Lucy berdiri di ambang pintu ruangan aula itu, tubuhnya membeku, matanya terbelalak lebar, dan lilin di tangannya nyaris terlupakan karena ruangan ini sudah cukup terang oleh puluhan obor yang menyala di sepanjang dindingnya.
Tapi cahaya obor-obor itu tidak membuat pemandangan di depannya menjadi lebih baik. Justru sebaliknya. Cahaya itu membuat segalanya terlihat lebih jelas. Lebih mengerikan. Lebih nyata.
Di tengah ruangan aula yang besar dan megah itu, sebuah makhluk duduk.
Bukan duduk seperti manusia yang duduk di atas kursi. Makhluk itu duduk seperti gunung daging yang menumpuk di atas lantai batu yang hitam. Tubuhnya sangat besar, mungkin setinggi tiga atau empat orang dewasa yang berdiri di atas bahu satu sama lain, dan lebarnya hampir memenuhi setengah dari luas ruangan aula. Kulitnya berwarna abu-abu kehijauan yang basah dan berlendir, dengan tekstur yang menyerupai kulit katak raksasa yang ditutupi oleh lapisan lendir transparan yang berkilauan di bawah cahaya obor.
Dan dari tubuh makhluk itu, tumbuh tentakel-tentakel.
Puluhan tentakel. Mungkin lebih. Tentakel-tentakel yang besar dan tebal tumbuh dari setiap sisi tubuh makhluk itu, menjulur ke segala arah seperti akar-akar pohon raksasa yang hidup dan bergerak. Setiap tentakel memiliki panjang yang berbeda-beda, yang terpendek mungkin sepanjang dua meter, yang terpanjang menjulur hingga menyentuh dinding-dinding aula yang jauh. Permukaan tentakel itu ditutupi oleh bintik-bintik hisap yang berwarna merah gelap, dan ujung-ujung tentakel itu meruncing seperti ujung cambuk yang basah dan licin.
Tentakel-tentakel itu bergerak tanpa henti. Bergerak perlahan dan tanpa suara, meliuk-liuk di udara dan di atas lantai seperti ular-ular yang sedang bermimpi. Beberapa tentakel menjalar di lantai, meninggalkan jejak lendir yang berkilauan di atas permukaan batu hitam. Beberapa yang lain terangkat ke udara, ujung-ujungnya bergoyang-goyang pelan seolah-olah sedang merasakan udara di sekelilingnya, mencari sesuatu, mengawasi sesuatu.
Tapi yang paling mengerikan dari makhluk itu bukan tentakelnya.
Yang paling mengerikan adalah jantungnya.
Enam jantung.
Enam buah jantung yang besar, masing-masing seukuran kepala manusia dewasa, menempel di bagian depan tubuh makhluk itu, tertanam di dalam daging abu-abu kehijauannya dengan cara yang membuat Lucy merasa mual. Jantung-jantung itu tidak tersembunyi di dalam tubuh makhluk seperti jantung manusia yang terlindungi di balik tulang rusuk. Jantung-jantung ini berada di permukaan, terekspos, terlihat jelas, berdetak dan berdenyut dengan irama yang bisa dilihat oleh mata telanjang.
Setiap jantung berwarna merah kehitaman, dengan permukaan yang licin dan basah dan penuh dengan pembuluh-pembuluh darah yang bercabang-cabang seperti sungai-sungai kecil yang mengalir di atas permukaannya. Jantung-jantung itu berdenyut secara bergantian, yang pertama berdenyut, kemudian yang kedua, kemudian yang ketiga, dan seterusnya, menciptakan irama yang lambat dan teratur yang bergema di seluruh ruangan aula seperti detak drum raksasa yang dimainkan oleh tangan yang tidak terlihat.
DUB! Dub! DUB! Dub! DUB! Dub!
Suara denyutan enam jantung itu memenuhi ruangan aula dengan getaran yang bisa dirasakan Lucy di telapak kakinya, di tulang-tulang dadanya, di gigi-gigi di dalam mulutnya. Getaran yang rendah dan dalam dan terus-menerus, seperti mesin raksasa yang beroperasi tanpa henti di bawah tanah.
Dan di antara tentakel-tentakel yang bergerak tanpa henti itu, di antara jantung-jantung yang berdenyut dengan irama yang mengerikan itu, Lucy melihat suaminya.
Ray.
Tubuh Ray tergantung di udara, diangkat setinggi dua meter dari lantai oleh tiga tentakel besar yang melilit tubuhnya. Satu tentakel melilit kedua kakinya dari lutut ke bawah, menyatukan kedua kakinya dan menahan mereka agar tidak bisa bergerak. Satu tentakel lainnya melilit pinggangnya, membelit perutnya dengan lilitan yang tebal dan ketat. Dan tentakel ketiga melilit dadanya, membungkus tulang-tulang rusuknya dengan tekanan yang membuat napas Ray terdengar pendek dan tersiksa.
Wajah Ray yang tadinya sehat dan segar kini terlihat pucat dan kesakitan. Matanya yang terbuka menatap ke bawah dengan pandangan yang sayu dan berkabut, seolah-olah kesadarannya berada di ambang batas antara terjaga dan pingsan. Bibirnya yang kering dan pecah-pecah sedikit terbuka, dan dari bibirnya yang terbuka itu keluar suara rintihan yang pelan dan menyayat hati, rintihan seorang pria yang sedang kesakitan tapi sudah tidak memiliki cukup tenaga untuk berteriak.
Lilitan tentakel di dada Ray bergerak. Bukan bergerak untuk melepaskan, tapi bergerak untuk mempererat. Tentakel itu mengencangkan lilitannya sedikit demi sedikit, seperti ular piton yang mempererat cengkeramannya setiap kali mangsanya menghembuskan napas. Dan setiap kali lilitan itu mengencang, Ray meringis kesakitan, giginya yang bergemeretak terdengar jelas di ruangan aula yang besar itu, dan napasnya menjadi semakin pendek dan semakin tersiksa.
“RAY!” teriak Lucy.
Suaranya memecah keheningan ruangan aula dan bergema dari dinding ke dinding, dari lantai ke langit-langit, memantul berulang-ulang di dalam ruangan batu yang besar itu. Tentakel-tentakel yang bergerak perlahan di sekeliling tubuh makhluk itu tiba-tiba berhenti. Seluruh tentakel, puluhan tentakel, berhenti bergerak secara bersamaan, membeku di posisi mereka masing-masing, dan kemudian perlahan-lahan berputar ke arah sumber suara.
Ke arah Lucy.
Lucy merasakan bulu kuduknya berdiri ketika puluhan ujung tentakel mengarah kepadanya secara bersamaan, seperti puluhan mata yang semuanya menatap ke arah yang sama. Makhluk itu tidak memiliki mata yang bisa dilihat Lucy, tidak memiliki kepala yang jelas, tidak memiliki wajah, hanya gumpalan besar daging abu-abu kehijauan dengan enam jantung yang berdenyut dan puluhan tentakel yang kini semuanya mengarah kepadanya.
“Lucy...” suara Ray terdengar dari atas, lemah dan nyaris tidak terdengar. “Lucy... jangan...”
“Aku datang, Ray!” teriak Lucy. “Aku akan mengeluarkanmu dari sana!”
Dan saat itulah Karla muncul.
Tidak ada peringatan. Tidak ada suara langkah kaki atau desisan atau hembusan angin dingin. Karla tiba-tiba berdiri di belakang Lucy, seolah-olah dia muncul dari udara itu sendiri, terbentuk dari kegelapan dan kedinginan yang mengisi sudut-sudut ruangan aula yang tidak terjangkau cahaya obor. Tubuhnya sudah kembali utuh, tidak ada bekas luka bakar, tidak ada kulit yang menghitam atau retak, seolah-olah api yang baru saja membakar tangannya tidak pernah terjadi.
“Indah, bukan?” bisik Karla di telinga Lucy.
Lucy melompat ke depan dan berbalik, menghadap Karla yang berdiri di tempat yang baru saja dia pijak. Jantungnya berdebar begitu kencang sehingga terasa sakit di dalam dadanya.
Karla berdiri dengan anggun, gaun putihnya yang panjang menjuntai ke lantai batu yang hitam, rambutnya yang putih tergerai di bahunya, dan senyuman jahat yang lebar menghiasi wajahnya yang pucat. Di belakangnya, monster bertentakel itu duduk dengan enam jantungnya yang berdenyut, dan Ray yang tergantung di antara lilitan tentakelnya merintih pelan.
“Ini adalah penjagaku,” kata Karla sambil menggerakkan tangannya ke arah monster itu dengan gerakan yang anggun dan santai, seolah-olah dia sedang memperkenalkan hewan peliharaannya kepada tamu. “Dia menjaga apa yang menjadi milikku. Dan Ray...” Karla menoleh ke arah Ray yang tergantung di udara, dan senyumannya melebar, “...Ray adalah milikku sekarang.”
“Dia bukan milikmu!” teriak Lucy. “Dan dia tidak akan pernah menjadi milikmu!”
Karla tertawa. Tawa dinginnya bergema di ruangan aula, bercampur dengan denyutan enam jantung monster yang terus-menerus berdentum di udara.
“Kau masih mau melawan?” kata Karla dengan nada yang meremehkan. “Kau hanyalah seorang petani kecil dari desa kecil, Lucy. Kau tidak memiliki kekuatan. Tidak memiliki senjata. Tidak memiliki apa-apa. Apa yang bisa kau lakukan melawan penjagaku?”
Lucy tidak menjawab.
Matanya menyapu ruangan aula, mencari sesuatu, apa saja, yang bisa membantunya. Obor-obor yang menyala di dinding. Tentakel-tentakel yang bergerak di lantai. Jantung-jantung yang berdenyut di tubuh monster. Ray yang tergantung di udara.
Dan kemudian matanya tertuju pada sesuatu.
Di sudut ruangan aula, di tempat yang paling dekat dengan tempatnya berdiri, salah satu obor terpasang pada dudukan besi yang tertancap di dinding pada ketinggian yang bisa dijangkau tangannya. Obor itu menyala dengan nyala api yang besar dan terang, jauh lebih besar dari nyala lilin kecil yang masih dia pegang di tangannya.
Api.
Karla takut api. Tangan Karla yang terbakar tadi sudah membuktikan itu. Dan jika Karla takut api, mungkin monster penjaganya juga memiliki kelemahan yang sama. Atau mungkin tidak. Tapi Lucy tidak punya pilihan lain. Tidak punya rencana lain. Tidak punya senjata lain.
Hanya api.
Dengan gerakan yang cepat dan tiba-tiba, Lucy berlari ke arah dinding. Kakinya yang pegal dan sakit dipaksanya untuk bergerak dengan kecepatan yang didorong oleh adrenalin dan tekad yang membara. Tentakel-tentakel yang tadi mengarah kepadanya bereaksi, beberapa tentakel melesat ke arahnya, ujung-ujungnya yang meruncing menyibak udara dengan bunyi desisan yang tajam.
Lucy merunduk. Tentakel pertama melesat di atas kepalanya, begitu dekat sehingga dia bisa merasakan angin yang ditimbulkannya dan mencium bau lendir yang menutupi permukaannya. Lucy berguling ke samping. Tentakel kedua menghantam lantai di tempat dia berguling tadi, menimbulkan bunyi debuman yang keras dan meninggalkan bekas lendir di atas batu hitam.
Lucy bangkit dan terus berlari. Dinding sudah di depannya. Obor sudah di jangkauannya. Tangannya terulur ke depan, jari-jarinya mencengkeram gagang kayu obor yang terasa kasar dan hangat di telapak tangannya, dan dengan satu tarikan kuat, dia melepaskan obor itu dari dudukannya di dinding.
Api membara di tangannya.
Lucy berbalik menghadap monster itu dengan obor di tangan kanannya dan lilin yang hampir habis di tangan kirinya. Cahaya obor yang jauh lebih terang dari lilin menerangi wajahnya yang pucat dan basah oleh keringat dan air mata, memperlihatkan ekspresi yang bukan lagi ketakutan.
Tekad.
Tekad seorang istri yang akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan suaminya. Tekad seorang wanita yang sudah jatuh ke dalam kegelapan, sudah dilawan oleh makhluk yang bukan manusia, sudah dilukai dan ditakut-takuti dan nyaris kehilangan segalanya, tapi masih berdiri. Masih hidup. Masih melawan.
“Jika kau macam-macam,” kata Lucy dengan suara yang rendah dan tegas, mengarahkan obor ke arah Karla yang berdiri di antara dia dan monster, “aku akan membakar tubuhmu lagi. Dan kali ini, aku tidak akan berhenti sampai kau benar-benar habis.”
Karla menatap obor di tangan Lucy. Dan untuk sesaat, hanya sesaat, Lucy melihat ketakutan melintas di mata Karla yang gelap. Ketakutan yang cepat muncul dan cepat hilang, digantikan oleh kemarahan dan keangkuhan.
“Coba saja,” desis Karla. “Kau kira api kecil itu bisa menghentikanku? Kau kira kau bisa menyelamatkan suamimu dengan sebatang obor?” Karla mengangkat dagunya, matanya menyipit, dan senyumannya berubah menjadi seringai yang meremehkan. “Kalau kau mau membakar, silakan. Tapi sebelum apimu menyentuhku, aku akan mengurung kau di ruangan ini. Selamanya. Bersama penjagaku. Dan kau tidak akan pernah melihat cahaya matahari lagi.”
Lucy tidak menjawab.
Dia melempar obor itu.
Obor itu berputar di udara, apinya membentuk lingkaran cahaya kuning kemerahan yang berkilauan di kegelapan, dan melesat lurus ke arah Karla.
Karla menjerit dan mengangkat kedua tangannya untuk melindungi wajahnya. Obor menghantam lengan kanannya, dan api langsung menjalar seperti sebelumnya, cepat, rakus, dan tidak kenal ampun. Kulit putih Karla yang baru saja pulih dari luka bakar sebelumnya kembali menghitam dan retak di tempat-tempat yang disentuh api. Asap kelabu mengepul dari tubuhnya, dan bau kulit yang terbakar kembali memenuhi ruangan aula.
Karla berteriak. Suara dua suaranya yang berteriak bersamaan memenuhi ruangan aula, bersaing dengan denyutan enam jantung monster yang semakin cepat dan semakin keras, seolah-olah monster itu merasakan kesakitan tuannya dan bereaksi terhadapnya.
Dan kemudian, tubuh Karla yang terbakar berubah menjadi asap untuk kedua kalinya. Asap putih yang tebal dan dingin mengepul dari seluruh tubuhnya, menyelimuti sosoknya yang membungkuk kesakitan, dan dalam hitungan detik, Karla menghilang lagi. Lenyap. Menguap. Hanya menyisakan bau hangus dan asap tipis yang perlahan-lahan menghilang di udara.
Lucy tidak membuang waktu.
Karla bisa kembali kapan saja. Dia sudah membuktikan itu, luka bakar pertama tidak menghentikannya, dan luka bakar kedua ini mungkin juga tidak akan menghentikannya untuk selamanya. Lucy harus bertindak cepat. Harus menyelamatkan Ray sebelum Karla kembali.
Lucy berlari ke dinding dan merenggut obor lain dari dudukannya. Sekarang dia memegang obor di tangan kanan dan lilin yang nyaris habis di tangan kiri. Dia membuang lilin itu, sudah tidak berguna lagi, dan berlari menuju monster yang duduk di tengah ruangan dengan Ray yang tergantung di antara tentakel-tentakelnya.
Mendekati monster itu seperti mendekati dinding hidup yang bergerak.
Tentakel-tentakel makhluk itu bereaksi terhadap kehadiran Lucy begitu dia mendekat dalam jarak sepuluh meter. Tentakel-tentakel yang tadinya bergerak perlahan dan malas kini bergerak dengan kecepatan dan keagresifan yang jauh berbeda. Mereka melesat ke arah Lucy dari berbagai arah, dari depan, dari samping, dari atas, ujung-ujungnya yang meruncing menyibak udara dengan bunyi desisan yang tajam dan ancaman yang nyata.
Lucy menghindar ke kiri. Sebuah tentakel besar menghantam lantai di kanannya, menimbulkan bunyi debuman yang membuat lantai batu bergetar di bawah kakinya. Lucy melompat ke kanan. Dua tentakel menyapu udara di atas kepalanya, begitu dekat sehingga ujungnya menyentuh rambut Lucy yang terikat ke belakang dan menarik beberapa helai rambut dari ikatannya.
Lucy mengayunkan obornya ke arah tentakel yang mendekat dari depan. Api menyentuh permukaan tentakel yang berlendir, dan tentakel itu langsung menarik diri dengan gerakan yang cepat dan panik, seperti tangan yang menyentuh besi panas. Bau lendir yang terbakar, bau yang tajam dan menyengat seperti bau karet yang dibakar, memenuhi udara di sekitar Lucy.
Monster itu bisa terluka oleh api.
Pengetahuan itu memberi Lucy keberanian yang baru. Dia maju selangkah, mengayunkan obornya ke kiri dan ke kanan, menciptakan dinding api yang bergerak di depannya. Tentakel-tentakel yang tadinya menyerang dengan agresif kini mundur sedikit, menarik diri dari jangkauan api, membuka celah kecil di antara barisan tentakel yang mengelilingi tubuh monster.
Lucy melihat celah itu dan berlari melewatinya.
Sebuah tentakel melesat dari sisi kiri dan menghantam punggung Lucy.
Rasa sakitnya luar biasa. Seperti dipukul oleh batang pohon yang basah dan berat. Lucy terhuyung ke depan, nyaris kehilangan keseimbangan, tapi kakinya berhasil menemukan pijakan di lantai batu yang licin dan dia tetap berdiri. Obor di tangannya nyaris terlepas, tapi jari-jarinya mencengkeram gagang kayu itu dengan kekuatan yang didorong oleh ketakutan dan keputusasaan.
Lucy mengayunkan obor ke belakang tanpa melihat. Api menyentuh tentakel yang baru saja memukulnya, dan tentakel itu menarik diri dengan gerakan menyentak yang kuat, bintik-bintik hisap di permukaannya berkontraksi dan berkedut kesakitan.
Lucy terus maju. Langkahnya terhuyung-huyung, punggungnya terasa sakit dan perih di tempat tentakel menghantamnya, tapi dia tidak berhenti. Tidak boleh berhenti. Setiap detik yang berlalu adalah detik di mana lilitan tentakel di dada Ray semakin erat, di mana napas Ray semakin pendek, di mana nyawa Ray semakin terancam.
Tentakel lain melesat dari kanan. Lucy merunduk dan tentakel itu melesat di atas kepalanya. Tentakel lain datang dari bawah, menyapu lantai ke arah kakinya. Lucy melompat dan tentakel itu lewat di bawah kakinya. Tentakel lain lagi, yang ini lebih kecil dan lebih cepat dari yang lain, melesat dari depan dan melilit pergelangan tangan kiri Lucy.
Lucy menjerit. Bintik-bintik hisap di permukaan tentakel itu menempel di kulitnya, menarik dan menyedot dengan tekanan yang menyakitkan, meninggalkan lingkaran-lingkaran merah di pergelangan tangannya. Lucy mengayunkan obor di tangan kanannya ke arah tentakel yang melilit tangan kirinya. Api menyentuh tentakel, dan tentakel itu langsung melepaskan cengkeramannya dengan gerakan yang cepat, meninggalkan bekas-bekas hisap yang merah dan perih di kulit Lucy.
Lucy sudah berada di dalam jangkauan monster sekarang. Dia bisa melihat enam jantung yang berdenyut di bagian depan tubuh makhluk itu dengan sangat jelas, begitu dekat sehingga dia bisa melihat setiap pembuluh darah yang bercabang di permukaannya, bisa melihat setiap denyutan yang membuat jantung-jantung itu mengembang dan mengempis secara bergantian, bisa mendengar suara denyutannya yang basah dan dalam bergema di telinganya.
DUB! Dub! DUB! Dub! DUB! Dub!
Di atasnya, Ray tergantung di antara tiga tentakel yang melilit tubuhnya. Wajah Ray sudah sangat pucat, bibirnya membiru, dan matanya yang setengah terbuka menatap ke bawah ke arah Lucy dengan pandangan yang penuh kesakitan dan kelelahan.
“Lucy...” bisik Ray. Suaranya nyaris tidak terdengar, ditelan oleh denyutan enam jantung dan desisan tentakel-tentakel yang bergerak di sekeliling mereka. “Pergi... terlalu berbahaya...”
“Aku tidak akan pergi tanpamu, Ray!” teriak Lucy sambil mengayunkan obornya ke arah tentakel yang melesat dari samping. “Aku sudah berjanji dan aku akan menepatinya! Semuanya akan baik-baik saja!”
Ray yang menangis kesakitan mengangguk. Meskipun seluruh tubuhnya dililit oleh tentakel yang semakin erat, meskipun setiap napasnya adalah perjuangan yang menyiksa, dia mengangguk. Karena dia percaya kepada istrinya. Karena Lucy tidak pernah mengingkari janjinya. Tidak pernah.
Lucy menatap enam jantung yang berdenyut di depannya. Jantung-jantung itu tertanam di dalam daging tubuh monster, masing-masing berada di posisi yang berbeda, dua di bagian atas, dua di tengah, dan dua di bagian bawah, tersebar di permukaan depan tubuh monster seperti enam buah batu permata merah kehitaman yang ditanam di dalam batu karang yang hidup.
Dia harus menghancurkan jantung-jantung itu.
Lucy tidak tahu bagaimana dia bisa tahu hal itu. Mungkin instingnya yang memberitahunya. Mungkin cara jantung-jantung itu berdetak dengan sangat jelas dan sangat terekspos di permukaan tubuh monster adalah petunjuk, kelemahan yang sengaja ditampilkan atau kelemahan yang tidak bisa disembunyikan. Yang jelas, Lucy tahu bahwa jika dia ingin menghentikan monster ini dan melepaskan Ray dari lilitan tentakelnya, dia harus menghancurkan enam jantung itu. Semua. Satu pun tidak boleh tersisa.
Tapi bagaimana?
Obor di tangannya bisa membakar tentakel dan membuat mereka mundur, tapi obor tidak cukup untuk menghancurkan jantung. Dia membutuhkan sesuatu yang lebih tajam. Sesuatu yang bisa menembus daging dan menghancurkan organ.
Dan saat itulah sesuatu terjadi.
Dari langit-langit aula yang tinggi dan gelap, sesuatu turun.
Turun perlahan, berputar-putar di udara seperti bulu yang jatuh dari sayap burung raksasa, tapi jauh lebih berat dan jauh lebih berkilauan. Sesuatu yang panjang dan ramping dan bercahaya, yang memantulkan cahaya obor-obor di dinding dengan kilatan-kilatan tajam yang menyilaukan mata.
Sebuah pedang.
Pedang itu besar, bilahnya sepanjang lengan Lucy dari bahu hingga ujung jari, dan lebarnya kira-kira selebar empat jari. Bilahnya terbuat dari logam yang berwarna perak kebiruan, mengkilap seperti cermin yang baru saja dipoles, dengan permukaan yang begitu halus sehingga Lucy bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di atasnya meskipun dari kejauhan. Di sepanjang kedua sisi bilah, ukiran-ukiran indah berupa sulur-sulur tanaman dan bunga-bunga kecil yang sangat detail dipahat ke dalam logam, menciptakan pola yang rumit dan cantik yang berkilauan ketika cahaya obor menyentuhnya dari berbagai sudut.
Gagang pedang itu terbuat dari kayu yang dibungkus kulit yang sudah usang dan menghitam karena usia, dengan pelindung tangan dari logam yang sama dengan bilahnya, perak kebiruan yang berukir sulur-sulur tanaman yang senada dengan ukiran di bilah. Di ujung gagang, sebuah batu kecil berwarna biru tua tertanam, berkilauan samar dengan cahaya yang seolah-olah datang dari dalam batu itu sendiri.
Pedang itu turun dari langit-langit aula dan mendarat di lantai batu di depan Lucy dengan bunyi dentingan logam yang nyaring dan jernih, suara yang bergema di seluruh ruangan dan membuat tentakel-tentakel monster bergetar sesaat.
Lucy menatap pedang itu. Menatap ukiran-ukirannya yang indah. Menatap bilahnya yang berkilauan. Menatap batu biru di ujung gagangnya yang bersinar samar.
Dia tidak bertanya dari mana pedang itu datang. Tidak bertanya siapa yang mengirimnya. Tidak bertanya mengapa. Di saat seperti ini, pertanyaan-pertanyaan itu tidak penting. Yang penting hanyalah bahwa pedang itu ada di sana, di depannya, menunggu untuk diambil.
Lucy meletakkan obor di lantai, berdiri tegak dengan pangkalnya yang tertancap di celah antara dua batu, dan mengambil pedang itu dengan kedua tangannya.
Pedang itu terasa tepat di genggamannya.
Berat, tapi seimbang. Gagangnya yang dibungkus kulit terasa kokoh dan tidak licin di telapak tangannya yang basah oleh keringat. Bilahnya yang panjang berkilauan di bawah cahaya obor, dan ketika Lucy mengangkatnya ke depan, dia merasakan getaran halus yang merambat dari logam pedang melalui gagang ke tangannya, naik melalui lengannya, dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Getaran yang terasa seperti kekuatan. Seperti keberanian. Seperti janji bahwa senjata ini memang dibuat untuk saat seperti ini.
Lucy mengambil obor kembali dengan tangan kirinya. Sekarang dia berdiri di depan monster bertentakel dan berkepala enam jantung dengan pedang di tangan kanan dan obor di tangan kiri. Seorang wanita petani dari desa kecil, berdiri di ruangan bawah tanah yang gelap, menghadapi makhluk yang seharusnya tidak ada di dalam dunia yang dia kenal.
Tapi Lucy tidak lagi merasa seperti wanita petani dari desa kecil. Dia merasa seperti seseorang yang lebih. Seseorang yang lebih kuat, lebih berani, lebih teguh dari siapa pun yang pernah dia bayangkan. Dan perasaan itu bukan datang dari pedang di tangannya atau obor di tangan lainnya. Perasaan itu datang dari dalam dirinya sendiri. Dari cintanya kepada Ray. Dari tekadnya untuk membawa suaminya pulang. Dari keyakinannya bahwa tidak ada kekuatan gelap di dunia ini yang bisa memisahkan dua orang yang saling mencintai.
“Aku datang, Ray,” bisik Lucy. “Bertahanlah.”
Dan dia menyerang.
Tentakel pertama melesat ke arahnya dari kiri.
Lucy mengayunkan pedang dengan kedua tangan, obor dijepit di antara jari kelingking dan jari manis tangan kirinya sementara jari-jari lainnya mencengkeram gagang pedang bersama tangan kanannya. Bilah pedang yang tajam menebas tentakel yang melesat ke arahnya, dan tentakel itu terpotong.
Potongannya bersih. Sangat bersih. Pedang itu menembus daging tentakel yang tebal dan berlendir seolah-olah sedang memotong batang pisang yang lunak. Bagian tentakel yang terpotong jatuh ke lantai batu dengan bunyi becek yang basah, berkedut-kedut selama beberapa detik sebelum akhirnya diam. Cairan berwarna hijau kehitaman, darah monster, menyembur dari luka potongan dan memercik ke lantai dan ke baju Lucy.
Monster itu bereaksi.
Seluruh tubuhnya bergetar. Enam jantungnya berdenyut lebih cepat, lebih keras, lebih mendesak. DUBDUBDUBDUBDubDubDub. Irama yang tadinya lambat dan teratur kini berubah menjadi cepat dan kacau, seperti detak jantung orang yang sedang panik. Tentakel-tentakelnya yang tadinya bergerak dengan pola yang bisa diprediksi kini bergerak dengan liar dan tidak beraturan, menyambar ke segala arah dengan kecepatan dan kekuatan yang berlipat ganda.
Lucy menunduk. Sebuah tentakel besar menyapu udara di atas kepalanya. Lucy melompat ke kanan. Dua tentakel menghantam lantai di kirinya. Lucy berguling ke depan, di bawah tentakel yang menjulur horizontal di atas tanah, dan bangkit tepat di depan tubuh monster.
Jantung pertama ada di depannya. Jantung yang paling bawah di sisi kiri. Berdenyut dengan cepat, permukaannya yang merah kehitaman berkilauan basah, pembuluh-pembuluh darahnya berdenyut dan berdenyut dan berdenyut.
Lucy menghujamkan pedang.
Bilah pedang menembus jantung pertama.
Logam perak kebiruan itu menembus permukaan jantung yang licin dan basah, menusuk ke dalam daging organ yang berdenyut, dan menembus keluar dari sisi lainnya. Cairan merah kehitaman, darah yang lebih pekat dan lebih gelap dari darah manusia, menyembur dari luka tusukan, memercik ke wajah dan tubuh Lucy dengan kehangatan yang menjijikkan.
Monster itu menjerit.
Bukan jerit yang keluar dari mulut, monster ini tidak memiliki mulut yang bisa dilihat. Jeritan itu keluar dari seluruh tubuhnya, getaran yang sangat kuat dan sangat rendah yang membuat seluruh ruangan aula bergetar. Lantai batu bergetar di bawah kaki Lucy. Dinding-dinding bergetar dan menjatuhkan serpihan-serpihan batu. Beberapa obor di dinding bergoyang dan satu di antaranya jatuh dari dudukannya ke lantai.
Jantung pertama berhenti berdenyut.
Daging di sekitarnya menghitam dan mengkerut, menyusut ke dalam seperti buah yang membusuk dengan kecepatan tinggi. Cairan merah kehitaman terus mengalir dari luka tusukan, membentuk genangan kecil di lantai batu yang hitam.
Lima jantung tersisa.
Lucy mencabut pedangnya dari jantung yang sudah mati. Bilah pedang yang berlumuran darah monster berkilauan gelap di bawah cahaya obor. Lucy tidak membuang waktu, dia mengangkat pedang dan mengarahkannya ke jantung kedua yang berada tepat di samping jantung pertama.
Tapi tentakel-tentakel monster tidak membiarkannya.
Tiga tentakel besar melesat ke arah Lucy secara bersamaan, satu dari kiri, satu dari kanan, satu dari atas. Lucy mengayunkan pedang ke kiri dan memotong tentakel yang datang dari arah itu, tapi tentakel dari kanan berhasil melilit kaki kirinya. Bintik-bintik hisap yang kuat menempel di betisnya, menarik dan menyedot dengan tekanan yang menyakitkan. Tentakel dari atas menghantam bahu kanan Lucy, membuatnya terhuyung dan nyaris jatuh.
Lucy menggigit bibirnya menahan sakit. Dia mengayunkan obor di tangan kirinya ke bawah, mengarahkan api ke tentakel yang melilit kakinya. Api menyentuh permukaan tentakel yang berlendir dan tentakel itu langsung melepaskan cengkeramannya, menarik diri dengan gerakan yang panik. Bekas-bekas hisap yang merah dan menyakitkan tertinggal di kulit betis Lucy, tapi dia tidak peduli.
Lucy maju selangkah dan menghujamkan pedang ke jantung kedua.
Bilah menembus. Darah menyembur. Monster bergetar dan menjerit tanpa suara. Jantung kedua berhenti berdenyut dan menghitam.
Empat jantung tersisa.
Tentakel-tentakel monster semakin liar. Semakin cepat. Semakin tidak terkendali. Mereka menyambar ke segala arah tanpa pola, menghantam lantai dan dinding dan udara dengan kekuatan yang menghancurkan. Salah satu tentakel menghantam obor yang tertancap di dinding dan memadamkannya. Tentakel lain menghantam lantai tepat di samping kaki Lucy, begitu dekat sehingga getarannya membuat Lucy kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut.
Dari posisi berlutut, Lucy menusukkan pedangnya ke atas, menghujamkannya ke jantung ketiga yang berada tepat di atasnya. Bilah pedang menembus jantung dari bawah ke atas, dan cairan merah kehitaman mengalir turun di sepanjang bilah pedang, membasahi tangan Lucy yang mencengkeram gagang.
Tiga jantung tersisa.
Lucy mencabut pedang dan bangkit berdiri. Napasnya tersengal-sengal. Seluruh tubuhnya sakit, punggungnya yang dihantam tentakel, betisnya yang dihisap tentakel, bahunya yang dipukul tentakel, tangan-tangannya yang tergores dan perih dan berlumuran darah monster yang berwarna hijau kehitaman. Pakaiannya robek di beberapa tempat, dan kulit di bawahnya terlihat merah dan lecet.
Tapi dia tidak berhenti.
Tentakel melesat dari depan. Lucy menebas. Potongan tentakel jatuh ke lantai. Tentakel lain dari samping. Lucy merunduk dan menebas lagi. Potongan lain jatuh. Tentakel dari belakang menghantam punggungnya dan Lucy terhuyung ke depan, menabrak tubuh monster yang basah dan berlendir. Bau yang keluar dari tubuh makhluk itu membuat perutnya mual, bau daging mentah yang bercampur dengan bau busuk yang tajam dan menyengat.
Lucy menahan mualnya dan menghujamkan pedang ke jantung keempat yang ada tepat di depan wajahnya. Bilah menembus. Darah menyembur. Jantung berhenti.
Dua jantung tersisa.
Monster itu sekarang bergerak dengan kegilaan yang total. Tentakel-tentakelnya yang tersisa, masih puluhan, bergerak tanpa kendali, menghantam segala sesuatu yang ada di jangkauannya. Beberapa obor di dinding padam. Serpihan-serpihan batu berjatuhan dari langit-langit. Lantai batu bergetar tanpa henti.
Dan lilitan tentakel di tubuh Ray semakin erat.
“Lucy!” jerit Ray. Suaranya yang tadi nyaris tidak terdengar kini keluar dengan kekuatan yang didorong oleh kesakitan yang luar biasa. “LUCY! AKU TIDAK BISA BERNAPAS!”
Lucy mendongak. Ray tergantung di atas, wajahnya yang sudah pucat kini berubah menjadi biru. Tentakel yang melilit dadanya mengencangkan cengkeramannya dengan kekuatan yang menghancurkan, menekan tulang-tulang rusuk Ray dari luar, memaksa semua udara keluar dari paru-parunya dan tidak membiarkan udara baru masuk.
“BERTAHAN, RAY!” teriak Lucy. “SEDIKIT LAGI!”
Lucy berlari ke sisi kanan tubuh monster, menghindari dua tentakel yang menyambar ke arahnya, melompati satu tentakel yang menyapu lantai, dan menebas satu tentakel lagi yang mencoba melilit pinggangnya. Jantung kelima berada di sisi kanan tubuh monster, lebih tinggi dari yang lain, dan Lucy harus berdiri di atas ujung kakinya dan mengulurkan pedangnya setinggi mungkin untuk mencapainya.
Sebuah tentakel menghantam sisi kiri tubuhnya tepat ketika dia mengulurkan pedang. Rasa sakitnya seperti dipukul oleh tongkat besi. Lucy merasakan sesuatu retak di sisi kiri dadanya, mungkin tulang rusuk, mungkin hanya memar yang sangat dalam, dan rasa sakit yang menyengat menjalar dari titik hantaman ke seluruh tubuh sebelah kirinya.
Tapi pedang sudah terarah.
Dengan teriakan yang keluar dari tempat paling dalam di dalam jiwanya, Lucy menghujamkan pedang ke atas. Bilah menembus jantung kelima. Darah merah kehitaman menyembur dan mengalir turun di sepanjang bilah, membasahi tangan dan lengan Lucy. Jantung berhenti berdenyut.
Satu jantung tersisa.
Jantung terakhir.
Jantung itu berada di bagian atas tubuh monster, di posisi yang paling tinggi dan paling sulit dijangkau. Lucy harus memanjat tubuh monster itu sendiri untuk mencapainya, atau menemukan cara lain.
Monster itu sekarang dalam keadaan yang sangat lemah. Lima dari enam jantungnya sudah mati. Gerakan tentakel-tentakelnya yang tadinya liar dan tidak terkendali kini menjadi lebih lambat, lebih lemah, lebih tidak terkoordinasi. Beberapa tentakel yang lebih kecil sudah berhenti bergerak sepenuhnya, terkulai di lantai seperti tali yang putus. Cairan hijau kehitaman menggenang di lantai di sekeliling tubuh monster, bercampur dengan lendir dan serpihan daging dari tentakel-tentakel yang terpotong.
Tapi tentakel yang melilit Ray tidak melemah. Justru sebaliknya, tentakel-tentakel itu semakin erat, seolah-olah monster itu menggunakan sisa kekuatan terakhirnya untuk mempertahankan satu hal yang masih dimilikinya. Ray.
Lucy melihat sebuah tentakel besar yang sudah berhenti bergerak terjulur dari sisi tubuh monster ke arah dinding. Tentakel itu cukup tebal dan cukup kokoh untuk dijadikan pijakan. Lucy berlari ke arah tentakel itu, melompat ke atasnya, dan mulai memanjat.
Permukaan tentakel yang berlendir membuat setiap langkahnya menjadi perjuangan. Kakinya tergelincir berulang kali, dan tangannya yang memegang pedang harus mencengkeram daging tentakel yang licin dan menjijikkan untuk menjaga keseimbangannya. Bau busuk yang keluar dari tubuh monster yang sekarat membuat perutnya bergolak dan matanya berair.
Lucy memanjat. Satu langkah. Dua langkah. Tergelincir. Mencengkeram lagi. Memanjat lagi. Tiga langkah. Empat langkah.
Jantung terakhir ada di depannya. Berdenyut sendirian. Iramanya yang cepat dan tidak teratur terdengar seperti detak jantung orang yang sekarat, cepat, lemah, dan putus-putus.
Dub! Dub! Dub! ...Dub!...Dub!Dub!...Dub!...
Lucy mengangkat pedang dengan kedua tangannya. Lengannya yang kelelahan bergetar hebat, dan sisi kiri dadanya yang sakit, mungkin tulang rusuk yang retak, menjerit protes dengan rasa sakit yang menyengat setiap kali dia menggerakkan lengannya.
Tapi ini adalah tusukan terakhir. Jantung terakhir. Setelah ini, semuanya akan berakhir. Setelah ini, Ray akan bebas.
“Untuk Ray,” bisik Lucy.
Dan dia menghujamkan pedang ke jantung terakhir dengan seluruh kekuatan yang tersisa di tubuhnya.
Bilah pedang menembus jantung keenam.
Darah merah kehitaman menyembur dengan deras, jauh lebih banyak dari jantung-jantung sebelumnya, seolah-olah semua sisa kehidupan monster itu terkumpul di jantung terakhir ini dan kini mengalir keluar melalui luka yang baru saja dibuat Lucy. Darah itu membasahi seluruh tubuh Lucy, wajahnya, rambutnya, pakaiannya, tangannya, membuatnya terlihat seperti seseorang yang baru saja keluar dari kolam yang berisi cat merah kehitaman.
Jantung keenam berhenti berdenyut.
Dan kemudian, seluruh tubuh monster bergetar untuk terakhir kalinya.
Getaran yang sangat kuat dan sangat dalam yang membuat seluruh ruangan aula berguncang seperti diguncang gempa bumi. Obor-obor yang tersisa di dinding bergoyang dan beberapa jatuh ke lantai. Langit-langit aula yang melengkung retak di beberapa tempat dan serpihan-serpihan batu besar berjatuhan. Lantai bergetar begitu hebat sehingga Lucy kehilangan pijakan di atas tentakel yang dia panjat dan jatuh terguling ke lantai batu.
Lucy mendarat dengan bunyi debuman yang menyakitkan, punggungnya menghantam batu yang keras. Rasa sakit menyebar ke seluruh tubuhnya, tapi dia memaksakan dirinya untuk mendongak dan melihat apa yang terjadi.
Tentakel-tentakel monster perlahan-lahan mengendur. Satu per satu, tentakel-tentakel besar yang tadinya bergerak dan menyerang dengan kekuatan yang mengerikan kini menjadi lemas dan terkulai, jatuh ke lantai dengan bunyi becek yang basah. Daging abu-abu kehijauan yang tadinya tegang dan penuh kekuatan kini mengerut dan mengempis, seolah-olah kehidupan sedang ditarik keluar dari setiap sel tubuh monster itu.
Dan tentakel yang melilit Ray mengendur.
Lilitan di kaki Ray lepas terlebih dahulu. Tentakel itu terkulai dan jatuh ke lantai seperti tali yang putus. Kemudian lilitan di pinggang Ray mengendur dan melepaskan pegangannya, membuat tubuh Ray merosot sedikit ke bawah. Dan terakhir, lilitan di dada Ray, lilitan yang selama ini menekan tulang-tulang rusuknya dan membuatnya nyaris tidak bisa bernapas, perlahan-lahan mengendur, melonggar, dan akhirnya lepas sepenuhnya.
Ray jatuh.
Tubuhnya yang sudah tidak lagi ditahan oleh tentakel apapun jatuh dari ketinggian dua meter. Lucy berlari ke depan dengan sisa kekuatan terakhirnya, mengabaikan rasa sakit di seluruh tubuhnya, mengabaikan tulang rusuk yang mungkin retak, mengabaikan luka-luka dan memar dan kelelahan yang sudah melampaui batas yang pernah dia rasakan sebelumnya.
Lucy menangkap Ray.
Bukan tangkapan yang sempurna. Berat badan Ray yang jauh lebih besar dari Lucy membuat mereka berdua jatuh ke lantai batu bersama-sama, tapi setidaknya tubuh Lucy menjadi bantalan yang melindungi Ray dari hantaman langsung dengan batu yang keras. Mereka berdua tergeletak di lantai, Lucy di bawah dan Ray di atasnya, di antara genangan darah monster dan potongan-potongan tentakel yang berserakan di sekeliling mereka.
“Ray,” bisik Lucy sambil memeluk tubuh suaminya yang lemah dan tidak berdaya. “Ray, kamu dengar aku?”
Ray membuka matanya. Matanya yang tadi berkabut dan sayu kini perlahan-lahan menjadi lebih jernih, lebih fokus. Dia menatap wajah istrinya yang berlumuran darah monster dan air mata dan keringat, dan bibirnya yang kering dan pecah-pecah bergerak membentuk satu kata.
“Lucy.”
Dan kemudian Ray menangis.
Mereka berbaring di lantai batu yang dingin dan basah, saling memeluk, saling menangis, saling menguatkan. Di sekeliling mereka, tubuh monster yang sudah mati perlahan-lahan membusuk dengan kecepatan yang tidak alami, dagingnya yang abu-abu kehijauan menghitam dan menyusut, tentakel-tentakelnya mengerut dan mengering, enam jantungnya yang sudah mati menjadi gumpalan hitam yang keras dan rapuh. Bau busuk yang tajam memenuhi udara, tapi Lucy dan Ray tidak peduli. Mereka hanya peduli bahwa mereka bersama. Hidup. Bernapas. Saling memeluk.
“Aku kira aku akan kehilanganmu,” bisik Ray di antara tangisnya. Tangannya yang lemah mencengkeram punggung baju Lucy dengan jari-jari yang bergetar. “Aku kira aku tidak akan pernah melihatmu lagi.”
“Aku sudah berjanji, Ray,” jawab Lucy sambil menangis. “Aku sudah berjanji aku akan kembali. Dan aku akan selalu menepati janjiku.”
“Kamu menyelamatkanku,” kata Ray. Suaranya pecah dan basah. “Kamu melawan monster itu sendirian. Kamu... kamu luar biasa, Lucy.”
Lucy menggelengkan kepalanya di dada suaminya.
“Aku hanya seorang istri yang mencintai suaminya,” jawab Lucy. “Tidak lebih. Tidak kurang.”
Mereka berbaring di sana selama beberapa menit, membiarkan tangis mereka mereda, membiarkan detak jantung mereka kembali ke ritme yang normal, membiarkan tubuh-tubuh mereka yang kelelahan dan terluka menikmati kehangatan pelukan satu sama lain di ruangan bawah tanah yang dingin dan bau dan gelap.
Kemudian Lucy bangkit duduk, membantu Ray untuk duduk di sampingnya, dan memandang ke sekeliling ruangan aula.
Monster sudah mati. Tubuhnya yang membusuk kini tidak lebih dari gundukan hitam yang menyusut di tengah ruangan, dikelilingi oleh genangan cairan kehijauan dan potongan-potongan tentakel yang mengering. Bau busuknya masih memenuhi udara, tapi tidak sekuat sebelumnya.
Dan di ujung ruangan aula yang berlawanan, Lucy melihat sebuah pintu.
Pintu yang berbeda dari pintu-pintu batu yang dia lewati sebelumnya. Pintu ini terbuat dari kayu, kayu yang terlihat tua namun kokoh, dengan engsel besi yang berkarat dan gagang pintu dari logam yang berwarna keemasan. Pintu yang terlihat seperti pintu rumah biasa. Pintu yang terlihat seperti pintu yang menuju ke suatu tempat yang berbeda dari ruangan-ruangan batu yang gelap dan menakutkan ini.
“Ray,” kata Lucy sambil membantu suaminya berdiri. “Kamu bisa berjalan?”
Ray mengangguk. Kakinya bergetar dan tubuhnya masih sangat lemah, tapi dengan bantuan Lucy yang menopang lengannya, dia bisa berdiri dan bisa melangkah.
“Ada pintu di sana,” kata Lucy sambil menunjuk ke arah pintu kayu di ujung ruangan. “Aku rasa itu jalan keluar.”
Ray menatap pintu itu. Kemudian dia menatap istrinya.
“Ayo,” katanya.
Dan bersama-sama, bersandar satu sama lain, saling menopang, dua orang manusia yang kelelahan dan terluka dan berlumuran darah monster berjalan perlahan-lahan menuju pintu kayu di ujung ruangan aula.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!