11. The Truth Comes Out

1 dibaca

A

──── 🥀 ────


“Letakkan pisau itu!” Nicholas merendahkan suaranya.

“Tidak! Biarkan aku pulang!” bentak Emily.

“Kalau pun harus berkelahi, kita tahu siapa yang akan kalah.” Nicholas mencoba membuatnya takut. Seolah tidak ada kemenangan yang akan diperoleh Emily saat melakukan hal semacam ini. Namun yang ia tidak ketahui, kalimat itu justru memprovokasinya.

“Kalau begitu, aku tidak akan melancarkan rencanamu.” Ia kemudian menarik pisau daging itu, dan menempelkannya pada lehernya.

Mata Nicholas terbelalak, napasnya memburu. Namun ia tahu, ia harus tetap tenang menghadapi Emily.

“Ketika aku mati, kau tidak bisa lagi mengancam ayahku!” Emily kembali berteriak pada Nicholas.

“Semua gara-gara kalian! Seandainya kalian tidak menculikku, ayahku tidak akan mengkhianatiku!” Air matanya terjatuh seraya ia berteriak.

“Ryan juga mengkhianatiku. Mereka semua mengkhianatiku ...!” Mata Emily menjadi tidak fokus, bergerak perlahan ke titik-titik tertentu. Seolah ia sedang memproses kalimatnya sendiri.

“Sama halnya kau mengkhianatiku saat ini.” Nicholas berkata dengan suara tenang. Mata Emily yang semula bergerak ke titik yang lain, sekarang kembali fokus kepada Nicholas.

Ia terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh Nicholas. Namun sekali lagi, keningnya kembali berkerut dengan tatapan tajam setajam belati. “Kalau bukan karena kau, aku tidak perlu mengkhianati siapa pun!”

Belum selesai Emily membentak, teriakan Nicholas seketika terlepas ke udara.

“Kalau bukan karena ayahmu! Aku tidak perlu kehilangan orang tuaku dan menculikmu! Aku tidak perlu hidup di dalam bayang-bayang semu!” Napas Nicholas memburu. Ia seperti menarik sebuah paku besi panjang yang tertancap di dadanya.

“Apa?”  Tatapannya nanar. Ia tidak mengerti maksud di balik perkataannya. Bagaimana bisa, semua ini karena Ayahnya?

Nicholas menyadari rasa bingung yang mendadak menyergap Emily. Ia justru melihat hal ini sebagai sebuah kesempatan untuk mengempas pisau dari tangannya.

Plakk!

Nicholas berhasil membuat pisau itu terlempar jauh dari tangannya. Ia segera memeluk Emily dengan pasrah dan menggendongnya.

“Yang kau butuhkan hanya lah makan dengan tenang! Bahkan tugas semudah itu pun susah untuk kau jalankan!” kata Nicholas, sembari membawa Emily yang lunglai dalam gendongannya.

Tatapan Emily terlihat kosong. Ia pun terlalu lemas untuk berdebat, bahkan memberontak.

Ia membiarkan Nicholas untuk membawanya kembali ke kamar dan mengikatnya.

Setelah mengikat tangan dan kaki Emily, Nicholas hanya menatapnya tanpa suara. Ia kemudian berbalik dan melangkah keluar.

Beberapa menit kemudian, Nicholas kembali memasuki kamar Emily dengan sepiring daging yang tadi sudah ia potong untuknya.

Tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia menarik kursi ke sebelah ranjang Emily, kemudian duduk di sebelah ranjangnya.

Emily menoleh pelan, genangan air mata telah memenuhi mata cantiknya. “Apa yang ia lakukan pada keluargamu?”

Nicholas menggeleng pelan, “tidak perlu dibahas. Makan lah.” Ia kemudian menusuk daging berbentuk dadu dengan sedikit rona kemerahan menggunakan garpu. Tangannya terulur, mendekatkan potongan daging itu kepada Emily.

Emily pun membuka mulutnya dan mengunyah potongan daging itu. Air matanya mengalir deras dari sudut mata hingga ke telinganya.

Melihat hal itu, Nicholas kemudian mengambil kain putih bersih di atas meja kecil dan menyeka dengan hati-hati.

Ia kemudian berusaha mengalihkan perasaan sedih Emily.

”How is it? Is it good?” Nicholas tersenyum, kali ini terlihat lebih tulus dari biasanya.

“Hmm ... sangat enak.” Emily tersenyum hangat.

“Nicho ...” Emily memanggil lembut. “Bagaimana kabarmu selama ini?”

Nicholas tidak tahu harus menjawab apa. Semua yang ia alami selama sepuluh tahun sangatlah tidak mudah untuknya.

Ia tidak menyangka pertanyaan sesederhana itu bahkan terasa rumit untuk dijawab.

Ingatannya terhadap Emily selama ini hanyalah samar-samar. Ia tahu bahwa mereka pernah berteman. Hanya saja, tidak lebih dari perasaan ‘sekedar kenal.’

Namun, melihat keberadaannya dua hari ini, entah mengapa, Nicholas merasa bahwa hubungan mereka pernah lebih dari itu.



════════ 🥀 ════════

Terima kasih sudah menemani perjalanan cerita ini sampai di bab ini! 🤍

Kalau kalian suka ceritanya, jangan lupa like ❤️ dan tinggalkan komentar 💬 pada bab ini ya. Aku akan sangat senang membaca komentar-komentar kalian!

Sampai ketemu di bab selanjutnya!

Martha Han
@Marutanova

════════ 🥀 ════════════════ 🥀 ════════════════ 🥀 ════════

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk