12. Rebellion

1 dibaca

A

──── 🥀 ────


“Aku baik-baik saja, Emily.” Nicholas menjawab tanpa menjelaskan lebih banyak.

“Hmm ...” Emily tersenyum kecil.

“Ada apa?” Nicholas memiringkan wajahnya dengan lirikan penasaran.

“Aku selalu datang ke kuburanmu selama sepuluh tahun terakhir.” Emily menatap Nicholas yang menatapnya dengan rasa bingung.

“Aku kira kau ada di sana. Ternyata aku bercerita pada kubur kosong.” Emily terkekeh kecil. Perubahan sikapnya terlihat sangat drastis.

Nicholas sangat mengerti apa maksudnya. Ia sering melihat Emily berkunjung ke sebuah kuburan pada saat ia mengikutinya.

Sering kali, Emily berteriak di hadapan kuburan itu. 
Sering kali, Emily menangis di hadapan kuburan itu.
Namun sesekali, Emily tersenyum dan tersipu di hadapan kuburan itu.

Hingga suatu ketika, Nicholas pun mendekat pada batu nisan itu.

Dengan terkejut, ia menemukan namanya sendiri, terukir  lengkap dengan tanggal lahir dan kematian palsunya di batu nisan.

“Kenapa kau melakukannya?” Nicholas bertanya lembut. Ia sama sekali tidak mengerti hubungan mereka.

Dalam kecelakaan yang menewaskan orang tuanya, Nicholas sempat terbaring di ruang periksa selama beberapa hari.

Tubuhnya terlalu lemah, hantaman keras mengenai sisi kiri kepalanya, membuatnya trauma dan tidak dapat berbicara cukup lama.

Ditambah lagi, ia mengingat semua kejadian yang terjadi kepada orang tuanya. Namun, tanpa bertanya pun, ia sudah mengetahui jawabannya.

Kenangan bersama Emily perlahan pudar. Ia hanya dikenal sebagai teman masa kecil Nicholas, tanpa kedekatan yang berarti.

Hingga suatu ketika, ia menemukan fakta bahwa ayah Emily adalah dalang di balik kematian keluarganya.

Ingatan itu pun perlahan berubah menjadi amarah dan kebencian. Beberapa kali, ia ingin datang dan membunuh Emily. Sebagai sebuah nyawa, ganti nyawa.

Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Begitu lah pikirannya, sebelum ia menemukan Emily yang selalu terduduk di hadapan kuburan kosongnya.

Kini ia tahu, Emily hanya lah seorang anak perempuan yang berada di keluarga yang salah. Membunuhnya sebagai hukuman atas kesalahan orang tuanya, bukanlah sesuatu yang memuaskan hatinya lagi.

“Aku nggak tahu ...” Emily mengangkat kecil pundaknya. “Mungkin karena, kamu adalah orang yang aku percaya sejak aku masih kecil.”

Nicholas tidak bereaksi.

“Mungkin ... jauh di dalam lubuk hatiku, aku tah u...” Emily menatap lekat Sahabat kecilnya itu.

“Bahwa kamu adalah satu-satunya orang yang benar-benar tulus menyayangiku.” Ia menutup ucapannya dengan senyum yang sedikit mengejek.

Seolah ia tidak lagi merasakan hal yang sama tentang Nicholas—Orang yang dulu pernah ia percaya dan pernah menyayanginya dengan tulus.

Baru saja saja Nicholas ingin membuka mulutnya, pintu kamar Emily terbuka dengan kencang.

Brakkk!!!

“Nicholas! Mereka menemukan kita!” Dean datang dengan terengah-engah.

”Shit!!!” Nicholas kemudian menghentak piring daging yang masih ia pegang pada meja kecil di dekat ranjang.

“Bagaimana mereka tahu?” tanya Nicholas.

“Kita kehabisan waktu! Aku jelaskan nanti. Sekarang, kita harus pergi dari sini.”

Mendengar hal itu, Nicholas segera mengikuti Dean dan memasukkan barang-barang mereka ke mobil.

”Shit! Kita tidak ada waktu untuk membersihkan semua yang ada di sini.” Amarah Nicholas memuncak. Ia tidak tahu mengapa semuanya seolah menjadi berantakan.

“Biarkan saja! Ayo ambil Emily,” ujar Dean dengan napas yang tersengal-sengal.

Nicholas bergegas ke kamar Emily. Dengan cepat ia membuka ikatan tali yang melilit tangan Emily dan menggendongnya. Tubuh Emily tersampir di pundak kiri Nicholas.

Setelah berhasil membawa Emily turun ke lantai satu, Emily justru berteriak sekencang-kencangnya dengan sisa tenaganya.

“Diam!” Dean berusaha membungkamnya. Namun, Emily tetap berteriak.

Ia kemudian menggigit pundak Nicholas kuat-kuat, sehingga Nicholas menjatuhkannya ke tanah yang dipenuhi dengan daun-daun kering.

”Shit, Emily!!!” Nicholas memaki sembari merintih kesakitan. Namun ia berusaha menahan diri dan menangkap Emily.

Sayangnya kali ini, tendangan Emily mengenai lipatan paha bawah Nicholas, yang membuatnya sulit untuk kembali berdiri.

Melihat lampu senter yang sudah mulai terlihat dari kejauhan, Dean tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan Emily lolos dan memapah Nicholas ke dalam mobil.



════════ 🥀 ════════

Terima kasih sudah menemani perjalanan cerita ini sampai di bab ini! 🤍

Kalau kalian suka ceritanya, jangan lupa like ❤️ dan tinggalkan komentar 💬 pada bab ini ya. Aku akan sangat senang membaca komentar-komentar kalian!

Sampai ketemu di bab selanjutnya!

Martha Han
@Marutanova

════════ 🥀 ════════════════ 🥀 ════════════════ 🥀 ════════

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk