Bab 7 Kembali Ke Cahaya

2 dibaca

A

Langkah mereka lambat dan berat.

Setiap langkah yang Lucy ambil terasa seperti mengangkat batu yang diikatkan di kedua kakinya. Tubuhnya yang sudah melampaui batas kelelahan bergerak hanya karena satu hal  tekad yang bersarang di dalam dadanya yang tidak mau padam meskipun seluruh ototnya menjerit meminta berhenti. Sisi kiri dadanya berdenyut nyeri setiap kali dia menarik napas, tulang rusuknya yang mungkin retak mengirimkan gelombang rasa sakit yang tajam menjalar dari dadanya ke punggungnya setiap kali tubuhnya bergoyang mengikuti irama langkahnya yang tertatih-tatih. Luka-luka di lengannya, di betisnya, di punggungnya, semuanya berdenyut dan perih dan mengeluarkan darah yang sudah mengering menjadi kerak-kerak cokelat gelap di atas kulitnya.

Di sampingnya, Ray berjalan dengan kondisi yang tidak jauh lebih baik. Lengan kirinya melingkari bahu Lucy, menumpukan sebagian berat badannya kepada istrinya yang bertubuh lebih kecil. Kakinya yang selama entah berapa lama dililit oleh tentakel monster terasa kebas dan kesemutan, seolah-olah darah baru saja mulai mengalir kembali ke bagian-bagian yang selama ini tertekan dan terhambat. Bekas-bekas lilitan tentakel meninggalkan garis-garis merah keunguan di kulit kakinya, di pinggangnya, dan di dadanya, garis-garis yang terlihat seperti luka cambuk yang membengkak dan perih.

Mereka berjalan melewati bangkai monster yang membusuk di tengah ruangan aula. Gundukan hitam yang tadinya adalah tubuh makhluk bertentakel dan berenam jantung itu kini menyusut menjadi separuh dari ukuran aslinya, dagingnya yang menghitam dan mengering mengeluarkan bau busuk yang tajam dan menyengat yang membuat Ray tersedak dan batuk-batuk. Potongan-potongan tentakel yang berserakan di lantai sudah mengering dan mengeras seperti ranting-ranting kayu yang mati, rapuh dan mudah hancur ketika terinjak oleh kaki mereka.

Genangan cairan kehijauan yang berceceran di lantai batu sudah mulai mengental dan berubah warna menjadi cokelat gelap, seperti lumpur yang mengering di bawah terik matahari. Pedang berukiran indah yang Lucy gunakan untuk menghancurkan enam jantung monster tergeletak di lantai di dekat bangkai, bilahnya yang tadinya berkilauan perak kebiruan kini berlumuran darah monster yang sudah mengering menjadi kerak hitam di permukaannya.

Lucy berhenti sejenak di samping pedang itu. Dia memandangnya selama beberapa detik, mempertimbangkan untuk mengambilnya ll, senjata itu sudah menyelamatkan nyawa Ray, sudah membantunya melawan makhluk yang seharusnya tidak bisa dilawan oleh manusia biasa. Tapi kemudian Lucy menggelengkan kepalanya dan terus berjalan. Pedang itu milik tempat ini. Milik dunia bawah tanah yang gelap dan mengerikan ini. Dan Lucy tidak ingin membawa apa pun dari tempat ini kembali ke dunia atas. Tidak satu pun.

“Kamu tidak mengambilnya?” tanya Ray dengan suara yang serak dan parau.

“Tidak,” jawab Lucy. “Aku tidak mau membawa apa pun dari sini.”

Ray mengangguk. Dia memahami perasaan istrinya tanpa memerlukan penjelasan lebih lanjut.


Pintu kayu di ujung ruangan aula semakin dekat dengan setiap langkah yang mereka ambil. Dari kejauhan, pintu itu terlihat seperti pintu rumah biasa, sederhana, kokoh, dengan cat yang sudah mengelupas di beberapa bagian dan engsel besi yang berkarat. Tapi semakin dekat mereka menghampiri, semakin jelas terlihat bahwa pintu ini bukan pintu biasa.

Di permukaan kayu pintu, ukiran-ukiran halus yang nyaris tidak terlihat dari kejauhan kini menjadi jelas. Ukiran-ukiran itu menggambarkan pemandangan, sawah yang membentang luas dengan padi yang menguning, pohon-pohon yang berjajar di tepi pematang, gunung-gunung yang menjulang di kejauhan, dan matahari yang terbit di ufuk timur. Pemandangan yang sangat dikenal Lucy. Pemandangan desanya. Pemandangan Clowfitch.

Dan di bagian bawah pintu, tepat di atas lantai, sebuah celah tipis terlihat. Dari celah itu, cahaya menerobos masuk. Cahaya yang berwarna kuning keemasan dan hangat, bukan cahaya obor yang bergoyang dan tidak stabil, bukan cahaya lilin yang redup dan rapuh. Ini adalah cahaya matahari. Cahaya matahari yang sesungguhnya.

Lucy merasakan air matanya mengalir lagi. Dia sudah menangis begitu banyak hari ini, menangis karena ketakutan, menangis karena kesakitan, menangis karena kasihan, menangis karena lega, sehingga dia mengira air matanya sudah habis. Tapi ternyata tidak. Air mata masih mengalir dari matanya yang merah dan bengkak ketika cahaya matahari yang hangat dan nyata itu menyentuh wajahnya melalui celah di bawah pintu.

“Cahaya matahari,” bisik Ray. Suaranya bergetar. “Lucy, itu cahaya matahari.”

“Ya,” jawab Lucy sambil menghapus air matanya. “Kita hampir sampai, Ray. Kita hampir pulang.”


Mereka berdiri di depan pintu kayu itu. Lucy mengulurkan tangannya ke arah gagang pintu yang terbuat dari logam keemasan. Tangannya berhenti sesaat di udara, jari-jarinya yang berlumuran darah monster dan debu dan keringat bergetar pelan di beberapa sentimeter dari gagang pintu.

Ketakutan.

Bukan ketakutan terhadap apa yang ada di balik pintu. Ketakutan terhadap kemungkinan bahwa apa yang ada di balik pintu itu bukan apa yang dia harapkan. Bagaimana jika pintu ini tidak membawa mereka kembali ke dunia atas? Bagaimana jika di balik pintu ini ada ruangan gelap yang lain, lorong batu yang lain, monster yang lain? Bagaimana jika semua ini, cahaya matahari, ukiran pemandangan desa, hanyalah jebakan yang dipasang Karla untuk memberi mereka harapan palsu sebelum merenggutnya lagi?

Lucy menarik napas dalam-dalam. Tulang rusuknya yang mungkin retak mengirimkan rasa sakit yang menusuk, tapi dia mengabaikannya. Dia memejamkan matanya dan membayangkan wajah ayahnya. Regard. Pria tua yang kuat dan pendiam yang setiap pagi bangun sebelum matahari terbit untuk pergi ke sawah. Pria yang mengajarkan Lucy cara menanam padi, cara memanen sereh, cara membaca tanda-tanda cuaca dari bentuk awan dan arah angin. Pria yang selalu ada untuknya, yang selalu menunggunya, yang pasti saat ini sedang berdiri di sawahnya dan bertanya-tanya di mana putrinya dan menantunya.

Lucy membuka matanya dan meraih gagang pintu.

Logam keemasan itu terasa hangat di telapak tangannya. Hangat seperti logam yang sudah lama dijemur di bawah sinar matahari. Kehangatan itu menjalar dari telapak tangannya ke jari-jarinya, naik melalui pergelangan tangannya, dan menyebar ke lengannya, ke bahunya, ke seluruh tubuhnya yang kelelahan dan kesakitan. Kehangatan yang terasa seperti pelukan. Seperti sambutan. Seperti janji.

Lucy memutar gagang pintu.

Pintu itu terbuka.


Cahaya menyerbak masuk.

Bukan cahaya yang pelan dan bertahap seperti fajar yang menyingsing di ufuk timur. Ini adalah cahaya yang datang sekaligus, membanjiri ruangan aula yang gelap dengan gelombang cahaya matahari yang terang dan hangat dan menyilaukan. Lucy dan Ray memejamkan mata mereka secara refleks, tangan-tangan mereka terangkat untuk melindungi wajah mereka dari cahaya yang terasa begitu menyakitkan bagi mata yang sudah terlalu lama berada di kegelapan.

Angin bertiup masuk melalui pintu yang terbuka. Angin yang berbeda dari udara yang dingin dan lembap dan pengap di ruangan bawah tanah. Angin ini hangat dan kering dan berbau seperti... padi. Bau padi yang sudah menguning dan siap dipanen. Bau tanah sawah yang lembap dan subur. Bau rumput liar yang tumbuh di atas pematang. Bau matahari yang memanaskan permukaan tanah. Bau desa. Bau rumah. Bau kehidupan.

Lucy membuka matanya perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit, matanya menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang terang, dan apa yang dia lihat membuat lututnya terasa lemas dan air matanya mengalir lebih deras.

Sawah.

Di hadapannya membentang sawah milik ayahnya, Regard. Hamparan padi yang menguning keemasan bergoyang-goyang pelan ditiup angin, bulir-bulirnya yang berat menunduk ke bawah seperti kepala-kepala kecil yang memberi hormat. Air yang menggenangi sawah memantulkan cahaya matahari yang sudah cukup tinggi di langit, menciptakan kilatan-kilatan keperakan yang berkedip-kedip di antara batang-batang padi. Pematang-pematang tanah yang sempit membagi sawah menjadi petak-petak yang teratur, dan di atas pematang itu, rumput-rumput liar tumbuh hijau dan subur, bergoyang mengikuti irama angin yang sama.

Dan di kejauhan, di balik hamparan sawah yang luas, desa Clowfitch terlihat. Rumah-rumah penduduk yang berjajar di sepanjang jalan tanah, dengan atap-atap jerami dan dinding-dinding bambu mereka yang sudah menghitam karena asap dapur dan usia. Pohon-pohon mangga dan kelapa yang tumbuh di pekarangan rumah-rumah itu bergoyang pelan, daun-daunnya yang hijau berkilauan di bawah sinar matahari.

Lucy melangkah keluar dari pintu.


Kakinya menyentuh tanah.

Tanah yang nyata. Tanah pematang sawah yang kering dan hangat dan keras di bawah telapak kakinya. Bukan lantai batu yang dingin dan basah. Bukan lumut yang lembut dan licin. Ini adalah tanah. Tanah yang sesungguhnya. Tanah dunia atas. Tanah desanya. Tanah rumahnya.

Lucy jatuh berlutut di atas pematang sawah. Tangannya yang berlumuran darah monster dan keringat dan air mata menyentuh permukaan tanah yang hangat, jari-jarinya menggali ke dalam tanah yang kering dan gembur, merasakan butiran-butiran tanah yang kasar dan nyata di bawah kukunya. Dia menangis lagi. Menangis tanpa suara, air matanya jatuh ke tanah pematang sawah dan membuat titik-titik gelap di permukaan tanah yang kering.

Ray melangkah keluar di belakangnya. Kakinya yang masih lemah dan gemetar menyentuh tanah pematang, dan tubuhnya yang sudah nyaris kehabisan tenaga hampir ambruk jika Lucy tidak cepat bangkit dan menangkap lengannya.

Di belakang mereka, pintu kayu yang baru saja mereka lewati berdiri sendirian di atas pematang sawah, seperti pintu tanpa rumah yang tumbuh dari tanah. Tapi ketika Lucy menoleh ke belakang untuk melihat pintu itu, pintu itu sudah tidak ada.

Tidak ada pintu. Tidak ada ruangan aula. Tidak ada lorong batu yang gelap. Tidak ada monster yang membusuk. Tidak ada lilin. Tidak ada obor. Tidak ada pedang berukiran indah.

Yang ada hanyalah pematang sawah yang biasa, dengan rumput liar yang tumbuh di atasnya dan katak-katak kecil yang melompat di antara batang-batang padi di sawah yang menggenanginya. Seolah-olah semua yang mereka alami di bawah tanah, semua kegelapan, semua ketakutan, semua pertarungan, tidak pernah terjadi.

Tapi luka-luka di tubuh mereka mengatakan sebaliknya.


Lucy membantu Ray duduk di atas pematang sawah. Ray duduk dengan punggung bersandar di batang pohon kelapa kecil yang tumbuh di tepi sawah, kakinya terulur ke depan, dan matanya yang memerah dan bengkak memejam merasakan kehangatan matahari yang menyentuh wajahnya. Sinar matahari yang tadinya dia anggap biasa, sesuatu yang datang setiap hari tanpa perlu diminta dan tanpa perlu disyukuri, kini terasa seperti anugerah yang paling berharga di dunia. Kehangatan yang menyebar di kulit wajahnya, cahaya yang menerangi kegelapan di balik kelopak matanya yang terpejam, udara yang bersih dan hangat yang mengisi paru-parunya dengan setiap tarikan napas, semua itu terasa seperti kemewahan yang tidak ternilai setelah menghabiskan entah berapa lama di dunia bawah tanah yang gelap dan dingin dan mengerikan.

“Kita selamat,” bisik Ray tanpa membuka matanya. Suaranya masih serak dan lemah, tapi ada sesuatu yang berbeda di dalamnya sekarang. Kelegaan. Rasa syukur yang begitu besar sehingga tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata yang lebih panjang dari dua kata sederhana itu. “Kita selamat.”

Lucy duduk di samping suaminya. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Ray, merasakan kehangatan tubuh suaminya yang masih hidup dan bernapas di sampingnya. Tangannya meraih tangan Ray dan menggenggamnya dengan erat, genggaman yang mengatakan lebih banyak hal daripada yang bisa diucapkan oleh kata-kata mana pun.

Mereka duduk di sana dalam keheningan yang damai. Mendengarkan suara-suara yang selama ini mereka anggap biasa dan kini terasa seperti musik yang paling indah di dunia. Kicau burung-burung kecil yang berterbangan di atas sawah. Kokok ayam yang bersahutan dari pekarangan-pekarangan rumah di kejauhan. Gemericik air yang mengalir perlahan di saluran irigasi di antara petak-petak sawah. Desir angin yang bertiup lembut di atas padi-padi yang menguning. Suara-suara dunia yang hidup dan nyata dan hangat.


“Lucy! Ray!”

Suara itu datang dari arah sawah di sebelah timur. Suara pria tua yang dalam dan berat, suara yang sangat dikenal Lucy sejak dia masih bayi, suara yang selalu membuatnya merasa aman dan terlindungi tidak peduli seberapa menakutkan keadaan di sekelilingnya.

Ayahnya.

Regard berdiri di pematang sawah sekitar tiga puluh meter dari tempat Lucy dan Ray duduk. Pria tua itu mengenakan pakaian kerjanya yang biasa, celana kain berwarna cokelat yang sudah lusuh, baju lengan panjang berwarna biru tua yang sudah pudar, dan topi anyaman bambu yang lebar yang melindungi kepala dan wajahnya dari terik matahari. Di tangan kanannya dia memegang cangkul yang gagangnya sudah licin dan menghitam karena bertahun-tahun digunakan. Kakinya yang telanjang dan berlumpur berdiri kokoh di atas pematang sawah, seperti akar pohon yang sudah tertanam dalam di tanah.

Wajah Regard yang biasanya tenang dan tak banyak berubah ekspresi kini menunjukkan keterkejutan ketika matanya melihat putrinya dan menantunya duduk di tepi sawahnya dalam keadaan yang sangat mengenaskan, pakaian robek-robek, tubuh berlumuran darah dan kotoran, wajah pucat dan penuh luka, dan mata yang merah dan bengkak karena terlalu banyak menangis.

“Kalian dari mana?!” seru Regard sambil berjalan cepat menghampiri mereka. Cangkulnya diletakkan begitu saja di atas pematang, dan langkahnya yang biasanya mantap dan terukur kini menjadi tergesa-gesa dan penuh kekhawatiran. “Apa yang terjadi dengan kalian? Kenapa kalian seperti ini?”

Regard berlutut di depan putrinya. Tangan-tangannya yang besar dan kasar karena bertahun-tahun bekerja di sawah memegang bahu Lucy, membalikkan tubuh putrinya agar menghadapnya, dan matanya yang tajam memeriksa luka-luka di wajah dan lengan Lucy dengan cepat. Keningnya yang sudah penuh kerutan semakin dalam kerutannya ketika dia melihat goresan-goresan di kulit putrinya, bekas-bekas hisap merah di pergelangan tangan dan betis, dan cara Lucy meringis setiap kali dia menarik napas yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah di bagian dadanya.

“Bapak,” kata Lucy. Suaranya pecah ketika dia melihat wajah ayahnya yang penuh kekhawatiran. Dia ingin menceritakan semuanya, tentang Karla, tentang Cortez, tentang Ray yang mematung, tentang hutan yang berkabut, tentang ruangan gelap bawah tanah, tentang video yang menunjukkan masa lalu Karla, tentang pertarungan dengan monster berenam jantung, tapi kata-katanya tersangkut di tenggorokannya dan yang keluar hanyalah isakan tangis yang tidak bisa dia tahan.

Regard memeluk putrinya. Pelukan yang kuat dan hangat dan protektif, pelukan seorang ayah yang menemukan anaknya setelah nyaris kehilangannya. Lucy membenamkan wajahnya di bahu ayahnya yang berbau tanah dan keringat dan matahari, dan dia menangis lagi, tangisan yang kali ini bukan tangisan ketakutan atau kesakitan, tapi tangisan seorang anak yang akhirnya kembali ke pelukan ayahnya setelah perjalanan yang sangat panjang dan sangat mengerikan.


Regard melepaskan pelukannya setelah beberapa saat dan berpindah ke Ray. Pria tua itu memeriksa kondisi menantunya dengan mata yang tajam dan terlatih, mata seorang petani yang sudah terbiasa membaca tanda-tanda di alam dan di tubuh hewan-hewan ternaknya. Dia melihat bekas-bekas lilitan di kaki, pinggang, dan dada Ray. Dia melihat wajah Ray yang pucat dan bibir yang membiru. Dia melihat cara Ray bernapas yang pendek dan dangkal, seolah-olah setiap tarikan napas membutuhkan usaha yang besar.

“Bisa berjalan?” tanya Regard kepada Ray dengan nada yang singkat dan praktis, nada seorang pria yang tahu bahwa saat ini bukan waktunya untuk bertanya apa yang terjadi, melainkan waktunya untuk bertindak.

Ray mengangguk. “Bisa. Pelan-pelan.”

Regard mengangguk. Dia berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Ray, membantu menantunya berdiri dari tanah pematang sawah. Kemudian dia melakukan hal yang sama kepada Lucy, menarik putrinya berdiri dengan tangan yang kuat dan stabil.

“Pulang,” kata Regard. Satu kata. Tegas. Tidak terbantahkan. “Kalian pulang sekarang. Mandi. Makan. Istirahat. Baru nanti ceritakan apa yang terjadi.”

“Tapi Bapak, sawahnya...” kata Lucy sambil memandang ke arah sawah di mana cangkul ayahnya tergeletak di atas pematang.

“Sawah tidak akan ke mana-mana,” potong Regard. Suaranya tegas tapi matanya lembut. “Padi akan tetap di sana besok, lusa, dan lusanya lagi. Tapi kalian berdua perlu istirahat sekarang. Pulang.”


Mereka berjalan pulang bertiga menyusuri pematang sawah yang sempit. Regard berjalan di depan, langkahnya yang mantap dan kokoh memimpin jalan yang sudah dia hafal sejak dia masih kecil. Lucy berjalan di tengah, lengannya melingkari pinggang Ray yang berjalan di sampingnya, saling menopang satu sama lain di setiap langkah yang mereka ambil. Matahari yang sudah cukup tinggi di langit menyinari mereka dari atas, memanaskan punggung dan kepala mereka dengan kehangatan yang terasa seperti selimut yang diselimutkan oleh tangan yang penyayang.

Sawah milik Regard membentang di sekeliling mereka dengan keindahan yang sederhana dan tulus. Padi-padi yang menguning bergoyang-goyang pelan ditiup angin pagi yang hangat, bulir-bulirnya yang berat berbisik-bisik satu sama lain dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh tanaman dan angin. Capung-capung berwarna biru dan merah terbang rendah di atas permukaan air sawah, sayap-sayap transparan mereka berkilauan seperti sayap peri yang sedang menari di atas genangan kaca. Katak-katak kecil berwarna hijau duduk di atas daun-daun teratai yang mengapung di sudut-sudut sawah, memandang tiga orang manusia yang melintas di pematang dengan mata bulat mereka yang tidak berkedip.

Lucy memandang semua itu dan merasakan sesuatu yang dia tidak pernah rasakan sebelumnya ketika memandang sawah ayahnya. Rasa syukur. Rasa syukur yang begitu dalam dan begitu tulus sehingga membuatnya ingin menangis lagi, meskipun matanya sudah terlalu perih dan terlalu bengkak untuk mengeluarkan air mata lagi.

Sebelumnya, sawah ini hanyalah sawah. Tempat ayahnya bekerja. Tempat padi ditanam dan dipanen. Sumber penghidupan keluarganya. Pemandangan biasa yang dia lihat setiap hari sejak dia lahir.

Tapi sekarang, setelah menghabiskan waktu di dunia bawah tanah yang gelap dan dingin dan mengerikan, sawah ini terasa seperti surga. Setiap helai daun padi yang bergoyang ditiup angin terasa seperti keajaiban. Setiap kicau burung yang terdengar dari pohon-pohon di kejauhan terasa seperti nyanyian malaikat. Setiap hembusan angin yang menyentuh wajahnya yang pucat dan terluka terasa seperti belaian tangan Tuhan yang mengatakan selamat datang kembali.


Mereka melewati pohon beringin besar yang berdiri sendirian di antara hamparan sawah. Pohon raksasa itu masih berdiri tegak dan kokoh, akar-akar gantungnya yang panjang menjuntai ke bawah seperti tirai alami yang bergoyang pelan ditiup angin. Burung-burung kecil berterbangan di antara cabang-cabangnya yang lebat, berkicau riang menyambut pagi yang cerah.

Lucy memandang cabang terendah pohon beringin itu, cabang tempat dia dan Ray melihat pita putih yang diikatkan Karla ketika mereka berjalan menuju hutan pagi tadi. Atau kemarin. Atau entah berapa hari yang lalu. Lucy tidak tahu berapa lama mereka berada di bawah tanah. Waktu di sana tidak memiliki arti, dan tubuhnya terlalu kelelahan untuk mencoba menghitung.

Pita putih itu sudah tidak ada.

Cabang itu kosong. Tidak ada kain putih yang terikat di sana. Tidak ada tanda bahwa seseorang, atau sesuatu, pernah mengikatkan apa pun di dahan pohon beringin tua itu. Seolah-olah pita itu tidak pernah ada. Seolah-olah Karla tidak pernah meninggalkan petunjuk di sepanjang jalan menuju hutan.

Lucy tidak tahu apakah dia harus merasa lega atau khawatir karena hilangnya pita itu. Lega karena tanda-tanda keberadaan Karla sudah menghilang dari dunia mereka. Atau khawatir karena hilangnya tanda-tanda itu bisa berarti Karla masih ada di suatu tempat, menghapus jejaknya, bersembunyi dan menunggu.

Lucy memilih untuk tidak memikirkannya. Tidak sekarang. Sekarang, yang terpenting hanyalah pulang, mandi, makan, dan istirahat.


Mereka meninggalkan area persawahan dan memasuki jalan tanah yang membawa mereka kembali ke desa. Rumah-rumah penduduk mulai terlihat di kiri dan kanan jalan, dengan pekarangan mereka yang ditanami pohon buah-buahan dan sayur-sayuran, dengan ayam-ayam yang berkeliaran bebas mencari makan di tanah yang gembur, dengan anjing-anjing yang tidur di bawah naungan pohon mangga.

Beberapa penduduk desa yang sudah beraktivitas menoleh memandang mereka dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Ibu Menik yang sedang menyapu halaman rumahnya berhenti menyapu dan memandang Lucy dan Ray dengan mata yang terbelalak. Pak Darmo yang sedang memberi makan ayam-ayamnya di pekarangan rumahnya meletakkan wadah pakannya dan berjalan mendekat, mulutnya terbuka hendak bertanya sebelum Regard mengangkat tangannya dan menggeleng pelan, isyarat yang mengatakan jangan tanya sekarang, nanti saya jelaskan.

Penduduk desa mengangguk dan mundur, meskipun mata mereka masih mengikuti tiga orang yang berjalan melewati mereka dengan tatapan yang penuh keingintahuan dan kekhawatiran. Pemandangan Lucy dan Ray yang berlumuran darah dan kotoran dan berpakaian robek-robek pasti terlihat sangat mengejutkan dan menakutkan bagi penduduk desa yang hidupnya tenang dan damai dan tidak pernah diwarnai oleh kejadian-kejadian yang tidak biasa.


Mereka sampai di rumah Lucy dan Ray.

Rumah sederhana itu berdiri di tempatnya yang biasa, di antara dua pohon pisang yang daunnya bergoyang pelan ditiup angin. Dinding-dinding bambu yang dianyam rapi, atap jerami yang sudah agak menghitam, teras kayu kecil di depan pintu dengan dua kursi bambu yang sudah usang, dan pekarangan tanah yang ditanami sereh dan beberapa tanaman bumbu lainnya. Semuanya persis seperti ketika Lucy meninggalkannya pagi tadi, atau kapan pun terakhir kali dia meninggalkan rumahnya. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang rusak. Tidak ada tanda-tanda bahwa sesuatu yang mengerikan telah terjadi di dunia bawah tanah tepat di bawah sawah ayahnya.

Rumah itu terlihat begitu biasa, begitu sederhana, begitu tidak istimewa. Tapi bagi Lucy yang baru saja kembali dari kegelapan, rumah itu terlihat seperti istana yang paling megah di dunia.

Regard membuka pintu rumah dan membantu Ray masuk ke dalam. Pria tua itu mendudukkan Ray di kursi kayu di ruang tamu kecil mereka, kemudian berjalan ke dapur dan kembali dengan segelas air putih yang dia sodorkan kepada Ray.

“Minum,” kata Regard.

Ray menerima gelas itu dengan tangan yang bergetar dan meminumnya sampai habis dalam beberapa tegukan besar. Air yang dingin dan segar mengalir turun di kerongkongannya yang kering dan sakit, dan untuk sesaat, rasa sakit di tubuhnya terasa sedikit berkurang, digantikan oleh kelegaan yang sederhana tapi sangat nyata, kelegaan meminum air bersih setelah sekian lama kehausan.

Regard mengisi gelas itu lagi dan memberikannya kepada Lucy yang berdiri di ambang pintu dapur, bersandar di kusen pintu dengan tubuh yang terlihat seperti bisa ambruk kapan saja. Lucy minum dengan rakus, air mengalir dari sudut mulutnya dan menetes ke bajunya yang sudah kotor dan robek, tapi dia tidak peduli. Air itu terasa seperti air yang paling enak yang pernah dia minum seumur hidupnya.


“Mandi dulu,” kata Regard setelah Lucy dan Ray menghabiskan masing-masing tiga gelas air putih. “Di sumur belakang ada air yang sudah saya timba tadi pagi. Baju ganti ada di lemari. Setelah mandi, makan. Saya akan masak nasi dan tumis kangkung.”

“Bapak tidak perlu repot-repot...” kata Lucy.

“Saya tidak bertanya apakah saya perlu repot-repot atau tidak,” potong Regard dengan nada yang tegas tapi penuh kasih sayang. “Saya bilang saya akan masak nasi dan tumis kangkung. Kalian mandi.”

Lucy tersenyum. Senyuman pertama yang benar-benar tidak dibebani oleh ketakutan atau kekhawatiran sejak dia bertemu Karla di depan rumahnya pada subuh hari itu. Senyuman yang muncul karena dia menyadari bahwa meskipun dunia bawah tanah yang gelap dan mengerikan itu nyata, dunia atas yang sederhana dan hangat dan penuh cinta ini juga nyata. Dan di dunia atas ini, ayahnya masih ada. Masih kuat. Masih protektif. Masih memasak tumis kangkung untuknya ketika dia membutuhkan kenyamanan.

“Terima kasih, Bapak,” bisik Lucy.

Regard memandang putrinya selama beberapa detik. Di balik wajahnya yang keras dan tidak banyak berubah ekspresi, Lucy bisa melihat sesuatu yang jarang diperlihatkan ayahnya kepada dunia, kelembutan. Kasih sayang yang mendalam dan diam yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata karena sudah terlihat jelas di cara matanya memandang putrinya.

“Sudah. Pergi mandi,” kata Regard sambil berbalik ke arah dapur. “Airnya keburu dingin.”


Lucy dan Ray bergantian mandi di sumur belakang rumah.

Air sumur yang dingin dan jernih terasa seperti obat ketika mengguyur tubuh Lucy yang penuh luka dan keringat dan darah monster. Dia berdiri di samping sumur, menimba air dengan ember kayu dan menyiramkan air itu ke seluruh tubuhnya berulang-ulang, merasakan setiap tetes air yang dingin membersihkan kulitnya dari kotoran dan kesakitan yang menempel di sana selama entah berapa lama. Darah monster yang sudah mengering menjadi kerak hitam di kulit tangannya dan wajahnya larut perlahan-lahan dan mengalir bersama air ke tanah.

Luka-luka di tubuhnya perih ketika air menyentuhnya, goresan-goresan di lengan, bekas-bekas hisap di pergelangan tangan dan betis, memar besar di punggung dan bahu, tapi rasa perih itu terasa bersih dan jujur, tidak seperti rasa sakit yang gelap dan menindas yang dia rasakan di bawah tanah. Ini adalah rasa sakit tubuh yang sedang menyembuhkan dirinya sendiri, rasa sakit yang jujur, rasa sakit yang akan berlalu.

Setelah mandi, Lucy mengenakan baju bersih yang dia ambil dari lemari kayu di kamar mereka, baju rumahan yang sederhana dari kain katun yang sudah dicuci ratusan kali sehingga terasa sangat lembut di kulitnya yang terluka. Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, menyisirnya dengan jari-jarinya, dan mengikatnya ke belakang dengan kain seperti biasa.

Ray mandi setelah Lucy. Pria itu berdiri lebih lama di samping sumur, mengguyur tubuhnya dengan air berulang-ulang, seolah-olah dia sedang berusaha membersihkan bukan hanya kotoran di kulitnya tapi juga ingatan di kepalanya tentang tentakel-tentakel yang melilit tubuhnya, tentang jantung-jantung yang berdenyut di depan wajahnya, tentang kegelapan dan rasa sakit dan ketakutan yang dia alami.

Ketika Ray keluar dari area sumur dengan baju bersih dan rambut yang basah, wajahnya sudah terlihat sedikit lebih baik. Masih pucat, masih lelah, masih meringis setiap kali tubuhnya bergerak terlalu cepat, tapi matanya sudah lebih jernih dan bibirnya sudah tidak lagi membiru.


Mereka duduk di meja makan kecil di dapur. Regard sudah menyiapkan makanan nasi putih yang masih mengepul panas di atas piring, tumis kangkung dengan bawang putih dan cabai merah yang aromanya membuat perut Lucy berbunyi keras, telur dadar yang tebal dan keemasan, dan segelas air putih untuk masing-masing.

Makanan yang sederhana. Makanan sehari-hari yang biasa dimakan oleh keluarga petani di desa Clowfitch. Tapi bagi Lucy dan Ray yang sudah sekian lama tidak makan dan tidak minum, makanan itu terlihat dan tercium dan terasa seperti hidangan paling mewah yang pernah disajikan di atas meja mana pun di dunia.

Mereka makan dalam keheningan. Tidak ada yang berbicara. Regard duduk di ujung meja, memandangi putrinya dan menantunya makan dengan tatapan yang tenang dan sabar, sesekali mengisi ulang gelas air mereka yang cepat kosong. Pria tua itu tidak bertanya apa-apa. Tidak mendesak. Tidak menunjukkan rasa penasaran yang berlebihan. Dia hanya duduk di sana, hadir, diam, dan menunggu sampai mereka siap untuk bercerita.

Setelah makan, Lucy dan Ray memindahkan diri ke ruang tamu kecil mereka. Lucy duduk di kursi bambu yang sudah usang, dan Ray berbaring di atas tikar anyaman pandan yang dibentangkan Regard di lantai. Dalam hitungan menit, Ray sudah tertidur, tidur yang sangat nyenyak, tidur yang dibutuhkan oleh tubuh yang sudah melampaui batas kelelahannya. Napasnya menjadi teratur dan dalam, dadanya naik turun dengan irama yang lambat dan damai, dan wajahnya yang tadi tegang kini menjadi rileks dan tenang.

Lucy memandangi suaminya yang tertidur. Tangannya menjulur ke bawah dari kursi dan menyentuh rambut Ray yang basah dan berantakan, menyisirnya pelan-pelan dengan jari-jarinya. Di wajah Ray yang tertidur, Lucy bisa melihat wajah pria yang pertama kali datang ke desa Clowfitch dari kota, pria yang jatuh cinta kepadanya di antara padi-padi yang bergoyang dan senja yang keemasan, pria yang menjadi suaminya dan yang berjanji untuk bersamanya seumur hidup.

“Selamat tidur, Ray,” bisik Lucy.


Regard berdiri di ambang pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan teras depan. Punggungnya bersandar di kusen pintu kayu yang sudah lapuk, dan matanya memandang ke luar ke arah jalan tanah desa yang sudah mulai ramai oleh penduduk yang beraktivitas. Tangannya yang besar dan kapalan memegang segelas kopi hitam yang masih mengebulkan asap tipis.

“Bapak,” panggil Lucy pelan dari kursinya.

Regard menoleh.

“Nanti saya ceritakan semuanya,” kata Lucy. “Semuanya yang terjadi. Tapi tidak sekarang. Sekarang saya terlalu lelah.”

Regard memandangi putrinya selama beberapa saat. Mata tuanya yang tajam melihat lebih dari sekadar luka-luka fisik di tubuh putrinya, dia melihat kelelahan yang jauh lebih dalam dari kelelahan tubuh, kelelahan jiwa yang telah menanggung beban yang terlalu berat untuk bahu yang masih muda.

“Tidak perlu sekarang,” kata Regard. “Tidak perlu besok juga kalau belum siap. Ceritakan kalau sudah siap.”

Lucy mengangguk. Air matanya mengancam untuk mengalir lagi, tapi kali ini dia berhasil menahannya. Dia tersenyum kepada ayahnya, senyuman yang tipis dan lemah tapi tulus, dan Regard membalas senyuman itu dengan anggukan kecil sebelum berbalik lagi memandang ke luar pintu, meminum kopinya, dan membiarkan kesunyian yang damai mengisi rumah sederhana itu.

Lucy menyandarkan kepalanya di sandaran kursi bambu dan memejamkan matanya. Suara napas Ray yang teratur dan dalam terdengar dari lantai di bawahnya. Aroma tumis kangkung yang masih mengambang samar dari dapur bercampur dengan aroma tanah dan rumput yang masuk melalui jendela yang terbuka. Suara kicau burung dan kokok ayam dari luar bercampur menjadi lagu pengantar tidur yang alami dan menenangkan.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang terasa seperti selamanya, Lucy merasa aman.

Dia memejamkan matanya lebih erat. Pikirannya yang selama beberapa hari terakhir tidak pernah bisa diam, selalu dipenuhi oleh bisikan Karla, oleh ketakutan, oleh kekhawatiran, oleh tekad untuk bertahan hidup, kini perlahan-lahan menjadi tenang. Menjadi hening. Menjadi damai.

Di luar rumah, matahari bersinar terang di atas desa Clowfitch. Padi-padi di sawah bergoyang ditiup angin. Burung-burung terbang di langit yang biru dan bersih. Kehidupan berjalan seperti biasa, seperti seharusnya, seperti yang sudah berjalan selama bertahun-tahun dan bertahun-tahun sebelumnya.

Dan di dalam rumah sederhana yang berdiri di antara dua pohon pisang, seorang wanita muda dan suaminya tertidur dalam damai, saling menjaga meskipun dalam tidur, saling menggenggam meskipun dalam mimpi. Seorang ayah berdiri di ambang pintu, meminum kopinya, menjaga anaknya seperti yang sudah dia lakukan sejak anak itu lahir ke dunia.

Semuanya sudah berakhir.

Lucy dan Ray sudah pulang.

Mereka sudah kembali ke cahaya.

TAMAT

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk