi Regard segera mengangkat tubuh kecil Lucy dan mendudukkannya di atas bahunya yang lebar. Dari atas bahu ayahnya, Lucy bisa melihat seluruh hamparan sawah yang membentang luas di bawahnya, hijau dan berkilauan di bawah sinar matahari.

“Lihat itu semua,” kata Regard sambil menunjuk ke arah sawah-sawah yang membentang hingga ke kaki bukit. “Suatu hari nanti, kamu akan bisa merawat semua itu sendiri. Ayah yakin.”

Lucy tersenyum lebar dan memeluk kepala ayahnya dengan tangan-tangan kecilnya. Dia merasa menjadi anak paling beruntung di seluruh dunia karena memiliki ayah seperti Regard.


Tahun demi tahun berlalu. Lucy tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang semakin cantik dan semakin cekatan dalam mengerjakan semua pekerjaan rumah dan pekerjaan di sawah. Dia bisa memasak hampir semua masakan yang biasa dimasak oleh ibunya, mulai dari nasi goreng sederhana hingga rendang daging yang memerlukan waktu berjam-jam untuk memasaknya. Dia juga bisa menjahit bajunya sendiri, memperbaiki atap rumah yang bocor, dan bahkan membantu ayahnya memperbaiki cangkul yang patah.

Di desa Clowfitch, pendidikan formal bukanlah sesuatu yang mudah didapatkan. Sekolah terdekat terletak di kota kecil yang berjarak sekitar sepuluh kilometer dari desa. Untuk sampai ke sana, seseorang harus berjalan kaki melewati jalan tanah yang berliku-liku di antara perbukitan dan hutan. Regard dan Marta menginginkan Lucy mendapatkan pendidikan yang baik, jadi setiap pagi mereka mengantar Lucy ke ujung desa di mana sebuah angkutan umum tua menunggu untuk membawa anak-anak desa ke sekolah di kota.

Lucy bukanlah siswa yang paling pintar di kelasnya, namun dia adalah siswa yang paling tekun. Dia selalu mengerjakan semua tugas-tugasnya dengan sungguh-sungguh, tidak pernah menyontek, dan tidak pernah bolos sekolah meskipun terkadang dia harus berangkat dalam keadaan hujan deras yang membasahi seluruh tubuhnya. Guru-gurunya menyayanginya karena sikapnya yang sopan dan rendah hati. Teman-temannya menyukainya karena dia selalu bersedia membantu siapa pun yang membutuhkan bantuan.

Namun di balik senyumnya yang hangat dan sikapnya yang ramah, Lucy adalah gadis yang pendiam. Dia tidak memiliki banyak teman dekat. Bukan karena dia tidak disukai oleh teman-temannya, melainkan karena dia lebih suka menghabiskan waktunya sendiri, duduk di bawah pohon mangga besar di halaman sekolah sambil membaca buku-buku cerita yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah. Dia suka membaca kisah-kisah tentang petualangan di negeri-negeri yang jauh, tentang putri-putri cantik yang diselamatkan oleh pangeran tampan, dan tentang keajaiban-keajaiban yang terjadi di tempat-tempat yang tidak pernah bisa dia bayangkan sebelumnya.

“Lucy, kamu tidak mau main dengan kami?” tanya salah seorang teman sekelasnya suatu hari.

Lucy menggeleng pelan dan tersenyum. “Terima kasih, tapi aku sedang membaca buku yang sangat seru. Kalian main saja duluan.”

Temannya mengangkat bahu dan berlari pergi untuk bergabung dengan anak-anak lainnya yang sedang bermain di lapangan. Lucy kembali menundukkan kepalanya ke atas halaman buku yang terbuka di pangkuannya, tenggelam dalam dunia imajinasi yang terasa jauh lebih menarik daripada dunia nyata di sekelilingnya.


Ketika Lucy berusia dua puluh satu tahun, sesuatu yang tidak pernah dia duga sebelumnya terjadi. Sesuatu yang mengubah hidupnya selamanya.

Saat itu adalah musim panen. Sawah-sawah di seluruh desa Clowfitch berubah warna dari hijau menjadi kuning keemasan, menandakan bahwa padi sudah siap untuk dipanen. Seluruh penduduk desa sibuk bekerja di sawah mereka masing-masing, memotong batang-batang padi dengan sabit yang tajam, mengikatnya menjadi berkas-berkas besar, dan mengangkutnya ke rumah-rumah mereka untuk dikeringkan di bawah terik matahari.

Regard tentu saja menjadi yang paling sibuk. Selain harus memanen padinya sendiri, dia juga harus mengkoordinasikan pekerjaan seluruh tim petani desa untuk memastikan bahwa proses panen berjalan dengan lancar dan tidak ada padi yang terbuang sia-sia. Lucy membantu ayahnya setiap hari, berangkat ke sawah sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Tubuhnya lelah, punggungnya sakit, dan tangannya penuh dengan luka-luka kecil dari batang-batang padi yang tajam, namun dia tidak pernah mengeluh.

Pada suatu sore, ketika Lucy sedang mengikat berkas-berkas padi di tepi sawah, dia melihat seseorang yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Seorang pemuda berdiri di pinggir jalan tanah yang membatasi sawah milik ayahnya, memandangi hamparan sawah yang membentang luas di hadapannya dengan tatapan yang tampak kagum dan takjub. Pemuda itu mengenakan kemeja biru muda yang lengannya digulung hingga ke siku, celana panjang berwarna khaki, dan sepatu kets yang sudah kotor terkena debu jalanan. Rambutnya hitam dan sedikit berantakan karena tertiup angin. Wajahnya tampan dengan rahang yang tegas dan mata yang berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.

Lucy memperhatikan pemuda itu dari kejauhan sambil terus mengikat berkas-berkas padi. Ada sesuatu tentang pemuda itu yang membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangannya. Mungkin karena pemuda itu jelas-jelas bukan orang desa. Pakaiannya terlalu rapi, sepatunya terlalu bersih meskipun sudah kotor terkena debu, dan caranya berdiri terlalu tegap, seperti orang yang terbiasa hidup di kota besar dan baru pertama kali melihat sawah.

“Lucy, kamu lihat apa?” tanya Regard yang berjalan mendekati anaknya sambil membawa seikat padi besar di bahunya.

Lucy tersentak dan segera mengalihkan pandangannya dari pemuda itu. “Tidak, Ayah. Tidak ada apa-apa.”

Regard mengikuti arah pandangan Lucy sebelumnya dan melihat pemuda asing itu berdiri di pinggir jalan. Regard menyipitkan matanya, memperhatikan pemuda itu dengan seksama.

“Siapa itu?” gumam Regard lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Lucy. “Aku tidak pernah melihat orang itu sebelumnya di desa ini.”


Pemuda itu bernama Ray.

Ray datang ke desa Clowfitch bukan karena kebetulan. Dia datang karena sebuah keputusan yang sudah dia pikirkan selama berbulan-bulan lamanya. Ray berasal dari kota besar yang terletak ratusan kilometer dari desa Clowfitch. Dia tumbuh besar di sebuah apartemen kecil di lantai tujuh sebuah gedung tua yang terletak di pusat kota. Ayahnya adalah seorang pegawai kantoran yang bekerja dari pagi hingga larut malam setiap hari. Ibunya adalah seorang guru sekolah dasar yang selalu pulang ke rumah dengan wajah lelah dan suara yang serak karena terlalu banyak berbicara di kelas.

Ray tidak pernah mengenal kehidupan di desa. Dia tidak pernah melihat sawah, tidak pernah mendengar suara jangkrik di malam hari, tidak pernah merasakan embun pagi yang menetes dari daun-daun di atas kepalanya. Hidupnya selalu dikelilingi oleh gedung-gedung tinggi yang menjulang, jalanan aspal yang dipenuhi kendaraan bermotor, dan suara-suara bising yang tidak pernah berhenti selama dua puluh empat jam penuh.

Setelah lulus dari universitas dengan gelar di bidang sastra, Ray bekerja di sebuah perusahaan penerbitan kecil di kota. Pekerjaannya adalah mengedit naskah-naskah buku yang akan diterbitkan. Pekerjaan itu tidak buruk, gajinya cukup untuk membiayai hidupnya sehari-hari, dan rekan-rekan kerjanya cukup menyenangkan. Namun ada sesuatu yang selalu mengganjal di hati Ray. Sesuatu yang membuatnya merasa tidak lengkap, tidak utuh, seperti sebuah teka-teki yang masih kehilangan satu kepingannya yang paling penting.

Ray merasa kesepian.

Bukan kesepian karena tidak memiliki teman atau keluarga. Ray memiliki teman-teman yang banyak. Dia populer di kantornya karena sikapnya yang ramah dan humoris. Dia selalu diajak oleh teman-temannya untuk pergi makan malam atau menonton film di bioskop setiap akhir pekan. Dia juga memiliki keluarga yang menyayanginya, meskipun mereka jarang menghabiskan waktu bersama karena kesibukan masing-masing.

Kesepian yang dirasakan Ray adalah kesepian yang lebih dalam dari itu. Dia merasa bahwa hidupnya tidak memiliki arah yang jelas. Dia bangun setiap pagi, pergi bekerja, pulang ke apartemennya yang sepi, makan malam sendirian di depan televisi, dan tidur. Hari demi hari berlalu dengan pola yang sama, seperti roda yang berputar tanpa henti tanpa pernah sampai ke mana pun. Dia merindukan sesuatu yang nyata, sesuatu yang bisa membuatnya merasa hidup, sesuatu yang bisa mengisi kekosongan yang sudah terlalu lama bersarang di dadanya.

Dan yang paling dia rindukan adalah cinta.


Ray pernah menjalin hubungan dengan beberapa wanita di kota. Namun tidak ada satu pun dari hubungan itu yang bertahan lama. Selalu ada sesuatu yang kurang, selalu ada sesuatu yang tidak cocok, selalu ada alasan untuk mengakhiri hubungan itu sebelum menjadi terlalu serius. Wanita-wanita itu cantik, pintar, dan menarik, namun Ray merasa bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar memahaminya. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa membuatnya merasa seperti pulang ke rumah.

“Mungkin aku terlalu idealis,” kata Ray kepada sahabatnya, Doni, suatu malam ketika mereka duduk di sebuah kafe kecil di pinggir jalan. “Mungkin aku mencari sesuatu yang tidak ada.”

Doni, seorang pria bertubuh gemuk dengan kacamata tebal yang selalu melorot di hidungnya, menggeleng pelan sambil menyeruput kopinya. “Bukan begitu, Ray. Kamu bukan idealis. Kamu hanya belum menemukan orang yang tepat. Cinta sejati itu ada. Kamu hanya perlu mencarinya di tempat yang tepat.”

“Tempat yang tepat?” Ray tertawa kecil. “Memangnya cinta sejati itu bisa ditemukan di tempat tertentu? Seperti mencari barang di supermarket?”

Doni mengangkat bahunya. “Siapa tahu. Mungkin cinta sejatimu tidak ada di kota ini. Mungkin dia ada di tempat yang jauh, di tempat yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Kadang-kadang, kita harus keluar dari zona nyaman kita untuk menemukan apa yang kita cari.”

Ray terdiam. Kata-kata Doni terngiang-ngiang di kepalanya selama berhari-hari setelah malam itu. Keluar dari zona nyaman. Pergi ke tempat yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Ide itu terdengar gila, namun semakin dia memikirkannya, semakin masuk akal ide itu terdengar di telinganya.

Dan pada suatu pagi yang cerah, Ray membuat keputusan yang paling berani dalam hidupnya. Dia mengundurkan diri dari pekerjaannya, mengemas barang-barangnya ke dalam sebuah ransel besar, dan meninggalkan kota untuk mencari sesuatu yang selama ini dia rindukan.

Dia tidak tahu ke mana dia akan pergi. Dia hanya naik bus pertama yang berangkat dari terminal kota pagi itu, tanpa memikirkan tujuan akhirnya. Bus itu membawanya melewati kota-kota kecil, melewati perkebunan-perkebunan teh yang hijau membentang di lereng-lereng bukit, melewati hutan-hutan lebat yang gelap dan misterius, hingga akhirnya bus itu berhenti di sebuah persimpangan jalan tanah yang sepi.

“Ini perhentian terakhir,” kata sopir bus itu sambil menoleh ke arah Ray yang duduk sendirian di kursi paling belakang. “Dari sini ke depan tidak ada jalan beraspal lagi.”

Ray turun dari bus itu dan memandang ke sekelilingnya. Di hadapannya terbentang sebuah jalan tanah yang sempit, berkelok-kelok menuju ke arah sebuah lembah yang dikelilingi oleh perbukitan hijau. Di kejauhan, dia bisa melihat atap-atap rumah yang mengintip di antara pepohonan. Asap tipis mengepul dari beberapa cerobong, menandakan bahwa ada kehidupan di sana.

Ray menarik napas dalam-dalam. Udara di sini berbeda sekali dengan udara di kota. Bersih, segar, dan dipenuhi oleh aroma tanah basah dan rumput yang baru dipotong. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Ray merasa dadanya terasa ringan dan pikirannya terasa jernih.

Dia mulai berjalan menuju desa itu. Tanpa mengetahui bahwa di sanalah hidupnya akan berubah selamanya.


Pertemuan pertama Ray dengan Lucy terjadi di tepi sawah milik Regard pada sore itu. Ray yang baru saja tiba di desa Clowfitch berdiri terpaku di pinggir jalan, terpesona oleh pemandangan sawah yang membentang luas di hadapannya. Dia tidak pernah melihat pemandangan seindah itu sepanjang hidupnya. Padi-padi yang sudah menguning bergoyang-goyang ditiup angin sore, menciptakan gelombang-gelombang emas yang bergerak perlahan-lahan dari satu ujung sawah ke ujung yang lainnya. Langit di atas berwarna jingga kemerahan, dihiasi oleh gumpalan-gumpalan awan yang berwarna ungu dan merah muda. Burung-burung pipit beterbangan di atas sawah, mencari butir-butir padi yang terjatuh di atas tanah.

Dan di tengah-tengah keindahan itu, Ray melihat Lucy.

Lucy sedang membungkuk di tepi sawah, mengikat berkas-berkas padi dengan tali rafia. Rambutnya yang panjang dan hitam terikat di belakang kepalanya, namun beberapa helai rambut lepas dari ikatannya dan jatuh ke wajahnya. Dia mengenakan baju kaos berwarna putih yang sudah ternoda oleh tanah dan keringat, dan celana panjang berwarna cokelat yang digulung hingga ke betis. Kakinya telanjang, menancap di atas tanah yang basah dan berlumpur.

Ray tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Lucy. Bukan karena Lucy adalah wanita paling cantik yang pernah dia lihat. Bukan karena ada sesuatu yang mencolok atau luar biasa dari penampilan Lucy. Melainkan karena ada sesuatu tentang cara Lucy bekerja, tentoang cara Lucy bergerak, tentang cara Lucy sesekali menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangannya dan kemudian tersenyum kecil kepada dirinya sendiri, yang membuat Ray merasa bahwa dia sedang melihat sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang sangat langka, sesuatu yang selama ini dia cari tanpa pernah tahu bentuknya.

“Permisi,” kata Ray dengan suara yang agak gemetar, berusaha memberanikan diri untuk berbicara. Dia sudah berjalan mendekat ke tepi sawah tanpa dia sadari. “Maaf mengganggu. Aku baru sampai di desa ini dan... aku tidak tahu harus ke mana.”

Lucy mendongakkan kepalanya dan melihat pemuda asing itu berdiri di depannya dengan wajah yang tampak canggung dan gugup. Lucy memperhatikan wajah pemuda itu sejenak. Mata pemuda itu cokelat dan jernih, memancarkan ketulusan yang membuat Lucy merasa nyaman.

“Kamu bukan dari sini, ya?” tanya Lucy sambil berdiri dan menepuk-nepuk tangannya yang kotor ke celananya.

“Bukan,” jawab Ray sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Aku dari kota. Aku... aku sedang mencari... aku juga tidak tahu apa yang aku cari, sejujurnya.”

Lucy tertawa kecil mendengar jawaban Ray yang polos dan jujur itu. Tawanya renyah dan menyenangkan untuk didengar, seperti suara lonceng kecil yang berdering di tiupan angin.

“Kamu lapar?” tanya Lucy. “Ibuku pasti sudah memasak makan malam. Kamu bisa makan di rumah kami dulu. Setelah itu, kita bisa pikirkan kamu harus ke mana.”

Ray menatap Lucy dengan pandangan yang penuh rasa terima kasih dan kekaguman. Dia mengangguk pelan dan tersenyum.

“Terima kasih. Namaku Ray.”

“Aku Lucy.”

Dan pada saat tangan mereka berjabat untuk pertama kalinya, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata terjadi di antara mereka berdua. Sebuah percikan kecil yang hangat, sebuah getaran halus yang menjalar dari ujung jari-jari mereka hingga ke dada mereka, sebuah perasaan yang membuat mereka berdua merasa bahwa pertemuan ini bukanlah kebetulan belaka.

Ini adalah takdir.


Malam itu, Ray duduk di meja makan keluarga Regard, menikmati hidangan sederhana yang dimasak oleh Marta. Ada nasi putih yang masih mengepulkan uap, sayur lodeh yang kental dan gurih, tempe goreng yang renyah, dan sambal terasi yang pedasnya membuat Ray beberapa kali terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah. Lucy tertawa melihat reaksi Ray terhadap sambal buatan ibunya, sementara Regard hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.

“Anak kota memang tidak terbiasa makan pedas,” kata Regard sambil menambahkan sambal ke atas nasinya dengan sendok yang penuh. “Di sini, kalau tidak makan pedas, bukan makan namanya.”

“Ayah, jangan menggodanya,” kata Lucy sambil mengambilkan segelas air putih untuk Ray. “Dia baru sampai dan pasti lelah.”

Ray menerima gelas air itu dari tangan Lucy dan meminumnya dengan cepat. Matanya masih berair karena pedasnya sambal, namun bibirnya tersenyum. Dia merasa hangat, bukan hanya karena makanan pedas yang baru saja dia makan, melainkan karena suasana di meja makan itu. Suasana yang penuh dengan kehangatan, kebersamaan, dan kasih sayang. Sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan.

“Jadi, Ray,” kata Regard sambil menatap pemuda itu dengan matanya yang tajam namun ramah. “Kamu bilang kamu dari kota. Apa yang membawa kamu ke desa kecil kami ini?”

Ray meletakkan gelasnya di atas meja dan terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat. Dia tidak bisa mengatakan bahwa dia datang ke sini tanpa tujuan yang jelas, bahwa dia meninggalkan pekerjaannya dan kehidupannya di kota hanya karena merasa kosong dan kesepian. Itu akan terdengar aneh dan tidak masuk akal di telinga seorang petani seperti Regard yang sudah bekerja keras sepanjang hidupnya dan tidak pernah memiliki kemewahan untuk merasa “kosong”.

“Aku... aku ingin belajar tentang kehidupan di desa, Pak,” kata Ray akhirnya. Itu bukan kebohongan, meskipun juga bukan keseluruhan kebenaran. “Di kota, semua serba cepat dan membingungkan. Aku merasa kehilangan sesuatu yang penting. Dan aku pikir, mungkin di desa, aku bisa menemukannya.”

Regard menatap Ray dalam-dalam selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Kemudian pria tua itu mengangguk pelan.

“Aku tidak tahu apa yang kamu cari, anak muda,” kata Regard. “Tapi di desa ini, kami selalu menyambut siapa pun yang datang dengan niat baik. Kamu boleh tinggal di sini selama yang kamu mau. Ada kamar kosong di belakang rumah yang bisa kamu pakai.”

“Terima kasih banyak, Pak,” kata Ray dengan suara yang tulus. “Saya sangat berterima kasih.”

“Panggil saja Pak Regard,” kata Regard. “Atau kalau kamu mau, panggil saja Regard. Di desa ini, tidak ada yang formal.”

Lucy tersenyum melihat ayahnya yang begitu mudah menerima orang asing ke dalam rumahnya. Itulah ayahnya. Keras di luar, lembut di dalam. Selalu percaya pada kebaikan orang lain meskipun dia baru pertama kali bertemu dengan orang itu.


Hari-hari berlalu, dan Ray mulai terbiasa dengan kehidupan di desa Clowfitch. Dia membantu Regard di sawah setiap pagi, belajar cara menanam padi, cara memanen padi, dan cara mengurus tanaman-tanaman lainnya. Pada awalnya, dia sangat kikuk dan sering melakukan kesalahan. Dia salah mencabut tanaman padi yang masih muda dan mengira itu rumput liar, dia terjatuh ke dalam lumpur sawah hingga seluruh tubuhnya kotor, dan dia nyaris memotong jarinya sendiri ketika mencoba menggunakan sabit untuk pertama kalinya.

Namun Ray tidak pernah menyerah. Setiap kali dia melakukan kesalahan, dia bangkit kembali dan mencoba lagi. Regard memperhatikan semangat dan ketekunan pemuda itu dengan diam-diam, dan perlahan-lahan, rasa hormat mulai tumbuh di hati pria tua itu terhadap Ray.

“Dia pekerja keras,” kata Regard kepada Marta suatu malam setelah mereka berbaring di tempat tidur. “Untuk anak kota, dia tidak buruk.”

Marta tersenyum dalam kegelapan. “Aku lihat cara dia memandang Lucy, Regard.”

Regard terdiam.

“Dan aku lihat cara Lucy memandangnya,” tambah Marta.

Regard menarik napas panjang dan membuangnya perlahan-lahan. Dia sudah menyadari hal itu sejak beberapa hari yang lalu, meskipun dia berpura-pura tidak melihatnya. Cara Lucy tersenyum lebih sering ketika Ray ada di dekatnya. Cara Lucy selalu menyiapkan makanan dan minuman untuk Ray sebelum siapa pun yang lainnya. Cara mata Lucy mengikuti setiap gerakan Ray ketika pemuda itu bekerja di sawah.

“Dia anak baik,” kata Regard akhirnya, meskipun ada nada berat dalam suaranya. Nada seorang ayah yang menyadari bahwa anak perempuannya sudah bukan anak kecil lagi.


Cinta antara Lucy dan Ray tumbuh perlahan-lahan, seperti bunga yang mekar di awal musim semi. Tidak ada pernyataan cinta yang dramatis, tidak ada kejutan-kejutan romantis yang berlebihan, tidak ada kata-kata manis yang diucapkan di bawah cahaya bulan purnama. Cinta mereka tumbuh dari hal-hal kecil yang sederhana.

Dari pagi-pagi yang mereka habiskan bersama di sawah, berdampingan memanen padi sambil sesekali bertukar cerita dan tawa. Dari sore-sore yang mereka lewatkan berdua di teras rumah, duduk berdampingan sambil memandangi matahari terbenam di balik perbukitan. Dari malam-malam yang mereka isi dengan percakapan panjang tentang mimpi-mimpi dan harapan-harapan mereka, tentang masa lalu dan masa depan, tentang ketakutan-ketakutan dan keberanian-keberanian mereka.

“Ray,” kata Lucy suatu sore ketika mereka duduk berdua di bawah pohon mangga besar di halaman rumah. “Kamu bilang kamu datang ke sini untuk mencari sesuatu yang hilang. Kamu sudah menemukannya?”

Ray menoleh ke arah Lucy. Cahaya matahari sore yang keemasan menerpa wajah gadis itu, membuat rambutnya yang hitam berkilau dan matanya yang cokelat bersinar seperti batu permata. Ray merasa dadanya dipenuhi oleh sesuatu yang hangat dan menyenangkan, sesuatu yang selama ini dia cari tanpa pernah tahu namanya.

“Sudah,” jawab Ray dengan suara yang lembut. “Aku sudah menemukannya.”

Lucy menatap mata Ray dan melihat ketulusan di sana. Hatinya berdebar-debar begitu kencang sehingga dia merasa bahwa seluruh dunia pasti bisa mendengarnya. Pipinya merona merah dan dia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, merasa malu namun juga bahagia pada saat yang bersamaan.

Mereka tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Mereka berdua sudah tahu. Mereka berdua sudah merasakan hal yang sama. Dan mereka berdua tahu bahwa ini adalah awal dari sesuatu yang indah.


Enam bulan setelah Ray pertama kali menginjakkan kakinya di desa Clowfitch, dia melamar Lucy.

Dia melakukannya dengan cara yang sederhana, tanpa cincin berlian mahal, tanpa bunga mawar yang dibeli dari toko bunga, tanpa lilin-lilin romantis yang menyala di atas meja makan mewah. Dia hanya berdiri di depan Lucy di teras rumah Regard pada suatu pagi yang cerah, dengan tangan yang gemetar dan jantung yang berdegup kencang, dan berkata dengan suaranya yang tulus dan sederhana.

“Lucy, aku tahu aku bukan siapa-siapa. Aku datang dari kota tanpa membawa apa-apa. Aku tidak punya sawah, tidak punya rumah, tidak punya harta. Tapi aku punya hati yang mencintaimu dengan seluruh kekuatannya. Dan aku berjanji, selama aku masih bernapas, aku akan selalu menjagamu, melindungimu, dan membuatmu bahagia. Maukah kamu menikah denganku?”

Lucy menatap Ray dengan mata yang berkaca-kaca. Air matanya menetes jatuh ke pipinya yang merona merah. Bibirnya bergetar ketika dia membuka mulutnya untuk menjawab.

“Aku mau, Ray. Aku mau.”

Dan mereka berpelukan di teras rumah itu, sementara matahari pagi bersinar terang di atas mereka, menyinari dua hati yang telah menemukan satu sama lain di sebuah desa kecil yang tersembunyi di balik perbukitan hijau.

Regard yang menyaksikan semuanya dari balik jendela dapur menyeka air matanya diam-diam dengan ujung sarungnya. Marta berdiri di sampingnya, memeluk lengannya, dan tersenyum.

“Anak kita sudah besar, Regard.”

Regard mengangguk. Dia tidak bisa berkata-kata. Tenggorokannya terasa tercekat oleh emosi yang begitu besar sehingga dia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Yang bisa dia lakukan hanyalah berdoa di dalam hatinya, memohon kepada Tuhan agar anak perempuannya mendapatkan kebahagiaan yang layak dia dapatkan.


Pernikahan Lucy dan Ray dirayakan dengan sederhana namun penuh kebahagiaan. Seluruh penduduk desa Clowfitch datang untuk merayakan hari bahagia itu. Halaman rumah Regard dihiasi dengan bunga-bunga liar yang dipetik oleh anak-anak desa dari pinggir sungai. Marta dan beberapa ibu-ibu desa memasak hidangan-hidangan lezat yang ditata rapi di atas meja-meja panjang yang diletakkan di bawah tenda terpal berwarna biru. Ada nasi kuning, ayam panggang, ikan bakar, sayur-sayuran segar dari kebun, kue-kue tradisional, dan banyak lagi hidangan lainnya yang menggugah selera.

Lucy mengenakan gaun putih sederhana yang dijahitkan oleh Marta dari kain katun yang dibelinya di pasar kota. Gaun itu tidak mewah, tidak berkilau, dan tidak memiliki hiasan-hiasan mahal, namun Lucy tampak sangat cantik memakainya. Rambutnya yang panjang dan hitam dihiasi dengan bunga-bunga melati yang wangi, disusun rapi oleh tangan-tangan terampil Marta. Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar-binar, dan senyumnya begitu lebar sehingga seluruh wajahnya tampak bercahaya.

Ray mengenakan kemeja putih dan celana hitam yang disetrikanya sendiri dengan penuh hati-hati pagi itu. Dia terlihat gugup namun bahagia. Tangannya tidak berhenti berkeringat meskipun udara pagi itu cukup sejuk. Ketika dia melihat Lucy berjalan menuju ke arahnya dengan gaun putihnya yang sederhana dan mahkota bunga melati di rambutnya, Ray merasa bahwa seluruh dunia berhenti berputar untuk sesaat. Tidak ada suara lain selain detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang. Tidak ada pemandangan lain selain wajah Lucy yang bercahaya di hadapannya.

“Kamu cantik sekali,” bisik Ray ketika Lucy sudah berdiri di sampingnya.

Lucy tersenyum malu dan menundukkan kepalanya. “Kamu juga tampan.”

Dan mereka tertawa bersama, tawa yang ringan dan bahagia, tawa yang hanya bisa keluar dari dua orang yang saling mencintai dengan sepenuh hati.


Setelah menikah, Lucy dan Ray tinggal di sebuah rumah kecil yang sederhana yang letaknya tidak jauh dari rumah Regard. Rumah itu dibangun oleh Regard dan beberapa pria desa sebagai hadiah pernikahan untuk Lucy dan Ray. Rumah itu kecil, hanya memiliki dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur, dan satu kamar mandi. Dindingnya terbuat dari kayu, lantainya terbuat dari tanah yang dipadatkan, dan atapnya terbuat dari seng yang sudah mulai berkarat di beberapa bagian. Namun bagi Lucy dan Ray, rumah itu adalah istana yang paling indah di seluruh dunia.

Di depan rumah itu, Lucy menanam berbagai macam tanaman. Ada sereh yang tumbuh subur di sepanjang pagar, mengeluarkan aroma yang harum dan segar setiap kali angin berhembus. Ada pohon pepaya yang sudah mulai berbuah di sudut halaman. Ada tanaman cabai yang memerah di pot-pot tanah yang berjajar rapi di dekat teras. Dan ada beberapa pot bunga yang berisi bunga-bunga berwarna-warni yang membuat halaman rumah itu terlihat ceria dan hidup.

Lucy dan Ray menjalani kehidupan mereka dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan. Setiap pagi, Ray pergi ke sawah untuk membantu Regard, sementara Lucy mengurus rumah dan kebunnya. Sore hari, mereka berkumpul kembali di rumah kecil mereka, berbagi cerita tentang apa yang terjadi selama hari itu, makan malam bersama, dan menghabiskan malam yang tenang berdua.

Hidup mereka sederhana. Tidak ada kemewahan, tidak ada kekayaan berlimpah, tidak ada barang-barang mahal yang memenuhi rumah mereka. Namun mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga dari semua itu.

Mereka memiliki cinta.

Dan cinta itu cukup untuk membuat mereka merasa sebagai orang paling bahagia di seluruh dunia.

Namun mereka tidak tahu bahwa kebahagiaan itu akan segera diuji oleh sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Sesuatu yang datang dari kegelapan, dari tempat yang tidak bisa dijangkau oleh cahaya matahari, dari dunia yang berada di antara dunia nyata dan dunia yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa.

Sesuatu yang bernama Karla.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk