4 SEKAWAN

8 dibaca

A

Jakarta, 12 Oktober 2008

Ponsel Nokia berpindah tangan di bawah meja kelas, layar hijaunya menampilkan kalimat yang sama seperti yang diterima sejak siang. Rizal mematikan layar Nokia itu sebelum guru yang masih menjelaskan di depan kelas sempat menoleh. Beberapa siswa saling bertukar pandang. Ada yang menyelipkan sabuk ke luar celana. Ada yang diam-diam memasukkan rantai motor ke dalam tas. Seorang siswa di pojok ruangan sudah melepas dasinya, melilitkannya di pergelangan tangan.

Rizal menopang dagunya dengan tangan kiri. Pandangannya keluar jendela kelas. Jalan raya di depan sekolah masih tampak biasa. Angkot ngetem, pedagang es lewat sambil membunyikan lonceng kecil, dan beberapa ibu berjalan menggandeng anaknya.

Ia menoleh ke belakang. “Jam empat. PGA.”


Pukul empat sore, barisan putih abu-abu menutup dua lajur sekaligus. Tubuh-tubuh saling dorong, sabuk terangkat, kayu patah berayun tanpa arah. Seseorang jatuh, diseret bangun lagi sebelum sempat benar-benar menyentuh aspal. Para pedagang kaki lima segera menarik terpal. Penumpang angkot menutup kaca jendela rapat-rapat sambil membuang muka.

“Alvita maju lagi!” teraik Noval, suaranya serak. Ia memutar sabuk sekolahnya, gesper besi beradu dengan udara, menciptakan bunyi siulan pendek.

Di sampingnya, Riki sedang menyeimbangkan langkah di atas separator jalan. Matanya liar, mencari celah di antara kerumunan siswa berseragam pramuka dari Alvita Jaya yang mulai merangsek. Rizal menggenggam sebilah kayu patahan kursi, matanya terkunci pada satu titik di depan.

Debu beterbangan setiap kali puluhan sepatu menghantam aspal. Batu-batu kecil melenting ke bawah kolong mobil yang berhenti karena jalan sudah sepenuhnya dikuasai para pelajar.

Di kejauhan terdengar kaca pecah. Seorang anak berseragam putih abu-abu berlari sambil memegangi pelipis yang mengucurkan darah. Ia baru beberapa langkah sebelum kembali berbalik mengambil sabuknya yang terjatuh.

Wiuuuu-

Suara sirene memotong teriakan provokasi. Dari kejauhan, lampu rotator biru memantul di kaca-kaca gedung perkantoran. Barisan putih abu-abu buyar ke segala arah.

“Polisi! Cabut!”

Riki meloncat dari separator, mendarat tepat di samping Noval. Mereka bertiga berlari menyelinap di sela-sela mobil yang berhenti total.

“Berhenti! Berhenti kalian!” teriak seorang polisi, suaranya serak melawan deru panas.

“Tangkep kalau bisa, Pak!” tantang Rizal.

Ia menoleh ke kiri. Seorang tukang bakso sedang terpaku memegangi tiang gerobaknya, matanya nanar melihat keributan. Rizal tidak berhenti. Dengan satu gerakan sentak, ia merebut gagang gerobak itu.

“Pinjam, Pak!”

Gerobak didorong sekuat tenaga ke arah jalur motor yang sedang melaju kencang. Petugas trail itu mengerem mendadak. Ban depannya menghantam roda kayu gerobak. Bunyi dentang panci jatuh terdengar nyaring, disusul uap panas yang membubung saat kuah kaldu tumpah membasahi aspal dan sepatu boot petugas.

Rizal, Noval, dan Riki menghilang di balik gang sempit sebelum petugas itu sempat berdiri kembali.

Di dalam gang yang pengap oleh jemuran warga, ketiganya berhenti. Rizal menyandarkan punggung ke tembok yang lembap. Dadanya masih naik turun. Napasnya terasa panas di tenggorokan.

Dari mulut gang, suara peluit polisi masih terdengar bersahutan.

“Ke sana!”

“Masuk gang!”

“Lari!”

Beberapa detik mereka saling diam.

“Hampir aja... Untung ada tukang bakso tadi” Noval menyandarkan punggung ke tembok, setelah suaran sirene menjauh

“Gila lo, Zal. Gerobak orang itu,” Riki terengah, tangannya memegang lutut.

Noval tertawa pendek, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang kotor. “Tapi manjur. Sepatu polisinya pasti bau tetelan sekarang.”

“Kalo bukan gue yang dorong tuh gerobak, udah pake baju oranye kita sekarang.” Rizal mengeluarkan sebatang rokok dari saku seragamny, lalu memantik api. Ia menyesap dalam, lalu mengembuskan asap ke arah langit yang mulai jingga.

Riki mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu menatap ke ujung gang. “Sian bego, aki-akinya sampai jengkang gitu.”

Rizal mendekat satu langkah, cukup dekat sampai bahu mereka hampir bersentuhan. “Daripada ketangkep, pilih mana lo?” suaranya rendah.

Riki menahan pandangan itu sepersekian detik sebelum mengalihkan wajahnya.

Noval berdecak pelan, menarik kerah seragam Riki sambil menunjuk ke arah jalan. “Udah, balik yuk. Tuh, Cepe Dua udah dateng.”

Metro Mini 102 menderu, knalpotnya menyemburkan asap hitam yang menutupi pandangan. Mereka melompat masuk ke dalam Metro Mini oranye jurusan Ciputat - Blok M, berbaur dengan penumpang sore yang tampak lelah.

Metro Mini berguncang keras setiap kali melewati sambungan jalan yang retak. Penumpang saling berhimpitan. Bau solar bercampur keringat memenuhi kabin sempit.

Riki mengusap bibirnya yang sedikit robek akibat pukulan tadi. “Besok anak Alvita pasti nyari lagi.”

“Bagus,” jawab Rizal singkat. “Berarti mereka belum kapok.”

Noval terkekeh pelan. “Yang gue heran, tiap tawuran kita selalu kalah jumlah.”

“Terus?” Rizal menoleh.

“Terus kita selalu balik lagi.” Noval mengangkat bahu. “Kayaknya kita emang goblok.”

“Goblok mah goblok,” sahut Riki. “Yang penting jangan pulang bawa nama sekolah malu.”

Rizal tersenyum tipis. “Yang penting pulang.”

Metromini melambat di sebuah persimpangan, Riki mengetuk kaca jendela dengan keras.

“Eh, kenapa lo?” tanya Rizal.

“Chacha sendirian,” jawab Riki singkat, matanya terpaku ke sosok di luar.

Rizal melirik ke luar. “Val, ayo turun.”

“Modus mulu si bogel.” sahut Noval bangkit dengan langkah lunglai

Chacha berdiri di depan gedung Practice Education Center, tasnya dipeluk di depan dada. Ia beberapa kali melongok ke arah jalan.

“Kak Riki? Kok di sini?” tanya Chacha melihat tiga sosok familiar mendekatinya.

“Tadi lewat, terus ngelihat bidadari lagi bengong,” goda Riki.

“Kok bau kuah bakso?”

“Bau perjuangan ini,” balas Riki cengengesan.

“Kamu sendirian?” tanya Rizal.

Chacha mengangguk pelan.

Rizal berjalan mendekat, menyampirkan tasnya di satu bahu. “Ngapain disini?”

“Tadi habis les Inggris, nungguin Kak Gilang belum dateng,” jawab Chacha

Rizal melihat jam di pergelangan tangannya. “Tidur itu anak. Ayo, balik. Keburu magrib. Bahaya cewek sendirian jam segini.”

Tidak butuh waktu lama, Metro Mini 102 berikutnya datang, melaju padat di tengah kemacetan. Mereka naik bersama arus penumpang. Metro Mini kembali menyatu dengan kemacetan ke arah Ciputat.


Pintu depan rumah Chacha tidak dikunci. Mereka berempat masuk layaknya pemilik rumah. Rizal memimpin jalan menuju kamar di lantai bawah yang tertutup rapat.

“Dari tadi telpon nggak ngangkat?” tanya Rizal.

Chacha menggeleng. “Lima kali.”

“Enam,” koreksi Riki.

“Anjir...”

Noval menempelkan telinga ke pintu. “Denger nggak?”

“Denger apaan?”

“Ngorok.”

Mereka bertiga saling pandang.

Rizal mundur satu langkah. “Geser.”

Brak!

Rizal menendang pintu kayu hingga membentur tembok. Di atas kasur tanpa sprei, Gilang meringkuk dengan mulut setengah terbuka, masih mengenakan almamater kampus dan kaos dalam putih yang menguning.

“Bangun, nyet! Adek lo hampir jamuran nungguin,” semprot Rizal, memukul paha Gilang dengan bantal.

Gilang tersentak, mengerjap bingung melihat tiga temannya sudah ada di dalam kamar. “Hah? Jam berapa ini? Sialan, gue lupa!”

“Jam kiamat buat lo,” Noval duduk di kursi belajar Gilang, memutar-mutar penggaris besi. “Santai, untung ketemu kita.”

Chacha masuk membawa nampan berisi empat gelas es jeruk dingin. “Ini Kak, minum dulu.”

“Eh, Cha... sorry, tadi Kakak merem bentar malah bablas,” Gilang menatap Chacha yang berdiri di ambang pintu. Ia berdiri, mengusap wajahnya berkali-kali. “Tadi nggak ada yang gangguin kamu, kan?”

Chacha menggeleng. “Nggak. Untung ketemu Kak Rizal sama yang lain.”

Bahu Gilang sedikit turun. Ia mengembuskan napas panjang. “Jangan nunggu sendirian lagi.”

“Iya, Kak.”

“Makasih ya, Cha. Idaman banget emang, nggak kayak abangnya,” ledek Noval sambil menyesap minumannya. “Iya nggak, Zal?”

“Yoi.”

“Mau gue tabok lo?” Gilang mendengus, menyambar segelas es jeruk dan meminumnya hingga tandas.

“Untung gue yang jemput, Lang. Kalau cowok lain, udah dibawa ke KUA kali.” Riki menggoda dari kursi belajar, tangannya membolak-balik komik di atas meja.

“Ye, modus lo bogel,” sahut Noval menyikut bahu Riki. “Jangan dikasih restu, Lang. Riki kalau malam berubah jadi serigala.”

“Jangan kasih dia kesempatan deketin kamu, Ca.” Gilang mendengus.

“Apaan sih?” protes Riki.

“Gue kenal muka lo. Kalo liat cewek cantik senyumnya beda.”

“Fitnah.”

“Bukan fitnah. Penelitian.”

Chacha menutup mulutnya. “Udah, jangan ganggu Kak Riki.”

“Tuh kan.” Noval menunjuk Riki. “Baru dibelain dikit udah senyum sendiri.”

Chacha tertawa kecil, lalu pamit ke kamarnya.

Rizal duduk di lantai, bersandar pada kaki ranjang Gilang. Matanya ke arah jendela. Di luar, langit sudah gelap sepenuhnya. Di dalam, tawa Noval memenuhi ruangan untuk yang ketiga kalinya.


Lampu jalanan kuning redup memantul di pagar besi rumah Rizal. Saat ia membuka pintu depan, bau minyak kayu putih dan tumisan bawang menyambutnya.

“Baru pulang, Zal?” Ibunya bertanya dari balik meja makan, tangannya sibuk melipat kain.

“Iya, Bu.”

Di kursi jengki ruang tamu, ayahnya duduk membaca koran. Lelaki itu tidak mengangkat wajah. Hanya suara kertas yang dibalik dengan kasar. Rizal terus berjalan masuk ke kamarnya.

Di dalam kamar, Rizal melepas kancing seragamnya satu per satu. Ia berdiri di depan cermin lemari. Di pantulan cermin, memar sebesar telapak tangan membiru di rusuk kirinya.

Ia menyentuh pinggiran memar itu dengan jari telunjuk. Lalu menarik kaos bersih dari tumpukan baju, memakainya, dan merebahkan diri di atas kasur tipisnya. Matanya menatap langit-langit kamar yang berjamur, lalu terpejam.

Dari luar kamar terdengar suara televisi yang masih menyala di ruang tamu. Pembawa berita sedang melaporkan tawuran pelajar yang kembali memacetkan jalan raya sore tadi.

“...pelaku masih dalam pengejaran...”

Rizal tersenyum tipis tanpa membuka mata. “Besok paling juga berita lain.”

Ia menarik selimut tipis sampai menutupi dada.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk