┗──-⋆⋅𖤓⋅⋆-──┛
Cianjur, 1974.
Aku sudah lupa kapan terakhir kali menghirup udara sesegar ini. Wajar saja, udara di tengah bisingnya kota tak pernah senyaman ini.
Bus yang mengangkut rombongan mahasiswa dan arkeolog ini merangkak pelan menuju sebuah desa kecil di pegunungan. Tujuan kami Situs Gunung Padang, yang katanya menyimpan peninggalan Zaman Batu dan sedang ramai dibicarakan.
Dan aku, si mahasiswa Teknik “Donatur Kampus”, entah kenapa ikut terseret ke dalam rombongan ini.
Hijaunya pemandangan di balik jendela, kicau burung sesekali, daun-daun yang bergesekan ditiup angin... jujur, semua itu menenangkan. Tapi yang membuat perjalanan ini tidak membosankan adalah ocehan Upik, teman arkeologiku.
Yah, dia juga biang keladi kenapa aku ada di sini.
“Jadi...,” Upik membuka jurnalnya dan menunjuk satu halaman. “Manusia purba mulai mengolah alat batu sekitar—“
Aku mengangguk-angguk, padahal tak paham apa-apa. Toh aku memang tak punya pilihan lain selain duduk dan mendengarkan ocehan yang keluar dari mulutnya.
Salah satu halaman jurnal itu menampilkan lukisan dinding gua di Sulawesi, usianya katanya 44 ribu tahun. Aku mengernyit melihat gambarnya.
Gambar keponakanku yang belum masuk SD pun sepertinya lebih bagus dari ini.
Garis-garisnya sederhana. Kebanyakan berupa orang yang menggenggam alat berburu, dikelilingi aneka hewan.
“Ini kambing?” Aku menunjuk salah satu gambar. “Kenapa besar sekali?”
Di sebelahnya ada sosok orang yang kelihatan sedang memegang busur dan anak panah, tapi ukurannya janggal. Kelinci di sana sebesar beruang. Di sisi kiri ada kuda, tapi badannya terlalu pendek.
“Yah… tidak semua gambar seperti itu,” jawab Upik tanpa menoleh dari jurnalnya. “Gayanya beda-beda tergantung zaman dan daerahnya. Coba lihat halaman belakang, proporsinya lebih mendekati aslinya.”
Aku membalik-balik halaman. Beberapa gambar di bagian belakang berwarna sehingga detailnya lebih jelas.
“Wah, yang ini lebih lucu lagi!” Aku nyaris tertawa. “Tanduknya makin besar. Terus manusianya... tadi cuma setinggi punggung kambing, sekarang cuma setinggi tengkuk rusa ini. Eh, itu apa di pojok kanan bawah? Buaya berkaki delapan?!”
Aku benar-benar tak sanggup menahan diri untuk tidak memprotes gaya lukis manusia purba ini.
Upik menggaruk kepala. “Waktu itu manusia belum terlalu paham estetika. Lukisan-lukisan ini mungkin lebih bersifat simbolis.”
“Ada peneliti yang bilang,” lanjutnya, kali ini matanya berbinar, “lukisan perburuan seperti ini sengaja digambar di dinding gua atau batu besar supaya para pemburu dan pejuang suku punya semangat sebelum berangkat.”
“Atau bisa juga bagian dari upacara yang tak kita ketahui. Apalagi kalau pelukisnya seorang dukun.”
“Dukun?”
Yang terbayang di kepalaku justru penipu tua berpakaian aneh.
“Eh, kenapa mukamu begitu, Bung?” Upik menatapku heran. “Dukun zaman dulu belum tentu rendah kedudukannya di suku, tahu. Bisa jadi malah yang tertinggi.”
“Iya, iya, aku tahu,” jawabku sambil mengangguk sekadarnya.
Sialnya, itu tak cukup untuk menghentikannya. Upik lanjut bercerita tentang perkembangan dukun dari zaman kuno sampai sekarang, lengkap dengan istilah-istilah asing dan kutipan dari entah buku apa. Aku hanya bisa memasang wajah datar, terjebak jadi pendengar paksa.
“Yah, bagaimanapun juga,” Upik akhirnya menutup jurnalnya, “sejarah itu kadang dilebih-lebihkan. Ada yang bilang, kebenaran sejati tidak pernah ada dalam sejarah. Kami para arkeolog hanya menggali sudut dan tepiannya. Yang asli? Siapa yang tahu.”
…
Bus berhenti. Rombongan mulai turun satu per satu.
Angin segar menyapu wajahku begitu kakiku menginjak tanah. Di depan sana, susunan batu purba itu menunggu, entah menyimpan cerita apa lagi selain yang sudah kudengar sepanjang perjalanan.
Dari dekat, batu-batunya jauh lebih besar daripada bayanganku. Balok-balok yang berserakan di lereng itu bahkan ada yang lebih tinggi dari Upik. Aku memungut sepotong pecahan di dekat kakiku dan menimang-nimangnya. Pecahan sekecil ini saja sudah lumayan berat.
“Pernah kepikiran tidak,” gumamku, “bagaimana caranya mereka mengangkat batu sebesar ini hanya dengan tangan kosong?”
“Itu misteri lain dari Zaman Batu,” jawab Upik sambil tersenyum dan mengembuskan napas. “Nanti kita bahas lagi sepulang kerja. Sementara itu, nikmati saja pemandangannya. Gunung hijau, langit biru. Puaskan paru-parumu, Bung.”
Dia mengambil peralatannya dan mulai berjalan pergi. Baru beberapa langkah, dia berhenti dan menoleh.
“Jangan aneh-aneh di sini!” Wajahnya datar sekali.
“Iya, iya.” Aku mengangguk, padahal mataku sudah melirik ke arah lain. Di sela tumpukan batu di ujung sana, ada sesuatu yang berkilat sekilas ditimpa cahaya matahari. “Eh, itu apa? Aku ke sana sebentar, ya!”
Aku menyelinap pergi sebelum Upik sempat berbalik dan menyeretku kembali.
Kilatan tadi ternyata berasal dari sebongkah batu hitam berurat putih yang terselip di antara balok-balok bertumpuk. Aku berjongkok dan mengusap permukaannya dengan ibu jari.
Dingin dan licin. Hanya batu biasa yang kebetulan memantulkan cahaya matahari. Agak kecewa, tapi toh aku sudah telanjur sampai di sana.
Dari situ aku berjalan tanpa tujuan. Kususuri undakan batu yang naik turun, kuintip celah-celah di antara balok, dan sesekali kuberhenti untuk memandangi lembah di bawah.
Suara para arkeolog yang beradu pendapat dan denting alat gali terdengar makin jauh, makin samar, sampai akhirnya hanya angin yang tersisa.
…
Langit sudah memerah ketika aku sadar hari hampir gelap.
Aku duduk di atas sebongkah batu, tak jauh dari situs. Badanku pegal setelah seharian berkeliling.
“Sepertinya sudah waktunya pulang,” gumamku sambil melirik jam tangan.
Gemerisik.
Aku menoleh cepat. Jantungku berdegup kencang.
Di balik semak berdiri sesosok perempuan berkerudung. Diam. Tak bergerak, tak bersuara, hanya menatap.
Wah penampakan…
“Siapa di sana?” Suaraku sendiri terdengar agak gemetar.
Dia tetap diam. Tatapannya aneh, seperti sedang mencari sesuatu di wajahku.
“Kau...”
Suaranya lembut, tapi bergema. Dia menyingkap helai rambut yang lolos dari kerudung dan menutupi wajahnya. Sepasang matanya berpendar, jelas bukan cahaya biasa.
Belum sempat dia melanjutkan, tubuhnya mulai memudar, terkikis angin senja.
Weh, itu beneran penampakan?
“Tunggu, tunggu, tunggu—“
Aku celingukan, tapi sosok itu sudah lenyap. Tak ada jejak, tak ada apa-apa, seolah dia memang hantu yang sekadar lewat.
BRUK!
Tanah di bawah kakiku ambles.
Aku jatuh. Udara lembap menyergap sebelum tubuhku menghantam dasar yang keras.
“...”
Aku mengerjap, menunggu mataku terbiasa dengan gelap. Dari lubang di atas, sisa cahaya senja hanya menyisakan semburat tipis. Aku bangkit pelan-pelan dan menepuk-nepuk tanah yang menempel di bajuku.
Perlahan pandanganku jelas. Aku berada di lorong bawah tanah yang sempit, dindingnya batu kapur yang memberi kesan tua. Terlalu tua.
Aku mendongak. Lubang tempatku jatuh terlalu tinggi untuk dijangkau, dan dinding di bawahnya licin tak berpijakan. Teriak pun percuma, rombongan pasti sudah jauh.
“Di mana aku...?” Suaraku sendiri menggema balik.
Aku merogoh saku dan mengeluarkan korek, berharap mendapat sedikit cahaya. Kugesek rodanya berkali-kali. Hanya terdengar klik kering, tanpa setitik pun nyala. Mungkin gasnya lembap, atau korek ini rusak waktu aku jatuh tadi.
Sialan.
Gelap menekan dari segala sisi. Aku sendirian di tempat asing, dan lubang tadi tak mungkin kujangkau. Tak ada yang tahu aku ada di sini.
Lalu kulihat sesuatu di ujung lorong.
Apa itu?
Aku melangkah pelan ke arahnya, sebelah tangan meraba dinding. Di sela rasa takut, terselip pikiran lain,
Jika tempat ini memang sisa Zaman Batu yang belum terjamah, bukankah ini penemuan besar?
Dindingnya dipenuhi ukiran rapi, dan beberapa artefak batu berserakan di lantai. Lalu mataku menangkap sesuatu yang janggal.
Cahaya merah menyala di sudut ruangan.
Aku mendekat. Sebuah batu berpendar tergeletak di sana.
“Apa ini?” Aku memungutnya. Setidaknya bisa jadi penerang.
Lorong mulai menanjak. Entah kenapa, ingatanku melompat ke lukisan hewan-hewan purba di jurnal Upik tadi siang. Buaya berkaki delapan itu. Kalau Upik ada di sini, dia pasti sibuk membela gaya lukis nenek moyangnya.
Pikiran itu buyar oleh bunyi samar dari gelap di depanku. Seperti karung berat yang diseret pelan di atas batu.
Aku menahan napas dan mengangkat batu merah itu tinggi-tinggi. Cahayanya menyapu dinding. Tepat di tepi sinarnya, ada bagian dinding yang bergeser perlahan.
Itu bukan dinding.
Seekor ular raksasa meluncur keluar dari bayang-bayang, tubuhnya setebal paha orang dewasa. Cahaya merah memantul di sisiknya yang basah berkilat. Seolah lukisan ngawur di jurnal Upik tadi baru saja melompat keluar dari halamannya.
Aku tak bisa bergerak. Jari-jariku gemetar, tenggorokanku kering. Aku menahan diri mati-matian agar tidak berteriak.
Lalu aku berkedip.
Ularnya lenyap. Yang tersisa hanya dinding batu biasa.
“...Ilusi?”
Aku pun berbalik memeriksa dinding di sisi lain, tapi tak ada yang ganjil. Begitu menoleh lagi, keningku membentur batu. Dinding itu lebih dekat dari yang kukira.
Retakan menjalar dari titik benturan. Dinding itu merekah, membuka lubang di depanku. Di baliknya ada sebongkah batu besar dengan tunas hijau kecil di atasnya.
Tunas itu tumbuh. Cepat. Eh itu terlalu cepat. Apa-apaan itu?!
“Tidak mungkin... tidak, tidak—“
Seolah menjawab keraguanku, tunas itu berubah jadi sulur-sulur yang menjalar liar ke segala arah, mengambil alih batu, merambat ke dinding dalam hitungan detik.
Aku mundur beberapa langkah, keringat dingin mengalir di pelipis.
“Ini nggak mungkin nyata.” Aku menggosok mata dengan punggung tangan.
Beberapa tarikan napas dalam. Aku memaksa diri tenang, lalu membuka mata lagi.
Sulur-sulur itu lenyap. Dinding kembali seperti semula.
Namun, batu di genggamanku perlahan menjadi pasir dan lolos dari sela jariku. Cahaya merahnya padam bersama butir terakhir yang jatuh.
Dan setelah itu, semuanya gelap.
Lalu, dalam gelap itu, ada napas yang bukan napasku.
┗──-⋆⋅𖤓⋅⋆-──┛














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!