Laut Mediterania membentang seperti kain sutra hitam yang tak berujung di bawah langit malam tanpa bintang. Ombak bergerak pelan, lambat, nyaris tak bersuara, seolah laut itu sendiri sedang menahan napas, menunggu sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata. Angin bertiup dari arah barat laut dengan hembusan yang dingin dan basah, membawa aroma garam dan rumput laut dan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih tua dari garam dan lebih dalam dari lautan, sesuatu yang berbau seperti rahasia yang belum pernah diucapkan oleh siapa pun.
Di atas kapal kayu bernama La Sombra, seorang perempuan berdiri di haluan dengan kedua tangan mencengkeram pagar kayu yang permukaannya sudah kasar dimakan air laut dan waktu. Rambut hitamnya yang panjang berkibar ditiup angin, helai demi helai menari di udara seperti benang-benang sutra gelap yang dilepaskan oleh tangan tak terlihat. Topi bajak laut hitamnya bertengger kokoh di kepalanya, topi yang pinggirnya sudah lusuh dan kulitnya sudah mengelupas di beberapa tempat, tapi yang tetap dipakai karena topi itu bukan sekadar topi. Topi itu adalah identitas. Topi itu adalah pernyataan. Topi itu berkata kepada siapa pun yang melihatnya, aku bukan perempuan biasa, aku bukan nelayan, aku bukan pedagang, aku adalah bajak laut, dan kau sebaiknya menghormati itu atau menyingkir dari jalanku.
Jubah hitamnya yang panjang hingga mata kaki bergerak mengikuti irama angin, berkibar ke kanan dan ke kiri seperti sayap burung gagak yang sedang terbang rendah di atas permukaan air. Di pinggangnya, sabuk-sabuk perak berkilau redup memantulkan cahaya bulan yang menerobos celah awan, sabuk yang bukan hanya penghias melainkan tempat bergantungnya sarung pedang dari kulit yang sudah menghitam karena keringat dan darah dan air laut dan waktu. Pedang di dalam sarung itu bernama Zar, pedang dengan gagang yang dililit kulit ular laut yang sisiknya masih terasa kasar di bawah telapak tangan, pedang yang sudah menemani perempuan itu sejak dia pertama kali menginjakkan kaki di atas kapal tujuh tahun lalu.
Perempuan itu bernama Naja.
Dan malam ini, Naja sendirian.
Kapal La Sombra berderit pelan. Suara kayu yang bergesekan dengan kayu, suara tali yang meregang dan mengendur mengikuti gerakan ombak, suara layar yang berkibar lemah karena angin yang tidak cukup kuat untuk mendorongnya tapi cukup kuat untuk membuatnya bergerak. Suara suara yang dulu tenggelam di bawah suara suara lain. Suara tawa awak kapal yang bermain kartu di dek bawah. Suara Rollo si juru masak yang bersenandung sambil mengaduk sup ikan di dapur kapal yang sempit dan pengap. Suara Petrus si navigator yang berdebat dengan Marco si tukang layar tentang arah angin dan posisi bintang. Suara Daud si penabuh gendang yang memukul gendangnya setiap kali kapal meninggalkan pelabuhan, irama yang bersemangat dan penuh harapan yang membuat seluruh awak berteriak dan mengangkat tangan ke udara.
Dua puluh suara. Dua puluh nyawa. Dua puluh orang yang mempercayakan hidup mereka kepada Naja, yang mengikutinya ke tengah lautan yang tak bisa ditebak, yang tidur di bawah bintang dan bangun di bawah matahari dan bekerja di bawah hujan tanpa mengeluh karena mereka percaya, percaya bahwa kapten mereka tahu apa yang dilakukannya, percaya bahwa perjalanan ini akan membawa mereka ke sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Dua puluh suara itu sekarang hilang.
Dek bawah kosong. Tempat tidur gantung yang dulu berisi tubuh tubuh yang mendengkur dan mengigau dan kadang tertawa dalam tidur sekarang bergoyang kosong, berayun pelan mengikuti gerakan kapal seperti ayunan anak yang ditinggalkan pemiliknya. Dapur kapal gelap dan dingin, panci sup ikan Rollo masih tergantung di pengaitnya tapi sudah berkarat, sendok kayu besarnya masih berdiri di sudut tapi sudah berdebu. Meja navigasi Petrus masih dipenuhi peta-peta yang ujungnya menggulung dan kompas yang jarumnya masih berputar mencari utara, tapi tidak ada jari yang menunjuk arah di atas peta itu, tidak ada suara yang berkata “Kita harus ke sana, Kapten, anginnya mendukung.”
Semua hilang.
Semua raib.
Dalam satu malam.
Naja menutup matanya. Angin malam menyapu wajahnya yang kering dan terbakar matahari, wajah yang kulitnya kecokelatan gelap karena bertahun-tahun hidup di bawah langit terbuka, wajah yang garis garis rahangnya tegas dan tajam seperti pahatan, wajah yang matanya hitam dan dalam seperti sumur yang tidak pernah kering. Wajah yang cantik, jika cantik bisa didefinisikan bukan sebagai kelembutan dan kehalusan melainkan sebagai kekuatan dan ketajaman dan keberanian yang terukir di setiap lekuknya.
Di balik kelopak mata yang tertutup itu, malam itu kembali. Malam tiga minggu lalu. Malam yang mengubah segalanya.
Laut tenang. Terlalu tenang.
Naja sudah merasakannya sejak sore. Ada sesuatu yang tidak benar. Laut tidak pernah setenang ini kecuali jika laut sedang menyembunyikan sesuatu. Nelayan tua di pelabuhan Algiers pernah bilang kepadanya, “Jika laut diam, bukan berarti laut tidur. Laut sedang menunggu. Dan yang ditunggunya biasanya bukan hal yang baik.”
Naja berdiri di haluan, menatap permukaan air yang datar seperti cermin, yang memantulkan bulan purnama dengan sempurna sehingga ada dua bulan yang terlihat, satu di langit dan satu di air, dan Naja tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang bayangan.
“Kapten.”
Suara Petrus dari belakangnya. Petrus, navigator setianya yang sudah bersamanya sejak awal, laki-laki kurus berjanggut lebat yang matanya selalu menyipit karena terlalu sering menatap bintang dan yang bicaranya pelan seperti orang yang terbiasa berbicara dengan angin.
“Apa, Petrus?”
“Angin berhenti total, Kapten. Layar tidak bergerak. Kita mengapung.”
“Aku tahu.”
“Ini tidak biasa.”
“Aku tahu itu juga.”
Naja tidak berbalik. Matanya tetap menatap permukaan air yang datar itu. Ada sesuatu di bawah sana. Dia bisa merasakannya. Bukan dengan mata, bukan dengan telinga, tapi dengan sesuatu yang lebih primitif, insting yang dimiliki setiap pelaut yang sudah cukup lama hidup di laut untuk mengenal bahasa laut yang tidak diucapkan dengan suara.
“Petrus.”
“Ya, Kapten?”
“Bilang kepada semua awak. Tutup telinga mereka. Pakai lilin lebah yang ada di gudang bawah. Sekarang.”
Petrus terdiam sejenak. Alisnya terangkat.
“Tutup telinga, Kapten? Kenapa?”
“Jangan tanya. Lakukan saja. Sekarang.”
Petrus menatap punggung Naja yang tegak dan tegas di haluan, siluetnya yang gelap memotong cahaya bulan. Petrus sudah cukup lama bersama Naja untuk tahu bahwa ketika Naja berbicara dengan nada seperti itu, nada yang datar dan rendah dan tanpa emosi, itu berarti Naja merasakan bahaya. Dan bahaya yang dirasakan Naja selalu terbukti nyata.
“Baik, Kapten.”
Langkah kaki Petrus menjauh. Suara kayu dek yang berderit di bawah sepatunya. Lalu suara Petrus memanggil awak yang lain. “Rollo! Marco! Daud! Semua! Perintah kapten! Tutup telinga kalian dengan lilin lebah! Sekarang!”
Dan suara-suara yang menyambut perintah itu. Suara yang tidak patuh. Suara yang meremehkan. Suara yang tertawa.
“Tutup telinga? Untuk apa? Memangnya ada apa?”
Itu suara Marco. Marco si tukang layar yang tubuhnya besar dan suaranya lebih besar, yang selalu menjadi yang pertama bertanya dan terakhir patuh, yang otaknya keras seperti tiang layar dan mulutnya tajam seperti pisau dapur.
“Perintah kapten, Marco. Jangan debat.”
“Aku tidak dengar apa-apa, Petrus. Laut tenang. Langit cerah. Tidak ada badai. Tidak ada kapal musuh. Untuk apa tutup telinga?”
“Aku tidak tahu untuk apa, Marco. Tapi kapten bilang tutup telinga, ya tutup telinga.”
“Kapten terlalu khawatir. Malam ini indah. Lihat bulannya. Kapan terakhir kali kita lihat bulan sebagus ini? Ayo nikmati saja.”
Naja mendengar perdebatan itu dari haluan. Rahangnya mengeras. Dia berbalik dan berjalan ke arah awak kapalnya yang berkumpul di dek tengah, dua puluh laki-laki yang sebagian duduk, sebagian berdiri, sebagian masih memegang kartu yang tadi dimainkan, sebagian memegang botol rum yang isinya tinggal separuh.
“Ini perintah,” kata Naja. Suaranya tidak keras. Naja tidak pernah berteriak. Naja tidak perlu berteriak. Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat orang mendengarkan, kualitas yang bukan datang dari volume melainkan dari kedalaman, dari keyakinan yang tidak bisa digoyahkan, dari otoritas yang dibangun bukan oleh gelar melainkan oleh pengalaman dan keberanian dan keputusan-keputusan yang diambil di saat saat yang paling gelap.
“Tutup telinga kalian. Sekarang. Pakai lilin lebah. Jangan dengarkan apa pun yang datang dari laut malam ini.”
“Tapi Kapten...”
“Tidak ada tapi, Marco.”
“Tapi kenapa, Kapten? Kami berhak tahu kenapa.”
Naja menatap Marco. Menatap matanya yang keras dan menantang. Dan Naja berkata satu kata yang seharusnya cukup untuk membuat setiap pelaut yang pernah mendengar cerita-cerita tua tentang laut memucat dan menutup telinga mereka tanpa bertanya lagi.
“Siren.”
Hening.
Kata itu menggantung di udara malam seperti asap yang tidak tertiup angin. Dua puluh pasang mata menatap Naja. Beberapa dengan ketakutan yang mulai tumbuh di sudut mata mereka. Beberapa dengan ketidakpercayaan. Dan beberapa, termasuk Marco, dengan sesuatu yang lebih berbahaya dari ketidakpercayaan.
Dengan keingintahuan.
“Siren?” ulang Marco. Suaranya berubah. Bukan lagi menantang. Tapi juga bukan takut. Suaranya sekarang punya warna baru, warna yang berkilau dan gelap pada saat bersamaan, seperti permukaan laut di malam ini. “Siren yang perempuan-perempuan cantik yang bernyanyi di laut itu?”
“Tutup telingamu, Marco.”
“Aku belum pernah dengar nyanyian siren, Kapten. Kata orang-orang, suaranya adalah suara paling indah yang pernah ada. Lebih indah dari musik mana pun. Lebih indah dari suara wanita mana pun.”
“Marco.”
“Mungkin aku ingin mendengarnya. Sekali saja.”
“Kau tidak ingin mendengarnya. Percayalah. Kau tidak ingin.”
“Kenapa, Kapten? Apa yang terjadi kalau aku mendengarnya?”
Naja menatap Marco dengan tatapan yang biasanya cukup untuk membuat siapa pun mundur selangkah. Tapi Marco tidak mundur. Marco berdiri tegak dengan dada yang bidang dan tangan yang memegang botol rum dan senyum yang mulai terbentuk di sudut bibirnya, senyum yang bodoh dan berani dan ceroboh, senyum yang dimiliki oleh laki-laki yang tidak pernah mengalami hal yang benar-benar mengerikan dan karena itu mengira bahwa hal yang mengerikan tidak ada.
“Yang terjadi,” kata Naja pelan, “adalah kau akan mati. Mereka semua akan menarikmu ke dalam laut. Dan kau tidak akan pernah kembali.”
“Cerita dongeng, Kapten.”
“Bukan dongeng.”
“Bagaimana Kapten tahu?”
“Karena aku pernah melihatnya.”
Hening lagi. Kali ini lebih dalam. Dua puluh pasang mata berkedip. Beberapa awak mulai bergerak, mencari lilin lebah, mulai patuh. Tapi Marco tetap berdiri. Dan beberapa awak lain yang mengagumi keberanian Marco atau mungkin kebodohannya juga tetap berdiri.
“Kapten pernah melihat siren?” tanya Rollo si juru masak dari sudut dek, suaranya penasaran meskipun tangannya sudah memegang lilin lebah yang baru diambilnya dari gudang.
“Ya.”
“Dan Kapten selamat?”
“Aku menutup telingaku.”
“Tapi Kapten melihat mereka?”
“Ya.”
“Seperti apa mereka?”
Naja terdiam. Matanya menerawang ke permukaan laut yang datar itu, ke bulan yang terpantul di air, ke kegelapan yang mengintai di bawah permukaan yang tenang. Dan ketika dia berbicara, suaranya berbeda. Lebih rendah. Lebih pelan. Seperti seseorang yang menceritakan mimpi buruk yang belum sepenuhnya hilang dari ingatannya.
“Mereka cantik. Cantik dengan cara yang tidak bisa kau bayangkan. Cantik bukan seperti perempuan biasa yang cantik. Cantik seperti api yang cantik. Kau tahu api itu berbahaya, kau tahu api itu akan membakarmu, tapi kau tetap ingin menyentuhnya karena cahayanya begitu indah dan hangatnya begitu menggoda. Seperti itulah siren. Mereka adalah api di atas air.”
Beberapa awak menelan ludah. Beberapa mulai memasukkan lilin lebah ke telinga mereka. Tapi Marco masih berdiri. Dan sekarang, yang ada di matanya bukan lagi keingintahuan biasa.
Yang ada di matanya adalah nafsu.
“Api yang cantik,” bisik Marco. Dan senyumnya melebar.
Naja melihat senyum itu. Dan Naja tahu, dengan ketepatan yang dingin dan menyedihkan, bahwa Marco tidak akan menutup telinganya malam ini.
Lalu nyanyian itu datang.
Datang dari mana, Naja tidak tahu. Dari bawah air, mungkin. Dari udara, mungkin. Dari dalam kepala setiap laki-laki di kapal ini, mungkin. Nyanyian itu tidak datang dari satu arah. Nyanyian itu datang dari semua arah sekaligus, seperti kabut yang melingkupi kapal, tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan di setiap pori kulit, di setiap helai rambut yang berdiri, di setiap detak jantung yang tiba-tiba berubah iramanya.
Naja sudah menutup telinganya dengan lilin lebah. Lilin yang dia selalu simpan di kantong jubahnya sejak pengalaman pertamanya dengan siren lima tahun lalu, lilin yang lembut dan hangat yang dia tekan masuk ke dalam lubang telinganya sampai suara dunia luar menjadi gumaman samar yang jauh dan teredam. Tapi bahkan dengan lilin di telinganya, Naja bisa merasakan getaran nyanyian itu. Bukan mendengarnya. Merasakannya. Di tulang tulangnya. Di dadanya. Di bagian otaknya yang paling kuno dan paling primitif, bagian yang bereaksi terhadap keindahan seperti ngengat bereaksi terhadap cahaya, tanpa pikir, tanpa logika, hanya tarikan yang murni dan tak bisa dilawan.
Naja mencengkeram pagar kapal. Kuku-kukunya memutih. Giginya menggertak. Matanya terbuka lebar dan menatap laut.
Dan dia melihat mereka.
Mereka muncul dari bawah permukaan air yang datar itu, satu per satu, seperti bunga yang mekar di taman air yang gelap. Kepala-kepala yang rambutnya mengalir di permukaan air seperti ganggang yang berkilau, rambut yang warnanya berubah-ubah antara perak dan emas dan hijau laut dan warna-warna lain yang tidak punya nama dalam bahasa manusia. Wajah-wajah yang sempurna dengan cara yang menyakitkan untuk dilihat, seperti menatap matahari yang terlalu terang, cantik tapi membutakan, cantik tapi menghancurkan. Mata-mata yang besar dan bercahaya dengan pupil vertikal seperti mata kucing, yang memancarkan cahaya hijau pucat dari dalam, cahaya yang bukan pantulan bulan melainkan cahaya mereka sendiri, cahaya yang datang dari tempat yang lebih dalam dan lebih tua dari lautan mana pun.
Satu. Dua. Lima. Sepuluh. Mereka muncul terus, mengelilingi kapal La Sombra dalam lingkaran yang semakin rapat, tubuh-tubuh mereka yang setengah terendam memperlihatkan bahu dan dada yang berkilau dengan sisik-sisik transparan yang berpendar dalam cahaya bulan.
Dan mereka bernyanyi.
Meskipun Naja tidak bisa mendengar kata-katanya, dia bisa membaca gerakan bibir mereka. Bibir yang merah gelap, yang terbuka dan menutup dalam irama yang hipnotis, yang membentuk kata-kata dalam bahasa yang bukan bahasa manusia tapi yang entah bagaimana terasa familiar, terasa seperti bahasa yang pernah didengar di dalam rahim, bahasa pertama sebelum semua bahasa, bahasa yang berbicara langsung ke bagian terdalam dari jiwa.
Dan awak kapalnya mendengarnya.
Naja melihat perubahan itu terjadi seperti melihat penyakit menyebar. Satu per satu, wajah-wajah awak kapalnya berubah. Mata mereka yang tadi waspada atau takut atau penasaran sekarang menjadi kosong, kosong dengan cara yang bukan seperti orang tidur melainkan seperti orang yang jiwanya sudah pergi ke tempat lain dan yang tinggal hanya tubuh yang masih berdiri karena belum tahu ke mana harus jatuh. Mulut mereka terbuka sedikit. Tangan mereka terkulai di sisi tubuh. Langkah mereka mulai bergerak, pelan, tanpa kesadaran, ke arah pagar kapal.
Ke arah laut.
Ke arah mereka.
“BERHENTI!” teriak Naja, meskipun dia tahu mereka tidak bisa mendengarnya, meskipun dia tahu teriakannya tertelan oleh lilin di telinganya sendiri dan tenggelam di bawah nyanyian siren yang melingkupi kapal seperti selimut yang lembut dan mematikan. “JANGAN KE SANA! MEREKA AKAN MEMBUNUH KALIAN!”
Marco yang pertama.
Marco yang tadi berdiri tegak dengan senyum nafsu di bibirnya sekarang berjalan ke pagar kapal dengan langkah yang lambat dan mantap, langkah seseorang yang sedang berjalan dalam mimpi, yang tidak melihat ke mana kakinya melangkah karena matanya sudah terkunci pada sesuatu yang jauh lebih menarik dari apapun yang ada di kapal ini. Matanya yang biasanya keras dan menantang sekarang lembek dan berair, penuh dengan sesuatu yang menyerupai cinta tapi yang sebenarnya adalah racun yang dibungkus dengan perasaan itu.
“Marco!” Naja berlari ke arahnya. Mencengkeram lengannya. Menariknya. “Marco, dengarkan aku! Itu bukan nyata! Mereka bukan perempuan! Mereka monster! Marco!”
Tapi Marco tidak mendengar. Marco bahkan tidak menoleh. Tubuhnya yang besar dan kekar bergerak dengan kekuatan yang tenang dan tak terbendung, seperti sungai yang mengalir menuju muara, dan Naja yang mencengkeram lengannya terseret beberapa langkah sebelum Marco mengibas tangannya dan Naja terpelanting ke dek.
“Marco, jangan!”
Marco melangkahi pagar kapal.
Dan melompat.
Suara air yang memecah. Percikan yang berkilau dalam cahaya bulan. Dan tangan-tangan yang muncul dari bawah permukaan, tangan-tangan yang jari-jarinya panjang dan berselaput dan cantik dan mematikan, yang menyambut tubuh Marco seperti kekasih menyambut kekasih yang sudah lama dirindukan, memeluknya, menariknya, membawanya ke bawah.
Marco tenggelam dalam tiga detik.
Tidak ada teriakan. Tidak ada perlawanan. Hanya permukaan air yang beriak sebentar lalu kembali datar, seolah Marco tidak pernah ada, seolah laki-laki besar bermulut tajam yang tadi berdebat tentang lilin lebah itu tidak pernah berdiri di dek kapal ini, tidak pernah tertawa, tidak pernah hidup.
“TIDAK!” Naja bangkit dari dek. Matanya liar menatap awak kapalnya yang lain. Mereka semua bergerak sekarang. Dua puluh tubuh yang berjalan lambat ke arah pagar kapal, dua puluh jiwa yang sudah tidak ada di sini, dua puluh boneka yang digerakkan oleh benang tak terlihat yang dipegang oleh tangan-tangan di bawah air.
Naja berlari dari satu orang ke orang lain. Mencengkeram. Menarik. Mendorong. Mengguncang.
“Rollo! Rollo, bangun! Ini aku, kaptenmu! Dengarkan aku!”
Rollo tidak mendengar. Rollo melangkah ke pagar dan jatuh ke laut dengan suara yang hampir tidak terdengar, seperti batu kecil yang dijatuhkan ke kolam.
“Petrus! Petrus, kau navigator terbaikku! Jangan lakukan ini! Petrus!”
Petrus tidak menoleh. Petrus memanjat pagar dan membiarkan tubuhnya jatuh ke depan, ke pelukan air yang menunggu di bawah.
“Daud! Daud, siapa yang akan menabuh gendang jika kau pergi? Daud!”
Daud tidak menjawab. Daud melompat dengan senyum di bibirnya, senyum yang lebar dan bahagia dan kosong, senyum orang yang bermimpi indah dan tidak mau dibangunkan.
Satu per satu. Satu per satu mereka pergi. Satu per satu mereka melangkahi pagar kapal dan jatuh ke laut yang tenang dan gelap, ke tangan-tangan yang menunggu, ke pelukan yang menjanjikan keindahan abadi tapi yang memberikan kematian abadi.
Naja berlari. Naja berteriak. Naja menarik dan mendorong dan mencengkeram dan memukul. Naja melakukan segalanya yang bisa dilakukan seorang perempuan sendirian untuk menghentikan dua puluh laki-laki yang sudah tidak memiliki kehendak mereka sendiri.
Tapi Naja hanya satu orang.
Dan siren banyak.
Ketika yang terakhir jatuh ke laut, ketika percikan air terakhir sudah reda dan permukaan laut kembali datar dan tenang seperti tidak terjadi apa-apa, Naja jatuh berlutut di dek kapal.
Kapal yang sekarang kosong.
Kapal yang sekarang hanya berisi dia seorang.
Naja tidak menangis. Bukan karena dia tidak sedih. Kesedihan yang dirasakannya saat itu lebih besar dari tangisan mana pun, lebih dalam dari air mata mana pun, kesedihan yang tidak bisa dikeluarkan melalui mata karena terlalu besar untuk saluran sekecil itu. Kesedihan itu mengisi seluruh tubuhnya, mengalir di pembuluh darahnya, berdenyut di setiap detak jantungnya, menghuni setiap sel di tubuhnya sampai Naja merasa bahwa dia sendiri sudah menjadi kesedihan, bahwa tidak ada lagi Naja yang terpisah dari kesedihan itu.
Dua puluh orang.
Raib.
Dalam satu malam.
Di bawah bulan purnama yang masih bersinar dengan angkuhnya di langit yang tidak peduli.
Naja mengangkat kepalanya dan menatap laut. Siren-siren itu masih ada di sana. Masih mengapung di permukaan dengan rambut mereka yang berkilau dan mata mereka yang bercahaya hijau. Tapi mereka sudah berhenti bernyanyi. Mulut mereka tertutup sekarang, membentuk senyum-senyum yang tipis dan puas, senyum predator yang sudah kenyang, senyum yang mengatakan “terima kasih atas makanannya” tanpa suara.
Salah satu dari mereka menatap Naja. Yang paling dekat dengan kapal. Yang rambutnya berwarna perak dan matanya lebih besar dari yang lain. Siren itu memiringkan kepalanya, menatap Naja dengan keingintahuan yang dingin, seperti kucing yang menatap tikus yang entah kenapa tidak bisa ditangkap.
Lalu siren itu tenggelam. Pelan. Kepalanya masuk ke dalam air, rambutnya menyebar di permukaan seperti jaring perak, matanya yang bercahaya hijau menjadi dua titik cahaya yang semakin redup di bawah air, semakin dalam, semakin jauh, sampai akhirnya hilang.
Dan laut kembali tenang.
Dan Naja sendirian.
Tiga minggu kemudian. Malam ini.
Naja membuka matanya.
Kenangan itu mundur kembali ke tempatnya di sudut pikiran Naja yang paling gelap, ke ruangan yang pintunya tidak pernah benar-benar tertutup dan yang isinya kadang merembes keluar di malam-malam seperti ini, ketika laut terlalu tenang dan langit terlalu gelap dan kesendirian terlalu berat.
Naja melepaskan pegangannya dari pagar kapal. Meregangkan jari-jarinya yang kaku karena terlalu lama mencengkeram. Menarik napas panjang. Menghembuskannya pelan.
Dua puluh orang. Hilang. Karena mereka tidak mau mendengarkan.
Naja sudah memperingatkan. Naja sudah berteriak. Naja sudah memerintahkan. Tapi mereka memilih nafsu mereka di atas akal sehat. Mereka memilih keindahan sesaat di atas kehidupan. Mereka memilih nyanyian siren di atas suara kapten mereka.
Dan sekarang Naja sendirian.
Di kapal yang terlalu besar untuk satu orang. Dengan layar yang terlalu banyak untuk dua tangan. Dengan ruang penyimpanan yang terlalu kosong untuk perjalanan yang masih terlalu panjang. Dengan peta yang menunjukkan jalan ke pulau yang belum pernah dikunjungi siapa pun dan kembali hidup-hidup.
Pulau Yababa.
Naja merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan selembar peta yang sudah lusuh karena terlalu sering dilipat dan dibuka. Peta yang digambar dengan tinta yang sudah pudar di atas kulit kambing yang sudah tipis dan tembus cahaya. Peta yang menunjukkan garis-garis pantai yang kasar dan pulau-pulau yang bentuknya tidak akurat dan lautan yang luasnya hanya bisa dibayangkan, bukan diukur. Di sudut kanan bawah peta, jauh dari daratan mana pun yang dikenal, jauh dari rute pelayaran mana pun yang biasa dilalui, ada sebuah titik kecil yang diberi lingkaran dengan tinta merah yang sudah berubah menjadi cokelat karena usia.
Yababa.
Dan di sebelah titik itu, ditulis dengan tulisan tangan yang gemetar, mungkin tangan orang tua atau tangan orang yang ketakutan, satu kata.
Yrav.
Naja melipat peta itu kembali dan memasukkannya ke sakunya. Matanya menatap ke depan, ke lautan gelap yang tidak menunjukkan apa-apa selain kegelapan, ke cakrawala yang menyatu dengan air di garis yang tidak bisa dilihat.
Yrav. Artefak kuno berupa guci berwarna turquoise yang legendanya sudah beredar di kalangan bajak laut sejak ratusan tahun lalu. Guci yang konon nilainya bisa ditukar dengan satu set rumah di sebuah kota. Guci yang sudah dicari oleh puluhan, mungkin ratusan bajak laut sebelum Naja, yang semuanya berlayar ke arah Yababa dan tidak ada yang pernah kembali.
Tidak ada yang pernah kembali.
Kalimat itu seharusnya membuat orang berpikir dua kali. Seharusnya membuat orang berbalik dan mencari harta yang lebih mudah dijangkau dan tidak dilindungi oleh reputasi yang begitu kelam. Seharusnya membuat orang bertanya, jika tidak ada yang pernah kembali, bagaimana bisa ada yang tahu tentang Yrav?
Tapi Naja bukan “orang.” Naja adalah bajak laut. Dan bukan sembarang bajak laut. Naja adalah bajak laut yang terobsesi. Bukan terobsesi oleh kekayaan. Bukan terobsesi oleh kemasyhuran. Bukan terobsesi oleh petualangan.
Naja terobsesi oleh tujuan.
“Kapten Naja,” suara itu muncul dari kegelapan di dalam kepalanya, suara yang bukan suara nyata melainkan suara kenangan, suara yang datang dari bertahun tahun lalu, dari gang- gang sempit di Roma yang berbau sampah dan keputusasaan, dari wajah-wajah yang pucat dan kurus dan lapar yang menatapnya dari balik jendela-jendela yang pecah.
Roma. Kota abadi. Kota yang megah dari luar tapi yang di balik kemegahannya menyimpan lorong- lorong gelap yang dipenuhi orang- orang yang tidak punya apa-apa. Orang-orang yang tidur di jalanan yang dingin. Anak-anak yang mengemis di tangga bangunan megah dengan tangan yang kotor dan mata yang terlalu besar untuk wajah mereka yang terlalu kecil. Ibu-ibu yang mendekap bayi yang menangis karena lapar tapi yang tidak punya susu untuk diberikan. Laki-laki tua yang duduk di sudut-sudut kota dengan pandangan kosong, menunggu kematian yang datangnya terlalu lambat.
Naja melihat mereka. Tahun-tahun yang lalu, ketika dia masih muda dan belum menjadi bajak laut, ketika dia masih berjalan di jalanan Roma dengan kaki telanjang dan perut kosong dan mata yang menyerap semua kesengsaraan di sekelilingnya seperti spons menyerap air. Naja melihat mereka dan bertanya, kenapa?
Kenapa ada orang yang punya istana sementara yang lain tidak punya atap?
Kenapa ada orang yang membuang makanan sementara yang lain mati kelaparan?
Kenapa ada orang yang memakai perhiasan emas sementara yang lain memakai kain yang sudah robek?
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak punya jawaban. Atau lebih tepatnya, punya jawaban tapi jawabannya terlalu menyakitkan untuk diucapkan, karena dunia memang seperti itu. Karena yang kuat mengambil dari yang lemah. Karena yang kaya menjadi lebih kaya dan yang miskin menjadi lebih miskin. Karena keadilan adalah kata yang hanya ada di mulut, bukan di kenyataan.
Naja tidak menerima jawaban itu.
Dan ketika dia mendengar tentang Yrav untuk pertama kalinya, dari mulut seorang pelaut tua yang mabuk di sebuah taverna di pelabuhan Napoli, Naja tahu apa yang harus dilakukannya.
“Yrav,” kata pelaut tua itu, matanya yang keruh berkilat untuk sesaat, “adalah guci yang bisa mengubah nasib. Nilainya lebih dari yang bisa kau bayangkan. Tapi tempatnya di ujung dunia. Di Pulau Yababa. Di Lautan Pasifik. Dan tidak ada yang pernah kembali dari sana.”
“Kenapa?”
“Karena pulau itu dijaga. Oleh apa, tidak ada yang tahu pasti. Tapi yang pasti, siapa pun yang menginjakkan kaki di sana, tidak pernah kembali.”
Naja memesan satu gelas bir lagi untuk pelaut tua itu. Dan bertanya lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sampai pelaut tua itu mukanya memerah dan mulutnya tidak bisa berhenti berbicara, menceritakan semua yang dia dengar tentang Yababa dan Yrav dari pelaut-pelaut lain yang juga mendengarnya dari pelaut-pelaut lain, rantai cerita yang panjangnya mungkin ratusan tahun.
Malam itu, Naja membuat keputusan.
Dia akan menemukan Yrav. Dia akan membawanya kembali ke Roma. Dia akan menjualnya. Dan uangnya akan dia berikan kepada orang-orang miskin yang dilihatnya di lorong-lorong gelap itu.
Keputusan yang gila. Keputusan yang naif. Keputusan yang mungkin akan membawanya ke kematian.
Tapi juga keputusan yang memberinya alasan untuk hidup.
“Yrav,” bisik Naja di haluan kapal yang sepi, suaranya hilang ditelan angin laut. “Aku akan menemukanmu. Tidak peduli apa yang menghalangiku. Tidak peduli berapa lama. Tidak peduli sendirian atau tidak.”
Naja menegakkan tubuhnya. Menarik jubah hitamnya rapat-rapat. Menyentuh gagang pedang Zar di pinggangnya, merasakan kulit ular laut yang kasar dan familiar di bawah jarinya. Menatap ke depan, ke kegelapan yang membentang tanpa akhir.
“Aku akan menemukanmu.”
Dan kapal La Sombra bergerak pelan ke depan, didorong oleh angin malam yang akhirnya kembali bertiup, layarnya mengembang seperti sayap burung yang membuka setelah lama terlipat, membawa satu-satunya penumpangnya menuju cakrawala yang gelap dan penuh misteri.
Menuju Yababa.
Menuju Yrav.
Menuju takdir yang belum ditulis.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!