Angin sepoi-sepoi melambai lembut di udara. Gelak tawa dan obrolan ringan terdengar dari berbagai sudut-sudut Harold University.
“Hei Emily!” Seorang Pria dengan rambut keemasan tengah menghampiri seorang wanita yang hendak berjalan masuk ke Harold University.
Emily Thorns, seorang mahasiswi tingkat akhir yang memikat, sekaligus menjadi sosok yang populer di Harold University. Reputasinya tidak hanya datang dari senyumnya yang rupawan dan matanya yang cantik. Melainkan karena ia adalah seorang anak dari Perdana Menteri yang disegani.
Gelombang rambut cokelat gelapnya yang berkilau, membingkai tubuh langsingnya yang setinggi seratus enam puluh dua sentimeter. Tak heran, sosoknya yang menarik dan proporsional begitu dipuja oleh banyak pria.
“Oh hai, Henry.” Wanita itu melambaikan tangannya kepada Henry yang mendekatinya.
“Gimana? Udah siap buat latihan hari ini?” Emily bertanya lagi.
“Yah.. Lumayan.” Pria itu mengangkat pundaknya.
“Lumayan? Kamu nggak berlatih ya?” tanya Emily lagi.
“Berlatih. Hanya saja aku belum terlalu hapal dialogku,” jelasnya.
“Oh, it’s okay! Aku juga belum hapal.” Emily tersenyum dan berjalan berdampingan dengan Henry menuju kelas.
Tak lama, derap langkah kaki yang tergesa menghampiri mereka. Belum sempat mereka menoleh ke arah asal suara, dua lengan kekar seorang Pria memeluk mesra pinggang Emily.
“Hai sayang,” bisik Ryan di telinga Emily.
Ryan Wheeler. Seorang pria tampan pujaan banyak wanita dengan rambut hitam sehitam arang yang tertata rapi ciri khas pemain basket terkenal. Kulitnya putih pucat, dihiasi dengan alis hitam tebal, dan rahang tegas yang membuat siapa pun terkesima ketika melihatnya.
Dengan jaket basket kebanggaannya berinisial HF yang berarti Harold Falcons, dia membalik tubuh Emily, mengangkat, dan memutarnya seperti pasangan yang romantis.
Emily terkekeh. “Stop, malu Ryan!” Ia berusaha melepaskan pelukan Ryan dengan gaya manja khas wanita manis sembari tertawa kecil.
Ryan akhirnya melepaskan Emily, sebelum melirik ke arah Henry yang berada tepat di sebelah kirinya.
”Hey bro!” Ryan menyapa dengan tatapan sinis sembari mengangkat dagunya sekilas.
Ryan tidak menyukai Henry. Ia merasa sangat terganggu karena Henry terus menerus berada di sekeliling Emily.
“Hmm.” Henry menyapa dengan malas. Henry pun tidak menyukai Ryan. Sangat tidak menyukainya.
“Pulang jam berapa? Aku jemput ya.” Ryan menoleh ke arah Emily. Raut wajahnya yang semula sinis, berbalik arah menjadi manis. Senyum maskulin terpancar di wajahnya. Di sisi yang lain, tangan kanannya terus merangkul pinggang Emily.
“Kayaknya jam delapan udah selesai sih.” Emily tersenyum.
“Okay, aku jemput ya.” Ryan kemudian mengecup bibir Emily.
Emily tersenyum malu diikuti dengan Ryan yang melangkah pergi. Sedangkan Henry, ia memutar bola matanya, terlihat jijik saat melihat adegan di depan matanya.
Mereka berdua kembali berjalan menuju ruang kelas karena hari ini mereka berada di kelas yang sama, yakni kelas bahasa Perancis.
“Aku bosan.” Emily menoleh dan memanyunkan bibirnya.
“Masih satu jam.” Henry menjawab dengan malas.
“Sudah kepikiran soal kostum?” Wajah Emily terangkat.
”Hmm. Not yet!”
“Ah.. Nggak asik. Kamu nggak semangat.” Emily kembali menghadap ke bukunya.
“Karena belum ada ide aja.” Henry menjelaskan dan sekilas melirik ke arah Emily.
Begitulah Emily, ia sangat menyukai kelas seni. Di pertunjukan kali ini, ia akan menampilkan seni ballet sebagai seorang putri angsa bersama ke enam orang lainnya.
Ia telah menyukai pertunjukan ballet sejak masih kecil. Namun, Alexander Thorns, ayahnya, selalu melarangnya. Ia hanya fokus mendidik anaknya untuk menjadi wanita muda yang pintar. Tidak ada waktu untuk dunia seni.
Dua bulan yang lalu, ia berlatih sampai ujung jari kakinya terluka. Seolah tidak peduli dengan rasa sakitnya, ia terus memaksakan dirinya. Semakin dilarang oleh ayahnya, ada hasrat yang semakin besar di dada Emily.
Setelah penantian panjang, pertunjukan itu akan benar-benar nyata di hadapannya dalam kurun waktu satu bulan lagi. Di sana lah, ia akan menunjukkan kepada ayahnya, bahwa ini yang ia inginkan.
“Makan dulu, yuk.” Emily mengajak Henry untuk makan di The Patty.
“Udah makan di sana tadi, mau agak jauh nggak?” Tanya Henry.
“Boleh, kemana?”
“Udah, ikut aja. Aku tau satu tempat.” Henry menjawab dengan santai.
Ia merogoh saku jaketnya dan mengambil ponsel, sebelum akhirnya mengetik beberapa hal dan mengajak Emily untuk berjalan ke mobilnya.
Henry kemudian membukakan pintu mobil untuk Emily.
”Thanks, Henry!” Senyumnya tampak begitu lebar. Ia tak sabar menantikan pertemuan malam ini dan berdiskusi terkait kostum dengan teman-temannya.
Emily pun segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.
Namun ketika ia sedang memasang sabuk pengaman, sebuah tangan membekap hidung dan mulutnya dengan sapu tangan putih dari arah belakang.
Tak butuh waktu lama, Emily pun tak sadarkan diri.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!