Tiga hari.
Tiga hari Naja berlayar sendirian di atas La Sombra yang terlalu besar untuk satu orang. Tiga hari menarik tali layar dengan tangan yang kapalan dan punggung yang ngilu. Tiga hari mengarahkan kemudi dengan satu tangan sementara tangan yang lain memegang kompas yang jarumnya bergetar di bawah kaca yang retak. Tiga hari tidur dua jam, tiga jam, kadang tidak tidur sama sekali karena laut tidak memberikan kemewahan tidur kepada pelaut yang sendirian. Laut tidak peduli kau lelah. Laut tidak peduli kau lapar. Laut hanya peduli pada satu hal, kau lengah sedikit saja, laut akan menelanmu.
Dan Naja tidak berniat untuk ditelan.
Masalah terbesarnya bukan layar yang terlalu banyak untuk dua tangan. Bukan kemudi yang beratnya membutuhkan dua orang untuk memutarnya saat angin kencang. Bukan kesepian yang menggigit di malam hari ketika tidak ada suara selain ombak dan angin dan derit kayu yang terdengar seperti bisikan orang-orang yang sudah pergi.
Masalah terbesarnya adalah pangan.
Ruang penyimpanan La Sombra yang dulu penuh dengan tong-tong berisi air tawar, karung-karung berisi gandum kering, keranjang-keranjang berisi ikan asin, dan kotak-kotak berisi buah kering sekarang nyaris kosong. Dua puluh orang yang melompat ke laut tidak membawa perbekalan mereka. Perbekalan itu masih ada. Tapi perbekalan itu dihitung untuk dua puluh orang selama satu bulan, yang berarti untuk satu orang seharusnya cukup untuk dua puluh bulan. Seharusnya. Jika saja tong air tawar tidak bocor karena kayunya yang sudah lapuk, jika saja sebagian gandum tidak berjamur karena kelembapan, jika saja ikan asinnya tidak dimakan tikus-tikus kapal yang sekarang menjadi satu satunya makhluk hidup lain di kapal selain Naja.
Naja menghitung.
Air tawar, cukup untuk dua minggu. Mungkin tiga jika dia minum separuh dari yang dibutuhkan tubuhnya.
Makanan, cukup untuk sepuluh hari. Mungkin dua minggu jika dia makan sekali sehari dan porsinya separuh dari porsi normal.
Perjalanan ke Yababa dari posisinya sekarang di Mediterania, berbulan-bulan. Mungkin setengah tahun. Mungkin lebih. Melalui Selat Gibraltar, menyusuri pantai Afrika, memutari Tanjung Harapan, menyeberangi Samudera Hindia, dan masuk ke Pasifik. Perjalanan yang bahkan dengan kapal penuh awak dan perbekalan lengkap sudah dianggap gila oleh kebanyakan pelaut.
Matematikanya sederhana dan kejam, Naja akan mati kelaparan jauh sebelum sampai ke Yababa.
Kecuali jika dia menemukan daratan.
Pagi keempat, matahari muncul dari cakrawala timur dengan cahaya yang kemerahan dan hangat, mewarnai awan-awan rendah dengan warna oranye dan merah muda dan ungu yang indah, warna-warna yang seharusnya membuat seseorang tersenyum dan bersyukur tapi yang bagi Naja hanya berarti satu hal, hari baru tanpa kepastian.
Naja berdiri di tiang pengawas, kaki kirinya di tangga tali dan tangan kanannya memegang teropong tembaga yang lensanya sudah buram di pinggirnya. Dia mengarahkan teropong ke setiap arah. Utara, selatan, timur, barat. Air. Air. Air. Air. Cakrawala yang datar dan tak berujung di setiap arah, garis lurus yang memisahkan langit dan laut yang terlihat sama birunya sehingga kadang Naja tidak bisa membedakan mana yang atas dan mana yang bawah.
Lalu, di barat daya.
Titik hijau.
Kecil. Nyaris tak terlihat. Bisa saja ilusi yang diciptakan oleh mata yang terlalu lelah dan otak yang terlalu lapar. Bisa saja awan rendah yang kebetulan berwarna hijau karena pantulan cahaya matahari pagi.
Tapi bisa saja daratan.
Naja menurunkan teropong. Menatap ke arah itu dengan mata telanjang. Menyipitkan matanya. Titik hijau itu masih ada. Tidak bergerak. Tidak berubah bentuk seperti awan.
Daratan.
Naja turun dari tiang pengawas dengan kecepatan yang tidak seharusnya dimiliki oleh seseorang yang sudah makan hanya dua suap gandum kering dan seteguk air sejak kemarin. Kakinya menyentuh dek dan dia langsung berlari ke kemudi, memutar roda kayu yang besar itu dengan kedua tangan, mengubah haluan La Sombra ke barat daya.
Angin berhembus dari belakang. Layar utama mengembang dengan suara seperti kain yang dikibas. Kapal bergerak, tidak cepat tapi cukup, cukup untuk membawa Naja ke titik hijau itu sebelum hari berakhir.
Pulau itu muncul dari cakrawala seperti punggung kura-kura raksasa yang timbul dari permukaan laut. Hijau. Hijau yang subur dan lebat dan penuh kehidupan, hijau yang membuat mata Naja yang sudah terbiasa dengan biru laut dan abu abu langit terasa segar dan lega seperti minum air dingin setelah berjalan di padang pasir.
Garis pantainya berpasir putih, diapit oleh tebing-tebing rendah berbatu yang ditumbuhi lumut dan tanaman merambat. Di belakang pantai, pepohonan tinggi membentuk hutan yang rapat, daunnya bergoyang ditiup angin laut, dan dari balik pepohonan itu, Naja bisa melihat atap-atap bangunan. Atap-atap dari kayu dan jerami dan beberapa dari batu. Bangunan-bangunan. Pemukiman. Peradaban.
Dan di teluk kecil yang terlindung oleh dua lengan tebing, Naja bisa melihat kapal kapal. Kapal kecil, kapal menengah, perahu layar, perahu dayung. Pelabuhan. Tempat berlabuh. Tempat di mana ada orang, ada perdagangan, ada makanan dan air.
“Terima kasih,” bisik Naja entah kepada siapa. Kepada laut, mungkin. Kepada angin. Kepada nasib yang untuk sekali ini memilih untuk berbaik hati.
Naja mengarahkan La Sombra ke teluk dan menurunkan jangkar di perairan dangkal yang airnya jernih dan berwarna hijau kebiruan. Kapal itu terlalu besar untuk merapat ke dermaga kecil yang ada di teluk, jadi Naja menurunkan sekoci kecil dari sisi kapal, sekoci yang biasanya diturunkan oleh tiga orang tapi yang kali ini dia turunkan sendirian dengan bantuan tali dan katrol dan banyak umpatan.
Naja mendayung ke pantai. Menarik sekoci ke pasir. Berdiri di tanah kering untuk pertama kalinya dalam empat hari.
Kakinya goyah. Tanah yang tidak bergerak terasa aneh setelah berhari-hari berdiri di atas kapal yang selalu bergoyang. Lutut Naja gemetar sebentar sebelum dia menguasai diri dan menegakkan tubuhnya.
Jubah hitam. Topi bajak laut. Sabuk sabuk perak. Pedang Zar di pinggang.
Siap.
Pulau ini bernama Yokot.
Naja mengetahui namanya dari papan kayu yang tertancap di ujung dermaga, papan yang sudah lapuk dan tulisannya nyaris tidak terbaca, tapi masih cukup jelas untuk dibaca, YOKOT.
Yokot bukan kota besar. Yokot bahkan bukan kota. Yokot adalah pelabuhan dagang kecil yang tumbuh secara alami di persimpangan beberapa rute pelayaran, tempat di mana kapal-kapal dari berbagai arah singgah untuk mengisi perbekalan, memperbaiki kapal, menukar barang, dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Tempat seperti ini ada banyak di sepanjang pantai Mediterania dan Afrika Utara, tempat yang tidak ada di peta resmi mana pun tapi yang dikenal oleh setiap pelaut yang cukup lama berlayar.
Jalan utama Yokot adalah jalan tanah yang lebarnya cukup untuk dua kereta yang berpapasan, yang di kedua sisinya dipenuhi oleh kios-kios dan tenda-tenda pedagang yang menjual segala sesuatu yang mungkin dibutuhkan oleh pelaut yang singgah. Tali tambang. Kayu cadangan. Paku besi. Layar kanvas. Bir. Anggur. Rempah-rempah yang baunya tajam dan menusuk hidung. Kain-kain berwarna cerah yang berkibar di tiang-tiang bambu. Ikan segar yang masih mengkilap dan berbau laut. Buah-buahan yang warnanya mencolok dan bentuknya tidak familiar.
Dan makanan.
Bau makanan.
Bau daging yang dipanggang di atas bara. Bau roti yang baru keluar dari oven batu. Bau sup yang mendidih dalam kuali besi. Bau yang masuk ke hidung Naja dan turun ke perutnya yang kosong dan membuat perutnya berkontraksi dengan rasa sakit yang tajam dan mendesak, rasa sakit yang bukan sekadar lapar melainkan kelaparan, kelaparan yang sudah berhari-hari menunggu dan yang sekarang, di hadapan bau makanan yang begitu dekat dan nyata, meledak menjadi kebutuhan yang hampir tidak bisa ditahan.
Naja menelan ludah. Atau mencoba menelan. Mulutnya kering.
Dia berjalan menyusuri jalan utama Yokot dengan langkah yang terukur dan wajah yang datar, meskipun di dalam perutnya sedang terjadi pemberontakan. Mata-matanya yang hitam dan tajam menyapu setiap kios, setiap pedagang, setiap tumpukan barang dagangan, menilai, menghitung, mencari.
Naja merogoh sakunya.
Kosong.
Merogoh saku yang lain.
Kosong juga.
Naja tidak punya uang. Tidak satu keping pun. Uang terakhirnya habis di pelabuhan Algiers, dipakai untuk membeli perbekalan yang sekarang sudah nyaris habis. Bajak laut tidak selalu punya uang. Bajak laut menghasilkan uang dari merampok kapal lain, tapi Naja bukan bajak laut perampok. Naja tidak merampok kapal dagang. Naja tidak merampok siapa pun. Naja adalah bajak laut yang berlayar bukan untuk merampok melainkan untuk mencari, dan perbedaan itu, meskipun mulia, memiliki konsekuensi yang sangat praktis, Naja miskin.
Yang tersisa hanya satu hal.
Naja mengangkat tangannya ke lehernya. Jari-jarinya menyentuh rantai perak yang tipis dan halus yang melingkari lehernya, tersembunyi di balik kerah jubah hitamnya. Di ujung rantai itu, tergantung sebuah liontin. Bukan liontin biasa. Ini adalah liontin permata. Batu permatanya kecil, tidak lebih besar dari kuku jari kelingking, tapi warnanya biru tua yang dalam dan jernih, biru yang berkilau dari dalam seperti ada api beku yang terjebak di dalamnya. Batu safir.
Kalung ini milik ibunya.
Satu-satunya peninggalan ibunya yang masih dimiliki Naja.
Ibunya, Alara, meninggal ketika Naja berusia tujuh tahun. Naja tidak ingat banyak tentang ibunya. Hanya potongan-potongan. Aroma rambut ibunya yang seperti bunga melati. Suara ibunya yang lembut ketika bernyanyi di malam hari. Tangan ibunya yang hangat dan kecil yang menggenggam tangan Naja ketika mereka berjalan di pasar. Dan kalung ini, yang dikalungkan ibunya ke leher Naja pada malam terakhir ibunya hidup, dengan bisikan yang Naja masih ingat kata per kata meskipun sudah dua puluh tahun berlalu.
“Simpan ini, Naja. Ini dari nenek buyutmu. Ini satu satunya harta keluarga kita. Jangan pernah lepaskan kecuali jika kau benar-benar harus.”
Benar-benar harus.
Naja menatap liontin itu di telapak tangannya. Biru tua yang dalam menatap balik dengan cahaya yang redup dan sedih.
“Maaf, Ibu,” bisik Naja.
Lalu dia melepas kalung itu dari lehernya.
Pedagang perhiasan di Yokot bernama Tarek. Laki-laki pendek berperut besar dengan kumis yang lebat dan mata yang kecil dan licin, mata yang menilai segala sesuatu dengan satu ukuran, berapa harganya?
“Hmm,” Tarek memegang liontin itu di depan matanya, memutarnya ke kiri dan ke kanan, mendekatkannya ke cahaya lentera minyak yang menggantung di atas mejanya. Jari-jarinya yang pendek dan gemuk menyentuh batu safir dengan kelembutan yang mengejutkan, kelembutan yang diberikan bukan kepada batu itu melainkan kepada nilai uang yang terkandung di dalamnya. “Safir. Asli. Potongan tua. Tidak sempurna, ada inklusi di dalamnya, tapi warnanya bagus. Biru Kashmir.”
“Berapa?” tanya Naja. Suaranya datar. Tanpa emosi. Seperti orang yang menjual benda biasa, bukan satu-satunya kenangan fisik dari ibunya yang sudah meninggal.
“Untuk kalung dan batunya?” Tarek memiringkan kepalanya. Matanya menyempit. “Rantai peraknya tidak bernilai banyak. Sudah kusam. Tapi batunya... Aku bisa beri kau lima puluh keping emas.”
“Tujuh puluh.”
“Enam puluh, dan itu sudah terlalu murah hati untuk hatiku yang kecil ini.”
“Enam puluh lima.”
“Enam puluh dua.”
“Enam puluh lima, atau aku bawa pergi dan jual ke pedagang lain di ujung jalan.”
Tarek menatap Naja. Menatap matanya yang hitam dan tidak berkedip. Menatap rahangnya yang tegas dan bibirnya yang terkatup rapat. Menatap pedang di pinggangnya.
“Enam puluh lima,” kata Tarek dengan senyum yang terlihat seperti kesakitan.
Enam puluh lima keping emas.
Naja menghitung di kepalanya sambil berjalan menyusuri pasar Yokot dengan kantong kulit berisi emas di balik jubahnya. Enam puluh lima keping emas, jika digunakan dengan bijak, cukup untuk membeli perbekalan pangan dan air untuk beberapa minggu. Cukup untuk memperbaiki tong air yang bocor. Cukup untuk membeli tali tambang cadangan dan beberapa lembar kanvas untuk menambal layar yang sobek.
Cukup untuk melanjutkan perjalanan.
Naja memulai dari kios makanan. Gandum kering, dua karung. Ikan asin, satu keranjang besar. Buah kering, tiga kantong. Daging asap, dua gulung. Keju keras yang bisa bertahan berbulan bulan, tiga roda. Bawang putih, jahe, garam. Air tawar, empat tong kecil.
Naja membayar setiap barang dengan teliti, menghitung kembalian, memeriksa kualitas, menawar jika harganya terlalu tinggi. Pedagang-pedagang di Yokot menatapnya dengan campuran rasa ingin tahu dan kewaspadaan. Perempuan bajak laut bukan pemandangan yang biasa. Perempuan bajak laut yang sendirian, yang berbelanja perbekalan untuk kapal dengan kantong emas yang terlihat cukup besar tapi tidak terlalu besar, yang bernegosiasi dengan tenang dan tegas tanpa mengancam atau mengintimidasi, itu pemandangan yang lebih tidak biasa lagi.
Naja mengangkut belanjaannya ke dermaga dalam tiga kali perjalanan. Memuat semuanya ke sekoci. Mendayung ke La Sombra. Mengangkat semuanya ke dek dan menyimpannya di ruang penyimpanan. Lalu kembali mendayung ke pantai untuk belanjaan berikutnya.
Saat perjalanan terakhir, saat Naja membawa dua tong air terakhir ke sekoci, saat tangannya basah keringat dan punggungnya sakit dan kakinya berat, saat matahari sudah tinggi di langit dan panasnya menusuk kulit melalui jubah hitamnya yang menyerap panas, Naja akhirnya merasa cukup untuk duduk sebentar.
Dia duduk di bangku kayu di depan sebuah warung makan kecil di ujung dermaga. Memesan semangkuk sup ikan dan sepotong roti. Makanan pertama yang layak disebut makanan dalam empat hari.
Sup ikan itu datang dalam mangkuk tanah liat yang retak di pinggirnya, dengan kuah yang keruh dan berminyak dan potongan ikan yang tulangnya masih terasa di antara dagingnya. Rotinya keras dan pinggirannya sudah gelap. Bukan makanan yang enak menurut standar siapa pun.
Tapi bagi Naja, yang sudah empat hari makan gandum kering dan air yang berbau kayu lapuk, sup itu adalah hidangan paling lezat yang pernah dicicipinya.
Naja makan dengan pelan. Mengunyah setiap suap. Merasakan setiap rasa. Garam. Ikan. Bawang. Lada. Roti yang keras tapi yang menyerap kuah sup dan menjadi lembut di dalam mulut. Hangat. Mengenyangkan. Hidup.
Kantong emas yang tersisa ditaruh di meja, di samping mangkuk supnya. Naja menghitungnya tadi. Masih tersisa dua puluh tiga keping emas setelah semua belanjaan. Dua puluh tiga keping yang akan disimpannya untuk keperluan selanjutnya, untuk pelabuhan berikutnya, untuk kebutuhan yang belum bisa diprediksi.
Naja menghabiskan supnya. Merobek sisa rotinya dan memasukkannya ke mulut. Mengelap bibirnya dengan punggung tangan. Meraih kantong emas di meja.
Kantong emas itu tidak ada.
Naja mematung.
Tangannya masih terulur ke tempat kantong emas itu tadi berada, di samping mangkuk sup, di atas meja kayu yang permukaannya basah oleh tetesan kuah. Tapi yang ada di sana hanya meja yang kosong dan noda kuah dan remah roti.
Kantong emasnya hilang.
Naja berdiri begitu cepat sehingga bangku di belakangnya terjungkal ke tanah dengan bunyi kayu yang membentur tanah. Matanya menyapu sekeliling dengan kecepatan dan ketajaman elang yang mencari mangsa. Kiri. Kanan. Depan. Belakang. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan. Pedagang yang melayani pembeli. Anak-anak yang bermain di dekat dermaga. Pelaut yang mengangkut barang.
Dan di sana.
Di ujung jalan, sekitar tiga puluh langkah dari warung makan.
Sesosok laki-laki yang berlari.
Berlari dengan kecepatan yang menunjukkan bahwa dia terbiasa berlari, bahwa berlari bukan gerakan darurat melainkan keterampilan yang sudah diasah bertahun-tahun, kaki-kakinya yang panjang melangkah dengan irama yang efisien dan anggun, tubuhnya yang ramping bermanuver di antara orang-orang di jalan dengan kelincahan yang nyaris artistik, seperti penari yang menari di atas panggung yang ramai.
Dan di tangannya yang kanan, tergantung kantong kulit kecil yang Naja kenal dengan sangat baik.
Kantong emasnya.
“HEI!” teriak Naja.
Laki-laki itu menoleh.
Dan untuk sepersekian detik yang terasa lebih lama dari yang seharusnya, mata mereka bertemu.
Tampan.
Itu kata pertama yang muncul di kepala Naja sebelum otaknya sempat menyensornya. Tampan bukan kata yang biasa muncul di kepala Naja. Naja tidak punya waktu untuk tampan. Naja tidak punya ruang di hidupnya untuk tampan. Naja punya kapal yang harus dikemudikan dan lautan yang harus dilayari dan artefak yang harus ditemukan dan rakyat miskin yang harus diselamatkan. Tampan tidak ada dalam daftar prioritasnya.
Tapi kata itu muncul.
Karena laki-laki itu memang tampan.
Tampan dengan cara yang tidak biasa. Bukan tampan seperti bangsawan yang dimanja, dengan kulit putih halus dan tangan yang tidak pernah bekerja. Bukan tampan seperti tentara yang gagah, dengan rahang kotak dan dada bidang dan tatapan yang tegas. Laki-laki ini tampan seperti kucing liar yang tampan, langsing dan gesit dan tajam, dengan mata yang berkilau nakal dan senyum yang miring di satu sudut bibir, senyum yang berkata “aku tahu sesuatu yang tidak kau ketahui dan aku menikmati itu.”
Rambutnya cokelat gelap, agak panjang, jatuh di atas dahinya dan di belakang telinganya dengan cara yang berantakan tapi yang terlihat disengaja, seolah dia menghabiskan waktu di depan cermin untuk membuat rambutnya terlihat seolah dia tidak menghabiskan waktu di depan cermin. Kulitnya kecokelatan karena matahari, lebih terang dari kulit Naja tapi tidak pucat, kulit seseorang yang hidup di luar ruangan tapi yang tidak bekerja di bawah matahari melainkan bergerak di bayangannya, di celah-celah dan lorong-lorong dan tempat-tempat di mana cahaya dan gelap bertemu.
Mata-matanya. Cokelat muda. Nyaris keemasan di bawah sinar matahari sore. Mata yang tidak dingin dan tidak hangat, tapi hidup, penuh dengan kecerdasan yang cepat dan humor yang tajam dan sesuatu lain yang Naja tidak bisa identifikasi dengan segera tapi yang membuatnya merasa tidak nyaman, merasa ditelanjangi, merasa bahwa mata itu bisa melihat lebih banyak tentang dirinya dari yang dia inginkan untuk diperlihatkan.
Semua itu Naja lihat dalam sepersekian detik.
Lalu sepersekian detik itu berakhir.
Dan laki-laki itu tersenyum.
Senyum lebar. Senyum yang menunjukkan gigi-gigi putih yang rapi. Senyum yang sama sekali tidak malu. Senyum yang berkata “ya, aku mencuri uangmu, dan ya, aku tahu kau melihatku, dan ya, aku tetap tersenyum, karena itulah yang kulakukan.”
Lalu dia berbalik dan berlari lebih cepat.
“BERHENTI, PENCURI!”
Naja berlari.
Kaki-kakinya yang terlatih bertahun tahun memanjat tiang kapal dan berlari di dek yang basah dan licin sekarang memukul tanah Yokot dengan irama yang cepat dan keras. Jubah hitamnya berkibar di belakangnya seperti bendera perang. Topi bajak lautnya bertahan di kepalanya karena ikatan tali di bawah dagu yang sudah dia kencangkan. Sabuk-sabuk perak berkilau di pinggangnya. Pedang Zar bergoyang di sisi tubuhnya.
Di depannya, si pencuri berlari dengan kecepatan yang membuat Naja kesal sekaligus, dan dia sangat kesal mengakui ini, kagum. Laki-laki itu berlari seperti air yang mengalir, seperti ular yang meluncur, seperti sesuatu yang diciptakan untuk bergerak cepat dan tanpa hambatan. Dia melompati keranjang buah yang menghalangi jalannya tanpa mengurangi kecepatan. Dia berbelok tajam di tikungan tanpa kehilangan keseimbangan. Dia menyelip di antara dua pedagang yang berdiri berdampingan tanpa menyentuh satu pun.
“BERHENTI!”
Laki-laki itu menoleh lagi sambil berlari. Masih tersenyum. Masih tersenyum miring dengan cara yang membuat Naja ingin meninju wajahnya yang tampan itu sampai senyumnya jatuh ke tanah.
“Kenapa harus berhenti?” laki-laki itu berteriak balik, suaranya ringan dan geli, suara seseorang yang sedang bersenang-senang. “Cuaca bagus untuk berlari, Nona Bajak Laut!”
“ITU UANGKU!”
“Dulu uangmu! Sekarang uangku! Begitulah cara kerja pencurian!”
Naja menggeram. Kakinya berlari lebih cepat. Napasnya mulai berat. Perutnya yang baru saja terisi sup ikan protes keras terhadap aktivitas ini, mengirimkan gelombang mual yang harus ditelan Naja kembali dengan tekad murni.
Laki-laki itu berbelok ke gang sempit di antara dua bangunan batu. Naja mengikuti. Gang itu gelap dan sempit, dindingnya basah dan berlumut, lantainya batu yang licin. Naja nyaris tergelincir tapi menahan keseimbangannya dengan menyentuh dinding dan terus berlari.
Keluar dari gang. Jalan lebar lagi. Pasar ikan. Bau amis yang menyerang hidung. Genangan air di tanah. Orang-orang yang menoleh dengan wajah terkejut melihat perempuan berjubah hitam mengejar laki-laki yang berlari sambil tertawa.
“Tolong tahan dia!” teriak Naja kepada siapa pun yang mendengar.
Tidak ada yang menahan. Di Yokot, urusan orang lain bukan urusan siapa pun. Di pelabuhan dagang, aturan pertama adalah, jangan ikut campur.
Laki-laki itu melompat ke atas meja pedagang ikan. Kakinya yang lincah berlari di atas meja tanpa menjatuhkan satu ikan pun, langkah langkahnya tepat di antara tumpukan ikan seolah dia sudah menghafal posisi setiap ikan di meja itu. Pedagang ikan berteriak marah. Laki laki itu berteriak balik, “Maaf, Pak! Nanti aku ganti ikannya!”
Naja tidak seanggun itu.
Naja melompat ke atas meja yang sama dan kakinya menginjak seekor ikan besar yang licin dan kakinya terpeleset dan Naja jatuh dari meja ke sisi lain dengan suara yang keras dan tidak bermartabat, pantatnya membentur tanah yang basah dan beberapa ekor ikan jatuh di atasnya.
“Kau tidak apa apa?” teriak laki-laki itu dari kejauhan, masih berlari, masih menoleh, dan apakah itu kekhawatiran di suaranya? Di tengah semua kejahilannya, apakah pencuri itu sebenarnya khawatir?
“AKU AKAN MEMBUNUHMU!” teriak Naja, bangkit dari tanah dengan ikan yang masih menempel di jubahnya dan harga diri yang sudah tidak bisa diselamatkan.
Laki-laki itu tertawa. Tawa yang keras dan lepas dan jujur, tawa yang tidak dibuat-buat, tawa seseorang yang benar-benar terhibur oleh situasi ini. Dan suara tawa itu, meskipun Naja sangat marah dan sangat basah dan sangat bau ikan, membuat sesuatu di sudut bibir Naja berkedut.
Hampir tersenyum.
Hampir.
Naja membuang ikan dari jubahnya dan berlari lagi.
Pengejaran itu berlangsung melintasi separuh Yokot.
Melalui pasar ikan yang bau. Melalui gang sempit yang gelap. Melalui lapangan kecil di mana anak-anak bermain bola dan berhenti bermain untuk menonton drama yang lewat di depan mereka. Melalui tangga batu yang menanjak ke bagian atas kota. Melalui atap-atap rumah yang rendah yang bisa dilompati dengan hati-hati. Melalui tali jemuran yang membentang di antara bangunan yang hampir menjerat leher Naja karena dia terlalu fokus mengejar dan tidak melihat ke atas.
Laki-laki itu tahu Yokot seperti mengenal rumahnya sendiri. Setiap belokan, setiap jalan pintas, setiap celah di antara bangunan, dia tahu. Naja tidak tahu. Naja adalah orang asing di sini, berlari di medan yang tidak dikenalnya, mengejar seseorang yang bergerak di wilayahnya sendiri.
Tapi Naja punya sesuatu yang tidak dimiliki pencuri itu.
Naja punya kemarahan.
Dan kemarahan, ketika disalurkan dengan benar, adalah bahan bakar yang lebih kuat dari pengetahuan tentang geografi lokal mana pun.
Saat pencuri itu berbelok ke sebuah gang buntu yang ternyata bukan benar-benar buntu karena ada celah sempit di dindingnya yang bisa dilewati satu orang, Naja tidak mengikutinya ke celah itu. Naja berhenti. Melihat ke atas. Melihat bangunan di kiri dan kanan gang itu. Melihat atapnya. Menghitung.
Naja memanjat dinding batu di sisi gang. Jari-jarinya yang terlatih memanjat tiang kapal menemukan celah dan tonjolan di batu-batu yang tidak rata, dan dalam waktu yang lebih cepat dari yang dibutuhkan kebanyakan orang untuk memutuskan apakah dinding itu bisa dipanjat, Naja sudah di atas atap.
Dari atas, Naja bisa melihat si pencuri keluar dari celah sempit di sisi lain bangunan. Dia berhenti sebentar, menoleh ke belakang, mencari pengejarnya. Tidak melihat Naja. Senyumnya kembali. Dia pikir dia sudah lolos.
Dia salah.
Naja berlari di atas atap. Melompat dari satu atap ke atap berikutnya. Dan ketika dia tepat di atas si pencuri yang berjalan santai di jalan di bawahnya, yang sudah merasa aman dan yang mungkin sedang merencanakan cara menghabiskan dua puluh tiga keping emas curiannya, Naja melompat.
Naja mendarat tepat di depan si pencuri.
Bukan di atas si pencuri. Naja bukan orang yang kejam tanpa alasan. Dia mendarat di depannya, tiga langkah jauhnya, dengan kedua kaki di tanah dan lutut yang sedikit menekuk menyerap benturan dan jubah hitam yang berkibar dramatis di sekelilingnya dan tangan kanan yang sudah mencabut pedang Zar dari sarungnya.
Suara baja yang keluar dari sarung kulit. Suara yang setiap pelaut dan setiap penjahat dan setiap orang yang pernah berurusan dengan pedang, kenal dan hormati.
Mata si pencuri melebar.
“Oh,” katanya.
“Oh,” ulang Naja. Pedang Zar teracung di depannya, ujungnya yang tajam menunjuk ke dada si pencuri. “Itu saja yang bisa kau katakan?”
Si pencuri menatap ujung pedang itu. Lalu menatap wajah Naja. Lalu menatap pedang lagi. Lalu wajah Naja lagi. Dan yang terjadi selanjutnya membuat Naja, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, benar-benar bingung.
Laki-laki itu tersenyum.
Bukan senyum ketakutan. Bukan senyum pasrah. Bukan senyum “tolong jangan bunuh aku.” Melainkan senyum yang sama dengan senyum yang tadi, senyum miring yang nakal dan hidup, senyum yang sekarang, dilihat dari jarak tiga langkah dan bukan dari kejauhan sambil berlari, terlihat lebih jelas dan lebih menawan dan lebih menyebalkan dari yang dibayangkan Naja.
“Harus kuakui,” kata laki laki itu, suaranya tenang dan hangat dan sedikit terengah karena berlari tapi tidak cukup terengah untuk menghilangkan nada santainya, “itu lompatan yang sangat mengesankan. Dari atap. Sangat dramatis. Aku suka.”
“Kembalikan uangku.”
“Kau tahu, jarang sekali ada orang yang bisa mengikutiku sejauh ini. Biasanya mereka menyerah di pasar ikan. Atau di tangga batu. Paling jauh di atap. Tapi kau sampai di sini. Aku terkesan. Sungguh.”
“Aku tidak butuh kau terkesan. Aku butuh uangku.”
“Dan aku suka cara kau berlari. Ada keanggunan di situ. Sebagian besar orang berlari seperti sapi yang dikejar. Kau berlari seperti... seperti serigala. Ya. Serigala yang marah. Sangat indah.”
Naja mendorong ujung pedangnya satu inci lebih dekat ke dada laki laki itu. Ujung baja itu menyentuh kain kemejanya. Belum menusuk. Belum berdarah. Tapi cukup dekat untuk menunjukkan bahwa Naja serius.
“Uangku,” kata Naja lagi. Suaranya rendah dan datar. Suara yang tidak meminta. Suara yang memerintahkan.
Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya. Di tangan kanannya, kantong kulit berisi emas masih tergantung di jari jarinya yang panjang dan lincah.
“Ini?” dia mengangkat kantong itu. “Ini yang kau mau?”
“Lempar ke sini.”
“Aku akan memberikannya. Tapi boleh aku bertanya satu hal dulu?”
“Tidak.”
“Hanya satu hal. Satu pertanyaan. Setelah itu, kau bisa mengambil uangmu dan pergi.”
“Lempar ke sini. Sekarang.”
“Pertanyaannya adalah, kenapa perempuan bajak laut yang jelas-jelas kuat dan berani dan, kalau boleh aku tambahkan, cantik, berlayar sendirian di kapal sebesar itu?”
Naja terdiam.
Bukan karena pertanyaan itu membuatnya bingung. Bukan karena pertanyaan itu tidak bisa dijawab. Naja terdiam karena di balik nada santai dan senyum nakal laki-laki itu, ada sesuatu yang lain di matanya. Sesuatu yang mirip keingintahuan yang sungguh-sungguh. Bukan keingintahuan pedagang yang ingin tahu agar bisa memanfaatkan informasi. Bukan keingintahuan gosip yang ingin tahu agar bisa menceritakan ke orang lain. Melainkan keingintahuan yang murni, keingintahuan seseorang yang melihat sesuatu yang tidak biasa dan yang benar-benar ingin memahaminya.
“Itu bukan urusanmu,” kata Naja.
“Mungkin tidak. Tapi aku penasaran. Satu perempuan. Satu kapal besar. Dua puluh tempat tidur gantung kosong di dek bawah. Itu cerita yang menarik. Aku suka cerita yang menarik.”
Naja menyipitkan matanya.
“Kau masuk ke kapalku?”
“Sebelum aku mengikutimu di pasar. Aku naik lewat sisi kanan saat kau mendayung dari sekoci. Melihat-lihat sebentar. Profesional habit. Pencuri yang baik selalu mengecek target sebelum beraksi.”
“Kau...” Naja menggerakkan pedangnya. Ujung baja itu sekarang menekan kain kemeja laki-laki itu cukup untuk membuat lekukan di kulit di bawahnya, tapi belum cukup untuk menusuk. “Kau naik ke kapalku. Kau mengintai aku. Kau mencuri uangku. Dan sekarang kau berdiri di sini, bertanya-tanya tentang hidupku, dengan senyum di wajahmu, seolah ini semua lelucon?”
“Bukan lelucon,” kata laki-laki itu. Senyumnya berubah sedikit. Masih ada di sana, tapi sudut-sudutnya sedikit melunak, sedikit lebih jujur, sedikit kurang nakal dan sedikit lebih serius. “Aku sungguh-sungguh penasaran.”
“Namamu.”
“Apa?”
“Namamu. Sebelum aku memutuskan apakah aku akan menusukmu atau tidak, aku ingin tahu nama orang yang aku tusuk.”
Laki laki itu terdiam sebentar. Lalu senyumnya kembali, kali ini lebih lebar.
“Vessel.”
“Vessel?”
“Vessel. Itu namaku. Dan kau?”
“Naja.”
“Naja,” ulang Vessel. Namanya terdengar berbeda di mulut orang lain, seperti kata yang familiar yang tiba-tiba mengambil makna baru. “Nama yang bagus. Terdengar seperti nama ular. Ular yang indah dan berbahaya.”
“Lempar kantong itu. Sekarang. Atau aku akan menunjukkan seberapa berbahayanya aku.”
Vessel menatap Naja. Menatap matanya yang hitam dan tajam dan serius. Menatap pedangnya yang tidak bergetar, yang dipegang dengan tangan yang terlatih dan stabil, tangan yang jelas-jelas pernah menggunakan pedang itu bukan hanya untuk mengancam.
Dan Vessel melempar kantong emas itu.
Kantong itu melayang di udara dalam busur yang lambat, berputar sekali, dan Naja menangkapnya dengan tangan kiri tanpa mengalihkan pandangannya dari Vessel, tanpa menurunkan pedangnya satu milimeter pun.
Naja membuka kantong itu dengan satu tangan. Melirik ke dalam. Menghitung keping emas di dalamnya.
“Dua puluh tiga,” kata Naja. “Lengkap.”
“Tentu saja lengkap. Aku pencuri, bukan penipu. Ada bedanya.”
Naja memasukkan kantong itu ke balik jubahnya. Pedangnya masih teracung.
“Sekarang,” kata Naja, “aku akan pergi. Dan kau akan berdiri di sini. Dan kalau aku melihatmu mengikutiku, atau mendekati kapalku, atau menyentuh barangku lagi, aku tidak akan menunjukkan ujung pedangku. Aku akan menunjukkan sisi tajamnya.”
“Mengerti,” kata Vessel. “Tapi boleh aku bilang satu hal lagi?”
“Tidak.”
“Aku bilang saja. Kau membutuhkan awak kapal.”
Naja terdiam lagi.
“Kau berlayar sendirian,” lanjut Vessel, suaranya sekarang serius, senyumnya sekarang hilang, digantikan oleh ekspresi yang terlihat asing di wajahnya yang biasanya penuh humor, ekspresi yang sungguh sungguh dan langsung dan tanpa topeng. “Kapal sebesar itu butuh minimal sepuluh orang untuk berlayar dengan benar. Kau sendirian. Layarmu tidak berkembang maksimal. Kemudimu tidak stabil. Tali-talimu beberapa sudah kendor karena tidak ada yang mengecek. Dan dari arah yang kau tuju, kau mengarah ke barat daya, yang berarti kau menuju Selat Gibraltar. Yang berarti kau mau keluar dari Mediterania. Yang berarti kau mau pergi jauh. Sangat jauh.”
Naja menatap Vessel dengan tatapan baru. Bukan tatapan marah lagi. Bukan tatapan yang mengancam. Tatapan yang menilai. Tatapan kapten yang menilai calon awak kapal.
“Kau tahu tentang kapal,” kata Naja. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
“Aku tahu tentang banyak hal. Kapal. Pedang. Peta. Orang. Kota ini. Kota kota lain. Aku pencuri yang berpendidikan, kalau kau mau bilang begitu.”
“Pencuri tetap pencuri.”
“Benar. Tapi pencuri yang bisa berlayar, yang bisa bertarung, yang tahu geografi laut, dan yang punya alasan sendiri untuk ingin pergi dari tempat ini, itu pencuri yang berguna.”
“Alasan apa?”
Vessel terdiam sebentar. Sesuatu bergerak di matanya yang cokelat keemasan. Sesuatu yang lebih gelap dari humor dan lebih berat dari kejenakaan. Sesuatu yang terlihat seperti bayangan yang lewat cepat di permukaan air jernih, muncul dan hilang sebelum bisa ditangkap.
“Aku sudah terlalu lama di Yokot,” kata Vessel pelan. “Dan Yokot sudah terlalu lama mengenalku. Kau tahu apa yang terjadi kalau pencuri terlalu lama di satu tempat? Semua orang mengenal wajahnya. Dan kalau semua orang mengenal wajahnya, pencuri itu mati.”
“Atau ditangkap.”
“Di Yokot, ditangkap dan mati itu hal yang sama.”
Naja menurunkan pedangnya. Satu inci. Dua inci. Ujungnya masih menunjuk ke Vessel tapi tidak lagi menyentuh dadanya.
“Kau menawarkan diri untuk menjadi awak kapalku,” kata Naja.
“Aku menawarkan diri untuk ikut berlayar denganmu. Ke mana pun kau pergi. Sebagai imbalan, kau mendapat satu orang lagi yang bisa menarik tali layar, memutar kemudi, dan menjaga malam. Dan yang kebetulan juga cukup bagus dengan pedang kecil.”
Vessel mengangkat tangan kanannya. Entah dari mana, sebuah pisau muncul di antara jari-jarinya. Pisau yang tipis dan berkilau dan tajam yang Naja tidak lihat sebelumnya dan yang entah bagaimana tersembunyi di lengan baju Vessel sepanjang waktu. Vessel memutar pisau itu di jari-jarinya dengan gerakan yang kasual dan terlatih, baja berputar dan berkilau di bawah sinar matahari, lalu menghilang lagi ke dalam lengan bajunya dengan satu gerakan pergelangan tangan yang begitu cepat sehingga Naja nyaris tidak melihatnya.
“Cukup bagus,” ulang Vessel dengan senyum kecil.
Naja menatapnya. Menimbang. Menghitung, seperti yang selalu dilakukannya.
Di satu sisi, laki-laki ini pencuri. Tidak bisa dipercaya. Sudah membuktikan itu dengan sangat jelas tadi. Membawa pencuri ke kapal sama saja dengan membawa tikus ke gudang makanan.
Di sisi lain, Naja sendirian. Kapal butuh lebih dari satu orang. Perjalanan ke Yababa sangat panjang dan sangat berbahaya. Dan laki-laki ini, apa pun kekurangannya, jelas punya keterampilan yang berguna. Cepat. Lincah. Tahu kapal. Tahu pedang. Tahu cara bertahan hidup.
Dan jujur saja, meskipun Naja tidak akan mengakui ini dengan suara keras, Naja sudah terlalu lama tidak berbicara dengan manusia lain. Tiga minggu sendirian di laut bisa membuat orang gila. Kesendirian adalah musuh yang lebih berbahaya dari badai atau monster laut mana pun, karena kesendirian menyerang dari dalam, perlahan, tanpa suara, menggerogoti kewarasan sedikit demi sedikit sampai kau mulai berbicara dengan tiang layar dan bertanya kepada angin apakah angin punya pendapat tentang arah yang harus dituju.
“Kalau kau mencuri dari aku lagi,” kata Naja pelan, dan suaranya sekarang bukan suara marah, melainkan suara yang jauh lebih menakutkan, suara yang tenang dan pasti dan tanpa keraguan, “aku tidak akan mengancammu dengan pedang. Aku akan menggunakannya.”
“Adil,” kata Vessel.
“Dan kau mengikuti perintahku. Di kapal, aku kapten. Apa yang aku bilang, kau lakukan. Tidak ada debat. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada senyum miring dan lelucon.”
“Senyum miringnya boleh sesekali?”
“Tidak.”
“Bagaimana kalau hanya di hari Minggu?”
Naja mengangkat pedangnya lagi.
“Baik, baik,” Vessel mengangkat kedua tangannya. “Tidak ada senyum miring. Tidak ada lelucon. Kapten bilang apa, aku lakukan. Aku mengerti.”
Naja menatapnya beberapa detik lagi. Lalu memasukkan pedang Zar kembali ke sarungnya. Suara baja yang masuk ke kulit.
“Kemas barangmu. Kita berangkat sebelum matahari terbenam.”
“Barangku sudah di sini,” kata Vessel, menepuk kantong kecil yang tergantung di pinggangnya. “Aku tidak punya banyak. Pencuri yang baik tidak punya banyak barang. Barang memperlambat lari.”
Naja menatapnya. Dan di sudut bibirnya, sangat kecil, nyaris tidak terlihat, muncul sesuatu yang kalau dilihat dari sudut yang tepat dan dengan cahaya yang cukup bisa mungkin saja dianggap sebagai bayangan senyum.
“Ikut aku,” kata Naja.
Dan mereka berjalan bersama ke arah dermaga, kapten bajak laut dan pencuri dari Yokot, bayangan mereka yang panjang terhampar di jalan tanah Yokot di bawah matahari sore yang bergerak menuju cakrawala barat.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!