00. Prologue

2 dibaca

A

London, Inggris.

10 Oktober 2017.

“Apa kalian sudah siap?” Seorang pria dengan jas hitam berdiri tegak di hadapan dua pria lainnya.

Ia menyerahkan sebuah map hitam yang berisi beberapa dokumen kepada kedua pria itu.

“Siap. Semua sudah diperiksa untuk kesekian kalinya. Rencana kita seharusnya sudah cukup matang,” jawab salah seorang pria bernama Dean O’Connor, sembari membuka map hitam itu.

Pria dengan jas berwarna hitam itu mengangguk singkat. “Bagus. Pastikan semua berjalan sesuai rencana.”

Ia menatap keduanya dengan sorot mata serius.

“Kalian sudah mengaturnya selama tiga tahun ini. Pastikan tidak ada yang sia-sia.”

Mereka berdua mengangguk mantap sebelum kembali memeriksa dokumen-dokumen, ponsel, serta beberapa perlengkapan yang telah disiapkan jauh-jauh hari.


════════🥀🥀🥀════════

Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, kedua pria itu kembali terlihat menikmati sarapan bersama di sebuah kedai kecil dengan ornamen kayu berwarna cokelat tua, dilengkapi dengan aksen dinding berwarna hitam.

“Dean.. jangan sampai terlambat malam ini,” ujar seorang pria dengan baseball cap yang menutupi sebagian wajahnya. Ia menegakkan tubuh gagahnya, sementara tatapan di bawah bayang-bayang topi itu bergerak tajam ke segala arah.

“Oke. Kita ketemu di tempat biasanya, sekitar jam enam,” jawab Dean kepadanya.

Pria itu mengangguk.

Mereka kembali menikmati makanan cepat saji di hadapannya sambil sesekali membahas rencana-rencana yang akan mereka lakukan hari itu.

Kedai bernama ‘The Patty’ itu terletak tepat di seberang Harold University, salah satu kampus ternama di kota tersebut.

Harold University adalah sebuah kampus swasta ternama dengan reputasi yang sangat baik. Mahasiswa dan mahasiswinya berasal dari kalangan atas, seperti anak Perdana Menteri, anak atlet terkenal, anak pebisnis ternama, dan sebagainya.

Mata mereka sesekali terlempar pada gerbang utama kampus besar itu, seolah menanti kehadiran seseorang.

“Sudah waktunya.” Pria itu memberikan instruksi kepada Dean dengan suara beratnya, sembari menatap lekat kepada jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Ia kembali berkata dengan tegas, memberikan aba-aba atas sesuatu yang telah mereka persiapkan.

“Rencana hari ini tidak boleh gagal. Kita harus menjauhkan wanita itu dari siapa pun. Jangan sampai teman dekat dan pacarnya tahu kalau kita akan menculiknya.”

Dean dengan cepat mengangguk mantap. Ia segera beranjak dari kursinya dan menumpuk sampah kertas dan plastik bekas makan di atas nampan untuk kemudian memasukkannya ke dalam tempat sampah yang sudah disediakan.

Sementara, pria itu masih duduk di kursi yang sama. Tidak beranjak sedikitpun.

Namun, bayangan seorang wanita sekilas melenggang masuk ke dalam Harold University dari sudut mata pria itu. Pria itu seketika menoleh tajam. Tubuhnya menegang, sorot matanya perlahan mengikuti setiap gerak-geriknya.

Kemana pun wanita itu berjalan, pria itu akan mengikutinya, seperti bayangan yang terpisahkan dengan jarak yang tak menentu.

“Hai...” Wanita cantik itu melambai kemana pun ia melangkah. Senyum manisnya selalu melekat.

Semua orang mengenalnya. “Anak Perdana Menteri yang cantik dan ramah.” Kurang lebih, begitu lah bagaimana mereka menjulukinya.

Semua orang di Harold University menghormatinya. Namun, tidak dengan pria itu. Mata tajamnya bergerak dipenuhi oleh rasa muak tiap kali wanita ini berjalan di hadapannya.

Bzzz... Bzzz...

Ponsel di dalam saku celana pria itu bergetar. Sebuah panggilan masuk.

Ia mengeluarkan ponselnya dan menatap layar selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangkatnya.

“Hallo,” ujar pria itu. Suaranya lirih, seolah tidak ada yang boleh mengetahui ucapannya.

Ia kemudian terdiam sejenak, mendengarkan penjelasan dari seorang pria lainnya di ujung teleponnya.

“Aku dan Dean sudah mengaturnya.” Matanya kembali mengarah pada wanita yang kini berjalan semakin jauh menuju gedung utama.

Setelah hampir tiga tahun mereka mengatur operasi ini, akhirnya tiba lah saat yang ditunggu-tunggu. Sebuah dendam yang akhirnya terbalaskan, sebuah keadilan yang akan ditegakkan, sebuah kesalahan yang akan dibayar lunas.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk