Lucy tidak bisa melupakan kejadian subuh itu.
Sudah dua hari berlalu sejak sosok wanita berambut putih itu muncul di hadapannya, berdiri di antara rumpun sereh yang masih basah oleh embun pagi, tersenyum dengan senyuman yang dingin dan asing. Dua hari berlalu sejak wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai Karla. Dua hari berlalu sejak wanita itu memintanya mencari tanaman bernama Cortez di hutan dekat sawah ayahnya. Dan dua hari berlalu sejak wanita itu berbalik membelakanginya, melangkah masuk ke dalam kebun ayahnya, lalu menghilang ditelan kegelapan subuh seperti asap yang tertiup angin.
Lucy masih bisa merasakan dinginnya udara yang menyelimuti tubuh Karla saat wanita itu berdiri di dekatnya. Dingin yang tidak wajar. Dingin yang berbeda dari dinginnya udara pagi di desa Clowfitch. Dingin yang seolah-olah berasal dari tempat yang sangat jauh, dari dunia yang tidak bisa dijangkau oleh manusia biasa. Dan senyuman itu. Senyuman Karla yang terlihat begitu lembut namun menyimpan sesuatu di baliknya. Sesuatu yang tidak bisa Lucy jelaskan dengan kata-kata, namun bisa dia rasakan dengan seluruh insting yang ada di dalam dirinya.
Siang hari itu, matahari sudah berdiri tinggi di langit dan menyinari seluruh desa Clowfitch dengan cahayanya yang terik dan menyengat. Udara panas bergerak lambat di atas jalan-jalan tanah yang kering, membuat debu-debu halus beterbangan setiap kali ada orang yang melintas. Ayam-ayam berkeliaran di pekarangan rumah-rumah penduduk, mencari sisa-sisa makanan di antara rerumputan yang sudah mulai menguning karena kemarau. Beberapa orang petani terlihat duduk-duduk di bawah pohon mangga besar yang tumbuh di persimpangan jalan desa, menghisap rokok kretek sambil membicarakan kondisi padi mereka yang mulai menguning dan siap dipanen.
Lucy duduk di teras rumahnya, di atas kursi kayu panjang yang sudah lama berdiri di sana sejak dia masih kecil. Rambutnya yang hitam panjang diikat ke belakang dengan sehelai kain berwarna biru tua. Matanya memandang kosong ke arah halaman depan rumahnya, ke tempat di mana dia pertama kali melihat Karla berdiri dua hari yang lalu. Tangannya meremas-remas ujung kain sarung yang menutupi lututnya, sebuah kebiasaan yang selalu dia lakukan ketika pikirannya sedang tidak tenang.
Di dalam rumah, terdengar suara langkah kaki yang berat dan lambat. Pintu kayu yang menghubungkan ruang tengah dengan teras berderit pelan, dan sosok Ray muncul dari baliknya. Rambut Ray yang biasanya tersisir rapi kini terlihat acak-acakan, dan matanya masih sedikit memerah karena baru saja bangun dari tidur siangnya. Tubuhnya yang tinggi dan tegap sedikit membungkuk ketika dia melewati ambang pintu yang rendah, sebuah kebiasaan yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun tinggal di rumah sederhana milik mertuanya yang memang dibangun untuk orang-orang yang bertubuh lebih pendek dari dirinya.
Ray menghampiri Lucy dan duduk di sampingnya. Dia menatap wajah istrinya yang terlihat gelisah dan pucat. Sudah dua hari ini Lucy tidak bisa tidur dengan nyenyak, selalu terbangun di tengah malam dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Dan Ray tahu persis apa penyebabnya.
“Kamu masih memikirkan wanita itu ya?” tanya Ray dengan suara yang pelan dan lembut. Tangannya menggenggam tangan Lucy yang terasa dingin.
Lucy mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari halaman rumah.
“Aku tidak bisa melupakannya, Ray,” jawab Lucy dengan suara yang nyaris berbisik. “Setiap kali aku memejamkan mata, wajahnya muncul. Senyumannya. Rambutnya yang putih itu. Dan suaranya yang meminta tolong kepadaku untuk mencari tanaman Cortez itu.”
Ray menghela napas panjang. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding kayu di belakang kursi dan memandang ke arah langit yang biru tanpa awan.
“Aku sudah bilang, besok kita akan pergi ke hutan dekat sawah Bapak untuk mencari tanaman itu,” kata Ray sambil mengelus punggung tangan Lucy dengan ibu jarinya. “Hari ini aku masih belum pulih. Badanku masih pegal semua setelah kemarin membantu Bapak memanen padi seharian penuh. Dean sudah memijatku kemarin malam, tapi sepertinya tulang-tulang di punggungku masih belum kembali ke tempatnya yang benar.”
Lucy menoleh ke arah suaminya. Matanya berkaca-kaca.
“Aku tahu kamu capek, Ray. Aku tidak memaksamu untuk pergi hari ini,” kata Lucy dengan suara yang bergetar. “Tapi aku takut. Aku takut karena aku merasa wanita itu tidak akan berhenti menggangguku sampai aku menemukan apa yang dia minta.”
“Mengganggu bagaimana?” tanya Ray dengan kening berkerut.
Lucy terdiam sesaat. Dia menelan ludahnya dengan susah payah, seolah-olah apa yang akan dia katakan terlalu berat untuk dikeluarkan dari mulutnya.
“Bisikan, Ray,” jawab Lucy akhirnya. Suaranya semakin pelan. “Sejak malam pertama setelah aku bertemu wanita itu, ada bisikan yang terus-terusan muncul di dalam kepalaku. Suara yang sama. Suara wanita itu. Karla. Dia terus-terusan berbisik ‘temukan Cortez, temukan Cortez, temukan Cortez’ berulang-ulang tanpa berhenti.”
Ray menegakkan tubuhnya. Matanya menatap Lucy dengan tajam.
“Kenapa kamu baru bilang sekarang?” tanya Ray dengan nada yang lebih serius dari sebelumnya.
“Karena aku pikir itu hanya imajinasiku saja. Aku pikir itu hanya efek dari rasa takutku setelah bertemu wanita aneh itu. Tapi ternyata bukan, Ray. Bisikan itu nyata. Setiap malam, setiap kali aku memejamkan mata, suara itu datang dan mengisi seluruh ruang di dalam kepalaku sampai aku merasa kepalaku akan pecah.”
Ray berdiri dari kursinya. Dia berjalan mondar-mandir di teras rumah dengan tangan yang diletakkan di pinggang. Wajahnya menunjukkan campuran antara kekhawatiran dan kebingungan. Sebagai seorang pemuda yang tumbuh besar di kota, Ray tidak terbiasa dengan hal-hal yang berbau mistis dan gaib. Di kota tempat dia dibesarkan, segala sesuatu bisa dijelaskan dengan logika dan ilmu pengetahuan. Tapi sejak dia pindah ke desa Clowfitch untuk hidup bersama Lucy, dia sudah beberapa kali mendengar cerita-cerita dari tetangga tentang hal-hal aneh yang pernah terjadi di desa ini. Tentang suara-suara yang terdengar dari hutan di malam hari. Tentang cahaya-cahaya yang bergerak di atas sawah ketika bulan purnama. Tentang sungai yang tiba-tiba berubah warna menjadi merah pada saat-saat tertentu tanpa ada yang bisa menjelaskan penyebabnya.
Ray selalu menganggap cerita-cerita itu sebagai dongeng orang desa yang terlalu banyak berkhayal. Tapi sekarang, melihat istrinya yang ketakutan setengah mati karena pertemuannya dengan sosok misterius bernama Karla, Ray mulai meragukan pendiriannya sendiri.
“Kamu yakin wanita itu bukan salah satu penduduk desa yang mungkin baru pindah ke sini?” tanya Ray, masih berusaha mencari penjelasan yang masuk akal.
Lucy menggeleng dengan tegas.
“Aku sudah kenal semua orang di desa ini sejak aku lahir, Ray. Tidak ada satu pun orang yang bernama Karla. Tidak ada satu pun orang yang berambut putih dan memakai gaun putih seperti yang aku lihat. Dan Ray, tubuhnya bercahaya. Bercahaya dan dingin. Itu bukan manusia biasa.”
Ray berhenti berjalan. Dia memandang istrinya dengan tatapan yang dalam.
“Baiklah,” kata Ray dengan nada yang sudah lebih tenang. “Kalau memang begitu, besok pagi subuh kita berangkat. Kita akan pergi ke hutan dekat sawah Bapak dan kita akan mencari tanaman Cortez itu. Aku akan menemanimu. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi sendiri.”
Lucy berdiri dan memeluk suaminya dengan erat. Air matanya menetes jatuh ke baju Ray yang sudah lusuh.
“Terima kasih, Ray,” bisik Lucy di dada suaminya. “Aku tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu.”
Ray membalas pelukan istrinya dan mengusap rambutnya dengan lembut.
“Kita akan menyelesaikan ini bersama-sama,” kata Ray. “Apapun yang terjadi.”
Malam tiba.
Desa Clowfitch tenggelam dalam kegelapan yang pekat. Tidak ada lampu jalan yang menerangi gang-gang sempit di antara rumah-rumah penduduk. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah lampu minyak dan lampu teplok yang menyala redup dari balik jendela-jendela rumah, menciptakan titik-titik kuning keemasan yang berpendar lemah di tengah luasnya kegelapan malam. Suara jangkrik bernyanyi bersahutan dari semak-semak dan dari balik tumpukan jerami yang mengering di pinggir-pinggir jalan. Sesekali terdengar suara katak yang berkeok dari arah sawah yang tergenang air, menambah simfoni malam yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari penduduk desa ini.
Di dalam kamar tidur mereka yang kecil dan sederhana, Lucy dan Ray berbaring bersebelahan di atas kasur kapuk yang tipis. Kasur itu diletakkan langsung di atas lantai papan kayu yang sudah menghitam dan licin. Sebuah kelambu yang terbuat dari kain tipis berwarna putih kusam mengelilingi kasur mereka, melindungi dari nyamuk-nyamuk yang selalu berdengung setiap malam di desa ini. Lampu teplok yang diletakkan di sudut kamar memancarkan cahaya oranye yang lemah, membuat bayangan-bayangan mereka bergoyang pelan di dinding kayu kamar.
Ray sudah tertidur pulas. Napasnya teratur dan berat, menandakan bahwa tubuhnya yang kelelahan sudah menyerah sepenuhnya kepada kantuk. Dia tidur miring menghadap ke arah Lucy, dengan satu tangannya diletakkan di atas perut istrinya. Wajahnya terlihat tenang dan damai di bawah cahaya lampu teplok yang bergoyang.
Tapi Lucy tidak bisa tidur.
Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gelap. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Telinganya memasang pendengaran yang tajam, menangkap setiap suara sekecil apapun yang muncul dari kegelapan malam di luar kamar mereka. Dia mendengar suara angin yang bertiup pelan menggoyangkan daun-daun pisang di halaman. Dia mendengar suara kucing tetangga yang mengeong dari kejauhan. Dia mendengar suara tikus yang berlari-lari di atas loteng rumah mereka.
Dan kemudian, dia mendengarnya.
Temukan Cortez.
Suara itu muncul begitu saja di dalam kepalanya, seperti gelombang yang datang dari kejauhan dan menghantam tepi pikirannya dengan lembut namun pasti. Bukan suara yang masuk melalui telinganya. Bukan suara yang berasal dari luar tubuhnya. Suara itu muncul langsung di dalam benaknya, di tempat di mana pikiran dan perasaan bercampur menjadi satu.
Temukan Cortez. Temukan Cortez. Temukan Cortez.
Berulang-ulang. Tanpa jeda. Tanpa henti. Seperti mantra yang dibacakan oleh seseorang yang tidak bisa dia lihat, tidak bisa dia sentuh, tapi bisa dia rasakan kehadirannya di setiap sudut pikirannya.
Lucy memejamkan matanya erat-erat. Tangannya mencengkeram selimut tipis yang menutupi tubuhnya sampai buku-buku jarinya memutih. Dia berusaha mengabaikan suara itu. Dia berusaha mengisi pikirannya dengan hal-hal lain. Dia memikirkan wajah ayahnya Regard yang tersenyum hangat. Dia memikirkan aroma kopi hitam yang selalu dibuatnya untuk Ray setiap pagi. Dia memikirkan sawah yang hijau dan indah di bawah sinar matahari.
Tapi suara itu tidak mau pergi.
Temukan Cortez. Adikku sakit. Tolong temukan Cortez.
Suara itu semakin keras. Bukan keras dalam artian volume suara yang meningkat, tapi keras dalam artian intensitas dan tekanan yang dirasakan Lucy di dalam kepalanya. Seolah-olah seseorang sedang menekan otaknya dari segala arah secara bersamaan. Lucy merasakan keringat mulai membasahi dahinya, mengalir turun ke pelipisnya dan menetes ke bantal yang sudah lembap.
Kemudian sesuatu yang lebih mengerikan terjadi.
Lucy merasakan udara di dalam kamar berubah. Suhu yang tadinya hangat karena tertutupnya jendela dan pintu tiba-tiba berubah menjadi dingin. Sangat dingin. Dingin yang sama seperti yang dia rasakan ketika Karla berdiri di dekatnya pada subuh hari itu. Dingin yang tidak berasal dari angin malam atau dari perubahan cuaca. Dingin yang berasal dari sesuatu yang lain. Dari seseorang yang lain.
Lucy membuka matanya.
Dan dia melihatnya.
Di sudut kamar, tepat di sebelah lampu teplok yang cahayanya kini bergoyang-goyang dengan liar seolah-olah ditiup oleh angin yang tidak ada, berdiri sosok Karla. Wanita berambut putih itu ada di sana, di dalam kamar tidur Lucy, berdiri dengan tenang dan tersenyum dengan senyuman yang sama seperti pertama kali mereka bertemu. Gaun putihnya yang panjang menyentuh lantai kayu dan seolah-olah melayang sedikit di atas permukaan lantai. Tubuhnya memancarkan cahaya putih kebiruan yang menerangi sudut kamar dengan cara yang tidak wajar, seperti cahaya bulan yang entah bagaimana bisa masuk ke dalam ruangan yang tertutup rapat.
Lucy ingin berteriak. Mulutnya terbuka lebar, siap untuk melepaskan teriakan yang sudah berkumpul di tenggorokannya. Tapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokannya terasa tercekat, seolah-olah ada tangan yang tidak terlihat yang mencengkeram lehernya dan menahan setiap suara yang berusaha keluar dari mulutnya.
Karla memiringkan kepalanya sedikit ke kanan. Senyumannya tidak berubah. Matanya yang berwarna putih keperakan menatap Lucy dengan tatapan yang sulit diartikan. Apakah itu tatapan memohon? Apakah itu tatapan mengancam? Atau apakah itu tatapan dari makhluk yang sudah berada jauh melampaui batas-batas emosi manusia?
“Lucy,” bisik Karla. Suaranya terdengar seperti gema yang datang dari dasar sumur yang dalam. “Aku membutuhkan Cortez. Adikku sangat kesakitan. Tolong, Lucy. Temukan Cortez untukku.”
Air mata mengalir dari mata Lucy yang terbuka lebar. Tubuhnya gemetar hebat di bawah selimut tipis. Dia ingin membangunkan Ray yang masih tertidur pulas di sampingnya, tapi tangannya tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya terasa lumpuh, terpaku di atas kasur seperti boneka kayu yang tidak memiliki kehidupan.
“Besok,” bisik Karla lagi. “Temukan Cortez besok. Atau bisikan ini tidak akan pernah berhenti. Tidak akan pernah berhenti, Lucy.”
Kemudian, dengan gerakan yang begitu cepat sehingga mata Lucy hampir tidak bisa menangkapnya, Karla bergerak. Atau lebih tepatnya, sosoknya bergeser. Dari sudut kamar tempat dia berdiri, sosok Karla berpindah ke sisi kasur tempat Lucy berbaring. Dia berdiri tepat di atas Lucy, menatap ke bawah dengan mata putih keperakannya yang tidak berkedip. Cahaya putih kebiruan dari tubuhnya menyinari wajah Lucy yang basah oleh air mata dan keringat.
Lucy merasakan dingin yang luar biasa menusuk tulang-tulangnya. Napasnya membentuk uap putih yang tipis di udara, seolah-olah dia sedang berada di puncak gunung di tengah musim dingin, bukan di dalam kamar tidurnya di desa Clowfitch yang beriklim tropis.
Karla mengulurkan tangannya. Tangan yang putih dan panjang dengan jari-jari yang ramping itu bergerak turun perlahan-lahan menuju wajah Lucy. Lucy ingin menghindar, ingin memalingkan wajahnya, ingin melakukan apapun untuk menjauh dari sentuhan tangan itu. Tapi tubuhnya masih tidak mau menuruti perintah otaknya.
Ujung jari Karla menyentuh dahi Lucy.
Dingin.
Dingin yang begitu dahsyat sehingga Lucy merasa seluruh isi kepalanya membeku dalam sekejap. Dingin yang menembus kulit, menembus tulang tengkorak, menembus lapisan demi lapisan hingga mencapai tempat di mana pikiran dan kesadarannya bersemayam. Dan bersama dengan dingin itu, bisikan itu kembali muncul, kali ini seribu kali lebih kuat dan lebih mendesak dari sebelumnya.
TEMUKAN CORTEZ. TEMUKAN CORTEZ. TEMUKAN CORTEZ.
Lucy berteriak.
Kali ini suaranya keluar. Keluar dengan kekuatan penuh yang merobek kesunyian malam desa Clowfitch seperti petir yang menyambar di tengah langit yang cerah. Teriakan itu begitu keras dan begitu tajam sehingga beberapa ekor burung yang sedang tidur di pohon mangga di depan rumah mereka terbangun dan terbang mengepak-ngepakkan sayapnya dengan panik ke segala arah.
Ray terlonjak bangun. Matanya langsung terbuka lebar dan tubuhnya langsung terduduk tegak di atas kasur. Jantungnya berdebar sangat kencang karena terkejut oleh teriakan istrinya yang membelah keheningan malam.
“Lucy! Lucy! Ada apa?!” teriak Ray sambil meraba-raba tubuh istrinya dalam cahaya lampu teplok yang redup.
Lucy masih berteriak. Tubuhnya gemetar hebat seperti orang yang sedang kejang-kejang. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, membuat pakaian tidurnya basah kuyup seolah-olah baru saja diguyur air. Matanya terbuka lebar namun tidak fokus, seolah-olah dia sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh Ray.
Ray memeluk istrinya dengan erat, menariknya ke dalam dekapannya dan mengelus rambutnya yang basah oleh keringat.
“Lucy, tenang. Tenang. Aku di sini. Aku di sini, Lucy,” kata Ray berulang-ulang dengan suara yang berusaha dia buat selembut mungkin meskipun jantungnya sendiri masih berdebar kencang karena ketakutan.
Perlahan-lahan, teriakan Lucy mereda. Gemetar di tubuhnya mulai berkurang. Napasnya yang tadinya tersengal-sengal mulai kembali teratur meskipun masih lebih cepat dari biasanya. Lucy mencengkeram baju Ray dengan kedua tangannya, menarik suaminya lebih dekat seolah-olah Ray adalah satu-satunya hal yang bisa melindunginya dari apapun yang baru saja mengunjunginya di tengah malam.
“Dia ada di sini, Ray,” bisik Lucy dengan suara yang pecah. “Karla. Dia ada di sini. Di kamar ini. Dia menyentuh dahiku. Dingin, Ray. Sangat dingin.”
Ray menoleh ke sekeliling kamar. Lampu teplok masih menyala dan bergoyang pelan. Tidak ada siapa pun di kamar itu selain mereka berdua. Tidak ada sosok berambut putih. Tidak ada cahaya kebiruan. Tidak ada apa pun yang aneh. Hanya kegelapan malam yang biasa dan suara jangkrik yang masih bernyanyi tanpa peduli di luar jendela.
Tapi Ray tidak lagi meragukan istrinya.
Dia melihat ketakutan yang sesungguhnya di mata Lucy. Bukan ketakutan karena mimpi buruk. Bukan ketakutan karena imaginasi yang berlebihan. Ini adalah ketakutan yang berasal dari pengalaman nyata, dari sesuatu yang benar-benar terjadi dan benar-benar dirasakan oleh istrinya.
“Besok,” kata Ray dengan suara yang tegas dan penuh tekad. “Besok subuh, sebelum matahari terbit, kita berangkat. Kita tidak akan menunggu lagi. Kita akan pergi ke hutan dekat sawah Bapak dan kita akan mencari tanaman Cortez itu. Aku tidak peduli badanku masih pegal. Aku tidak peduli aku belum sepenuhnya pulih. Yang aku pedulikan hanya kamu, Lucy. Aku tidak akan membiarkan kamu tersiksa seperti ini lebih lama lagi.”
Lucy menatap suaminya dengan mata yang masih berair. Dalam cahaya lampu teplok yang redup, wajah Ray terlihat serius dan penuh keteguhan. Dan di saat itu, Lucy merasakan sedikit kelegaan mengalir ke dalam hatinya. Sedikit kehangatan yang melawan dingin yang masih terasa di dahinya, di tempat di mana ujung jari Karla menyentuhnya beberapa saat yang lalu.
“Kamu janji?” tanya Lucy dengan suara kecil.
Ray mengangguk mantap.
“Aku janji,” jawab Ray. “Dan setelah kita menemukan tanaman itu dan menyerahkannya kepada wanita itu, semua ini akan berakhir. Bisikan itu akan berhenti. Kamu akan bisa tidur dengan tenang lagi. Kita akan hidup seperti biasa lagi.”
Lucy menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Dia mendengarkan detak jantung Ray yang kuat dan teratur, membiarkan irama itu menjadi pengganti bisikan Karla yang masih samar-samar terdengar di sudut pikirannya yang paling jauh.
Di luar, angin malam bertiup pelan melewati desa Clowfitch, menggoyangkan dedaunan dan membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan bau jerami yang mengering. Bulan sabit yang tipis menggantung rendah di langit barat, hampir tidak memberikan cahaya sama sekali kepada bumi di bawahnya. Dan di kejauhan, di arah di mana hutan gelap membentang di sepanjang tepi sawah milik Regard, seekor burung hantu mengeluarkan suaranya yang panjang dan melengking, memecah kesunyian malam dengan nada yang terdengar seperti peringatan.
Lucy tidak tidur semalaman. Dia hanya berbaring di dalam pelukan Ray, memandangi kegelapan di sudut kamar tempat Karla berdiri tadi, dan menghitung detak jantung suaminya sambil menunggu fajar datang. Bisikan itu masih ada, masih berbisik “temukan Cortez” berulang-ulang di dalam kepalanya, tapi kini Lucy tidak lagi berusaha melawannya. Dia membiarkannya. Besok dia akan menemukan tanaman itu. Besok dia akan mengakhiri semua ini.
Dan tanpa dia sadari, di balik jendela kamar yang tertutup rapat, bayangan tipis seorang wanita berambut putih bergerak perlahan melewati pekarangan rumah mereka, melangkah tanpa suara menuju arah kebun Regard, dan menghilang di antara batang-batang pohon yang gelap.
Subuh menjelang.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!