Enam minggu setelah Kraken.
Enam minggu yang panjang dan sunyi dan indah dengan caranya sendiri, enam minggu di mana laut bersikap baik kepada mereka seperti ibu yang merasa bersalah karena sudah terlalu keras kepada anaknya dan sekarang berusaha menebus dengan kelembutan yang berlebihan. Angin bertiup konstan dari arah yang mendukung. Ombak rendah dan teratur. Langit cerah hampir setiap hari, dengan awan-awan putih yang bergerak lambat di langit biru yang tinggi.
La Sombra sudah melewati Tanjung Harapan, ujung selatan Afrika yang terkenal akan badainya yang ganas dan arusnya yang mematikan, tapi yang mereka lewati dengan relatif mulus berkat angin yang bersahabat dan keahlian navigasi Naja yang membawa mereka melalui jalur yang menghindari arus terburuk. Mereka sudah singgah dua kali di pesisir Afrika untuk mengisi air dan perbekalan, di pelabuhan-pelabuhan kecil yang tidak ada namanya di peta yang Naja miliki tapi yang dikenal oleh pedagang-pedagang lokal yang menjual buah dan daging dan air tawar dengan harga yang masuk akal.
Kapal sudah diperbaiki sebisanya. Papan dek yang retak diganti dengan kayu cadangan yang ditemukan di gudang bawah. Tali yang putus disambung. Pagar yang patah dipasang kembali. La Sombra tidak lagi terlihat seperti kapal yang baru diserang monster laut raksasa, meskipun jika kau melihat dengan teliti, kau masih bisa melihat bekas bekas luka di lambungnya, goresan-goresan dan lekukan-lekukan yang dicetak oleh tentakel Kraken di kayu teak yang tua dan kokoh.
Bekas luka yang menjadi cerita.
Dan di enam minggu itu, jarak antara Naja dan Vessel menyusut lagi.
Mereka sudah menemukan ritme baru. Bukan ritme dua orang yang bekerja di kapal yang sama. Ritme dua orang yang hidup bersama. Perbedaannya halus tapi nyata, seperti perbedaan antara dua orang yang berjalan di jalur yang sama dan dua orang yang berjalan bersama.
Vessel memasak sarapan setiap pagi. Bubur gandum yang sekarang sudah dia kuasai resepnya dan yang sudah tidak terlalu buruk, ditambah potongan buah kering atau daging asap atau, di hari-hari baik ketika mereka berhasil menangkap ikan dari laut, ikan panggang yang dagingnya putih dan lembut dan yang rasanya jauh lebih enak dari ikan asin yang sudah berminggu-minggu di tong.
Naja mengarahkan kapal setiap pagi, memeriksa kompas dan peta dan posisi matahari terbit untuk memastikan mereka masih di jalur yang benar. Dia sudah mengajarkan Vessel dasar-dasar navigasi, cara membaca kompas, cara mengenali rasi bintang untuk menentukan arah di malam hari, cara memperkirakan kecepatan kapal dari gerakan ombak dan angin. Vessel belajar cepat. Tidak secepat Petrus yang memang lahir untuk menjadi navigator, tapi cukup cepat untuk bisa mengambil alih kemudi ketika Naja perlu istirahat.
Sore hari, mereka berlatih.
Ini dimulai secara tidak sengaja. Suatu sore, seminggu setelah Kraken, Vessel sedang berlatih sendiri di dek, pisau-pisaunya menari di tangannya, bilah-bilah yang berkilau berputar dan menghilang dan muncul kembali di tangan yang berbeda dengan kecepatan yang memukau. Naja, yang sedang membersihkan Zar di dekat kemudi, menonton tanpa berkata apa-apa selama beberapa menit sebelum berdiri dan mencabut pedangnya.
“Serang aku,” kata Naja.
Vessel menoleh. “Serius?”
“Kau perlu latihan melawan lawan sungguhan. Pisau dan tiang kayu itu hubungan yang tidak sehat.”
Vessel tersenyum. Senyum miring yang sudah familiar.
“Dan kau perlu latihan melawan lawan yang cepat, Kapten. Kraken itu lambat. Apa yang terjadi kalau musuhmu berikutnya secepat aku?”
“Kita lihat saja.”
Dan mereka bertarung.
Bukan bertarung sungguhan. Bertarung latihan. Pedang dan pisau yang berhenti satu inci sebelum menyentuh kulit, tebasan yang ditarik kembali sebelum mengenai, tusukan yang dibelokkan di detik terakhir. Tarian yang cepat dan intens dan yang membuat keduanya berkeringat dan terengah dalam waktu lima menit.
Dan tarian itu mengajari mereka tentang satu sama lain lebih dari yang bisa diajarkan oleh percakapan berhari-hari.
Naja belajar bahwa Vessel memang secepat yang dikatakannya. Gerakannya seperti air, mengalir dari satu posisi ke posisi lain tanpa jeda, tanpa momen di mana tubuhnya berhenti dan bisa dipukul. Serangannya datang dari sudut sudut yang tidak terduga, dari bawah, dari samping, dari belakang, pisaunya muncul di tempat yang tidak seharusnya ada pisau, dan refleks Naja harus bekerja di batas maksimumnya untuk mengimbangi.
Vessel belajar bahwa Naja lebih kuat dari yang terlihat. Di balik tubuhnya yang ramping dan tidak besar, ada kekuatan yang padat dan efisien, kekuatan yang datang bukan dari massa otot melainkan dari tahun-tahun mengayunkan pedang dan menarik tali dan mendorong kemudi dalam angin kencang. Tebasan Zar datang dengan kekuatan yang membuat tangan Vessel kebas ketika dia menangkisnya dengan pisau, dan jangkauan pedang Naja yang lebih panjang dari pisau Vessel berarti Vessel harus terus-menerus bergerak maju untuk masuk ke jarak efektif pisaunya sementara Naja bisa mengendalikan jarak dan memaksa Vessel mundur.
Mereka berlatih setiap sore. Dan setiap sore, mereka menjadi lebih baik. Bukan hanya secara individu, tapi sebagai pasangan. Mereka mulai membaca gerakan satu sama lain, mulai mengantisipasi serangan sebelum serangan itu datang, mulai bergerak dalam sinkronisasi yang tidak direncanakan tapi yang terasa alami, seperti dua instrumen dalam orkestra yang menemukan harmoni tanpa partitur.
Dan kadang, di tengah latihan, ketika mereka berputar dan mengelak dan menyerang dan bertahan, ketika napas mereka bercampur di udara yang sempit di antara tubuh mereka yang bergerak cepat, ketika mata mereka terkunci dan dunia menyusut menjadi hanya dua orang dan dua senjata dan ruang kecil di antara keduanya, ada momen-momen yang terasa lebih dari latihan. Momen di mana tangan Vessel yang menangkis menyentuh pergelangan tangan Naja dan keduanya tersentak. Momen di mana tubuh Naja yang berputar menghindari serangan berakhir dengan punggungnya menempel di dada Vessel untuk sepersekian detik sebelum keduanya mundur. Momen yang tidak dibicarakan setelahnya tapi yang diingat oleh keduanya.
Samudera Hindia membentang di depan mereka seperti dunia yang baru.
Airnya lebih hangat dari Atlantik. Warnanya lebih biru, biru yang lebih terang dan lebih transparan, biru yang di siang hari yang cerah berubah menjadi hijau zamrud di tempat tempat dangkal dan biru tua yang nyaris hitam di tempat-tempat dalam. Kehidupan laut lebih banyak. Lumba-lumba mengikuti kapal mereka selama berhari hari, melompat di atas ombak di sisi La Sombra dengan kegembiraan yang menular, tubuh abu-abu mereka yang mengkilap meluncur masuk dan keluar dari air dengan keanggunan yang membuat Vessel berdiri di pagar kapal selama berjam jam hanya untuk menonton.
“Kau menyukai lumba-lumba,” kata Naja suatu siang, datang berdiri di samping Vessel di pagar.
“Siapa yang tidak menyukai lumba-lumba? Mereka bebas. Mereka cepat. Mereka bermain di laut seperti anak-anak yang bermain di taman. Tidak ada beban. Tidak ada tujuan. Hanya kegembiraan murni.”
“Kedengarannya kau iri.”
“Mungkin sedikit. Kapan terakhir kali kau melakukan sesuatu hanya karena itu menyenangkan, Kapten? Bukan karena berguna. Bukan karena harus. Hanya karena menyenangkan.”
Naja membuka mulutnya untuk menjawab. Lalu menutupnya. Berpikir. Kapan terakhir kali? Dia tidak ingat. Hidupnya selama bertahun-tahun adalah rangkaian hal hal yang harus dilakukan, keputusan yang harus diambil, tujuan yang harus dicapai. Kesenangan bukan kemewahan yang dia izinkan untuk dirinya sendiri.
“Lihat,” kata Vessel. “Kau bahkan tidak bisa mengingat.”
“Aku punya tujuan.”
“Tujuan bukan alasan untuk tidak pernah bermain.”
“Kita di tengah lautan yang berbahaya menuju pulau yang tidak ada orang yang pernah kembali. Ini bukan waktu untuk bermain.”
“Ini justru waktu yang paling tepat untuk bermain. Karena kalau kita mati besok, setidaknya hari ini kita sempat tertawa.”
Naja menatap Vessel. Vessel menatap balik. Senyum kecil di bibirnya, bukan senyum miring yang nakal tapi senyum yang tulus dan hangat dan yang membuat matanya menyempit sedikit di sudut sudutnya.
“Kau menyebalkan,” kata Naja.
“Aku tahu. Tapi aku juga benar.”
Pagi itu, kabut.
Kabut tebal yang datang tanpa peringatan, yang muncul entah dari mana di lautan yang seharusnya terlalu hangat untuk kabut setebal ini, kabut yang warnanya putih keabu-abuan dan yang basah dan dingin dan yang menutupi segalanya, laut dan langit dan kapal dan cakrawala, menutupi dunia dalam selubung yang lembut dan memekakkan.
Naja berdiri di kemudi, memperlambat kapal sampai hampir berhenti. Dalam kabut setebal ini, berlayar dengan kecepatan penuh adalah bunuh diri. Bisa ada karang, bisa ada daratan, bisa ada kapal lain, bisa ada apa saja yang tidak terlihat sampai sudah terlalu dekat untuk dihindari.
“Vessel! Ke haluan! Awasi depan!”
Vessel berlari ke haluan dan berdiri di sana seperti patung yang setengah ditelan kabut, tubuhnya yang basah oleh embun kabut terlihat samar dari posisi Naja di kemudi, siluet abu-abu yang terlihat dan menghilang seiring kabut yang bergerak lambat.
“Aku tidak melihat apa-apa, Kapten! Kabut terlalu tebal!”
“Gunakan telingamu! Dengarkan suara ombak yang memecah karang! Dengarkan suara burung! Kalau ada daratan di dekat sini, burung akan terdengar!”
Vessel diam. Mendengarkan.
Mereka mengapung dalam kabut selama satu jam. Dua jam. Tiga jam. Dunia menyusut menjadi hanya kapal dan kabut dan suara air yang menerpa lambung dan suara napas mereka sendiri.
Lalu Vessel mendengarnya.
“Kapten! Suara!”
“Suara apa?”
“Burung! Di arah... di arah kanan depan! Dan... dan suara lain.”
“Suara apa lagi?”
Vessel diam sejenak. Mendengarkan lebih intens.
“Suara aneh. Seperti... seperti suara yang berkata ’Waq.’ Berulang ulang. ’Waq. Waq. Waq.’”
Naja mematung di kemudi.
Waq.
Suara itu bergema di kepalanya, membangunkan kenangan yang terkubur dalam tumpukan cerita-cerita tua yang pernah didengarnya dari pelaut-pelaut di pelabuhan-pelabuhan sepanjang Mediterania, cerita tentang pulau-pulau misterius di lautan timur, pulau-pulau yang tidak ada di peta resmi mana pun tapi yang disebut dalam catatan-catatan perjalanan kuno yang sudah berusia ratusan tahun.
“Waq-Waq,” bisik Naja.
“Apa?”
“Pulau Waq-Waq. Cerita lama. Sangat lama. Pelaut-pelaut Arab yang berlayar ke timur ratusan tahun lalu menceritakan tentang pulau yang pohonnya berbuah kepala manusia. Dan ketika buah itu jatuh, buah itu berkata ’Waq.’”
Hening.
“Kapten,” kata Vessel dari haluan, suaranya hati-hati dan lambat, “kau baru saja bilang pohon yang berbuah kepala manusia?”
“Ya.”
“Dan kita berlayar ke arahnya?”
“Kita tidak berlayar ke arah mana pun. Kabut membawa kita kemari.”
“Itu tidak membuatku merasa lebih baik.”
Naja memutar kemudi pelan, mengarahkan La Sombra ke arah suara. Angin lemah mendorong kapal maju dengan kecepatan yang lambat, nyaris merayap, dan kabut perlahan menipis di sekeliling mereka, perlahan berubah dari putih pekat menjadi putih transparan menjadi jaring tipis yang membiarkan cahaya matahari menembus.
Dan pulau itu muncul.
Indah.
Itu kata pertama yang muncul di kepala Naja dan juga di kepala Vessel secara bersamaan, meskipun mereka tidak mengatakannya dengan suara keras. Indah dengan cara yang membuat napas tertahan dan mata terbelalak dan otak membeku selama beberapa detik karena terlalu banyak keindahan yang masuk sekaligus dan tidak bisa diproses cukup cepat.
Pulau Waq-Waq membentang di depan mereka seperti lukisan yang dilukis oleh tangan yang tidak manusiawi. Pantainya berpasir putih yang halus seperti tepung, berkilau di bawah sinar matahari yang baru menembus kabut. Di belakang pantai, hutan yang lebat dan hijau dengan pepohonan yang tingginya menjulang ke langit, pohon-pohon yang batangnya lurus dan perak dan yang daunnya lebar dan berkilau dengan warna hijau yang tidak wajar, hijau yang terlalu cerah dan terlalu hidup, hijau yang bukan hijau tumbuhan biasa melainkan hijau yang bercahaya dari dalam seperti daun yang terbuat dari zamrud transparan.
Bunga-bunga tumbuh di mana-mana. Di tanah. Di batang pohon. Di cabang-cabang tinggi. Bunga yang ukurannya besar, sebesar kepala anak, dengan kelopak yang warnanya berubah-ubah antara merah dan ungu dan biru dan emas, berubah perlahan seperti langit senja yang berubah warna, dan dari setiap bunga keluar aroma yang manis dan berat dan memabukkan yang terbawa angin ke laut dan yang bisa dicium dari kapal.
Dan di antara keindahan itu, suara itu terus terdengar.
“Waq.”
“Waq.”
“Waq.”
Suara yang datang dari arah pohon-pohon. Suara yang nadanya rendah dan singkat dan yang terdengar seperti sesuatu yang jatuh dan menghantam tanah dan mengeluarkan suara terakhir sebelum diam.
“Aku tidak yakin tentang ini, Kapten,” kata Vessel, berdiri di samping Naja di haluan, mata cokelat keemasannya menatap pulau itu dengan campuran kekaguman dan kecemasan.
“Kita butuh air tawar. Persediaan kita menipis. Dan pulau ini punya pepohonan, yang berarti punya sumber air.”
“Pulau ini juga punya pohon yang berbuah kepala manusia.”
“Kita tidak tahu itu pasti. Itu hanya cerita.”
“Cerita tentang siren juga hanya cerita sampai siren itu mengambil dua puluh awak kapalmu. Cerita tentang Kraken juga hanya cerita sampai Kraken itu melilit kapal kita.”
Naja tidak bisa membantah itu.
“Kita turun bersama,” kata Naja. “Hati-hati. Senjata siap. Ambil air, lihat-lihat sedikit, lalu kembali ke kapal.”
“Rencana yang bagus. Rencana yang masuk akal. Rencana yang pasti tidak akan berjalan sesuai rencana.”
“Vessel.”
“Aku ikut, Kapten. Aku hanya menyuarakan kekhawatiranku.”
“Kekhawatiranmu sudah tercatat. Sekarang siapkan sekoci.”
Mereka mendarat di pantai putih yang halus. Pasirnya hangat di bawah sepatu. Matahari sudah tinggi, cahayanya kuat dan terang, tapi di dalam hutan yang dimulai beberapa langkah dari garis pantai, cahaya itu berubah, disaring oleh kanopi daun yang tebal dan berkilau, menjadi cahaya yang hijau dan lembut dan yang terasa seperti berada di dalam perhiasan raksasa yang terbuat dari zamrud.
Udara di dalam hutan berbeda dari udara di laut. Lembap dan hangat dan penuh aroma, aroma bunga dan tanah basah dan getah pohon dan sesuatu lain yang lebih manis dan lebih berat, sesuatu yang Naja tidak bisa identifikasi tapi yang membuat kepalanya sedikit berputar jika dia menghirupnya terlalu dalam.
“Jangan hirup terlalu dalam,” kata Naja kepada Vessel. “Aroma ini mungkin bisa mempengaruhi pikiran.”
“Sudah terlambat. Aku sudah menghirup banyak dan aku merasa sangat ingin memeluk pohon.”
“Vessel.”
“Bercanda, Kapten.”
Mereka berjalan masuk ke hutan, mengikuti suara air yang mengalir yang terdengar dari arah kiri, suara yang menjanjikan sungai atau mata air, sumber air tawar yang sangat mereka butuhkan. Naja di depan, tangan kanan di gagang Zar. Vessel di belakang, pisau sudah di tangan, mata menyapu setiap bayangan dan setiap gerakan di antara pohon-pohon perak yang menjulang.
Suara “Waq” semakin dekat. Semakin sering. Semakin jelas.
Dan ketika mereka melewati sebuah semak besar yang daunnya berwarna biru gelap dan berbunga merah darah, mereka melihat pohon-pohon itu.
Naja berhenti.
Vessel berhenti di belakangnya.
Keduanya diam.
Di depan mereka, di sebuah lapangan terbuka di tengah hutan yang diterangi cahaya matahari yang menembus celah kanopi, tumbuh sekelompok pohon yang tidak seperti pohon mana pun yang pernah mereka lihat. Pohon yang batangnya keperakan dan halus seperti kulit manusia, yang cabangnya melengkung anggun ke segala arah seperti lengan yang terentang, yang daunnya berkilau hijau zamrud di atas.
Dan di setiap cabang, di setiap ranting yang cukup kuat, bergantungan buah buah.
Buah yang berbentuk kepala manusia.
Bukan menyerupai kepala manusia. Bukan bentuk yang jika dilihat dari sudut tertentu dan dengan imajinasi yang cukup bisa terlihat seperti kepala. Bukan. Buah-buah itu adalah kepala. Kepala yang ukurannya sebesar kepala manusia dewasa, yang memiliki dahi dan hidung dan mulut dan dagu dan telinga, yang rambutnya adalah serat-serat tipis yang berkilau seperti sutra, yang matanya tertutup seperti mata orang yang tidur. Kulit buah itu berwarna pucat, nyaris putih, dengan sedikit semburat hijau di bawah permukaan seperti urat daun yang terlihat jika kau menerawang daun di depan cahaya.
Puluhan. Mungkin ratusan. Bergantung di pohon-pohon di sekeliling lapangan, bergoyang pelan ditiup angin, seperti lentera-lentera aneh di festival yang tidak wajar.
Naja menelan ludah.
“Ceritanya benar,” bisik Vessel dari belakangnya.
Lalu salah satu buah jatuh.
Buah itu terlepas dari tangkainya di cabang yang rendah, jatuh dua depa ke tanah, dan ketika menyentuh rumput yang hijau dan lembut di lapangan itu, buah itu membuka mulutnya.
“Waq.”
Suara yang singkat dan rendah. Seperti suku kata terakhir dari kata yang tidak selesai. Seperti napas terakhir yang dipaksa menjadi suara.
“Waq.”
Lalu diam.
Buah itu berbaring di rumput, matanya yang tertutup tidak terbuka, mulutnya yang tadi terbuka untuk mengucapkan satu suku kata itu sekarang tertutup kembali. Diam. Tidak bergerak.
Naja mengambil satu langkah maju. Vessel memegang lengannya.
“Kapten...”
“Aku hanya mau melihat lebih dekat.”
“Itu kepala manusia di pohon. Kepala. Manusia. Di pohon. Aku rasa ‘melihat lebih dekat’ bukan reaksi yang tepat.”
“Cerita bilang buah ini tidak berbahaya. Yang berbahaya adalah penunggu pulau ini.”
Naja melepaskan tangan Vessel dari lengannya dengan lembut tapi tegas dan berjalan ke buah yang jatuh. Berlutut di sampingnya. Menatapnya dari dekat.
Dari dekat, buah itu terlihat lebih manusia. Bulu mata yang tipis di kelopak mata yang tertutup. Bibir yang bentuknya sempurna, dengan garis-garis halus yang terlihat seperti bibir sungguhan. Hidung yang mancung dengan lubang hidung yang kecil dan simetris. Alis yang melengkung halus di atas kelopak mata.
Cantik, dengan cara yang menyedihkan.
Lalu buah itu bergerak.
Tidak banyak. Sedikit. Bibir yang bergetar. Kelopak mata yang berkedut. Jari-jari yang tiba-tiba muncul dari sisi buah, jari-jari kecil yang putih dan halus yang sebelumnya tidak ada, yang tumbuh dari leher buah itu ke bawah, membentuk bahu, membentuk lengan, memanjang dengan kecepatan yang pelan tapi terlihat, seperti tanaman yang tumbuh dalam gerakan yang dipercepat.
Naja mundur.
Dari buah itu, tumbuh tubuh.
Akar-akar putih muncul dari bagian bawah kepala, akar yang menyebar di tanah sebelum berubah arah dan menekuk ke atas, membentuk leher yang putih dan halus, lalu bahu yang sempit dan anggun, lalu dada dan perut dan pinggang dan kaki, seluruhnya putih, seluruhnya halus, seluruhnya bersih seperti porselen yang baru dicetak. Dan dari kepala buah itu, dari kulit kepala yang tadi gundul dan halus, tumbuh rambut. Rambut yang panjang dan putih yang mengalir turun seperti air susu yang dituangkan dari teko, jatuh melewati bahu dan punggung dan pinggang sampai menyentuh tanah.
Sebuah tubuh perempuan.
Utuh. Sempurna. Putih dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berdiri di rumput hijau di lapangan yang diterangi cahaya matahari yang hijau dan lembut, seperti patung marmer yang tiba-tiba dihidupkan oleh tangan dewa yang sedang bereksperimen.
Mata buah itu terbuka.
Mata yang warnanya hijau. Hijau seperti daun pohon perak di sekeliling mereka. Hijau yang bercahaya dari dalam. Mata yang menatap Naja dan Vessel dengan ekspresi yang bukan keterkejutan dan bukan ketakutan melainkan keingintahuan yang polos dan murni, keingintahuan anak yang baru lahir yang melihat dunia untuk pertama kalinya.
Naja berdiri tegak. Tangan di gagang pedang. Tubuh siap.
Vessel di belakangnya. Pisau di tangan. Tubuh siap juga.
Perempuan putih itu memiringkan kepalanya. Memandang mereka. Membuka mulutnya.
Dan berbicara.
“Siapa kalian?”
Suaranya jernih dan tinggi dan terdengar seperti lonceng kecil yang dipukul dengan ringan, suara yang indah dan tidak manusiawi dan yang bergema di antara pohon-pohon perak seperti musik yang dimainkan oleh instrumen yang belum pernah ditemukan.
Naja dan Vessel bertukar pandangan. Lalu Naja menatap perempuan itu kembali.
“Aku Naja. Ini Vessel. Kami pelaut yang singgah di pulau ini.”
“Pelaut,” ulang perempuan itu. Kata itu keluar dari mulutnya seperti dia sedang mencicipinya, merasakan bentuk dan bobotnya di lidah. “Pelaut. Orang yang berlayar di air. Aku tahu apa itu pelaut. Aku mendengar ceritanya dari angin.”
“Dari angin?” tanya Vessel.
“Angin membawa cerita. Kalau kau diam cukup lama dan mendengarkan cukup dalam, kau bisa mendengar cerita yang dibawa angin dari tempat yang jauh. Aku mendengar tentang pelaut. Tentang kapal. Tentang laut yang besar dan biru yang membentang di luar hutan ini.” Matanya yang hijau melebar. “Aku selalu ingin melihat laut. Tapi aku tidak pernah bisa pergi.”
“Kenapa tidak bisa pergi?” tanya Naja.
Perempuan itu terdiam. Matanya yang tadi penuh keingintahuan sekarang berubah. Ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang lebih gelap. Sesuatu yang terlihat seperti ketakutan yang sudah lama dirasakan dan sudah menjadi bagian dari dirinya, ketakutan yang bukan lagi sesuatu yang ditakuti melainkan sesuatu yang ditinggali, seperti ruangan gelap yang sudah ditempati begitu lama sehingga kau lupa rasanya cahaya.
“Karena Shebure,” bisik perempuan itu.
“Shebure?”
“Ratu kami. Ratu Waq-Waq. Dia tidak membiarkan kami pergi. Tidak pernah. Kami lahir di pohon ini. Kami tumbuh di pohon ini. Dan kami tinggal di pulau ini. Sampai mati. Itu aturannya. Itu perintahnya. Siapa pun yang mencoba pergi...” Perempuan itu menelan ludah. “...dihukum.”
“Dihukum bagaimana?”
Perempuan itu tidak menjawab. Tubuhnya yang putih bergetar sedikit. Tangannya yang halus dan tanpa noda meremas satu sama lain di depan dadanya.
“Namamu siapa?” tanya Naja, mengubah topik karena dia bisa melihat bahwa pertanyaan sebelumnya menyakitkan.
Perempuan itu mengangkat matanya. Sedikit terkejut oleh pertanyaan itu, seolah tidak terbiasa ditanyai namanya, seolah namanya adalah sesuatu yang jarang digunakan dan hampir dilupakan.
“Sandra,” kata perempuan itu. “Namaku Sandra.”
Sandra menceritakan semuanya.
Mereka duduk di lapangan terbuka itu, di bawah pohon pohon perak yang buah-buah kepalanya bergoyang pelan di atas mereka, di rumput yang hijau dan lembut yang ternyata hangat seperti karpet yang dijemur matahari. Sandra duduk berhadapan dengan Naja dan Vessel, kakinya yang putih dan telanjang dilipat di bawah tubuhnya, rambutnya yang panjang dan putih menyebar di rumput di sekelilingnya seperti genangan susu.
“Kami adalah anak-anak Waq-Waq,” kata Sandra, suaranya yang jernih sekarang membawa berat yang tidak cocok dengan suara selembut itu. “Pohon-pohon ini adalah ibu kami. Kami tumbuh sebagai buah di cabangnya, dan ketika saatnya tiba, kami jatuh dan menjadi seperti ini. Perempuan. Selalu perempuan. Tidak pernah ada laki-laki di antara kami.”
“Berapa banyak kalian?” tanya Vessel.
“Banyak. Ratusan. Mungkin lebih. Aku tidak tahu pasti. Pulau ini luas dan pohon-pohon ada di mana-mana.”
“Dan Shebure?”
Sandra menunduk. Matanya menatap tangannya yang meremas-remas rumput.
“Shebure adalah yang pertama. Yang tertua. Yang paling kuat. Dia jatuh dari pohon pertama ratusan tahun lalu, jauh sebelum aku atau siapa pun yang aku kenal. Dia membangun kerajaan di pulau ini. Dia memimpin kami. Dia membuat aturan.”
“Aturan apa?”
“Aturan yang paling penting, tidak ada yang boleh meninggalkan Waq-Waq. Pulau ini adalah rumah kita. Satu satunya rumah. Dunia di luar berbahaya. Laut berbahaya. Manusia berbahaya. Hanya di sini kita aman. Hanya di sini kita utuh. Itu yang Shebure bilang.”
“Dan kau percaya itu?” tanya Naja.
Sandra mengangkat matanya. Menatap Naja dengan tatapan yang penuh kerinduan, kerinduan yang sangat besar dan sangat lama sehingga sudah menjadi bagian dari warna matanya, menjadikan hijau itu lebih dalam dan lebih sedih dari hijau yang seharusnya.
“Tidak,” kata Sandra. “Aku tidak pernah percaya. Aku mendengar cerita-cerita dari angin. Tentang laut yang luas. Tentang kota-kota yang besar. Tentang gunung-gunung yang tinggi. Tentang orang-orang yang berbeda beda yang hidup di tempat-tempat yang berbeda beda dan yang melakukan hal hal yang tidak bisa kubayangkan. Dunia itu besar. Dan aku terjebak di pulau kecil ini, di antara pohon-pohon yang melahirkanku, di bawah kekuasaan ratu yang tidak membiarkanku pergi.”
“Kenapa Shebure tidak membiarkan kalian pergi?”
Sandra terdiam lama. Ketika dia berbicara lagi, suaranya sangat pelan.
“Karena kami bukan anak bagi Shebure. Kami adalah budak. Kami bekerja untuk Shebure. Menanam. Memanen. Membangun. Membersihkan. Melayani. Dari pagi sampai malam, dari lahir sampai mati, kami bekerja untuk Shebure. Pohon Waq-Waq melahirkan kami, tapi Shebure yang memiliki kami. Begitulah yang dia bilang. Begitulah yang selalu terjadi.”
Kemarahan. Naja merasakan kemarahan yang panas dan tajam di dadanya, kemarahan yang familiar, kemarahan yang sama dengan yang dirasakannya ketika melihat orang-orang miskin di Roma, kemarahan terhadap ketidakadilan yang dianggap normal oleh mereka yang berkuasa.
“Dan kau ingin pergi,” kata Naja. Bukan pertanyaan.
“Lebih dari apa pun di dunia ini,” kata Sandra. Matanya yang hijau bersinar, bukan dengan cahaya yang supernatural melainkan dengan cahaya yang sangat manusiawi. Cahaya harapan. “Aku ingin melihat laut. Aku ingin merasakan angin di atas air. Aku ingin melihat matahari terbit dari tempat yang berbeda setiap hari. Aku ingin... bebas.”
Naja menatap Vessel. Vessel menatap Naja. Komunikasi tanpa kata yang sudah mereka kembangkan selama berminggu-minggu berlayar bersama, bahasa tatapan dan alis dan sudut bibir yang lebih efisien dari kata kata.
Vessel mengangkat satu alis. Kita bawa dia?
Naja mengangguk sedikit. Kita bawa dia.
“Sandra,” kata Naja. “Kau mau ikut dengan kami?”
Sandra menatap Naja. Matanya melebar. Mulutnya terbuka. Seluruh tubuhnya yang putih bergetar, bukan karena dingin dan bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lebih besar dari keduanya, sesuatu yang sudah ditunggu begitu lama sehingga ketika akhirnya datang, tubuh tidak tahu bagaimana harus bereaksi.
“Ikut?” bisik Sandra. “Dengan kalian? Ke... ke laut?”
“Ke laut. Dan lebih jauh lagi.”
“Tapi Shebure...”
“Shebure bukan kaptenku. Dan kalau kau ikut dengan kami, Shebure juga bukan ratumu lagi.”
Air mata mengalir di pipi Sandra yang putih. Air mata yang jernih dan transparan seperti embun pagi, yang mengalir tanpa suara isakan, air mata yang bukan tangisan melainkan pelepasan, seperti air yang sudah terlalu lama tertahan di belakang bendungan yang akhirnya terbuka satu celah.
“Aku bisa membantu,” kata Sandra cepat, suaranya bergetar tapi penuh tekad. “Aku bukan hanya perempuan biasa. Kami, anak-anak Waq-Waq, kami punya kemampuan. Kami terhubung dengan pohon. Dengan akar. Dengan tanah.”
Sandra mengangkat tangan kanannya. Dan dari telapak tangannya yang putih dan halus, sesuatu muncul. Akar. Akar yang tumbuh dari kulitnya seperti tanaman yang dipercepat pertumbuhannya seribu kali, akar yang berwarna putih dan berkilau dan yang memanjang dengan cepat, menjulur ke udara seperti ular yang menari, satu akar, dua, lima, sepuluh, akar-akar yang panjangnya beberapa depa dan yang bergerak dengan kehendak Sandra, mengikuti gerakan jari-jarinya, menari di udara di depan mereka.
Vessel mundur selangkah.
“Itu... itu mengesankan sekaligus mengerikan,” kata Vessel.
Sandra tersenyum malu. Akar-akarnya menarik diri kembali ke telapak tangannya, masuk ke dalam kulit tanpa meninggalkan bekas, menghilang seperti tidak pernah ada.
“Aku bisa menggunakan akar ini untuk banyak hal. Mengikat. Mengangkat. Melempar. Bertarung jika perlu. Akar ini kuat. Lebih kuat dari tali tambang. Dan aku bisa mengendalikannya dari jarak jauh.”
Naja menatap Sandra dengan tatapan baru. Tatapan kapten yang menilai kemampuan calon awak kapal.
“Kau bisa bertarung?”
“Aku tidak pernah bertarung sungguhan. Tapi aku bisa mengikat musuh dan melemparnya. Cukup jauh. Cukup keras.”
“Seberapa keras?”
Sandra menoleh ke sebuah batu besar yang terletak di pinggir lapangan. Batu yang ukurannya sebesar tong air. Dia mengangkat tangannya. Akar muncul dari telapaknya, menjulur cepat ke batu itu, melilit batu itu dalam pelukan yang kencang, mengangkat batu itu dari tanah dengan gerakan yang terlihat tanpa usaha, dan kemudian melempar batu itu.
Batu itu terbang melintas di atas lapangan dan menghantam pohon di sisi lain dengan kekuatan yang membuat pohon itu bergetar dari akar sampai puncak dan buah-buah kepala yang bergantung di cabangnya jatuh berjatuhan ke tanah, masing-masing mengeluarkan “Waq” mereka sebelum diam.
Naja dan Vessel menatap batu yang sekarang tertanam di batang pohon yang kulitnya retak.
“Cukup keras,” kata Vessel.
“Kau diterima,” kata Naja.
Mereka tidak punya banyak waktu.
Sandra bilang bahwa Shebure memiliki mata-mata di seluruh pulau. Anak-anak Waq-Waq yang setia kepadanya, yang melaporkan setiap hal yang tidak biasa, setiap gerakan yang mencurigakan, setiap wajah asing yang muncul.
“Berapa lama sebelum Shebure tahu kita di sini?” tanya Naja.
“Mungkin sudah tahu,” kata Sandra, matanya yang hijau gelisah menatap pepohonan di sekeliling lapangan. “Mata- matanya ada di mana-mana. Bahkan pohon-pohon bisa menjadi mata-matanya. Dia terhubung dengan pulau ini dengan cara yang tidak bisa kujelaskan.”
“Kalau begitu kita harus pergi sekarang. Ambil air yang kita butuhkan dan kembali ke kapal.”
Mereka bergerak cepat. Sandra memimpin mereka ke mata air yang tersembunyi di balik gua kecil yang dindingnya ditumbuhi lumut bercahaya, air yang jernih dan dingin dan segar yang mereka isi ke kantong kantong kulit yang dibawa dari kapal. Vessel mengisi empat kantong. Naja mengisi empat lagi.
Dan ketika mereka keluar dari gua, siap untuk berlari ke pantai dan ke sekoci dan ke La Sombra yang menunggu di teluk, mereka melihatnya.
Di ujung jalan setapak yang mengarah ke pantai, menghalangi jalan mereka, berdiri tiga sosok.
Di tengah, di atas kuda putih yang gagah dan besar, duduk seorang perempuan. Perempuan yang tidak seperti Sandra. Perempuan yang lebih tinggi, lebih besar, lebih tua, dengan tubuh yang tidak putih bersih melainkan putih keabu-abuan seperti marmer yang sudah tua, dengan rambut yang bukan putih susu melainkan hitam pekat yang diikat ketat di atas kepala dalam gaya yang rumit dan penuh perhiasan dari tulang dan batu permata. Di kepalanya bertengger mahkota yang terbuat dari kayu perak dan duri-duri yang tajam, dan di wajahnya, menutupi seluruh wajah dari dahi sampai dagu, ada topeng.
Topeng hitam.
Topeng yang terlihat seperti terbuat dari bahan yang sama dengan jubah Noon, hitam yang menyerap cahaya, hitam yang terlihat seperti lubang di kenyataan. Topeng tanpa lubang mata yang terlihat, tanpa lubang hidung, tanpa bukaan mulut, permukaan yang halus dan gelap dan yang entah bagaimana memancarkan aura yang membuat bulu kuduk berdiri dan perut melilit.
Shebure.
Di kiri dan kanan Shebure, dua perempuan lain. Sama tingginya dengan Sandra tapi yang tubuhnya lebih berotot dan lebih tegang, tubuh yang dibangun untuk bertarung, dengan rambut yang diikat pendek dan mata yang dingin dan tajam. Masing-masing memegang senjata. Yang kiri memegang tombak pendek. Yang kanan memegang rantai panjang dengan pemberat besi di ujungnya.
“Tetra,” bisik Sandra, menunjuk yang memegang tombak. “Dan Pose,” menunjuk yang memegang rantai. “Anak buah Shebure. Pengawalnya. Pejuang terbaiknya.”
Shebure berbicara.
Suaranya yang keluar dari balik topeng hitam itu rendah dan dalam dan bergema, bukan seperti suara satu orang melainkan seperti suara banyak orang yang berbicara bersamaan dalam satu nada, suara yang membawa otoritas ratusan tahun, otoritas yang dibangun di atas ketakutan dan kepatuhan dan penghukuman.
“Sandra. Kau tahu aturannya.”
Sandra bergetar. Tubuh putihnya yang tadi tegak dan penuh tekad sekarang meringkuk sedikit, bahu bahunya naik, kepalanya menunduk, refleks yang sudah ditanam selama bertahun-tahun oleh ketakutan yang konsisten.
Tapi dia tidak mundur.
“Aku tahu aturannya, Shebure,” kata Sandra. Suaranya bergetar tapi kata katanya jelas. “Dan aku tidak mau mengikutinya lagi.”
Hening.
Topeng hitam Shebure menatap Sandra. Meskipun tidak ada mata yang terlihat di balik topeng itu, Naja bisa merasakan tatapannya. Tatapan yang berat dan dingin dan yang menimbang nyawa seperti pedagang menimbang beras.
Lalu topeng itu bergerak ke Naja dan Vessel.
“Manusia,” kata Shebure. Kata itu keluar dari mulutnya seperti umpatan, seperti nama penyakit, seperti sesuatu yang kotor dan tidak diinginkan. “Kalian membawa manusia ke pulau ini, Sandra. Kalian tahu hukumannya.”
“Mereka temanku.”
“Kau tidak punya teman. Kau punya ratu. Dan ratumu memerintahkanmu untuk kembali.”
Naja maju selangkah. Tangannya di gagang Zar.
“Sandra tidak kembali ke mana pun. Dia ikut dengan kami.”
Topeng hitam Shebure berputar ke arah Naja. Dan meskipun tidak ada ekspresi di topeng itu, tidak ada alis yang terangkat atau bibir yang menipis, Naja bisa merasakan kemarahan yang memancar dari baliknya, kemarahan yang panas dan gelap dan yang sudah terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya.
“Tangkap mereka,” kata Shebure kepada Tetra dan Pose.
Tetra bergerak pertama.
Tombak pendeknya menghujam ke arah Naja dengan kecepatan dan presisi yang menunjukkan bahwa Tetra bukan sekadar pengawal melainkan pembunuh terlatih, seseorang yang sudah menggunakan tombak itu ratusan kali dan yang setiap tusukannya diarahkan ke titik vital. Naja mengelak ke kiri, merasakan angin dari ujung tombak di pipinya, dan mencabut Zar dalam gerakan yang sama, menebaskan bilah baja ke arah Tetra.
Tetra menangkis dengan gagang tombaknya. Logam bertemu kayu yang diperkuat, bunyi yang tajam bergema di hutan. Mereka bertukar serangan, tusukan dan tebasan dan tangkisan yang cepat dan brutal, dan Naja menyadari bahwa Tetra kuat. Sangat kuat. Lebih kuat dari manusia biasa.
Di sisi lain, Vessel berhadapan dengan Pose. Rantai Pose berputar di udara dengan suara yang berdengung, membentuk lingkaran-lingkaran yang berbahaya, pemberat besi di ujungnya berkilau seperti bintang yang mengorbit. Vessel melompat mundur ketika rantai itu menyapu udara di depannya, merasakan angin dari logam yang lewat beberapa inci dari dadanya. Pisaunya keluar, dua pisau di dua tangan, dan dia bergerak maju, menyelinap di bawah putaran rantai yang berikutnya dan menusuk ke arah Pose.
Pose memutar tubuhnya, rantai melilit lengannya dan menjadi perisai, pisau Vessel menghantam rantai dan terpental. Pose menarik rantai kembali dan melempar pemberat besinya ke arah kepala Vessel. Vessel merunduk, merasakan besi yang lewat di atas rambutnya, dan berguling ke samping.
Sandra menghadapi Shebure.
Tapi Sandra tidak menyerang Shebure.
Sandra menyerang Tetra dari belakang. Akar-akar putih muncul dari kedua telapak tangannya, menjulur dengan kecepatan ular yang menyerang, melilit kaki Tetra yang sedang bertarung dengan Naja, menarik dengan kekuatan yang membuat Tetra kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah.
Naja menendang tombak dari tangan Tetra yang jatuh dan mengarahkan ujung Zar ke lehernya.
“Jangan bergerak,” kata Naja.
Tetra menatap ujung pedang di lehernya dan diam.
Di sisi lain, Sandra melempar akarnya ke Pose. Tapi Pose lebih siap dari Tetra. Rantainya berputar, memotong akar yang datang, memutusnya. Sandra mengerang kesakitan, menarik akar yang terpotong kembali, dan mengirim akar lain, lebih banyak, dari berbagai arah.
Vessel memanfaatkan distraksi itu. Berlari dari samping, pisaunya menyayat tali yang mengikat pemberat besi di ujung rantai Pose. Pemberat itu jatuh ke tanah. Rantai tanpa pemberat hanyalah rantai. Pose menatap rantainya yang sekarang tidak berguna, lalu menatap Vessel yang berdiri di depannya dengan dua pisau yang berkilau.
“Menyerah atau tidak?” tanya Vessel.
Pose tidak menyerah. Pose melempar rantainya ke wajah Vessel dan berlari ke arah Naja. Tapi akar Sandra sudah menunggu. Melilit tubuh Pose dari pinggang sampai bahu, mengikatnya dengan kekuatan yang membuat Pose tidak bisa bergerak, lalu mengangkatnya dari tanah.
Dan melemparnya.
Pose terbang melintas di udara, tubuhnya yang terikat akar berputar seperti gangsing, dan menghantam batang pohon perak dengan suara yang keras. Pohon bergetar. Buah-buah kepala jatuh berjatuhan. “Waq. Waq. Waq.” Pose terkulai di tanah, tidak bergerak tapi masih bernapas.
Shebure masih duduk di atas kuda putihnya. Tidak bergerak. Topeng hitamnya menatap kekalahannya dua pengawal terbaiknya dengan apa yang hanya bisa digambarkan sebagai ketidakpercayaan yang dingin.
Lalu Shebure turun dari kudanya.
Dan dari punggungnya, dari balik jubah yang menutupi tubuhnya, sesuatu muncul. Sesuatu yang bukan lengan dan bukan kaki dan bukan sayap. Tentakel. Tentakel yang tumbuh dari punggung Shebure, merobek jubahnya, memanjang ke segala arah, empat tentakel yang tebalnya sebesar lengan manusia dan yang panjangnya beberapa depa, tentakel yang warnanya abu-abu gelap dan yang permukaannya berkilau basah dan yang bergerak dengan kecerdasan yang mengerikan, setiap tentakel bergerak independen, mencari, menggapai, mengancam.
“Kalian pikir dua pengawal itu kekuatanku?” kata Shebure, suaranya sekarang lebih dalam, lebih bergema, lebih menakutkan. “Mereka hanya pelayan. Kekuatanku ada di sini.”
Tentakel-tentakel itu menyerang.
Satu menghantam tanah di depan Naja, membuat tanah retak dan bergetar. Naja melompat mundur. Satu lagi menyapu ke samping, mengarah ke Vessel. Vessel merunduk, merasakan angin dari tentakel di atas kepalanya. Dua lagi mengarah ke Sandra, dan Sandra mengirim akar akarnya untuk menangkis, akar putih dan tentakel abu-abu bertemu di udara, saling melilit, saling menarik, saling meregang dalam pertarungan kekuatan yang membuat tanah di bawah mereka bergetar.
Tapi Shebure lebih kuat. Lebih tua. Lebih berpengalaman. Tentakelnya memutus akar Sandra satu per satu, dan Sandra menjerit kesakitan setiap kali akarnya putus, menjerit seperti cabang yang dipatahkan dari pohon, dan tubuhnya melemah dengan setiap akar yang hilang.
Naja menebas tentakel yang menyerangnya. Zar memotong separuh. Tentakel itu berkedut dan menarik diri sebelum kembali menyerang dari sudut lain. Vessel berguling di antara tentakel, pisaunya menyayat di sana sini, tapi luka-luka kecil itu menutup dengan cepat.
Mereka kalah.
Perlahan tapi pasti, mereka kalah. Shebure terlalu kuat. Tentakelnya terlalu banyak. Dan Sandra yang seharusnya menjadi kekuatan mereka semakin lemah, akar-akarnya semakin sedikit, tubuhnya yang putih semakin pucat.
Satu tentakel melilit pergelangan tangan Naja. Meremas. Naja menjerit dan Zar jatuh dari tangannya. Tentakel lain melilit Vessel dari belakang, mengangkatnya dari tanah. Vessel meronta, pisaunya menusuk tentakel, tapi cengkeraman itu tidak mengendur.
Shebure menang.
Naja dan Vessel diikat di dinding batu di tepi jurang yang curam, punggung mereka menempel di batu yang dingin dan kasar, tangan mereka diikat ke atas dengan akar-akar gelap yang keras dan tidak bisa diputus, kaki mereka menggantung beberapa inci di atas tanah. Senjata mereka diambil. Zar dan pisau-pisau Vessel ditumpuk di tanah beberapa depa dari jangkauan, jauh tapi terlihat, ejekan visual yang disengaja.
Sandra diikat di atas tiang kayu yang tinggi yang ditanam di tengah lapangan, tiang yang dibawahnya ditumpuk kayu bakar dan ranting kering yang membentuk gundukan yang tinggi. Tiang eksekusi. Api eksekusi.
Dua obor menyala di tangan dua anak buah Shebure yang lain, perempuan-perempuan Waq-Waq yang berdiri di samping tumpukan kayu bakar, menunggu perintah.
Shebure duduk di atas kudanya, tentakelnya sudah menarik diri kembali ke balik jubahnya, topeng hitamnya menatap tiga tawanan yang tidak berdaya.
“Sandra,” kata Shebure. “Kau tahu hukuman untuk pengkhianatan.”
Sandra yang diikat di tiang menatap Shebure dari atas. Matanya yang hijau basah oleh air mata tapi masih menyala dengan cahaya yang tidak padam.
“Ini bukan pengkhianatan,” kata Sandra. “Ini kebebasan.”
“Di Waq-Waq, tidak ada perbedaan.”
Shebure mengangkat tangannya. Memberi isyarat kepada dua anak buahnya untuk menyalakan tumpukan kayu bakar.
“JANGAN!” teriak Naja dari dinding batu. Tangannya menarik ikatan akar yang membelenggunya dengan kekuatan putus asa, tapi akar itu tidak bergeming. “SANDRA TIDAK MELAKUKAN KESALAHAN! BIARKAN DIA PERGI!”
“Manusia tidak berbicara di tanah Waq-Waq,” kata Shebure tanpa menoleh.
Obor bergerak ke arah tumpukan kayu bakar.
Dan Sandra tersenyum.
“Shebure,” kata Sandra pelan. “Kau lupa satu hal.”
“Apa yang kulupa?”
“Kau lupa bahwa aku bukan satu-satunya yang ingin bebas.”
Akar.
Bukan dari tangan Sandra. Dari tanah. Dari bawah tumpukan kayu bakar. Dari bawah tiang eksekusi. Dari bawah tanah di seluruh lapangan. Akar-akar yang bukan milik Sandra melainkan milik pohon-pohon Waq-Waq itu sendiri, pohon-pohon perak yang buahnya adalah anak-anak Waq-Waq, pohon-pohon yang selama ratusan tahun diam dan patuh di bawah kekuasaan Shebure tapi yang di dalam tanah yang gelap di mana akar mereka saling terhubung dalam jaringan yang luas dan kuno, menyimpan kerinduan yang sama dengan Sandra.
Kerinduan untuk bebas.
Akar-akar itu muncul dari tanah seperti ular putih yang bangkit dari tidur. Satu menyelinap ke tumpukan kayu bakar dan menarik obor dari tangan anak buah Shebure sebelum obor itu sempat menyentuh kayu. Satu lagi melilit tiang dan memecahkannya, membebaskan Sandra. Dua lagi menjulur ke dinding batu di mana Naja dan Vessel diikat, merobek ikatan akar gelap yang mengikat mereka, membebaskan tangan mereka.
Naja jatuh ke tanah. Bangkit. Berlari ke senjatanya. Mengambil Zar. Vessel mengambil pisau-pisaunya.
Shebure menatap akar-akar yang muncul dari tanah di sekelilingnya dengan topeng hitam yang tidak berekspresi. Tapi tubuhnya tegang. Kudanya meringkik dan mundur, kaki-kaki depannya terangkat, merasakan getaran tanah yang tidak wajar di bawah kukunya.
“Lari,” kata Sandra, mendarat di tanah setelah dibebaskan dari tiang. “Lari ke pantai. Sekarang.”
Mereka berlari.
Menembus hutan yang hijau dan berkilau, melewati pohon-pohon perak yang buah buahnya sekarang berjatuhan semua, jatuh ke tanah dan berkata “Waq” dan tumbuh menjadi perempuan-perempuan putih yang berdiri dan melihat ke sekeliling dengan mata yang bingung dan takut dan penuh harapan. Sandra berlari di depan, akarnya menjadi jembatan di atas jurang kecil, menjadi tangga di atas tebing, menjadi tali ayun yang membawa mereka melintas di atas celah yang tidak bisa dilompati.
Di belakang mereka, Shebure mengejar. Di atas kuda putihnya, tentakelnya melambai di belakang seperti bendera perang, diikuti oleh Tetra yang sudah sadar dan Pose yang sudah bangkit dan puluhan anak buah Shebure lainnya yang berlari dengan kecepatan yang tidak manusiawi.
Pohon-pohon bergerak. Akar-akar muncul dari tanah di jalan Shebure, mencoba menghalangi, mencoba memperlambat, tapi Shebure menebas akar-akar itu dengan tentakelnya dan kuda putihnya melompati rintangan dengan kekuatan yang luar biasa.
Pantai. Pasir putih. Matahari. Laut. Sekoci yang menunggu di garis air.
“KE SEKOCI!” teriak Naja.
Mereka berlari melintasi pasir. Naja mendorong sekoci ke air. Vessel melompat masuk. Sandra melompat masuk. Naja melompat masuk terakhir, tangannya langsung meraih dayung.
Di pantai, Shebure sampai. Kuda putihnya berhenti di garis air, kaki kakinya menolak masuk ke laut. Shebure turun dari kuda. Tentakelnya menjulur ke air, mencoba meraih sekoci yang sudah bergerak menjauh.
Sandra berdiri di belakang sekoci. Akar-akarnya menjulur ke air, mendorong sekoci dari belakang dengan kekuatan tambahan yang membuat sekoci itu meluncur lebih cepat dari yang mungkin dicapai oleh dayung saja.
Tentakel Shebure nyaris menyentuh buritan sekoci. Nyaris. Satu inci lagi. Tapi satu inci itu cukup. Satu inci itu berarti selamat.
Tentakel itu menarik diri. Shebure berdiri di pantai, topeng hitamnya menatap sekoci yang semakin menjauh, tubuhnya yang tegak dan kuat berdiri di pasir putih dengan tentakel-tentakel yang menggantung lemah di sisinya.
Sandra menatap Shebure dari sekoci yang bergerak. Menatap pantai yang menjauh. Menatap pohon-pohon perak di belakang pantai. Menatap rumah satu satunya yang pernah dikenalnya.
Lalu Sandra berbalik ke depan. Ke laut. Ke kapal yang menunggu di teluk. Ke masa depan yang tidak diketahui tapi yang dipilih.
“Terima kasih,” bisik Sandra.
“Selamat datang di La Sombra,” kata Naja.
La Sombra meninggalkan teluk Waq-Waq dengan tiga penumpang. Layar mengembang. Angin bertiup. Laut membentang.
Naja di kemudi. Vessel di layar. Dan Sandra di haluan, berdiri dengan kaki telanjang di atas kayu dek yang hangat terkena matahari, rambut putihnya yang panjang berkibar di angin laut, mata hijaunya yang bersinar menatap cakrawala yang luas dan biru dan tanpa batas.
Air mata mengalir di pipinya. Tapi senyum di bibirnya lebih lebar dari air mata itu.
Bebas.
Akhirnya bebas.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!