Bab 4 Noon And Choice

0 dibaca

A

Tiga minggu setelah Selat Gibraltar.

Laut berubah.

Bukan berubah dengan cara yang bisa dilihat oleh mata biasa. Airnya masih biru tua. Langitnya masih bersih. Anginnya masih bertiup dari arah yang mendukung. Ombaknya masih panjang dan teratur, menaikkan dan menurunkan La Sombra dengan irama yang sudah menjadi bagian dari tubuh Naja dan Vessel, irama yang mereka rasakan bahkan dalam tidur, irama yang membuat tubuh mereka bergoyang pelan bahkan ketika mereka berdiri diam.

Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Naja merasakannya pertama. Pagi itu, ketika dia berdiri di kemudi dan menatap ke depan, ada rasa yang tidak bisa dijelaskan di lidahnya. Bukan rasa garam laut yang biasa. Bukan rasa angin yang basah. Rasa yang lebih aneh, lebih tua, seperti rasa logam yang berkarat, seperti menjilat permukaan kunci besi yang sudah lama terendam air. Rasa yang tidak seharusnya ada di udara terbuka di atas laut.

Dan bau. Bau yang datang entah dari mana, yang bukan bau laut dan bukan bau kapal dan bukan bau apa pun yang dikenal Naja selama bertahun-tahun berlayar. Bau yang manis dan busuk pada saat bersamaan, seperti buah yang sudah terlalu matang dan mulai membusuk di dalamnya meskipun kulitnya masih terlihat sempurna.

“Vessel,” panggil Naja.

Vessel muncul dari dek bawah dengan mulut yang masih mengunyah sisa sarapan, rambut cokelat gelapnya berantakan karena tidur, mata cokelat keemasannya masih setengah tertutup oleh kantuk. Tapi ketika kakinya menyentuh dek atas dan paru-parunya menghirup udara pagi, kantuk itu hilang seketika. Matanya terbuka lebar. Hidungnya berkedut.

“Kau merasakannya?” tanya Naja.

“Baunya,” kata Vessel. Suaranya berbeda dari biasanya. Lebih rendah. Lebih waspada. Nada humor yang biasanya selalu ada di suaranya seperti latar belakang konstan sekarang menghilang, digantikan oleh ketegangan yang halus tapi nyata. “Baunya aneh. Seperti...”

“Seperti sesuatu yang busuk tapi berusaha menutupinya dengan sesuatu yang manis.”

“Tepat.” Vessel berjalan ke haluan. Matanya menyapu cakrawala. Laut kosong di setiap arah. Tidak ada daratan. Tidak ada kapal lain. Tidak ada apa pun kecuali air dan langit dan garis di mana keduanya bertemu.

Tapi bau itu semakin kuat.

Dan sekarang, ada suara.

Bukan suara ombak. Bukan suara angin. Bukan suara kapal. Suara yang datang dari arah yang tidak bisa ditentukan, seperti suara nyanyian siren tiga minggu lalu yang datang dari semua arah sekaligus, tapi kali ini bukan nyanyian. Kali ini suaranya rendah dan dalam dan konstan, seperti dengungan, seperti suara kupu-kupu raksasa yang sayapnya menggetarkan udara dengan frekuensi yang terlalu rendah untuk didengar sepenuhnya tapi cukup untuk dirasakan di tulang dada.

“Naja,” kata Vessel. Dan fakta bahwa dia memakai nama Naja dan bukan “Kapten” menunjukkan betapa seriusnya dia. “Ada sesuatu di depan.”

Naja meninggalkan kemudi dan berlari ke haluan. Berdiri di samping Vessel. Matanya menyipit, menatap ke depan, ke permukaan laut yang berkilau di bawah matahari pagi.

Dan dia melihatnya.

Awalnya, Naja mengira itu bayangan awan. Bayangan gelap di permukaan air, sekitar seratus depa di depan kapal, bayangan yang bentuknya tidak teratur dan yang warnanya lebih gelap dari air di sekelilingnya. Tapi langit di atas bayangan itu cerah. Tidak ada awan. Tidak ada apa pun yang bisa menghasilkan bayangan di tempat itu.

Bayangan itu bukan bayangan.

Bayangan itu adalah sesuatu yang ada di atas permukaan air.

Sesuatu yang hitam.

Sesuatu yang mengapung.

Sesuatu yang menunggu.


“Berhentikan kapal,” kata Naja.

Vessel berlari ke layar. Menarik tali. Layar berkurang, lalu mengempis. La Sombra melambat, kehilangan momentum, lalu berhenti, mengapung diam di atas ombak yang pelan.

Naja mengambil teropong dari sabuknya. Mengarahkannya ke depan, ke bayangan hitam yang mengapung di permukaan air.

Di dalam lingkaran lensa yang buram di pinggirannya, Naja melihatnya.

Sosok itu berdiri di atas air.

Berdiri. Di atas. Air.

Bukan mengapung. Bukan berenang. Berdiri, seperti orang berdiri di atas tanah yang keras, dengan kedua kaki yang tersembunyi di balik jubah hitam yang panjang hingga menyentuh permukaan air, jubah yang warnanya bukan hitam biasa melainkan hitam yang menyerap cahaya, hitam yang terlihat seperti lubang di kenyataan, hitam yang jika kau menatapnya terlalu lama akan membuat matamu sakit karena otakmu tidak bisa memproses ketiadaan cahaya yang begitu sempurna.

Sosok itu tidak bergerak. Tidak bergoyang mengikuti ombak. Berdiri tegak dan diam seperti patung yang ditanam di dasar laut dan yang puncaknya muncul di permukaan. Kepalanya tertutup tudung jubah yang menutupi seluruh wajahnya dalam bayangan yang gelap, bayangan yang terlalu gelap bahkan untuk tudung yang dalam, bayangan yang terlihat seperti kegelapan itu sendiri bukan diproduksi oleh tudung melainkan keluar dari dalam wajah itu, dari tempat di mana wajah seharusnya berada.

Dan di kedua tangannya yang terulur ke depan, telapak tangan menghadap ke atas, ada dua benda.

Di tangan kiri, seekor ikan. Ikan perak yang basah dan berkilau, yang masih bergerak-gerak lemah, yang siripnya berkibas pelan seolah ikan itu masih setengah hidup.

Di tangan kanan, sebilah pedang. Pedang pendek dengan bilah yang hitam kelam dan gagang yang polos tanpa ornamen, pedang yang terlihat sederhana dan tidak istimewa tapi yang entah bagaimana memancarkan aura yang membuat Naja ingin mundur selangkah.

“Apa yang kau lihat?” tanya Vessel dari belakangnya.

Naja menurunkan teropong. Wajahnya pucat.

“Ada seseorang di atas air. Berdiri di atas air. Memakai jubah hitam. Membawa ikan dan pedang.”

Vessel terdiam sejenak.

“Kau yakin?”

“Lihat sendiri.”

Naja menyerahkan teropong. Vessel mengarahkannya ke depan. Melihat. Tubuhnya menegang. Teropong diturunkan pelan.

“Ya,” kata Vessel, suaranya nyaris bisikan. “Aku lihat.”

“Kau kenal makhluk seperti itu?”

“Tidak. Tidak dalam kehidupan nyata. Tapi...” Vessel terdiam. Matanya menerawang. Dahinya berkerut seperti orang yang mencoba mengingat sesuatu yang sudah lama terkubur di lapisan terdalam ingatannya. “Ada cerita. Cerita lama. Cerita yang diceritakan pelaut-pelaut Arab dan pelaut-pelaut Berber di taverna-taverna di sepanjang pantai Afrika Utara. Tentang makhluk yang muncul di laut terbuka dan menawarkan pilihan. Dua pilihan. Selalu dua.”

“Pilihan apa?”

“Tergantung makhluknya. Tergantung orangnya. Tapi inti ceritanya selalu sama, kau harus memilih, dan apa yang kau pilih menentukan apa yang akan terjadi selanjutnya. Memilih salah satu berarti mendapatkannya dan kehilangan yang lain. Dan konsekuensinya bukan hanya tentang benda yang kau pilih.”

Naja menatap Vessel. Lalu menatap ke depan, ke sosok hitam yang masih berdiri diam di permukaan air dengan dua tangan terulur dan dua benda yang menunggu dipilih.

“Ikan atau pedang,” kata Naja.

“Ikan atau pedang,” ulang Vessel.

Mereka berdiri berdampingan di haluan dalam keheningan yang berat. Angin yang tadi bertiup pelan sekarang berhenti total. Layar La Sombra menggantung lemas. Laut datar sempurna, tanpa satu pun riak ombak, seperti kaca yang membentang dari cakrawala ke cakrawala. Dan dalam ketenangan yang tidak wajar itu, dengungan rendah yang tadi terasa di tulang dada sekarang semakin kuat, semakin jelas, semakin dekat, seolah sosok hitam itu mendekat meskipun tidak bergerak, seolah jaraknya menyusut bukan karena pergerakan melainkan karena ruang itu sendiri melipat.

Dan tiba tiba, sosok itu ada di sana.

Tepat di depan haluan La Sombra. Sepuluh depa yang tadi seratus. Tanpa suara. Tanpa gerakan. Tanpa transisi. Satu detik dia di kejauhan, detik berikutnya dia di sini, seperti potongan dalam mimpi yang melompat dari satu adegan ke adegan lain tanpa jembatan di antaranya.

Naja mundur selangkah. Tangannya mencengkeram gagang pedang Zar di pinggangnya dengan refleks yang sudah meresap ke otot-ototnya. Vessel juga mundur, dan di tangan kanannya, entah kapan muncul, sudah ada pisau yang siap digunakan.

Sosok itu tidak bergerak.

Berdiri di atas air yang datar seperti kaca, tepat di hadapan mereka, jubah hitamnya yang menyerap cahaya terlihat seperti sobekan di langit siang, lubang hitam di tengah birunya laut dan langit. Tudungnya yang dalam menutupi seluruh wajahnya, dan di dalam tudung itu tidak ada apa-apa. Bukan kegelapan yang menyembunyikan wajah. Melainkan kegelapan yang ada di tempat wajah seharusnya berada. Kegelapan itu sendiri adalah wajahnya.

Dan kedua tangannya masih terulur. Kiri, ikan perak yang masih bergerak lemah. Kanan, pedang hitam yang menunggu.

Lalu suara.

Suara yang bukan suara. Suara yang tidak masuk melalui telinga melainkan muncul langsung di dalam kepala, di tengah otak, di tempat di mana pikiran dan ingatan dan mimpi dan ketakutan bercampur menjadi satu. Suara yang tidak punya timbre dan tidak punya nada dan tidak punya aksen, suara yang bukan laki laki dan bukan perempuan dan bukan manusia, suara yang terdengar seperti kata kata yang ditulis di udara dengan tinta yang tidak terlihat tapi yang bisa dibaca oleh sesuatu yang bukan mata.

“Pilih.”

Satu kata. Satu perintah. Tanpa penjelasan. Tanpa konteks. Tanpa “selamat pagi” atau “maaf mengganggu” atau “izinkan aku memperkenalkan diri.” Hanya “Pilih.”

Naja menelan ludah. Tangannya masih di gagang pedang Zar. Matanya menatap sosok itu, mencoba menemukan sesuatu yang bisa dipahami, sesuatu yang bisa dinilai, petunjuk tentang niat atau sifat atau bahaya. Tapi tidak ada apa-apa. Sosok itu adalah ketiadaan yang diberi bentuk, misteri yang dibalut jubah, pertanyaan yang menolak untuk dijawab.

“Siapa kau?” tanya Naja. Suaranya stabil meskipun jantungnya berdetak begitu keras sehingga dia bisa mendengarnya di telinganya sendiri.

Sosok itu tidak menjawab pertanyaan Naja. Sebaliknya, kata itu datang lagi, di dalam kepala, di tempat yang sama, dengan intensitas yang sama.

“Pilih.”

“Vessel,” bisik Naja tanpa menoleh. “Kau bilang dalam cerita-cerita itu, selalu ada dua pilihan. Apa yang terjadi kalau tidak memilih?”

“Dalam cerita-cerita itu,” bisik Vessel balik, “orang yang tidak memilih menghilang. Seperti tidak pernah ada.”

Naja memejamkan matanya sebentar. Membukanya lagi.

Ikan atau pedang.

Dia berpikir.

Ikan. Sumber makanan. Kehidupan. Kelanjutan. Kemampuan untuk bertahan di laut yang panjang dan jauh. Pilihan yang aman. Pilihan yang masuk akal. Pilihan yang logis.

Pedang. Senjata. Kekuatan. Kemampuan untuk bertarung. Kemampuan untuk bertahan bukan dari kelaparan melainkan dari bahaya. Pilihan yang berisiko. Pilihan yang tidak jelas manfaatnya karena Naja sudah punya pedang.

Tapi Naja khawatir. Khawatir bahwa ini bukan pilihan sederhana antara dua benda. Khawatir bahwa ini adalah teka-teki, dan dalam teka-teki, jawaban yang terlihat jelas biasanya bukan jawaban yang benar. Memilih ikan karena ikan berguna bisa jadi jebakan. Memilih pedang meskipun tidak jelas gunanya bisa jadi jawaban yang sebenarnya.

Atau sebaliknya.

Atau keduanya jebakan.

Atau keduanya benar.

Otak Naja berputar. Keringat dingin mengalir di punggungnya di bawah jubah hitam. Sosok itu menunggu. Sabar. Abadi. Waktu sepertinya tidak berlaku bagi makhluk yang berdiri di atas air dan yang wajahnya adalah kegelapan.

“Kapten,” bisik Vessel. “Pelaut-pelaut tua di taverna itu bilang satu hal lagi tentang pilihan ini.”

“Apa?”

“Mereka bilang, pilih yang membuatmu takut.”

Naja menoleh ke Vessel. Mata hitamnya bertemu mata cokelat keemasan Vessel.

“Yang membuatmu takut?”

“Karena yang aman adalah jebakan. Yang nyaman adalah jebakan. Yang masuk akal adalah jebakan. Tapi yang membuatmu takut, yang tidak kau pahami, yang menantangmu untuk menjadi lebih dari apa yang kau sekarang, itu yang nyata.”

Naja menatap Vessel selama tiga detak jantung. Lalu berbalik ke sosok hitam itu.

Ikan. Aman. Nyaman. Masuk akal.

Pedang. Menakutkan karena sudah punya pedang, karena apa gunanya pedang lagi, karena memilih senjata di atas makanan terasa seperti memilih perang di atas kedamaian.

Yang membuatmu takut.

Naja menarik napas dalam-dalam. Menghembuskan.

“Pedang,” kata Naja.

Suaranya jelas dan tegas di udara yang diam. Satu kata yang bergema di atas laut yang datar seperti kaca.

“Aku memilih pedang.”


Sosok itu tidak bergerak.

Satu detik. Dua detik. Tiga.

Lalu tangan kirinya yang memegang ikan perak mengepal. Dan ikan itu menghilang. Bukan dijatuhkan ke laut. Bukan disembunyikan. Menghilang. Seperti tidak pernah ada. Satu detik ada ikan perak yang bergerak di telapak tangan hitam itu, detik berikutnya telapak tangan itu kosong dan ikan itu pergi ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh mata atau pikiran manusia.

Tangan kanannya yang memegang pedang hitam bergerak. Perlahan. Sangat perlahan. Tangan itu bergerak ke depan, ke arah Naja, menyodorkan pedang hitam itu dengan gerakan yang terlihat seperti persembahan, seperti upacara, seperti ritual yang sudah dilakukan ribuan kali selama ribuan tahun.

Pedang itu mengapung di udara di antara sosok hitam dan Naja. Melayang. Tanpa tangan yang memegang. Tanpa tali yang mengikat. Melayang begitu saja, bilah hitamnya memantulkan cahaya dengan cara yang salah, bukan memantulkan melainkan menelan cahaya dan mengeluarkannya dalam warna yang berbeda, warna yang lebih gelap dan lebih tua dari cahaya yang masuk.

Naja mengulurkan tangannya. Jari-jarinya menyentuh gagang pedang itu.

Dingin.

Dingin yang bukan dingin biasa. Bukan dingin es atau dingin logam di pagi hari. Dingin yang datang dari tempat yang tidak pernah terkena matahari, dingin yang sudah ada sejak sebelum matahari pertama terbit, dingin yang lebih tua dari waktu itu sendiri.

Naja menggigit bibirnya. Jari-jarinya menutup di sekeliling gagang. Memegang. Menggenggam. Mengangkat.

Pedang itu berat. Lebih berat dari yang terlihat. Berat bukan karena material atau ukuran, melainkan berat karena makna, berat karena apa yang dikandungnya, berat karena konsekuensi yang menempel padanya seperti bayangan yang tidak bisa dilepaskan.

Naja memegang pedang hitam itu di tangan kirinya. Pedang Zar di tangan kanannya. Dua pedang. Dua sisi.

Sosok hitam itu menurunkan kedua tangannya. Berdiri diam sesaat. Lalu, tanpa suara, tanpa gerakan yang terlihat, mulai menghilang. Bukan mundur atau pergi atau tenggelam. Menghilang. Dari pinggir ke tengah, seperti kertas yang terbakar dari ujungnya ke dalam, jubah hitamnya memudar dan mengurai dan menghilang ke udara seperti asap yang terlalu tipis untuk dilihat, dan di balik jubah itu tidak ada tubuh, tidak ada tulang, tidak ada apa pun, hanya udara kosong yang perlahan mengisi ruang yang tadi ditempati oleh sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Dan di saat terakhir, sebelum sosok itu menghilang sepenuhnya, suara itu datang sekali lagi di dalam kepala Naja. Bukan “Pilih.” Kali ini kata lain.

“Noon.”

Lalu sosok itu hilang.

Dan nama itu tertanam di kepala Naja seperti paku yang dipaku ke kayu. Noon. Makhluk berjubah hitam yang berdiri di atas air dan menawarkan pilihan yang tidak bisa ditolak.

Noon.


Angin kembali bertiup.

Ombak kembali bergerak.

Suara-suara laut yang biasa kembali mengisi keheningan yang tadi terasa seperti kematian. Layar La Sombra berkibar. Kapal bergoyang pelan. Dunia kembali berputar.

Naja berdiri di haluan dengan pedang hitam di tangan kirinya. Menatapnya. Bilah yang hitam kelam, yang permukaannya halus seperti obsidian, yang tidak memantulkan wajahnya ketika dia mendekatkannya ke matanya. Gagang yang polos, tanpa lilitan kulit atau tali, hanya logam telanjang yang dingin dan yang entah kenapa terasa pas di tangannya, terasa seperti gagang itu dibuat untuk ukuran telapak tangannya.

“Apa itu?” tanya Vessel dari belakangnya. Suaranya masih rendah, masih waspada, meskipun sosok hitam itu sudah hilang.

“Aku tidak tahu,” kata Naja jujur. “Pedang. Tapi bukan pedang biasa.”

“Jelas bukan pedang biasa. Pedang biasa tidak diberikan oleh makhluk yang berdiri di atas air.”

Naja mengangkat pedang itu dan melakukan beberapa gerakan percobaan. Tebas ke kiri. Tebas ke kanan. Tusuk ke depan. Pedang itu bergerak dengan kelancaran yang tidak wajar, seperti bilahnya tidak membelah udara melainkan melewatinya, seperti udara memberi jalan tanpa perlawanan. Ringan dalam gerakan meskipun berat di tangan. Paradoks yang seharusnya tidak bisa ada tapi yang ada di sini, di tangan Naja, nyata seperti angin dan laut dan matahari.

“Kita simpan,” kata Naja. “Mungkin akan berguna nanti.”

“Atau mungkin akan membunuh kita.”

“Mungkin juga.” Naja memasukkan pedang hitam ke sarung cadangan yang ditemukan Vessel di gudang bawah, sarung kulit yang agak kebesaran tapi cukup untuk menahan pedang itu. Mengikatnya di sisi kiri pinggangnya, berlawanan dengan Zar di sisi kanan.

Dua pedang. Kiri dan kanan. Hitam dan hitam. Yang lama dan yang baru. Yang dikenal dan yang misterius.

Naja kembali ke kemudi. Vessel kembali ke layar. Mereka tidak banyak bicara selama beberapa jam berikutnya. Pertemuan dengan Noon meninggalkan rasa yang sulit dibilas, seperti mimpi buruk yang detailnya sudah lupa tapi perasaannya masih menempel di kulit.


Malam tiba.

Mereka makan dalam diam di dek belakang, semangkuk bubur gandum dan sepotong daging asap masing-masing, lentera minyak menerangi wajah mereka dengan cahaya yang kuning dan bergoyang. Di langit, bintang-bintang muncul satu per satu, seperti lentera yang dinyalakan oleh tangan yang tidak terlihat.

“Vessel.”

“Ya?”

“Kau bilang tadi, pilih yang membuatmu takut. Dari mana kau dapat itu?”

Vessel menyuap bubur gandum terakhirnya. Menelan. Menaruh mangkuknya di dek.

“Dari seorang perempuan tua di Algiers. Pesulap. Atau penipu. Atau keduanya. Dia duduk di sudut pasar dengan kartu-kartu kotor dan bola kristal yang jelas-jelas hanya kaca biasa. Aku membayarnya tiga keping tembaga untuk membicarakan masa depanku. Kau tahu apa yang dia bilang?”

“Apa?”

“Dia bilang, ‘Kau akan bertemu seseorang yang berlari lebih cepat dari pikiranmu. Dan ketika orang itu menawarkan arah, ikutilah. Tapi di perjalanan itu, akan ada pilihan. Dan ketika pilihan itu datang, pilih yang membuatmu takut. Karena yang aman sudah kau kenal. Dan yang sudah kau kenal tidak bisa membawamu ke tempat yang belum kau kenal.’”

Naja menatap Vessel.

“Seseorang yang berlari lebih cepat dari pikiranmu,” ulang Naja.

“Aku selalu berpikir pesulap itu berbicara tentang lari yang sebenarnya. Lari fisik. Tapi mungkin yang dia maksud bukan itu.”

“Mungkin.”

“Mungkin yang dia maksud adalah seseorang yang tujuannya lebih besar dari apa yang bisa dipahami oleh pikiranku yang kecil. Seseorang yang berlayar ke ujung dunia bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk orang-orang yang tidak dikenalnya. Seseorang yang bergerak ke arah yang tidak bisa diikuti oleh logika biasa.”

Naja tidak menjawab. Matanya menatap lentera yang bergoyang, cahayanya yang kuning berdansa di permukaan mata hitamnya.

“Kau terlalu banyak bicara,” kata Naja akhirnya.

“Kau selalu bilang begitu.”

“Karena kau selalu terlalu banyak bicara.”

“Dan kau selalu terlalu sedikit bicara. Kita seimbang.”

Naja mengambil mangkuk-mangkuk kotor dan membawanya ke dapur kapal tanpa berkata apa-apa lagi. Tapi di tangga yang sempit antara dek atas dan dapur di dek bawah, di kegelapan yang hanya diterangi oleh satu lentera kecil yang bergoyang di pengaitnya, Naja tersenyum.

Senyum kecil.

Senyum yang tidak dilihat siapa pun.

Senyum yang hanya untuk dirinya sendiri.


Fajar belum muncul ketika kapal berguncang.

Guncangan yang keras dan tiba-tiba, guncangan yang melempar Naja dari tempat tidur gantungnya ke lantai dek bawah dengan benturan yang menyakitkan di bahu kirinya. Guncangan yang membuat semua barang di gudang penyimpanan bergeser dan jatuh dan berbenturan dengan suara yang memekakkan telinga. Guncangan yang bukan disebabkan oleh ombak besar atau badai atau batu karang.

Guncangan yang disebabkan oleh sesuatu yang menyentuh kapal dari bawah.

“VESSEL!” teriak Naja, bangkit dari lantai, tangan kanannya sudah memegang Zar meskipun otaknya belum sepenuhnya bangun.

“AKU DI SINI!” suara Vessel dari dek atas, dan suaranya penuh dengan sesuatu yang Naja belum pernah dengar dari Vessel sebelumnya.

Ketakutan.

Naja berlari naik ke dek atas. Kakinya melompati tangga tiga anak sekaligus. Tubuhnya menerobos ke udara terbuka malam.

Dan dia melihatnya.


Tentakel.

Bukan satu. Bukan dua. Banyak. Muncul dari kegelapan air di sekeliling kapal seperti ular-ular raksasa yang bangun dari tidur, tentakel yang tebalnya sebesar tiang utama kapal, yang panjangnya puluhan depa, yang permukaannya licin dan berkilau basah di bawah cahaya bulan dengan warna yang merah gelap dan ungu dan hitam yang berubah ubah seperti kulit bunglon raksasa.

Tentakel itu bergerak. Naik dari air di sisi kiri kapal. Naik dari air di sisi kanan kapal. Naik dari belakang. Naik dari depan. Melingkari La Sombra dalam pelukan yang semakin rapat, daging yang tebal dan basah menekan kayu yang tua dan kokoh, dan kayu itu berderit, berteriak, merintih di bawah tekanan yang lebih besar dari apa pun yang pernah dirancang untuk ditanggungnya.

“KRAKEN!” teriak Vessel dari haluan, di mana dia berdiri dengan pedang pendek di satu tangan dan pisau di tangan lain, tubuhnya basah karena air laut yang terciprat ketika tentakel-tentakel itu muncul, mata cokelat keemasannya lebar dan berkilau dalam cahaya bulan.

Kraken.

Naja pernah mendengar ceritanya. Setiap pelaut pernah mendengar ceritanya. Monster laut raksasa yang tentakelnya bisa meremukkan kapal dan yang tubuhnya sebesar pulau kecil. Cerita yang diceritakan pelaut-pelaut tua untuk menakut-nakuti pelaut-pelaut muda, cerita yang sebagian besar orang anggap dongeng, cerita yang hanya dipercaya oleh orang-orang yang sudah cukup lama di laut untuk tahu bahwa laut menyimpan hal-hal yang lebih mengerikan dari dongeng mana pun.

Dan sekarang cerita itu nyata. Di sini. Memeluk kapalnya.

“Noon”, pikir Naja. “Aku memilih pedang. Dan Noon mengirim ini.”

Pilih ikan, mungkin Kraken tidak akan datang. Pilih pedang, dan kau akan membutuhkan pedang.

Yang membuatmu takut.

Naja mencabut kedua pedangnya. Zar di tangan kanan. Pedang hitam di tangan kiri. Berlari ke sisi kiri kapal di mana tentakel terbesar melilit lambung, meremasnya, membuat papan-papan kayu berderit dan beberapa paku melenting dari tempatnya.

Naja menebas.

Zar mengenai tentakel itu dengan kekuatan penuh. Bilah baja yang tajam memotong kulit tentakel dan... berhenti. Masuk sedalam satu inci, mungkin dua, ke dalam daging yang tebal dan kenyal dan keras pada saat bersamaan, lalu berhenti seperti menebas pohon yang batangnya terlalu tebal. Naja menarik kembali pedangnya. Bekas tebasan di tentakel itu tertutup dalam hitungan detik, daging yang terbelah menutup kembali seperti lumpur yang menutup jejak kaki, dan tidak ada darah, hanya cairan bening yang kental yang berbau seperti laut yang busuk.

“Tidak mempan!” teriak Naja.

“Aku juga!” teriak Vessel dari sisi lain kapal, di mana dia menebas tentakel lain dengan pedang pendeknya dan mendapatkan hasil yang sama. “Kulitnya terlalu tebal! Pedangku bahkan tidak masuk!”

Tentakel lain naik dari air. Mendarat di dek dengan hantaman yang mengguncang seluruh kapal. Kayu dek retak di bawah beratnya. Tentakel itu bergerak, menyapu dek dari sisi ke sisi, dan Naja melompat menghindarinya, berguling di dek yang basah, bangkit kembali dengan kedua pedang di tangan.

Kapal oleng keras ke kiri. Tentakel di lambung kiri menarik. Kemudian oleng ke kanan. Tentakel di lambung kanan menarik. La Sombra terombang-ambing seperti mainan di bak mandi anak, dipermainkan oleh tentakel-tentakel yang kekuatannya tidak bisa dilawan oleh kapal kayu yang hanya memiliki dua penumpang manusia.

Naja menebas lagi. Zar memotong kulit tentakel di dek dan kali ini dia menebas berulang ulang, tiga kali, empat kali, lima kali, di titik yang sama, memaksa bilahnya lebih dalam di setiap tebasan, dan akhirnya tentakel itu berkedut dan menarik diri dari dek, meninggalkan bekas cairan bening yang kental di kayu yang retak.

Tapi tentakel lain langsung menggantikannya. Lebih besar. Lebih kuat. Menghantam dek dari atas dan Naja nyaris terkena, berguling ke samping di detik terakhir, merasakan angin dari hantaman itu di wajahnya.

“Ini tidak akan berhasil!” teriak Vessel, berlari ke tengah dek di mana Naja sedang bangkit. Tubuhnya basah kuyup. Ada luka di lengan kirinya, bukan dari tentakel melainkan dari serpihan kayu yang terpelanting saat dek retak. “Kita menebas tentakelnya tapi tentakelnya terlalu banyak! Satu mundur, tiga maju!”

“Kita harus menemukan tubuhnya!” teriak Naja balik. “Tentakel hanya tentakel! Kalau kita bunuh tubuhnya, tentakelnya mati!”

“Tubuhnya di mana?”

“Di bawah air! Di suatu tempat di dekat kapal! Tentakel ini tidak mungkin terlalu jauh dari tubuhnya!”

Vessel menatap Naja. Lalu menatap laut. Laut yang gelap dan bergolak karena gerakan tentakel-tentakel raksasa di bawah permukaan. Laut yang di dalamnya ada makhluk yang ukurannya tidak bisa dibayangkan.

“Aku akan berenang,” kata Vessel.

“Apa?”

“Aku akan berenang ke bawah. Mencari tubuhnya. Membunuhnya.”

“Kau gila. Air di bawah sana gelap gulita. Kau tidak bisa melihat apa-apa. Dan kalau tentakelnya menangkapmu di dalam air...”

“Aku tahu resikonya, Kapten. Tapi kalau kita tidak melakukan sesuatu, kapal ini akan hancur dalam lima menit. Papan lambung kiri sudah retak. Kalau tentakel itu menekan lebih kuat, kapal akan bocor dan tenggelam.”

Naja menatap Vessel. Mata hitam bertemu mata cokelat keemasan di tengah kekacauan. Kapal bergoyang. Tentakel menghantam. Kayu retak. Air memercik.

“Kau bilang kau bisa menyelam dalam dan menahan napas lama,” kata Naja.

“Aku bilang begitu.”

“Seberapa lama?”

“Cukup lama.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu satu-satunya jawaban yang kupunya, Kapten. Aku tidak pernah menghitung. Aku hanya menyelam sampai aku harus naik. Dan selama ini, aku selalu naik.”

Naja menelan kenyataan itu. Bukan jawaban yang meyakinkan. Tapi bukan juga jawaban yang tidak bisa diterima.

“Ambil ini,” kata Naja. Dia melepas pedang hitam dari pinggangnya. Pedang pemberian Noon. Pedang yang dingin dan berat dan misterius. “Zar tidak bisa menembus kulit Kraken lebih dari satu inci. Mungkin pedang ini berbeda.”

Vessel mengambil pedang hitam. Menggenggamnya. Matanya melebar sedikit ketika dingin dari gagang itu menyentuh telapak tangannya.

“Dingin,” kata Vessel.

“Aku tahu.”

“Dinginnya bukan dingin biasa.”

“Aku tahu itu juga. Sekarang pergi sebelum kapal ini jadi serpihan.”

Vessel menatap Naja satu detik lagi. Dan di detik itu, di tengah kekacauan dan bahaya dan kapal yang terombang-ambing, Vessel tersenyum. Bukan senyum miring. Bukan senyum nakal. Senyum yang kecil dan tulus dan yang mengatakan sesuatu yang tidak bisa dikatakan dengan kata kata di saat seperti ini, di tempat seperti ini.

“Tunggu aku, Kapten.”

“Jangan mati.”

“Itu rencanaku.”


Vessel melompat.

Tubuhnya meluncur dari pagar kapal ke udara malam, tangan kanan menggenggam pedang hitam di atas kepala, kaki-kaki rapat dan lurus, dan ketika dia menghantam permukaan laut, dia masuk ke dalam air dengan suara yang nyaris tidak terdengar di antara kekacauan tentakel dan kayu yang berderit, seperti jarum yang masuk ke kain, tepat dan bersih dan tanpa percuma.

Dan Vessel menghilang ke dalam kegelapan.


Naja sendirian di dek.

Lagi.

Tapi kali ini, sendirian bukan berarti tidak ada harapan. Kali ini, sendirian berarti menjaga kapal sampai orang yang menyelam ke dalam laut gelap untuk membunuh monster raksasa kembali ke permukaan. Hidup.

Naja menggenggam Zar dengan kedua tangan. Berlari dari sisi ke sisi kapal, menebas setiap tentakel yang naik ke dek, bukan untuk membunuhnya karena dia tahu dia tidak bisa membunuhnya, melainkan untuk mengusirnya, untuk memberi kapal waktu, untuk menjaga La Sombra tetap utuh sampai Vessel selesai.

Tentakel di kiri. Tebas. Mundur. Tentakel di kanan. Tebas. Mundur. Tentakel di depan. Lompat. Berguling. Bangkit. Tebas.

Naja menari dengan tentakel. Bukan tarian yang indah. Tarian yang brutal dan basah dan berdarah, karena sekarang tangan Naja berdarah dari genggaman yang terlalu kuat pada gagang pedang yang basah dan licin, dan lututnya berdarah dari berguling di dek yang penuh serpihan kayu, dan bahunya berdarah dari hantaman yang tidak sepenuhnya berhasil dihindari, tapi dia menari, terus menari, karena berhenti berarti menyerah dan menyerah berarti mati dan Naja belum selesai, belum sampai ke Yababa, belum menemukan Yrav, belum mengubah nasib orang-orang miskin di Roma, belum menyelesaikan apa yang dimulainya.

Dan belum melihat Vessel kembali ke permukaan.

“Ayo!” teriak Naja kepada tentakel-tentakel itu, suaranya yang serak dan lelah bergema di atas laut yang gelap. “Ayo, kalian bisa lebih baik dari ini! Aku masih di sini! Aku masih berdiri!”


Di bawah air, Vessel berenang.

Kegelapan. Total. Sempurna. Kegelapan yang bukan hanya tidak ada cahaya melainkan kegelapan yang terasa seperti zat, seperti cairan yang lebih tebal dari air, yang menyelimuti tubuhnya dan menekan dari segala arah. Vessel tidak bisa melihat tangannya sendiri meskipun tangannya ada di depan wajahnya. Tidak bisa melihat apa pun kecuali kegelapan.

Tapi dia bisa merasakan.

Tentakel. Di sekelilingnya. Bergerak. Besar. Dekat. Dia bisa merasakan arus yang ditimbulkan oleh gerakan mereka, tekanan air yang berubah ubah ketika daging raksasa bergerak di dekatnya, dan dia berenang di antara mereka, di celah-celah sempit antara tentakel dan tentakel, tubuhnya yang ramping dan gesit menyelinap seperti ular di antara akar-akar pohon raksasa.

Vessel menahan napas. Paru-parunya mulai protes. Otot-otot di dadanya mulai berkontraksi, menuntut udara, menuntut dia naik ke permukaan, menuntut dia memilih hidup di atas air daripada kematian di bawahnya.

Tapi Vessel terus berenang ke bawah.

Dan pedang hitam di tangannya berpendar.

Bukan cahaya yang terang. Bukan seperti lentera atau obor. Cahaya yang redup dan biru gelap yang keluar dari bilah pedang hitam itu seperti asap bercahaya, seperti api yang terbakar di bawah air tanpa padam, cahaya yang tidak menerangi banyak tapi yang cukup, cukup untuk melihat bayangan-bayangan di kegelapan, cukup untuk membedakan antara air kosong dan daging tentakel, cukup untuk menemukan arah.

Dan dalam cahaya redup itu, Vessel melihatnya.

Tubuh Kraken.

Besar. Begitu besar sehingga otak Vessel menolak untuk memprosesnya sebagai satu makhluk hidup dan mencoba memprosesnya sebagai bagian dari dasar laut, sebagai batu karang atau gundukan pasir atau apapun yang lebih masuk akal dari makhluk hidup yang ukurannya sebesar ini. Tubuh yang bulat dan masif, seperti bukit daging yang terletak di kedalaman, yang permukaannya bergelombang dan bertonjolan dan dari mana tentakel-tentakel itu tumbuh seperti cabang dari pohon yang paling mengerikan yang pernah ada di dunia ini atau di dunia mana pun.

Dan di tengah tubuh itu, jika “tengah” adalah kata yang tepat untuk sesuatu yang sebesar ini, ada sesuatu yang berdenyut. Berdenyut dengan irama yang lambat dan kuat, denyutan yang mengirimkan gelombang tekanan ke air di sekelilingnya dengan setiap detak, denyutan yang Vessel rasakan di seluruh tubuhnya seperti detak jantung kedua yang bukan miliknya.

Jantung Kraken.

Vessel berenang menuju jantung itu. Paru-parunya berteriak. Tubuhnya mulai gemetar karena kekurangan oksigen. Penglihatannya mulai kabur di pinggirannya, kegelapan yang sudah gelap menjadi lebih gelap, dan Vessel tahu bahwa dia punya mungkin tiga puluh detik sebelum tubuhnya memaksa mulutnya terbuka dan air laut akan masuk ke paru parunya dan itu akan menjadi akhirnya.

Tiga puluh detik.

Vessel mengangkat pedang hitam di atas kepalanya. Cahaya biru gelap dari bilah pedang itu berpendar lebih terang, seolah pedang itu tahu apa yang akan terjadi, seolah pedang itu bersiap.

Dua puluh detik.

Vessel mengarahkan ujung pedang ke arah jantung yang berdenyut. Membidik. Titik yang tepat di mana denyutan paling kuat, di mana daging yang tebal sedikit lebih tipis, di mana ada celah di antara lipatan-lipatan kulit raksasa itu.

Sepuluh detik.

Vessel menghunuskan pedang.

Dengan seluruh kekuatan yang tersisa di tubuhnya yang kehabisan oksigen dan gemetar dan yang seharusnya tidak mampu melakukan apa pun lagi kecuali menyerah, Vessel mendorong pedang hitam itu ke depan, ke daging Kraken, ke kulit yang tadi tidak bisa ditembus oleh Zar.

Dan pedang hitam itu masuk.

Masuk seperti pisau panas yang masuk ke mentega. Tanpa hambatan. Tanpa perlawanan. Bilah hitam itu menembus kulit Kraken yang setebal batang pohon dan menembus daging di bawahnya dan terus masuk, lebih dalam, lebih dalam, sampai gagang pedang menyentuh permukaan kulit dan seluruh bilah tertanam di dalam tubuh makhluk raksasa itu.

Dan Vessel memutar pedang.


Di permukaan, Naja merasakan perubahan.

Tentakel-tentakel yang tadi bergerak dengan kekuatan dan tujuan yang mengerikan tiba-tiba berkedut. Bukan bergerak. Berkedut. Seperti tangan yang ditusuk jarum. Seperti tubuh yang dialiri listrik. Kejang yang hebat dan tak terkendali yang membuat tentakel-tentakel itu melepaskan cengkeraman mereka dari kapal dan menarik diri ke air dengan gerakan yang kacau dan panik.

Kapal terlepas.

La Sombra bergoyang keras ketika tentakel terakhir melepaskan lambungnya, bergoyang ke kiri dan ke kanan seperti pendulum yang dilepaskan, sebelum perlahan stabil kembali di atas air yang sekarang bergolak hebat, berbusa putih, bergelombang oleh gerakan Kraken yang kesakitan di bawah permukaan.

Naja berlari ke pagar kapal. Matanya mencari permukaan air.

“Vessel!” teriaknya. “VESSEL!”

Air bergolak. Gelembung-gelembung besar muncul di permukaan. Air berubah warna di satu titik, dari biru gelap menjadi hitam pekat, bukan karena tinta melainkan karena darah, darah Kraken yang warnanya hitam dan yang baunya menyeruak ke udara, bau yang tajam dan busuk dan kuno.

“VESSEL!”

Deti- detik berlalu. Setiap detik terasa seperti menit. Setiap menit terasa seperti jam. Naja berdiri di pagar kapal, tangan mencengkeram kayu sampai kukunya memutih, mata menatap air yang bergolak dan gelap, mencari, mencari, mencari.

Lalu.

Percikan air. Tangan yang muncul dari bawah permukaan. Kepala yang menyusul. Mulut yang terbuka dan menghirup udara dengan suara yang keras dan putus asa, suara orang yang baru saja kembali dari ambang kematian, suara paru-paru yang kosong yang dipenuhi udara dengan rakus.

Vessel.

Hidup.

Vessel berenang ke sisi kapal dengan gerakan yang lemah dan tidak terkoordinasi, gerakan orang yang tubuhnya sudah melampaui batasnya dan yang hanya bergerak karena kemauan murni. Naja melempar tali. Vessel menangkapnya dengan satu tangan. Naja menarik. Vessel naik. Perlahan. Dengan susah payah. Jari-jarinya yang basah tergelincir di tali dan Naja menarik lebih kuat, otot-otot di lengannya menegang sampai terasa akan sobek, dan akhirnya Vessel terjatuh ke dek kapal seperti ikan yang baru ditangkap, basah kuyup, terengah engah, gemetar, tapi hidup.

Hidup.

Naja berlutut di sampingnya. Tangannya, tanpa berpikir, tanpa izin dari otaknya yang biasanya mengontrol setiap gerakannya dengan ketat, menyentuh bahu Vessel. Meremasnya. Merasakan soliditas tubuh yang hidup di bawah kain yang basah.

“Kau berhasil,” kata Naja. Suaranya bergetar. Bukan karena dingin.

Vessel menatapnya dari posisi terlentang di dek, mata cokelat keemasannya setengah tertutup, napasnya masih terengah, tapi di bibirnya ada senyum. Senyum yang lemah dan lelah tapi yang entah bagaimana masih nakal, masih hidup, masih Vessel.

“Aku bilang aku akan kembali, Kapten.”

“Kau hampir tidak kembali.”

“Hampir tidak kembali dan tidak kembali itu dua hal yang berbeda.”

Naja ingin memukul wajahnya. Naja juga ingin memeluknya. Naja tidak melakukan keduanya. Dia hanya meremas bahu Vessel sekali lagi, lalu melepaskannya dan berdiri.

“Pedangnya?”

Vessel mengangkat tangan kanannya. Kosong.

“Tertinggal. Di dalam Kraken. Masuk terlalu dalam. Tidak bisa dicabut.”

Pedang hitam pemberian Noon. Tertinggal di jantung Kraken di dasar laut.

“Noon memberi kita pedang itu untuk membunuh Kraken,” kata Naja pelan, lebih kepada dirinya sendiri dari kepada Vessel. “Pedang biasa tidak mempan. Pedang hitam itu mempan. Noon tahu Kraken akan datang. Noon memberi kita alat untuk mengalahkannya.”

“Atau,” kata Vessel dari dek, matanya menatap langit yang mulai menerang di timur, fajar yang pertama setelah malam terpanjang yang pernah dia alami, “Noon yang mengirim Kraken. Dan pedang itu adalah harga yang harus kita bayar untuk melewatinya.”

Naja menatap laut. Permukaan air sudah mulai tenang. Gelombang yang tadi bergolak hebat sekarang mereda. Warna hitam darah Kraken yang tadi menodai air sekarang menyebar dan menipis, dibawa arus ke segala arah, dan laut perlahan kembali ke biru tuanya yang biasa.

“Yang mana pun,” kata Naja, “kita masih hidup. Kapal masih utuh. Dan kita masih berlayar.”

“Kita masih berlayar,” ulang Vessel.

Fajar menyingsing di timur. Cahaya merah muda dan oranye mewarnai cakrawala, memantul di permukaan laut yang kembali tenang, menerangi dek La Sombra yang penuh kerusakan, papan yang retak, tali yang putus, pagar yang patah, serpihan kayu yang berserakan. Menerangi dua orang yang kelelahan dan terluka dan basah dan yang baru saja bertahan dari serangan monster laut raksasa yang seharusnya hanya ada di dongeng.

Vessel masih terlentang di dek. Naja duduk di sampingnya, punggung bersandar di dinding kabin yang basah. Mereka duduk berdampingan dalam cahaya fajar yang hangat dan lembut, bahu hampir bersentuhan, napas yang perlahan melambat dan teratur.

“Kapten.”

“Apa?”

“Terima kasih sudah menarik taliku tadi.”

“Kau akan mati kalau aku tidak menariknya.”

“Aku tahu. Makanya aku bilang terima kasih.”

“Jangan biasakan.”

“Aku akan coba.”

Mereka duduk dalam diam selama beberapa menit. Matahari naik. Cahaya semakin terang. Laut berkilau.

“Kapten.”

“Apa lagi?”

“Aku lapar.”

Naja menoleh ke Vessel. Vessel menoleh ke Naja. Mata hitam dan mata cokelat keemasan. Wajah yang lelah dan wajah yang lelah. Luka dan luka. Basah dan basah.

Dan Naja tertawa.

Bukan tawa kecil kali ini. Tawa yang lebih besar, lebih lepas, tawa yang keluar dari perut dan bukan dari tenggorokan, tawa yang mengguncang bahu-bahunya dan membuat matanya menyipit dan yang suaranya bergema di atas dek kapal yang rusak di bawah langit fajar yang merah muda.

Vessel menatap Naja yang tertawa. Dan di matanya, di mata cokelat keemasan yang biasanya penuh humor dan kejahilan dan kecerdasan yang cepat, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang lebih pelan. Lebih dalam. Sesuatu yang terlihat seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang indah untuk pertama kalinya dan yang belum sepenuhnya memahami apa yang dilihatnya tapi yang tahu, dengan kepastian yang melampaui pemahaman, bahwa apa yang dilihatnya itu penting. Sangat penting.

“Aku juga lapar,” kata Naja, masih tertawa. “Ayo makan.”

Mereka bangkit dari dek. Perlahan. Dengan tubuh yang sakit dan otot yang protes dan luka yang perih. Berjalan ke dapur kapal yang entah bagaimana masih utuh meskipun separuh kapal lainnya berantakan. Dan Vessel memasak, meskipun tangannya gemetar dan matanya hampir tertutup karena kelelahan, memasak bubur gandum dan menghangatkan daging asap dan menyeduh sesuatu yang mirip teh dari rempah-rempah yang ditemukan di salah satu kotak perbekalan.

Mereka makan di dek, di bawah matahari pagi yang semakin tinggi, di antara serpihan kayu dan tali yang putus dan genangan air laut dan cairan hitam Kraken yang mulai mengering. Makan dengan tangan yang berdarah dan baju yang basah dan rambut yang berantakan.

Makan bersama.

Hidup bersama.

Berlayar bersama.


La Sombra melanjutkan perjalanannya ke selatan, badan kapalnya yang terluka tapi tidak kalah membelah ombak Atlantik dengan keberanian yang keras kepala, membawa dua orang yang sekarang terikat bukan hanya oleh tujuan yang sama melainkan oleh sesuatu yang lebih kuat.

Oleh pertarungan yang dilalui bersama.

Oleh ketakutan yang dihadapi bersama.

Oleh fajar yang dilihat bersama setelah malam yang hampir menjadi malam terakhir.

Dan di depan mereka, jauh di balik cakrawala, di suatu tempat di lautan yang belum pernah mereka lihat, menunggu pulau yang pohon pohonnya membuahkan kepala manusia.

Pulau Waq-Waq.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk